PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
gaya freestyle


__ADS_3

Askar tidak tahu atas alasan apa Jariko ini tertarik dengan Su Yiu, bahkan ketika dia melihat seorang gadis yang lebih mementingkan makanan di piringnya ketimbang seorang lelaki tampan didepan wajah.


"Tuan Jariko, seharusnya anda sadar, jika gadis inilah yang sejak tadi aku panggil Su yiu." Berikut Askar dengan apa adanya.


"Oh, siapa sangka, dia adalah wanita yang kau ingin untuk pertarungan dengan Payou." Saat itu juga Jariko paham atas ucapan Askar.


"Memanglah begitu."


"Tapi apa kau yakin Askar, dia hanya seorang lord alam kaisar tahap akhir, sedangkan Payou sendiri adalah lord alam saint suci tahap awal, sangat mustahil mengalahkannya." Jariko memberikan pendapat.


"Jika anda tidak percaya maka lihat saja nanti." Dan Askar pun tidak meminta lelaki ini untuk percaya.


Askar tentu tahu itu, perbandingan kekuatan yang sangat jauh, bahkan lebih jauh dari tanah dan angkasa.


Hanya saja itu berlaku untuk orang-orang normal yang memiliki kekuatan serta bakat biasa-biasa saja, tidak dengan su yiu.


Dengan kekuatan dari dewa kematian Lutos saja sudah cukup melawan Payou, ditambah lagi kemampuan beladiri pedang yang diakui oleh Askar, tentu menjadi nilai lebih hingga bisa mengalahkan lelaki itu.


"Aku adalah Jariko." Dia memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.


Tanggapan yang di dapat jelas berbeda dari semestinya, karena su yiu tidak perduli dan berbalik badan untuk menyelesaikan semua makanan di piring.


"Aku hanya ingin berkenalan dengan anda nona.... tapi kenapa aku merasa dikalahkan oleh sepotong daging yang dianggap lebih penting." Ucap Jariko dengan perasaan rumit.


Askar menyadari apa yang terjadi kepada Jariko, dia masih tetap tersenyum biarpun mendapat perlakuan buruk untuk sekedar berkenalan.


Karena jelas Askar melihat, kalau lelaki satu ini tertarik untuk mengenal lebih dekat kepada Su yiu.


"Sudahlah tuan Jariko, Su yiu terlihat sibuk dengan urusannya, lebih baik anda mencari waktu yang tepat di lain hari." Berkata Askar dengan merasa kasihan karena dia berdiri kaku tanpa ada respon dari Su yiu.


"Sepertinya memang begitu."


Cukup lama Jariko menatap su yiu, rasa tertarik kepada wanita ini mengarah ke sesuatu yang lebih dalam, ya dia menyukai su yiu.


Tapi Askar tidak ingin menghancurkan perasaan Jariko, dan biarkan dia mencari tahu sendiri tanpa perlu Askar ikut campur dalam masalahnya.

__ADS_1


"Jadi tuan Jariko apa anda masih memiliki keperluan." Bertanya Askar.


"Tidak, tidak, aku akan pergi sekarang."


Lepas dari itu, sampai Jariko hilang melewati kerumunan semua orang yang sibuk di tengah-tengah acara, pandangan matanya tidak lepas kepada Su yiu.


"Askar aku tidak menyukai orang itu." Berkata Su yiu secara tiba-tiba.


"Aku juga, karena aku lebih menyukaimu." Balas Askar dengan santai.


Tiba-tiba saja Su yiu terbatuk dan hampir menjatuhkan piring ke tiga yang akan dia habiskan.


"Dia menujukan senyum yang tidak menyenangkan, seperti sesuatu tersembunyi dibalik wajahnya." Perjelas Su Yiu atas gambaran mengenai Jariko.


"Aku pun tahu itu, jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu." Jawab Askar dengan sedikit menggoda su yiu.


Tidak perduli seberapa tinggi status yang Jariko miliki, Askar tidak akan menyerahkan Su Yiu, tapi di lain hal, Askar memang merasa penasaran tentang asal-usulnya.


Seorang tuan yang memiliki pengawal pribadi sebagai lord alam saint suci, tentu bukan sosok sembarangan, karena hanya mereka-mereka berdiri di atas alam semesta kerajaan beladiri saja mampu mendapatkan pengawal sekelas Payou.


Dan saat Askar duduk diam menemani Su yiu, dia pun melihat Resya yang bersembunyi dibalik bayang-bayang, dengan tatapan mencari ke arah keramaian.


Dengan mengendap-endap mendekati Resya, Askar menepuk pan*tat montoknya dari belakang.


"Apa yang sedang kau lakukan." Askar mengejutkan Resya dan membuatnya hampir jatuh.


Tapi dengan cepat dan refleks yang tepat, sebuah pukulan datang menuju kepala, bukan Askar namanya jika tidak bisa menangkap serangan Resya.


"Askar, apa yang kau lakukan." Berkata Resya dengan tatapan tajam.


"Harusnya aku yang bertanya, sikapmu seperti orang habis mencuri." Balas Askar yang meraba tangan Resya digenggamannya.


"Itu bukan urusanmu, dan juga.... jangan seenaknya sendiri menepuk pan*tat orang." Tegas jawaban Resya dengan tatapan tajam.


"Aku tidak seenaknya sendiri, karena kau adalah pelayanku, aku berani melakukannya." Alasan Askar memang bisa Resya mengerti.

__ADS_1


"Jangan asal bicara, aku bukan pelayanmu." Tapi tetap wanita ini menolak.


"Mau sampai kapan kau akan menolaknya Resya, ingatlah janji yang kau katakan saat taruhan itu." Askar tidak melepaskan genggamannya di tangan Resya.


Bahkan secara kuat menarik tubuh gadis yang indah ini kedalam pelukannya, tanpa mau menerima, Askar melingkarkan tangan agar dia tidak bisa pergi.


Resya terus memberontak, dia jelas ingat semua hal tentang taruhannya dengan Askar, biar pun begitu, Resya masih kukuh untuk menolak, karena harga dirinya tidak ingin menjadi pelayan orang lain.


"Nah Askar apa yang kau bicarakan dengan lelaki itu." Bertanya Resya.


"Siapa yang kau maksudkan." Balik Askar bertanya.


Resya terlihat enggan untuk lanjut berbicara, tapi Askar jelas menyadari siapa yang di pikirkan oleh Resya.


"Lelaki bernama Jariko itu." Resya menyebutkan namanya dengan wajah ditekuk.


"Oh, oh, sepertinya kau tertarik, dengan lelaki itu." Ucap Askar sedikit tersenyum.


"Tidak juga, hanya... Kenapa aku bicara akrab denganmu." Baru dia sadar dengan percakapan bersama Askar.


"Apa salahnya, merasa akrab tentu kau akan mengetahui siapa aku sebenarnya."


"Yang jelas aku tahu jika kau adalah lelaki tidak tahu diri dan jangan dekat-dekat denganku." Resya tetap tidak mau menerima kenyataan.


Kini sosok lain pun datang, wanita yang memiliki kecantikan setara dengan Resya, yaitu adiknya sendiri Resra, dimana datang membawa beberapa makanan.


"Kakak... Geh, Askar, untuk apa kau disini." Berkata Resra menujukan tatapan jijik saat tahu Askar ada di hadapannya.


"Kau harusnya ingat jika aku adalah murid dari guru besar Gorongo, jadi tidak aneh saat kau melihatku disini." Jawab Askar yang tersenyum kecut.


"Terserah kau bicara apa, tapi lepaskan kakakku, kau harus sadar diri atas posisimu." Resra jelas perhatian kepada Resya.


"Jadi posisi apa yang kau maksudkan, dudukkah, miring, berbaring, kaki diangkat, berlawanan arah, atau gaya freestyle." Asal saja Askar menjawab.


"Apa yang kau bicarakan ini." Resra bingung sendiri atas pembahasan Askar.

__ADS_1


"Lupakan saja... harusnya kau tahu Resra, jika kakakmu ini, adalah.." secara tiba-tiba mulut Askar ditutup paksa.


"Resra, bisa kau pergi dulu, aku ingin berbicara dengan Askar ini." berkata Resya tiba-tiba.


__ADS_2