
Apa yang ada di dalam pandangan Su yiu, seorang wanita muda sang pembawa takdir dari dewa kematian kepada sosok Askar.
Jelas dia tidak memiliki ingatan dari dewa Lutos, karena cara Su yiu melihat Askar, seakan tidak perduli, dia masa bodoh kepada status yang diberikan oleh Kakeknya, Loe Teu Yiu.
Jika lelaki yang baru dia kenal beberapa bulan lalu adalah jodoh untuk dirinya dari dewa penciptaan Davendra.
Apa yang diharapkan oleh Su Yiu dia hanya menginginkan sosok kuat dan lebih kuat dari Loe Teu Yiu, tentu itu menjadi hal utama sebagai kriteria standard penentu.
Dia hanya seorang wanita yang hidup dalam sebuah planet tanpa pernah sekali pun beranjak ke alam semesta lain, menjadikan Su Yiu beranggapan jika tidak ada sosok lebih kuat dari sang kakek maka dia bukan orang yang tepat.
Sebuah anggapan terlalu tinggi, karena di jagat raya hanya ada satu orang yang mampu seimbang melawan Loe Teu Yiu dan juga sebagai saingannya, dia adalah penguasa naga.
Biarpun dirinya belum mengakui Askar, tapi Loe Teu Yiu masih memberikan penilaian tinggi terhadap Askar, dianggap sebagai satu-satunya kandidat terbaik untuk menjadi jodoh Su yiu.
Sekali lagi Su yiu melihat Askar di ruang pelatihan, dalam kurun waktu dua bulan setelah Askar berlatih bersama dimana setiap gerakan yang di ajarkan oleh Loe Teu Yiu semakin baik, bahkan pemahaman untuk mempelajari tentang beladiri sangatlah cepat.
"Su jika kau hanya berdiam diri untuk melihat, sebaiknya kau juga mulai berlatih untuk mendapat kesempurnaan, atau kau lebih ingin bocah satu ini melampauimu." Ucap Loe Teu Yiu yang melihat Su yiu diam.
"Baik kakek." Balas Su yiu dengan patuh.
Hanya saja yang menakjubkan di sini adalah kekuatan Su Yiu, jelas sekali jika perbandingan ketika melawan Askar, terpaut dua tahap, tapi dia mampu membuat Askar kewalahan.
Ditambah dengan kemampuan penghancur realitas, dimana segala macam bentuk materi dan non materi bisa di tiadakan, dihancurkan, diubah dan di kendalikan, sebuah kekuatan mengerikan dari dewa kematian, Lutos.
Sejak awal dewa pemangsa memang kalah oleh dewa kematian dalam hal kekuatan, tapi Lutos adalah istri dari Asyura, itu memjadikan Lutos harus patuh kepada suami.
"Memang benar, jika aku lihat dengan seksama, dia mirip Lutos." Pikir Askar sembari melihat Su Yiu berlatih.
Tentu gambaran tentang Lutos masih bisa dia lihat dari ingatan Asyura, bukan berarti Askar menolak menjadi sosok dewa pemangsa, tapi sebagian besar hidupnya sudah menjadi Askar, dan tidak ingin berubah karena ingatan yang bertumpuk.
"Hei apa yang kau lihat Askar, fokus kepada latihanmu sendiri." Teriak Loe Teu Yiu yang secara sengaja menghantamkan pedang besar di pinggang saat Askar gagal fokus.
__ADS_1
Sakit bukan main, bahkan dirasakan tiga tulang rusuknya patah, karena penguasa pedang tidak ragu-ragu menggunakan kekuatan penuh untuk menyerang.
"Maafkan aku guru." Berkata Askar yang menahan sakit sambil rebahan di atas lantai.
"Huh, aku tahu jika Su Yiu itu cantik, sangat cantik, tapi itu menjadi kelemahanmu, lihat yang mulus dikit kau sudah hilang fokus, mungkin lihat badak ber-make up pun kau akan tegang." Berkata Loe Teu Yiu yang menggeleng tak lazim saat memikirkan lelaki satu ini.
"Tidak, bukan begitu."
"Ah jadi kau tidak tertarik dengan su yiu." Asal saja Loe Teu Yiu menjawab.
"Bukan itu juga, aku hanya memikirkan sesuatu tentang kehidupan dewa kematian, Lutos, sebelum Su yiu lahir." Perjelas Askar.
"Sudahlah kau terlalu banyak alasan, jika kau bisa banyak bicara begitu, lebih baik gunakan untuk berlatih, sia-sia waktuku untuk melatihmu." Ucap Loe Teu Yiu yang kesal sendiri.
"Lagian juga yang pertama kali meminta aku berlatih itu kau pak tua." Gumam Askar dengan perasaan kesal.
Seketika dirasakan sebuah aura kuat datang mengancam jiwa Askar, tentu kakek loe teu yiu mendengar ucapan Askar yang sedang mengeluh.
"Tidak, tidak, tidak, aku tidak mengatakan apa pun." Askar mencoba beralasan.
Begitulah yang Su yiu lihat dari Askar, dia lelaki dengan segala macam sifat tanpa bisa diketahui, soal bakat Su yiu memang mengakui kalau Askar luar biasa.
Tapi pantas atau tidak Askar bersanding dengannya, Su yiu masih belum memutuskan, dia ingin tahu seberapa tinggi Askar akan melampaui kakek loe teu yiu agar bisa mendapat pengakuan.
*******
Sementara Askar sedang di sibukkan dengan pelatihan, di tempat yang lain.
Alam semesta kerajaan suci.
Azela yang menjadi penguasa pengganti atas keruntuhan sistem pemerintah bagi kerajaan suci, sedang dihadapkan dengan dua pilihan oleh para tetua pilar suci.
__ADS_1
Dimana dia harus memilih untuk menyerahkan kekuasaan alam semesta kerajaan suci agar menjadi sekutu alam semesta kerajaan beladiri.
Atau dia harus turun takhta agar lepas dari keterikatan dengan kekuasaan kerajaan suci, karena para tetua pilar suci lebih memilih untuk tidak melawan kerajaan beladiri.
Bagi Azela itu bukanlah sebuah pilihan, karena dua jawaban yang harus dia beri, sama dengan menyerah dan melepaskan Silviana agar menjadi korban.
Azela tidak ingin hal itu terjadi.
Dia sudah merasakan sakitnya dendam, setelah Varjo de hores menghancurkan tempatnya tinggal, dan kini keluarganya pun menjadi korban untuk menyerah.
"Berulang kali aku katakan, aku tidak akan mengikuti keinginan kalian." Azela berkata dihadapan tujuh tetua pilar suci dengan wajah tegas.
"Kau harus memilih Azela, karena masa depan kerajaan suci bergantung pada jawaban kita." Tapi orang-orang itu tetap kukuh terhadap keinginan yang mereka miliki.
"Masa depan ?, Jadi kalian tetap ingin menyerahkan masa depan ditangan orang lain, aku tidak, karena masa depanku, hanya aku yang bisa membuatnya." Tapi Azela tidak gentar.
"Kau sangat keras kepala Azela."
"Aku keturunan sang dewi keajaiban hidup, Dewi Sunawa, generasi ke 3, tidak akan menyerahkan kekuasaan ini kepada siapa pun." Ucap Azela dengan lantang.
Satu tepukan tangan dari Azela seakan menjawab semua itu, dimana empat belas sosok berjubah putih mengelilingi meja para tetua suci dengan persenjataan lengkap.
"Azela apa-apaan ini."
"Harusnya kalian sadar, lebih baik aku kehilangan orang-orang dari pilar suci daripada mengorbankan masa depan alam semesta kerajaan suci kepada musuh." Ucap Azela tanpa mau mengubah sikap.
"Kau salah membuat pilihan Azela."
"Tenang saja, aku tahu apa yang sedang aku lakukan, karena sebentar lagi, aku akan berhasil membalaskan dendam semua orang, jadi kalian berdiam diri dalam penjara dulu." Ucapnya dengan nada suara serius.
Dan Azela hanya memikirkan ini menjadi satu-satunya cara agar tidak ada orang lain yang akan menentang keputusannya.
__ADS_1