
Seorang lelaki tua dengan kepala botak dan tasbih sebesar buah manggis melingkar dari leher hingga pinggang, berpakaian kain yang hanya dililitkan ke bagian bawah.
Askar sedikit menggambarkan jika dia adalah seorang biksu, tapi di alam semesta atas sebuah agama itu tidak ada, mereka para pemuja penguasa atau dewa-dewa dari awal penciptaan.
Dia adalah Gorongo, sahabat karib dari sang penguasa pedang Loe Teu Yiu, dan sebagai salah satu guru besar di padepokan beladiri pedang semesta.
Loe Teu Yiu mengatakan jika dia adalah salah satu orang yang selalu bermusuhan dengan Varjo de hores, tapi sebagai salah satu leluhur di alam semesta kerajaan beladiri, Gorongo tidak pernah di usik oleh orang lain.
Biar pun permusuhan mereka berdua terlihat jelas, tapi semua orang tahu seberapa berpengaruh kekuatan yang dimiliki oleh Gorongo.
"Paman Gorongo, lama tidak jumpa." Su yiu segera membungkuk untuk menyapa sahabat kakeknya itu.
"Jadi kau yang dikatakan oleh si tua Loe Teu Yiu itu." Ucap Gorongo yang berjalan perlahan dengan wajah datar kepada Askar.
"Ya tuan, aku adalah Askar." Askar memperkenalkan diri.
Dia terlihat seperti meragukan kemampuan Askar, walau ucapan Loe Teu Yiu tidaklah omong kosong belaka, tapi dia tidak begitu saja percaya.
Seperti Gorongo ingin menguji seberapa tangguh Askar, karena dia sangat dibanggakan oleh sang penguasa pedang, untuk seorang lelaki muda yang berniat melawan Varjo de hores.
"Hmmm aku tidak melihat kau punya kemampuan." Gorongo pun menujukan niat lain dari ucapan yang dia katakan.
"Ya aku hanya memiliki beberapa hal yang bisa aku banggakan." Askar mencoba merendah diri.
"Kalau begitu mari kita lihat.... Resmoco." Panggil Gorongo dengan keras.
Tidak lama kemudian satu orang berjalan dengan perlahan dengan membawa sebilah pedang besar yang berukuran hampir sama seperti tubuhnya.
Askar tidak pernah menyangka jika lelaki tua yang memiliki tubuh kurus kering seakan ototnya sudah termakan oleh usia, mampu menggunakan pedang berat.
Tapi saat dia menarik pedang yang dibawa oleh orang bernama Resmoco itu, seakan mudah saja untuk Gorongo gunakan.
"Cepat kau keluarkan senjatamu, Dan lawan aku." Perintah Gorongo yang berniat untuk melawan Askar sebagai bentuk ujian.
"Kenapa disini selalu bertarung untuk menguji kemampuan orang lain." Gumam Askar sendiri.
"Oi apa kau tidak mendengarkan perkataanku."
__ADS_1
"Baik tuan." Askar membalas dengan sopan.
Skill penciptaan mengeluarkan cahaya merah terang dimana terbentuk sebilah pedang berat yang memang sepadan dengan senjata milik Gorongo.
Melihat apa yang digunakan oleh Askar, itu menjadi perhatian bagi pak tua satu ini, dimana tidak banyak orang-orang yang menjadikan senjata besar dan berat sebagai senjata mereka.
Bukan hanya sulit untuk digunakan, tapi juga memiliki resiko besar bagi pemiliknya akan rasa pegal dan kram jika terlalu berlebihan.
Tapi Gorongo adalah master pedang bidang senjata berat, tubuhnya sangat terlatih, biar pun terlihat kurus dan renta, kekuatan yang dia miliki benar-benar luar biasa.
Askar bisa melihat jika dirinya adalah seorang lord alam saint suci tahap menengah, andaikan Askar harus mengalahkannya, paling tidak pembukaan gerbang ke lima satu-satunya pilihan.
"Jika kau bisa menahan tiga gerakan serangan ku, aku akui perkataan Loe Teu Yiu benar." Itu yang Gorongo ungkapkan sebagai bentuk ujian Askar.
"Aku mengerti." Askar bersiap.
Skill pemangsa gerbang keempat kebangkitan penguasa.
Dengan sengaja Askar gunakan sebagai penyeimbang untuk menghadapai kekuatan Gorongo dan secara instan membawa kesetaraan sebagai lord alam setengah saint tahap menengah.
Orang-orang yang berada di sekitar pelataran luar padepokan beladiri pedang semesta, mulai tertarik saat guru besar Gorongo mengeluarkan senjata berat andalannya.
Diantara mereka satu wanita yang cukup sombong berjalan dengan beberapa orang mengikuti, pun mulai tertarik melihat murid-murid padepokan berkumpul.
"Apa yang sedang mereka lihat." Ucap wanita itu dan mulai berjalan mendekat.
"Nona muda, ada orang yang datang ke padepokan untuk bertemu dengan guru besar Gorongo, dan tuan guru sedang mengujinya." Balas orang dibelakang wanita itu yang tahu alasannya.
"Sampah mana lagi yang mau menjadi murid dari guru aneh itu." Jelas sekali ada yang tidak dia sukai saat membahas guru Gorongo.
Satu ledakan energi besar secara tiba-tiba datang saling beradu, ini bukanlah sebuah kejutan yang biasa.
Matanya terbuka lebar, tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah biar pun jarak antara dia dengan lokasi semua orang berkumpul masih 50 meter.
"Kenapa dia ada disini." Berkata wanita satu itu dengan rasa tidak percaya.
Karena saat semua orang tersingkir oleh dua kekuatan besar, tatapan nona muda secara langsung menuju kepada dua sosok yang bertarung dengan pedang berat ditangan.
__ADS_1
Di sisi yang lain pula, ledakan kuat antara Askar dan Gorongo menjadi kejutan bagi orang-orang didalam ruang pelatihan padepokan.
Dimana suara yang terjadi seperti benturan asteroid di halaman luar, semua orang penasaran, mereka berlari untuk melihat, termasuk satu wanita dalam konsentrasi tinggi saat duduk bersila hingga membuka mata.
"Apa yang terjadi." Ucapnya dengan perasaan tidak nyaman.
Berjalan mengikuti semua orang yang cukup berisik menyaksikan sesuatu dari lantai dua ruang pelatihan ke arah pelataran luar.
Ledakan energi yang kedua sampai membuat guncangan besar kepada seluruh bangunan di sekitar, bukan sebuah kekuatan biasa, hanya para ahli saja hingga mampu menghasilkan dampak sampai seperti ini.
Nyatanya dia pun sama terkejut ketika tampak satu kehadiran yang dia tidak sangka berada tepat diantara kerumunan semua orang.
"Askar ?." Ucapnya sebuah nama yang memiliki pengaruh kepada dirinya.
Kembali ke tempat Askar.
Sudah dua serangan yang dia hadapi, setiap ayunan pedang dari Gorongo memiliki kekuatan setara untuk menjadikam gunung hancur berantakan.
Askar tidak bisa pungkiri, jika saat ini sosok lelaki tua dihadapannya benar-benar sekuat tenaga demi menguji kekuatan Askar.
"Satu serangan terakhir ini, aku akan menggunakan seluruh kekuatan yang aku miliki." Tegas ucapan Gorongo sembari mengacungkan pedang ke wajah Askar.
"Baik tuan." Askar bersiap dengan kuda-kuda pertahanan.
Dalam sepersekian detik itu, Askar hampir tidak bisa menyaksikan kemana arah ayunan pedang dari Gorongo jika dia tidak menggunakan ruang akselerasi penuh.
Seorang lelaki tua dengan pedang berat dan kecepatan tinggi, dua hal yang melampaui kemampuan Askar dalam pertarungan pedang, dimana Askar mampu mencapai kecepatan yang sama ketika dia bertarung dengan pedang biasa.
Tapi jika menggunakan pedang berat, maka kecepatan serangan akan menurun hampir 60 %, dan itu tidak berlaku untuk Gorongo.
"Teknik pedang enam raja besar." Teriak Gorongo yang memulai ayunan terakhir.
"Oi anda tidak mengatakan menggunakan teknik pedang." Terkejut Askar saat Gorongo Bergerak maju dimana terbentuk enam serangan dalam satu serangan.
Teknik singa merah : pertahanan raja singa.
Lapisan pelindung merah mengelilingi tubuh Askar, dimana serangan Gorongo tidak berhenti dan saling beradu.
__ADS_1
Askar merasa yakin untuk pertahanan yang dia gunakan, tapi dampak dari ledakan energi mereka berdua tidak diperhitungkan.