PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
pembalasan


__ADS_3

"Apa maksudnya dengan ini ?." Rea bertanya-tanya.


"Kenapa dua benda ini ditunjukan kepada kita ?." Sina pun bertanya juga.


"Askar apa kau tahu kenapa ?." Kakek Loe Teu Yiu tidak ketinggalan.


"Kalian semua bertanya kepadaku, lantas aku bertanya kepada siapa ?, Kucing ?." Balas Askar dengan kesal.


"Tuan aku tidak tahu apa pun, aku berani bersumpah." Ucap Omen yang sejak awal hanya sibuk dengan bulu-bulunya.


Askar pun sama bingungnya dengan mereka semua, tapi coba untuk berpikir sejenak, jelas semua ini ditujukan atas nama Askar, bahkan bunga Anemoe kristal yang sebelumnya dilelang dan terjual kepada seseorang bercadar.


Hanya saja Askar tidak mengenal siapa sosok itu, terlebih lagi dia menyembunyikan diri dari zona persepsi.


Lantas dari mana cincin ruang penyimpanan yang berisi dua juta tujuh ratus ribu koin kristal ungu.


"Apa pedang itu adalah milik lelaki bercadar, tapi kenapa dia memberikan semua yang didapat kepadaku." Gumam Askar memikirkan alasannya.


"Askar ada surat disana." Tunjuk Sina yang melihat kedalam.


Dan sebuah surat pun tertulis jelas nama 'Askar' dalam huruf alfabet pula, tentu ini menjadi pertanyaan besar, walau kosakata bahasa di alam semesta atas sama di seluruh jagat raya.


Tapi tulisan jelas berbeda, dalam ingatan Asyura, Askar ketahui dari tulisan alfabet hanya ada di beberapa wilayah alam semesta atas, seperti alam semesta kerajaan bawah, alam semesta kerajaan suci dan alam semesta keabadian.


Selain itu, bentuk tulisan mereka jelas berbeda-beda, bahkan logat pun mempengaruhi setiap orang berbicara, antara alam semesta satu dengan lainnya.


"Coba kau baca isi surat itu Askar." Ucap kakek Loe Teu Yiu.


Tanpa ragu Askar pun mengambil surat itu dan membukanya, kata demi kata Askar baca, semua orang tampak penasaran dengan siapa sosok yang begitu dermawan memberikan semua barang ini.


"Kenapa Askar, ini hanya sedikit bantuan agar kau tidak kekurangan ongkos dalam perjalanan, jangan terlalu banyak menjual senjata dari skill penciptaan, atau nanti masalah akan datang kepadamu.... Begitu katanya." Ucap Askar.


Tidak ada keterangan nama, kop surat atau alamat asal pengiriman, hanya saja semua yang ada didalam peti jelas di tunjukan oleh Askar.


"Tapi siapa yang rela memberikan koin kristal sebanyak ini, apa dia kelebihan uang dan cuma-cuma dia berikan kepada kita." Ucap Rea dengan senyuman aneh.

__ADS_1


"Aku pun tidak tahu, yang jelas ini semua adalah hadiah untuk kita." Balas Askar tanpa menujukan kecurigaan lain.


Terpikir satu nama yang mungkin membantunya, Davendra, ya hanya dia seorang yang pastinya mampu menciptakan sebuah senjata dengan kemiripan seratus persen seperti pedang dewa pemangsa kematian.


Ditambah lagi, dia yang berasal dari masa depan pun mengetahui, jika saat ini Askar kebingungan untuk mencari sumber daya bahtera angkasa demi bepergian ke alam semesta lain.


"Sepertinya kita tidak perlu mencari tahu orang yang memberikan semua ini, karena dia jelas dermawan untuk kita." Balas Askar menujukan senyum penuh makna.


Hanya saja, sosok Davendra mengatakan untuk membatasi Askar mengeluarkan skill penciptaan senjata, atau masalah akan datang.


Askar jelas menghargai peringatan dari Davendra, dan jika memang benar, Askar tidak bisa memberikan senjata kepada orang yang tidak dia kenal.


"Sebaiknya, kita segera kembali." Ucap Askar dengan wajah tersenyum cerah.


Ini menjadi rejeki nomplok dimana siapa sangka koin sebanyak dua juta tujuh ratus ribu datang dengan sendirinya.


Andai saja Askar harus mengumpulkan sebanyak itu, maka bisa dibayangkan seberapa lama dia untuk menjual senjata dari skill penciptaan.


*******


Semua memang baik-baik saja, tapi satu kerusakan kecil tentu menjadi masalah besar nantinya, dan Askar tidak ingin itu terjadi saat berada di tengah-tengah lubang hitam.


Hanya Askar sendirian, semua orang kini berada di rumah Salora, tapi itu tidak jadi masalah karena Askar cukup paham dengan sistem pengoperasian bahtera angkasa.


"Semua masih normal." Gumam Askar.


Seketika kehadiran seseorang muncul dan berjalan kedalam bahtera angkasa, perlahan namun pasti, dia tidak terburu-buru, tanpa niatan jahat, karena jelas dia adalah Sina.


Muncul dengan tatapan mata yang tajam, berjalan mendekat tanpa berbicara apa pun, datang dan segera melingkarkan tangan ke tubuh Askar.


"Ada apa Sina ?." Ucap Askar merasa aneh atas sikapnya.


Tapi seakan tidak perduli, berjalan membawa Askar dengan paksa, ya Askar mencoba memahami keinginan Sina, walau begitu Askar lebih menyukai dia sendirilah yang berinisiatif.


Dengan tegas Askar menarik kembali Sina kedalam pelukannya, dimana tepukan lembut melekat di pan*tat yang cukup berisi.

__ADS_1


Tanpa bertanya apa pun, jari jemari Askar bergerak perlahan dalam sentuhan di setiap bagian pribadi dan Sina tidak menolak sama sekali.


Perlahan namun pasti, lembut suara yang dia tahan, nafas berat, lemas dan merdu didengar, Askar atau pun sina terbawa suasana ketika pakaian sudah terlepas.


Tubuh putih mulus tanpa cacat, semua begitu indah, tanpa perlu mendapatkan bentuk menonjol dibagian dada, itu pun hanya pas digenggaman Askar.


Askar tidak pernah kekurangan waktu untuk memanjakan Sina atau pun Rea, tapi kali ini, Sina begitu bersemangat, bahkan keinginan mendominasi gerakan jelas terlihat.


"Asy, itu kau bukan ?." Ucap Askar yang merasa ada keanehan bagi Sina.


Dia adalah Asy, karena sikap Sina dalam berhubungan intim jelas berbeda, Sina lebih memilih untuk Askar yang mengarahkan setiap gerakan.


Tapi kini, Sina lebih agresif, dan terus menggeliat tanpa henti, dia mendominasi permainan dan gerakan tubuh.


"Entahlah siapa yang tahu." Ucapnya dengan tatapan mata tajam dan senyuman lembut jelas terpahat diwajah itu.


Terduduk Askar di atas kursi, sedangkan Sina yang entah siapa didalam jiwanya itu, masih bermain-main dengan duduk menghadap Askar.


Askar tidak ingin membahasnya lebih lanjut, dia cukup menikmati setiap keinginan dari sosok yang ada dihadapannya.


"Aku tahu itu kau, Asy." Ucap Askar dengan senyuman lain.


Hanya saja, Asy sejak dulu selalu menyombongkan diri sebagai sosok makhluk mulia dari zaman awal penciptaan, bahkan lebih banyak bertengkar dengan Askar, kini tersirat niat untuk membalas kesombongan Asy.


Dengan tegas tangan Askar mendorong paksa Asy, bukan berarti dia menolak, tapi untuk berganti posisi.


Berdiri dengan senjata tegak berdiri tanpa lawan, diarahkan tepat di depan wajah Sina, mengalir sebuah energi kuat dimana seketika, wujudnya menjadi lebih besar dari biasa.


"Tu... Tunggu sebentar, itu terlalu berlebihan Askar." Gemetar Asy yang melihat sebuah benda di depan mata.


"Dulu kau pernah meragukan aku, sekarang kau harus merasakannya." Ucap Askar yang jelas-jelas masih ingat dengan perkataan Asy dulu.


Ditarik tubuh sina dengan posisi berbeda, seakan nafasnya berhenti ketika Asy merasakan sendiri ketika semua itu masuk kedalam tubuhnya.


(Note : kenapa saya sering menyelipkan tambahan tingkatan di akhir chapter, karena pernah ada Request untuk melakukan itu...

__ADS_1


Tapi tenang saja, jumlah kata dalam cerita tidaklah berkurang, pasti diatas Seribu kata, itu hanya tambahan saja, maaf ya kakak.)


__ADS_2