
Lima tahun lalu aku menikahi gadis pilihan orang tuaku. Perjodohan itu terjadi karena ayahku bersahabat baik dengan ayah istriku. Awalnya kami menjalani biduk rumah tangga dengan canggung. Bayangkan! Dua orang asing yang sebelumnya benar-benar tidak saling mengenal dan tidak pernah bertemu harus satu atap dengan proses yang begitu cepat. Hanya butuh waktu satu bulan kedua orang tuaku mematangkan perjodohan kami hingga resepsi. Seingatku hanya sekali saja bertemu dengannya, itu pun saat ijab kabul.
Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya kami bisa menjalani rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Kini kami telah memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik, turunan dari istriku. Ya! Istriku sangat cantik.
Selain cantik, dia juga pintar memasak. Piawai dalam melayaniku dan anakku. Semua pekerjaan rumah dia kerjakan, tanpa mengeluh sedikitpun. Istriku tipe perempuan yang nrimo, dia tak pernah sedikitpun menuntut macam-macam padaku. Apa yang ku berikan selalu dibuat cukup olehnya.
Rumah sedikitpun tak pernah berantakan, semua rapi dan bersih. Anakku sangat terawat, tak pernah ketinggalan oleh istriku setiap fase pertumbuhan anakku. Tentang aku... jangan ditanya! Urusan ranjang mungkin aku lelaki paling beruntung, terkadang tanpa kuminta dia selalu menawarkan diri.
Ketika keluar rumah aku selalu didandani serapi mungkin. Soal pakaian, dia selalu menyiapkan pakaian mana yang harus kukenakan setiap harinya. Baik di rumah atau ketika hendak keluar kerja ataupun hanya sekedar pakaian jalan-jalan. Bagiku istriku luar biasa. Bahkn jika boleh aku memberi nilai, dia adalah istri sempurna.
Dua tahun lalu, ia memohonkan ijin kepadaku agar saudara laki-lakinya yang katanya dari sumatra, untuk tinggal dirumah beberapa waktu karena ingin mencari pekerjaan dikotaku. Tak masalah bagiku, karena semua keluarganya sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Istriku memang punya keluarga dari Sumatra. Kakak dari Ayahnya. Aku hanya sekedar tau, tapi tak pernah juga ketemu dengan mereka.
Aldo, nama saudara istriku itu. Begitu sampai di kotaku, segera ku bantu dia mencari pekerjaan. Coba-coba kuminta pada bosku untuk memberi pekerjaan padanya. Ternyata diterima, dan hingga kini dia bekerja juga di kantorku.
Waktu itu, setelah genap dua bulan Aldo bekerja, istriku meminta ijin agar aldo tetap tinggal dirumahku. Kata istriku Aldo bersedia memberikan separuh gajinya untuk kami. Karena memang kamar Aldo dulunya tidak terpakai, aku pun mengijinkan. Akhirnya hingga sekarang Aldo tinggal dirumah kami.
Hari-hari berlalu, istriku tetap istri yang pandai melayani keluarga. Baik itu aku, anakku dan sekarang aldo. Semua dia kerjakan dengan riang, bahkan sekarang terkadang ku dengar dia melakukan pekerjaan rumah sambil bersenandung. Akh! Sungguh orang tuaku memilihkan kebahagianku secara tepat. Bisik hatiku.
*******
"Dek, hari ini aku pulang agak telat, bos ngajak survei lahan" kataku pada istriku berpamitan.
__ADS_1
"Oh iya Mas" katanya sambil menyambut tanganku yang tadi kusodorkan lalu diciumnya.
"Hati-hati dijalan Mas!" katanya, seperti biasa dia mengantarku sampai depan rumah. Kukecup keningnya sebagai tanda sayangku padanya. Lambaian tangannya selalu mengiringi kepergianku hingga ku menghilang di ujung gang.
*******
Pukul 22.45
"Rey, ini sudah terlalu malam. Sebaiknya kamu langsung kuantar pulang saja. Kalo kamu balik kekantor akan terlalu larut kamu sampai rumah" kata bosku memberi penawaran.
"Boleh pak, jika memang tidak merepotkan" kataku menerima tawarannya.
Sesampai dirumah, kuketuk pintu rumahku yang terkunci, tapi tak ada sahutan dari dalam. Kucoba memasukan anak kunci serep yang selalu kubawa. Tapi tak berhasil, karena ternyata dari dalam kunci bergantung tak dicabut. Akhirnya kucoba berinisiatif mencari keberadaan istriku, barangkali dia sedang didapur. Namun baru beberapa langkah ku menapakkan kaki disamping rumahku, langkahku tertahan tepat disamping kamarku. Samar-samar ku mendengar suara rintihan perempuan yang sepertinya memadu kasih. Kutajamkan pendengaranku, dan benar saja lengkuhan kenikmatan itu berasal dari kamarku. Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak. Pikiranku jauh menerawang. Segala pikiran negatif mendominasi otakku.
Detak jantungku kian tak beratutan setelah kudengar lagi lengkuhan-lengkuhan manja dari si wanita. Derit ranjangpun terdengar tanda bahwa dahsyatnya pertempuran mereka. Emosiku yang tertahan kini memuncak saat kudengar si lelaki berkata "sudah sayangggg"
Aldo! Yah, itu suara Aldo. Kurang ajar! Rutukku dalam hati. Secepat kilat aku menuju dapur. Ku buka jendela dapur dengan mudah, engselnya yang sudah rusak belum sempat kuperbaiki. Perlahan namun pasti kumelangkah menuju kamarku. Pintunya tidak ditutup, dibiarkan terbuka lebar. Dasar lelaki bejat. Sumpah serapahku bertubi-tubi ku impatkan meski di dalam hati.
Dua manusia itu masih bergumul manja, dan dalam keremangan pencahayaan kamarku segera kutarik Aldo dari ranjangku. Kulihat dia tanpa busana. Tanpa ampun ku hujani ia dengan pukulan tapak naga geni dan tendangan seribu bayangan.
"Tolonggggggg.... " pekik istriku yang masih di atas ranjang. Istriku?? Bukan.. Itu bukan suara istriku...
__ADS_1
Kuhentikan kegiatanku memukuli Aldo, cepat ku cari tombol lampu. Klik! Terang benderang, kulihat Aldo yang sudah babak belur, pandangan ku beralih ke wanita yang duduk di atas ranjangku dengan selimut menutupi badannya. Siapa dia?
Aldo bangkit, mendekatiku. Kulempar handuk yang didekatku untuknya, agar dipakai menutupi sebagian badannya.
"Siapa dia?" tanyaku tanpa basa basi.
"Maaf Rey, dia istriku. Aku lupa bilang kalo hari ini dia mau datang kesini" kata Aldo sambil memegang perutnya. Nampak dia kesakitan dengan tendanganku tadi. Yah, aku memang belum tau istri aldo, karena sejak dia tinggal dirumahku tak sekalipun Aldo membawa istrinya kerumahku. Hanya Aldolah yang selalu pulang ke Sumatra jika merindukan keluarganya.
"Anita mana?" tanyaku lagi.
"Anita minta diantarkan ke rumah Ibumu tadi siang, bantu masak buat acara yasinan. Katanya tadi telpon kamu tapi tidak kamu angkat. Besok pagi baru dia pulang, gitu pesannya tadi" kata Aldo lagi. Terkejutlah aku.
"Maaf Aldo, kukira tadi kamu.. Anu.. Eh... Istriku... Eh... Kamu dan istriku anu-anuan.. Eh bukan-bukan... Anu itu... " terbata-bata kumemberi penjelasan.
"Ga papa Rey, aku yang salah" katanya sambil memangil istrinya untuk turun dari ranjang. Dan bergegas meninggalkan kamarku. Istrinya hanya tertunduk, mungkin malu. Apalagi dengan kondisi seperti itu.
Setelah mereka berada di luar kamar, Aldo berbalik masuk lagi ke kamar ku. Dia berbisik...
"Maaf ya Rey, maaf banget. Aku SALAH KAMAR, habis kebelet. Jablay satu semester" kata Aldo sambil nyengir kuda. Dan langsung berbalik lagi, ngacir begitu saja.
Mendengar candaan kecilnya, sontak ada yang anu dari anuku. Lantas terbayanglah wajah istriku, kangen! Ingin rasanya segera kususul dia kerumah orang tuaku sekarang juga.
__ADS_1
"Arggghhh. Aldo Kutu kupret kau! " umpatku.
💣💣💣💣