
Tiga bahtera melayang memasuki wilayah padepokan beladiri pedang semesta, dimana masing-masing dari bahtera melayang itu menujukan simbol perguruan berbeda.
Akademi tujuh pedang dengan simbol Ketujuh pedang yang bersilang saling tertumpuk.
Istana beladiri surgawi tergambar dalam bentuk tulisan graffiti indah berbahasa kuno.
Dan padepokan teratai hitam, menujukan sebuah bunga teratai berwarna hitam yang memiliki sebuah pedang tertancap ditengahnya.
Orang-orang yang sedang berkumpul menyaksikan pertarungan Askar dan Remure Tianmu, kini memperhatikan kehadiran tiga perguruan beladiri besar di wilayah alam semesta kerajaan beladiri.
Tujuan mereka tentu tidak lepas dari sebuah pertemuan rutin untuk saling berlatih tanding melawan setiap murid andalan yang dikirimkan.
Kegiatan ini dilakukan demi menujukan kepada setiap murid dalam pertarungan dengan orang di luar padepokan sebagai pengalaman.
Para guru besar tidak ingin murid-murid padepokan beladiri pedang semesta hanya seperti katak dalam tempurung, yang merasa hebat di tempatnya sendiri, sedangkan diluar masih banyak lawan jauh lebih kuat.
Terlebih lagi, untuk beberapa Minggu kedepan turnamen beladiri kerajaan akan dimulai, tentu ini menjadi keuntungan sebagai sarana berlatih mempersiapkan diri menghadapi turnamen.
Gorongo dan Tisumi berjalan menyambut kehadiran tiga perguruan yang sudah menempatkan posisi bahtera terparkir di tempat seharusnya.
Ada dua belas orang turun, dimana setiap bahtera membawa satu guru besar dan tiga murid yang ditunjuk mengikuti acara latih tanding bersama.
Dan mereka bertiga itulah para murid yang nantinya akan menjadi peserta turnamen kerajaan beladiri sebagai wakil masing-masing perguruan.
Setiap guru besar menujukan salam penghormatan saat bertemu, tersenyum dan menyapa, walau jelas tampak adanya persaingan antara mereka, tapi tidak mungkin secara terang-terangan ditunjukkan langsung.
"Tuan Gorongo dan nona Tisumi, apa sudah mempersiapkan hadiah untuk kami bawa pulang." Salah satu guru besar dari istana beladiri surgawi yang datang, berbicara dengan sedikit tersenyum.
"Jika anda berhasil memenangkan pertandingan tentu kami akan memberikan hadiah spesial untuk anda tuan Serda." Gorongo pun membalas senyuman itu.
Tapi makna dari senyuman mereka, cukup jelas menjukan adanya alasan bagi setiap padepokan melakukan kegiatan ini.
Dimana setiap padepokan yang memang akan mendapat hadiah dan itu tidaklah kecil, seribu koin kristal energi ungu dan tiga senjata tingkat lord, tentu cukup membuat mereka tertarik bertarung dan berusaha menang.
"Serda kau berbicara seperti itu, seakan istana beladiri surgawi akan memenangkan pertandingan kali ini, ingatlah, sebelumnya kau hanya menjadi juara kedua." Balas satu guru besar dari akademi tujuh pedang.
__ADS_1
"Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat para muridku berkembang menjadi lebih kuat, dan persiapkan saja muridmu, Reswo." Serda membalas perkataannya dengan tatapan tajam.
"Apa memang benar begitu, aku ingin melihat lagi wajah ketika kau kalah." Jawab Reswo yang tertawa terbahak-bahak.
"Kalian berdua merasa sudah menang sebelum bertarung, jangan lupakan padepokan teratai hitam ku." Berkata Quo yang ikut angkat bicara atas perguruannya.
"Juara terakhir berturut-turut selama enam tahun tidak pantas berbicara sombong." Tapi jelas Serda mengatakan sebuah ejekan karena kekalahan teratai hitam.
Mendengar jawaban itu, tentu membuat Quo merasa panas hingga kepalanya mengepulkan asap karena menahan emosi.
Bagi semua orang, akademi tujuh pedang, dan istana beladiri surgawi adalah lawan yang memang pantas membanggakan diri sendiri.
Tidak bisa dipungkiri, jika selama enam tahun dalam tiga pertandingan sebelumnya, padepokan teratai hitam kalah telak, tanpa ada satu kemenangan pun mereka dapat.
Tapi sekarang cukup berbeda, Quo menemukan bakat-bakat muda terbaik yang mungkin mampu membungkam mulut kedua guru besar ini.
Berjalan memasuki pelataran luar menuju bangunan utama, para guru besar dari masing-masing perguruan beladiri menyaksikan sebuah pertarungan diatas arena.
Mereka semua cukup tertarik, karena dua orang yang sedang bertarung memiliki kekuatan seorang lord saint suci, tentu ini menjadi tontonan yang berkualitas, menurut mereka.
"Oh, siapa yang cukup berani bertarung dengan Tianmu." Quo pun merasa tertarik untuk membahas satu orang ini.
Kemampuan salah satu murid terbaik padepokan beladiri pedang semesta memang terkenal, karena dalam sepuluh tahun terakhir dia berhasil mengalahkan para murid padepokan lain saat berlatih tanding.
Hanya saja, dia bukan berasal dari alam semesta kerajaan beladiri, karena itu, biar pun kemampuannya diakui oleh semua orang, tapi tidak akan pernah mendapat pengakuan dari Varjo de hores.
"Yang menjadi lawan Tianmu sekarang, adalah Askar." Jawab Gorongo karena dilihatnya wajah penasaran atas sosok yang bertarung dengan Tianmu.
"Askar ?, Aku seperti pernah mendengar nama itu." Quo balik bertanya.
"Ya ... Orang yang dikabarkan mampu melampaui bakat sang penguasa pedang." Serda mendengar berita tentang Askar.
"Ternyata berita itu cukup cepat menyebar ke telinga kalian semua." Tisumi mengangguk perlahan, walau pada dasarnya dia cukup senang melihat orang lain terkejut saat tahu tentang Askar.
"Itu tidaklah aneh, Gorongo, Tisumi, menara puncak semesta, adalah peninggalan dewa Mahesa, dan hanya mereka yang dikatakan memiliki bakat untuk mencapai tingkat Dewa sejati saja mampu melangkah ke puncak, dan Askar orang itu." Ucap Reswo atas semua penjelasan yang bukan rahasia bagi orang lain.
__ADS_1
"Tentu saja kami pun merasa penasaran atas nama askar ini." Balas Serda.
Terlebih lagi saat mereka melihat sosok Askar yang hanya memiliki kekuatan seorang lord alam monarch, tapi kesetaraan energi menyamai lord alam saint suci, tentu menjadi pertanyaan besar.
"Apa tubuh bocah itu mampu bertahan dengan kekuatan sedemikian besar, akan sangat disayangkan jika sirkuit energinya rusak karena kelebihan beban." Quo memperhatikan dengan seksama kepada Askar.
"Dan lagi, dia salah mencari lawan." Tambah pula Reswo.
"Sudahlah jangan khawatirkan hal itu, aku sendiri cukup yakin jika Askar mampu memberikan perlawanan balik kepada Tianmu." Berkata Gorongo dengan nada tenang.
Kembali ke pertarungan Askar dan Tianmu.
Tidak ada kata ampun lagi untuk Remure Tianmu, karena apa yang dia ucapkan benar-benar membuat Askar tersinggung.
Pembukaan gerbang ke lima : murka penguasa, secara langsung mengangkat kekuatan Askar sebagai lord alam saint tahap menengah.
Satu tingkat diatas Remure Tianmu, dan dia pun terkejut, dimana tidak pernah disangka kalau Askar masih mampu memberikan peningkatan yang jauh lebih kuat.
Ditambah lagi keadaan berbalik arah yang membuat dirinya terpojok atas serangan bertubi-tubi oleh Askar.
Dalam satu kesempatan, Tianmu mundur sepuluh langkah, dan tangan yang terangkat ke atas mengalirkan sebuah energi lain.
"Rudolfo, keluarlah." Saut suara Tianmu.
Dia mengeluarkan kemampuan tersembunyi miliknya, sebuah roh kontrak yang hampir tidak pernah digunakan untuk waktu lama.
Lingkaran prasasti muncul, sesosok roh dalam wujud iblis berkepala tiga, dan enam tangan yang membawa masing-masing senjata siap untuk bertarung.
"Aku sempat tidak percaya, tapi aku kini melihatnya sendiri."
"Roh legendaris yang mendiami alam semesta roh."
"Aku yakin ini menjadi akhir bagi Askar."
Komentar yang terucap dari mulut semua orang itu, jelas menujukan seberapa kuat sosok roh kontrak milik Tianmu.
__ADS_1