
Makhluk yang menampakan diri melalui celah-celah retakan dimensi diatas angkasa adalah eksistensi dari alam surga.
Sebuah tempat yang berada di luar jagat raya ini, tanpa bisa dijamah oleh para manusia biasa dan menjadi asal mula akan semua penciptaan dari jagat raya.
Tapi karena Davendra berniat mengubah takdir dengan membentuk dimensi persimpangan waktu, makhluk itu datang, dipandangnya mereka seperti seekor kuman yang bisa saja musnah karena kehadirannya.
Saat itulah sosok penjaga dari roda takdir, sang kaki tangan Tuhan sejati mencoba mencegah tujuan Davendra karena tindakan dia sama saja menentang keputusan penciptaan jagat raya.
Tapi saat ini Askar menyaksikan Davendra membuka skill pemangsa gerbang ke delapan, penguasa yang mulia, kobaran energi mengguncang daratan alam semesta awal penciptaan.
Membawa kekuatan yang Davendra miliki naik hingga ratusan kali lipat menjadi lebih kuat lagi, untuk Askar sendiri harus bersusah payah hanya untuk bertahan.
Selama dirinya menjadi seorang Asyura, sangat jarang menggunakan kekuatan gerbang ke delapan dari skill pemangsa, penguasa yang mulia.
Meski saat itu dia adalah seorang pemilik kekuatan dewa sejati tahap akhir, batasan dari kekuatan gerbang ke delapan sendiri memberikan efek samping yang memberatkan tubuh.
"Askar kau segera masukkan Rea ke dalam dimensi persimpangan waktu." Perintah Davendra yang masih berusaha keras menahan kemunculan penjaga roda takdir.
"Bagaimana mungkin, aku hampir tidak bisa bergerak sekarang." Ucap Askar yang benar-benar ditekan habis oleh kekuatan Davendra.
"Gunakan kekuatanmu, jika kau terlalu lama, penjaga roda takdir akan muncul dan kita semua akan dibinasakan." Tegas balasan Davendra dengan konsekuensi besar dan sangat berbahaya.
Bagi siapa pun yang mencoba melawan hukum alam dan aliran takdir, sang penjaga roda takdir itu sendiri akan menjadi Penghakim bagi mereka.
Semua itu akan dibinasakan dan diatur kembali oleh sang penjaga, tujuannya adalah agar tidak ada yang berubah dalam aliran takdir.
Askar tidak ingin menerima konsekuensi yang pada akhirnya akan membuat semua tindakan demi masa depan alternatif akan percuma.
Berusaha berdiri walau gemetar sekujur tubuh, Askar merasakan jika tulang-tulang seakan ingin patah hanya karena satu gerakan.
"Skill pemangsa gerbang ke enam raja penguasa."
Energi tubuh Askar meledak kuat, walau pun masih belum cukup mampu melawan balik dari tekanan milik Davendra, tapi ini bisa membuat Askar bergerak lagi.
__ADS_1
Satu langkah yang Askar ambil dirasakan sebuah gunung berada diatas kepala, memaksa dirinya jatuh namun tekad Askar harus membawa Rea untuk masuk kedalam dimensi.
Retakan semakin lebar, tangan sang penjaga roda takdir memaksa keluar, Davendra mulai mut'ah darah karena terlalu lama membuka gerbang ke delapan, jika lebih dari itu, Davendra dipastikan kehilangan nyawa dan Askar pun akan dibinasakan.
Tapi jarak antara askar dan Rea cukuplah lebar, waktu semakin sedikit, tanpa pikir panjang lagi tangan-tangan hitam dari hukum kegelapan muncul di punggung Askar.
Bergerak cepat, menyentuh tubuh Rea dan mendorong tubuhnya, tanpa menunggu lagi, Davendra menonaktifkan kekuatan dewa waktu.
Perubahan besar di langit-langit angkasa, celah-celah dimensi yang menujukan wujud sang penjaga pun perlahan lenyap.
Askar bisa bernafas lega, karena tekanan kuat dari skill pemangsa milik Davendra hilang saat itu juga. Meskipun kondisinya tidaklah bisa dianggap baik-baik saja.
"Apa kau baik-baik saja." Ucap Askar yang masih payah untuk berdiri.
"Tentu saja tidak, aku benar-benar menguras energi kehidupan yang aku miliki, semua tulangku bergeser, otot-otot serasa ingin putus." Balas Davendra yang masih mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Aku anggap itu bukan masalah." Jawab Askar santai saja.
"Matamu."
Tapi tidak berselang lama seekor kucing abu-abu datang dan berdiri disamping tubuh Davendra, membawa sebuah pil putih kebiruan yang dia masukkan ke dalam mulutnya.
Begitu juga untuk Askar, dimana kucing abu-abu memberikan pil yang sama seperti milik Davendra, jelas Askar tahu bahwa itu bukanlah sebuah racun dan langsung menelannya sekaligus.
"Si*al ini bukan rasa strawberry." Gumam Askar yang merasakan sensasi aneh dari obat itu.
"Maaf tuan, tadi yang rasa strawberry aku berikan kepada Tuan Davendra." Balas Omen yang berwarna putih abu-abu.
Memang ada perubahan setelah Askar menelan pil yang Omen berikan kepadanya, aliran energi menjadi semakin stabil, kerusakan otot atau luka-luka yang dia terima perlahan menjadi lebih baik.
Bernafas panjang dan mengatur aliran pernafasan ke sekujur tubuh, karena kemampuan seni pernafasan sangat berguna dalam keadaan yang bisa membahayakan kesehatannya sendiri.
Askar sudah mampu untuk berdiri, sedangkan Davendra masih terbujur kaku tanpa bisa bergerak, tapi ini jauh lebih baik dari beberapa saat sebelumnya.
__ADS_1
"Askar tolong bawa aku masuk, aku benar-benar tidak bisa bergerak sekarang." Ucap Davendra dengan santai.
"Kau menyusahkan saja." Gumam Askar yang merasa enggan untuk membantu Davendra.
"Memang kau pikir aku melakukan ini untuk siapa." Balasnya dengan kesal sendiri.
"Baiklah, baiklah." Mau tidak mau Askar menyeret tubuh Davendra untuk membawa masuk kedalam pondok.
Dan disana pun sudah ada Sina, Asy dan Ke'su, yang sejak awal berdiam diri dengan wajah tegang, Askar tahu kenapa mereka semua bersikap seperti habis melihat malaikat maut.
"Askar apa yang sebenarnya terjadi tadi." Ucap Sina dengan kebingungan dan juga perasaan takut yang begitu kuat.
"Bukan apa-apa, hanya makhluk dari alam surga datang untuk sekedar menyapa kami." Jawab Askar yang cukup singkat menjelaskan.
"Alam surga ?." Tapi mereka bertiga masih belum paham.
"Sudahlah, itu sulit untuk dijelaskan, anggap saja makhluk luar biasa yang menjadi kaki tangan dari Tuhan sejati." Secara garis besar penggambaran Askar menujukan sebuah kejadian yang benar-benar diluar akal sehat mereka.
Sedangkan saat Sina mengarahkan pandangan keoada Davendra yang dibawa oleh Askar dengan menyeretnya dari luar, tentu membuat penasaran untuk mereka semua.
"Askar kenapa tuan Davendra seperti itu." Bertanya kembali Sina.
"Dia hanya sedang tidak enak badan."
"Aku baru tahu jika tidak enak badan bisa membuat mereka mut'ah darah." Gumam Sina merasa aneh.
"Jangan dianggap penting, dia hanya salah makan, minum jamu gendong saja sudah cukup." Balas Askar yang benar-benar asal menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Sina.
Dia adalah seorang dewa, dewa awal penciptaan yang sangat kuat di jagat raya ini dan tidak ada satu orang pun mampu mengalahkannya.
Tapi setelah melihat kondisi Davendra itu, mereka pun meyakini bahwa satu makhluk yang bertemu dengan Askar bukan sesuatu dari jagat raya.
Sebuah eksistensi dari alam surga, wilayah asal dari segala macam bentuk kehidupan, tempat tuhan sejati berada, dan dia menujukan diri di hadapan Askar.
__ADS_1
Sulit untuk dipercaya namun itulah kenyataannya.