
Suara itu terdengar jelas dari sorot mata yang mengarah langsung kepadanya, sesosok monster besar dimana dia sudah membuka kecerdasan spiritual.
bisa dipastikan kalau dia adalah penguasa para burung Purba yang mendiami tingkat ke dua dari lubang besar di sarang Phoenix.
Tidak lagi Askar terkejut akan kehadiran para binatang iblis yang mampu berkomunikasi, sebab mereka semua sudah hidup di alam semesta awal penciptaan ini selama ratusan ribu tahun.
Tapi terdengar cukup sopan makhluk yang masih belum menampakkan diri dari balik bayangan itu, dia tidak menujukan minat untuk bermusuhan, bahkan seperti ingin mengajak Askar berbicara.
"Aku adalah Askar, yang berniat turun ke dasar tempat ini untuk melihat sebuah peninggalan dari sarang kebangkitan Phoenix." Coba Askar membalas ucapannya dengan sopan.
"Sebaiknya kau kembali, urungkan niatmu untuk beranjak lebih jauh memasuki tempat ini." seperti sebuah peringatan kepada Askar.
"Memang kenapa ?."
"Karena di dalam sana, adalah neraka, setelah kau masuk, tidak ada jaminan untukmu kembali dengan selamat." balas makhluk itu kembali.
"Ini sudah aku pikirkan, aku pun sudah siap menerima resiko yang mungkin terjadi." jawab Askar tanpa keraguan.
"Aku tidak mengerti, sungguh tidak mengerti, kenapa kau begitu tertarik menjelajah ke tempat yang belum tentu seperti harapanmu." sedikit nada suara aneh seperti mengeluh atas tujuan Askar.
Secara perlahan tubuh makhluk yang sebelumnya hanya terlihat pancaran sinar dari mata itu mulai bergerak naik, dia sangat besar, kibasan sayap terdengar seperti suara angin badai.
gemuruh dan tekanan aura dari makhluk itu mampu membuat Askar gemetar, walau tidak ada niat bertarung diantara mereka berdua, tapi Askar menujukan sikap waspada, karena segala macam kejadian bisa saja terjadi.
Ketika pancaran cahaya dari kristal energi yang ada di sisi tebing menerangi wujud mahluk itu membuat Askar diam di tempat, karena dia tidak lain adalah sosok Garuda emas.
tidak kurang sedikit pun kemiripan dengan love bird, sejak awal Asyura membentuk wujud dari skill pemangsa yang menyerupai para binatang penguasa.
Burung purba yang menempati sarang di tingkat kedua ini, nyatanya masih satu keturunan dengan burung garuda, dan dia yang berbicara kepada Askar adalah wujud dari evolusi sempurna dan membangkitkan garis keturunan binatang mistik.
Dengan tubuh layaknya manusia, berkaki cakar dan memiliki dua tangan, sayap lebar membentang hampir satu kilometer, membuat Askar terlihat kecil seperti kutu baginya.
__ADS_1
Askar tidak bisa membayangkan jika dirinya kini menyaksikan sosok makhluk yang sama langkanya dengan burung Phoenix, bahkan lebih jarang lagi untuk bertemu dengan seekor Garuda emas.
Tapi Askar bisa tahu seberapa kuat makhluk yang menduduki sebagai raja para burung ini, sebuah kesetaraan dengan lord alam keabadian tertinggi.
Tentu burung purba satu ini membutuhkan waktu yang sangat lama demi membentuk evolusi menjadi seperti sekarang.
"Aku tidak memaksamu untuk mendengarkan perkataanku, jika kau memang berniat menjelajah lebih dalam hingga dasar maka terimalah resikonya." Ucap sosok Garuda emas yang menujukan sebuah sikap tidak perduli.
Bagaimana pun garuda emas sudah memberi peringatan kepada Askar, lebih dari itu, segala hal yang menyangkut keselamatannya bergantung kepada dirinya sendiri.
"Terimakasih tuan Garuda emas, karena anda tidak mempersulit perjalananku." Balas Askar yang segera melanjutkan perjalanan.
Ketika Askar memasuki wilayah tingkat yang ketiga, akan jauh lebih menyulitkan, dimana tempat itu adalah ruang gravitasi dan memiliki keunikan saling bertolak belakang.
Sebagian wilayah tidak memiliki gravitasi di mana segala sesuatu yang memasukinya akan melayang, dan di wilayah kebawah sebuah tekanan besar dengan gravitasi seratus kali lipat dari permukaan.
Askar tentu sudah paham bagaimana cara dia melewati zona tanpa gravitasi karena, bagi Askar sendiri, ini hampir sama dengan wilayah angkasa yang hampa udara.
Terlebih lagi ruang hampa udara bukan berarti tubuh manusia hanya mengambang, melayang-layang seperti balon, tapi jauh lebih buruk, karena di sekeliling tubuh memiliki tekanan yang mampu menarik ulur hingga meledak.
Tapi dengan bantuan seni pernafasan yang mencapai tahap kesempurnaan, dia bisa mengendalikan oksigen tanpa perlu menarik nafas dari mulut.
Di setiap pori-pori tubuh, akan memisahkan sendiri oksigen dari kandungan zat lain agar meresap kedalam tubuh.
"Baiklah, ini cukup mudah...." Gumam Askar yang memiliki keyakinan untuk lolos dari tingkat ke tiga.
Memang pergerakan Askar tidak cepat, namun sedikit demi sedikit tangan melepaskan udara yang mendorong tubuh Askar untuk turun.
Sedikit kesulitan hanya saat bebatuan yang melayang hampir menabrak tubuh Askar, dan itu adalah bongkahan besar saling menghimpitnya.
Seni beladiri pernafasan gelombang pertama : hembusan jiwa.
__ADS_1
Dalam satu gerakan Askar membentuk pusaran udara yang berputar di sekeliling tubuh dan melempar dua batu besar menjauh.
Seni pernafasan memang cukup spesial, dimana tidak menggunakan konsumsi energi atau pun gerakan rumit bermacam-macam gaya.
Hanya perlu satu gerakan tangan dan berinisiatif membentuk serangan sederhana yang bisa menjadi senjata rahasia untuk mengalahkan lawan.
Tubuh Askar terdorong menuju ke pusat, dan tekanan gravitasi pun berubah, tubuh Askar ditarik paska oleh gaya tarik gravitasi secara tiba-tiba.
Tanpa persiapan terlebih dahulu, Askar pun menghantamkan lapisan tanah yang ada di dasar, keras bukan main, jika tidak dalam mode tubuh iblis lord.
Bisa dipastikan beberapa tulangnya akan patah, sedikit lebih beruntung jika hanya sedikit keseleo, tapi sayang di alam semesta awal penciptaan tidak ada tukang urut.
Gaya tarik seratus kali lebih kuat dari permukaan, memang sangat menyusahkan bagu Askar hindari, tubuhnya memang sangat kuat namun ini tidak menutup kemungkinan Askar untuk sulit bergerak.
Melihat ke atas satu batu terjun bebas dan jatuh tepat menuju Askar, ini lah yang menjadi masalah, dia tidak mungkin sempat bergerak pergi.
Tanpa ragu lagi, kedua tangannya diangkat dan menangkap langsung batu yang jatuh untuk menghantam tubuhnya.
"Sial, gravitasinya membuat batu ini semakin berat." Gumam Askar yang berusaha keras menahan beban.
Skill pemangsa gerbang keempat : kebangkitan penguasa.
Hanya dengan meningkatkan kekuatan inilah, Askar menjadi lebih nyaman tanpa lagi terpengaruh oleh tekanan gravitasi wilayah tingkat ke tiga.
Melemparkan batu menjauh, dan Askar berjalan mencari lokasi untuk melangkah ke tingkat selanjutnya.
Walau begitu, ini membuat Askar cukup khawatir, karena dia tidak tahu harus mempersiapkan diri dengan rencana apa, sedangkan lokasinya masih belum diketahui.
(Note : untuk beberapa alasan author jelas sedang kesulitan mencari inspirasi, mungkin agak membosankan, tapi ya ada kalanya sulit membuat cerita, jadi seperti inilah jadinya.
Dan mohon maaf jika kurang sreg.)
__ADS_1