
Hari sudah beranjak malam, pesta pernikahan masih berlangsung di aula singgasana, tapi Askar lebih memilih pergi karena dia tidak merasa nyaman dengan semua orang dari alam semesta kerajaan beladiri.
Secara khusus perasaan itu ditunjukkan kepada Varjo de hores, meski sekarang dia dianggap sebagai mertua, tapi kebencian terhadapnya masih belum berkurang sedikit pun.
Tapi sekarang dia mengistirahatkan diri setelah pertarungan melawan Feng Tianmu dan tekanan mental atas pernikahannya bersama Resya.
Tentu pandangan semua orang yang menganggap bahwa Askar tidak pantas menikahi Resya menjadi beban tersendiri, meski pun ini memang tidak pernah di harapkan oleh Askar.
Di ruangan yang telah disediakan sebagai tempat mereka beristirahat, Resya sudah merebahkan diri tanpa harus melepaskan gaun pengantin.
Askar hanya duduk dan melihat Resya begitu lelah, walau apa yang dia hadapi bukan sebuah pertarungan, tapi perasaan Resya diaduk sedemikian kencang, saat harus menerima kenyataan bahwa hatinya tidak ingin melihat ibunya kecewa.
"Apa kau ingin melakukannya sekarang." Ucap Resya yang masih berbaring lem
as dengan wajah datar.
"Aku tidak masalah, tapi apa yang akan kau lakukan selanjutnya." Bertanya Askar kepada Resya.
"Apa perduli mu, aku sudah memutuskan untuk pergi dari tempat ini." Jawab Askar yang memang tidak mau berurusan dengan Askar.
"Tentu saja aku perduli, jika Varjo bertanya tentang keadaanmu apa yang harus aku jawab." Secara khusus Askar lebih mementingkan posisinya ketika harus berhadapan dengan Varjo.
Meski lelaki itu dikenal sangat kejam kepada musuh-musuhnya, Tapi sebagai seorang ayah Varjo de hores memang sangat baik kepada anak-anaknya.
Sekalipun Varjo dengan sengaja menyimpan pedang dewa pemangsa kematian karena sangat berharga, tapi ketika Jariko ingin menggunakannya, Varjo tidak segan-segan mengeluarkan benda berharga itu.
Hanya saja berbeda dengan cara pandang Resya kepada Varjo, dia tidak pernah menganggapnya sebagai seorang ayah yang nyata, karena dia juga menjadi alasan kenapa sang ibu merasa sengsara.
"Pikirkan itu sendiri, setelah aku melunasi janjiku, aku tidak akan perduli lagi akan bagaimana kau nantinya." Dengan suara keras Resya menujukan keputusan yang bulat.
"Baiklah aku mengerti, tapi bagaimana jika yang bertanya adalah ibumu." Kini Askar mempertanyakan hal lain.
"Soal itu..." Resya menjadi ragu-ragu dan
__ADS_1
juga bingung untuk menjawab perihal ibunya.
Dari semua orang yang paling penting bagi dirinya, tentu hanya Ibunya dan Resra saja, selain dari itu, dianggap sebagai semak belukar atau remah-remah roti.
"Kalau kau merasa ragu kenapa tidak tinggal di sini atau kembali ke padepokan beladiri pedang semesta bersama ibumu." Askar sedikit memberi solusi kepada Resya.
"Hanya saja aku tidak akan pernah mau lagi bertemu denganmu Askar, ingat itu." Terasa kemarahan Resya untuk Askar sudah mengakar ke dalam hati.
"Jangan khawatirkan itu, aku mungkin akan segera pergi dari alam semesta kerajaan beladiri." Askar sendiri memiliki alasan.
"Kenapa ?."
"Ya bisa aku bilang kalau tujuanku di tempat ini akan selesai." Jawabnya cukup tenang meski pun tidak menjelaskan.
Resya segera bangkit, tatapannya sedikit malu dengan wajah merah merona, namun secara pasti gaun yang dia kenakan pun perlahan turun, menunjukan diri tanpa satu helai pun kain di tubuhnya.
Berjalan mendekat kepada Askar, dia berusaha keras menahan rasa malu untuk melunasi janji dan membayar taruhan Askar.
Berdiri menghadap ke arah Resya, dia yang belum pernah sekali pun menyentuh lelaki, apa lagi dalam keadaan yang telan*jang dirasakan tidak nyaman.
Tapi jelas Askar tidak perduli karena sejak awal dia sendiri yang memberikan tubuhnya kepada Askar, mengawali dengan satu sentuhan ke pipi Resya yang merah merona menahan malu.
Didekatkan dengan pasti hingga satu kecupan bibir diarahkan Askar sembari memainkan lidahnya, Resya hanya mengikuti, entah dia menikmati atau sekedar terpaksa melayani Askar.
Tetap saja Askar menarik tubuh Resya untuk masuk kedalam pelukan Askar yang dirasakan dari belakang, hingga tangan pun mulai bergerak menyentuh setiap bagian penuh kebahagiaan.
Bermain-main dengan dua daging empuk yang menjadi pajangan indah, dan celah lembut diantara paha berbulu tipis milik oleh resya.
Sentuhan tangan Askar membuat gemetar tubuhnya, hingga tanpa sadar dari mulut keluar desahan merdu, merasa ada yang aneh, namun memberi kenikmatan tanpa pernah dia alami sebelumnya.
Berlanjut saat sebuah benda tumpul mengganjal dibelakang pinggangnya, dan mulai ditempatkan ke lokasi dari aset pribadi yang Resya miliki.
"Aku tahu kau belum pernah melakukan ini." Bisik Askar selagi Resya menahan nafas agar tidak mendesah.
__ADS_1
"Tidak perlu kau banyak bicara, selesaikan ini dengan cepat dan aku akan pergi." Balasan Resya terasa yakin meski suaranya tersendat.
Askar menuruti apa yang Resya inginkan, tanpa aba-aba, tanpa ragu-ragu, tanpa perlu mempersiapkan diri, langsung saja senjata Askar masuk kedalam lubang sempit yang cukup licin.
Sedikit terganjal dan Askar berhenti sejenak, melihat wajah Resya menahan rasa sakit karena untuk pertama kalinya dia merasakan sesuatu memaksa masuk dengan cara yang kasar.
Dan saat senjata Askar penuh memasuki tubuh Resya, darah merah mengalir tercampur dengan cairan licin membasahi bagian bawah.
Askar tetap bergerak, tidak memberi sedikit pun kesempatan untuk Resya berhenti mengambil nafas, rasa perih sudah tidak dirasakan lagi, karena efek regenerasi sel yang terluka segera memperbaiki luka.
Tidak ada satu kata pun diucapkan oleh Resya, dia hanya diam dan menerima semua hal yang dilakukan oleh Askar kepadanya.
Hingga ......
Bintang bercahaya untuk menyambut pagi datang lagi, Askar tidak tahu seberapa lama mereka saling beradu serangan.
Dan dia sendiri sudah tidak menghitung berapa kali dia berhenti tanpa menarik keluar senjatanya, kemudian lanjut kembali.
Bagi mereka berdua tentu pertarungan sepanjang hari cukup menguras energi, tapi masih mampu untuk keduanya saling melanjutkan berulang kali.
Ranjang yang tampak kacau, aroma aneh menusuk hidung, rambut Resya berantakan, basah, tubuh berkeringat, tergeletak lemas meski kesadarannya dipaksa oleh Askar untuk tetap terjaga.
Teknik meditasi gabungan jiwa sudah mengalir dan tapi Askar belum cukup membuatnya melangkah ke tahap lord alam awal keabadian.
Setelah mengalirkan energi penyembuhan untuk memberi tambahan kekuatan kedalam tubuh Resya, dia pun kembali segar dan lanjut kembali Askar menggerakkan tubuh Resya.
Askar jelas ingin merasakan kepuasan tubuh Resya, karena setelah ini istrinya akan pergi, dan hanya satu-satunya kesempatan, tentu tidak akan melewatkan hanya untuk satu kali ini.
"Askar .... Apa .... Ini masih belum cukup..." Suara Resya lemas untuk terucap.
"Aku tidak akan pernah cukup hanya untuk satu kali ini, tapi karena kau akan pergi, aku ingin memuaskan semua." Ucap Askar yang masih memeluk tubuh Resya.
Tentu Askar menyayangkan jika Resya harus pergi, tapi bagaimana pun juga, Askar sudah menjanjikan keinginannya. Sekali lagi Askar berusaha keras menikmati tubuh Resya sampai melupakan waktu.
__ADS_1