PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
ikatan cinta


__ADS_3

Askar menunjukan diri dihadapan Varjo de hores atau pun Suzong dengan kekuatan yang masih sengaja dia batasi seperti orang lain lihat.


Sedangkan untuk Askar sendiri dia berada di tingkat lord alam saint suci tahap akhir, karena hal itu, tanpa perlu membuka kekuatan skill pemangsa Askar masih jauh di atas Dal mantilo.


Terlebih lagi, pembukaan skill gerbang di posisi dekat dengan Suzong jelas sangat berbahaya, dimana dia sendiri sudah pernah menyaksikan bagaimana Asyura menggunakan kemampuan khusus sebagai sang dewa pemangsa.


Tanpa perlu keraguan, tanpa perlu menahan diri, serangan Dal mantilo bergerak lincah dari segala arah, cambuk yang tajamnya sama dengan pedang, meliuk-liuk seperti seekor ular.


Jelas pedang besar adalah senjata yang paling dirugikan dalam pertarungan melawan seorang Dal mantilo, karena tiap kali mengarahkan serangan, itu mudah bagi lawan membalik keadaan.


Sebuah serangan yang cukup sulit untuk Askar balas, cambuk Dal mantilo mengikat pedang besar milik Askar dan menguncinya agar tidak bisa bergerak.


Dal mantilo berusaha menarik, dia cukup percaya diri dengan kekuatan yang dimiliki olehnya, tapi saat itu juga Askar menahan. Sekuat apapun dia mengeluarkan kekuatannya, kokoh pijakan kaki Askar ibarat sebuah gunung yang tidak bisa di geser.


"Si*al orang ini makan apa berat sekali tubuhnya." Gumam Dal mantilo yang berusaha keras hingga semua ototnya menjadi tegang.


Tapi tidak kehabisan akal, sebuah kekuatan elemen petir dialirkan secara besar-besaran ke dalam cambuk, cepat merayap dimana cambuk dan pedang itu sendiri memiliki sifat konduktor yang mudah mengalirkan energi petir.


Askar menarik paksa tubuh Dal mantilo dengan kuat sebelum serangan listrik mengenai pedangnya, dan terbang tubuh Dal mantilo mendekat, Askar menghantamkan secara telak di bagian perutnya.


Seketika itu Dal mantilo mut'ah darah dan terpental jatuh hingga berguling-guling di atas lantai, tentu semua orang tahu seberapa keras benturan pedang Askar itu.


Dimana gemuruh ayunan pedang itu sendiri membentuk sebuah gelombang energi keras hingga lantai yang menjadi pijakan Askar pun retak seketika.


Dal mantilo tidak lagi mampu berdiri, dia jelas merasakan ada tulang yang patah karena serangan Askar di tubuhnya itu, bahkan untuk menggerakkan satu jari pun dia bisa merasakan rasa sakit luar biasa.


"Apa ini sudah cukup membuktikan jika aku pantas atau tidak." Tegas suara Askar menunjukan pembuktian bahwa dia berani bertanggung jawab atas namanya.


Saat itu juga Varjo dan Suzong berjalan maju, Suzong bertepuk tangan, dan Varjo mengangguk-anggukan kepalanya dengan paham, ya bagaimana tidak, setelah menyaksikan Askar membuat Dal mantilo jatuh dalam satu serangan kini siapa yang ragu bahwa lelaki ini tidak pantas.

__ADS_1


"Baik, sangat baik sekali, ini baru calon menantuku." Ucap Varjo merasa bahagia, walau pun kekesalannya tentang Silviana masih belum berkurang.


Tapi karena Askar itu dia bisa sejenak mengobati kemarahan saat harus menerima kenyataan bahwa Silviana telah pergi dan menghancurkan apa yang dia rencanakan itu.


"Anda terlalu memuji tuan Varjo." Askar berusaha tersenyum senang atas pujian Varjo, meski pun emosi Askar sudah memuncak di ubun-ubun melihat lelaki itu tertawa.


"Sudah aku katakan panggil saja aku dengan Ayah." Sekali lagi Varjo meminta hal yang mustahil.


"Baiklah A.... a... a... A 'njing'." Jelas itu tidak mungkin di ucapkan oleh Askar.


"Sudahlah, sudah Askar, aku tidak akan memaksamu lagi, panggil saja saat kau mampu." Varjo berusaha bersabar.


" Maaf tuan, sepertinya memang panggilan itu sangat berat untukku." Askar mencari alasan.


"Itu tidak masalah." Dan Varjo pun merasa paham.


Tentu dengan semua yang diperlihatkan oleh Askar, semua pasukan khusus dimana sebelumnya ragu, hanya bisa percaya jika lelaki itu, bukan sembarangan.


Bahkan Le Wei segera mundur dan kembali ke barisan para pasukan, dia sudah berulang kali menyaksikan, merasakan dan menerima kekalahan.


Sehingga dia sadar bahwa berapa kali pun dia mencoba melawan selalu saja dikalahkan dengan mudah, begitulah yang kini dialami oleh Dal mantilo, sehingga tidak ada alasan untuk dia malu sendiri.


Dianggap bahwa dia tidak mampu, nyatanya lelaki yang menjadi panutan di istana beladiri suci pun harus berakhir dengan kekalahan telak.


*******


Di tempat lain....


Resya sedang duduk berdua dengan ibunya, Tisumi, membantunya menyisir rambut hitam panjang itu perlahan sembari tersenyum di depan cermin.

__ADS_1


"Ibu, kenapa tersenyum begitu, apa ada hal baik yang terjadi." Bertanya Resya yang memperhatikan ekspresi Tisumi dari cermin.


"Tidak, ibu hanya berpikir jika kau sudah besar, dan sebentar lagi kau juga akan menikah." Jawab Tisumi penuh kebahagiaan.


"Tunggu, apa itu sudah ditentukan." Balas Resya dengan wajah bingung.


"Ya Varjo sudah memastikan hal itu, apa kau senang Resya akhirnya bisa menikah dengan lelaki yang kau suka." Tisumi pun tidak mengaggap bahwa Resya akan menolak.


Sejenak Resya terdiam, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya, bahwa dia akan menikah segera, jelas ini diluar dugaan, tapi dia sendiri tidak memiliki alasan untuk menolak.


"Aku tidak tahu." Jawab Resya lemas.


"Kau pasti sedang bingung, merasa aneh jika Varjo merestui hubungan kalian, tapi misalkan dia sampai menolak ini, ibu sendiri akan menghadapi ayahmu itu." Secara tegas jawaban Tisumi menginginkan apa yang anak minta.


Entah ada angin apa, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan sosok Varjo de hores muncul sembari tersenyum lebar.


"Coba dengar kalian, jika Askar sudah kembali ke kerajaan ini." Ucap Varjo membuat tisumi dan Resya terkejut.


Terlebih lagi untuk Resya, dimana dia berharap jika Askar tidak akan kembali, tapi nyatanya dia ada di sini sekarang. Dan langsung saja, Resya berjalan cepat untuk keluar.


"Aku yakin jika dia benar-benar menyukai Askar." Itu yang tisumi lihat dari anaknya dimana secara tiba-tiba pergi setelah mendengar nama Askar.


"Saat dulu aku tidak pernah bisa membuatmu bahagia, tapi aku berharap dengan apa yang aku lakukan sekarang, itu bisa membayar kebahagiaanmu dulu, kepada Resya." Ucap Varjo dengan nada lembut dan terdengar menyesal.


"Lupakan itu, sekarang aku tidak perduli tentang masa lalu, selama Resya bahagia, aku akan melakukan apa pun, bahkan jika kau menolak Askar, aku pastikan kau menerima kemarahan ku Varjo." Tegas tanggapan tisumi karena dia tahu, antara mereka berdua tidak pernah ada yang namanya ikatan cinta.


"Jangan menganggap kalau aku tidak menganggap Resya sebagai anakku." Varjo membalas ucapan tisumi dengan senyum lemas.


Varjo jelas tidak pernah menginginkan tisumi pergi dan hidup di dalam padepokan beladiri pedang semesta, tapi karena tuntutan sebagai suami dari banyak wanita.

__ADS_1


Dia harus berlaku adil, saat istri yang lain merasa keberatan untuk tisumi tetap tinggal di dalam istana kerajaan.


__ADS_2