Salah Kamar

Salah Kamar
Maafkan Aku


__ADS_3

Vallen pun hanya tertunduk mendengar perkataan Firman.


"Maafkan aku Vallen, sampai kapanpun kau akan memiliki tempat tersendiri di hatiku tapi aku sadar siapa diriku dan dirimu, kita tidak pantas bersanding. Kau berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dibandingkan diriku."


Vallen kemudian menatap Firman begitu dalam, air mata pun mulai menetes.


'Vallen, tolong maafkan aku." kata Firman kemudian memegang tangan Vallen.


"Jangan sentuh aku." jawab Vallen sambil menarik tangannya.


Vallen kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu berlari meninggalkan Firman.


"Vallen, kau mau kemana?" teriak Firman, tapi Vallen terus berlari. Firman kemudian meninggalkan uang di atas meja tersebut lalu ikut berlari mengejar Vallen.


"Vallen!!" teriak Firman.


Namun Vallen berlari semakin menjauh dari Firman kemudian dia masuk ke sebuah taksi dan pergi meninggalkan Firman yang masih berlari mengejar dirinya.


"Maafkan aku Vallen, aku minta maaf sudah menyakiti dirimu, sebenarnya aku sangat mencintaimu tapi aku sadar siapa diriku dan dirimu, kita sangat berbeda Vallen, kau bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dibandingkan diriku." kata Firman sambil menatap kepergian Vallen.


Dengan langkah lemas, Firman berjalan ke arah sepeda motornya kemudian meninggalkan resto tersebut.


"Maafkan aku Vallen, aku minta maaf sudah menyakitimu." kata Firman terus-menerus sepanjang perjalanan sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk."


"Kenapa aku tiba-tiba jadi seperti ini? Seharusnya aku bahagia karena sudah tidak memberikan harapan palsu lagi pada Vallen tapi kenapa ternyata sakit sekali?"


Dia kemudian memacu sepeda motornya dengan kecepatan begitu tinggi lalu berkeliling sepanjang jalan tak tentu arah.


"VALLEEENNNNNN!!!" teriak Firman karena sudah tak sanggup menahan perasaan yang semakin berkecamuk di dalam hatinya.


"Aku mencintaimu, Vallen." kata Firman dengan begitu lemas sambil menghentikan laju sepeda motornya dan mengusap kasar wajahnya.


Sementara Vallen di dalam taksi hanya bisa termenung, air mata masih mengalir deras membasahi wajahnya.


'Ternyata aku mencintai orang yang salah, kenapa aku harus bertemu dengan lelaki seperti dirimu, kau begitu menyebalkan yang membuatku tergila-gila padamu tapi ternyata kau juga sangat kejam Firman.' gumam Vallen dalam hati sambil menutup mulutnya.


'Oh Tuhan, rasanya sakit sekali.' gumam Vallen lagi sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Bahkan bernafas saja terasa begitu menyesakkan dada." kata Vallen sambil tersenyum kecut.


💜💜💜💜💜


"Ini sudah masuk dini hari, tapi aku belum bisa memejamkan mataku. Kenapa aku terus memikirkan Vallen." kata Firman sambil menatap langit-langit kamar.


Dia kemudian memejamkan matanya kembali, namun bayang-bayang Vallen semakin menari di benaknya.


"Mungkin aku butuh udara segar." kata Firman sambil membuka matanya, kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamarnya.


"Kenapa aku jadi begitu tersiksa seperti ini? Apakah menolak dirinya sebuah kesalahan besar yang pernah kulakukan? Ah tidak, keputusan ini adalah yang terbaik. Vallen gadis yang cantik dan pintar, pendidikan dan penghasilannya jauh lebih besar dibandingkan diriku yang hanya seorang karyawan biasa." kata Firman sambil berjalan keluar dari kamarnya.


"Firman." panggil seseorang yang membuyarkan lamunannya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya lalu melihat seseorang sudah berdiri di belakangnya. Firman lalu melihat Agam yang kini tampak begitu rapi sambil membawa sebuah koper di sampingnya.

__ADS_1


"Oh Agam, ada apa?"


"Firman, bisakah aku meminta bantuan padamu?"


"Bantuan? Selama aku bisa, aku akan membantumu."


"Oh begini Firman, maaf jika aku merepotkan dirimu. Ibuku mendadak masuk rumah sakit, aku harus pulang sekarang ke Sulawesi. Mencari taksi online saat dini hari seperti ini sedikit sulit, aku takut tertinggal pesawat Firman. Maukah kau mengantarkan aku ke bandara?"


"Oh tentu saja, kau tenang saja, aku akan mengantarmu sekarang. Aku ambil kunci motor dan jaket sebentar ya."


"Iya terimakasih banyak Firman."


"Tidak apa-apa, lagipula aku juga sedang tidak bisa tidur."


"Tidak bisa tidur? Apakah kau sedang memikirkan sesuatu?"


Firman hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa, mungkin belum terbiasa saja."


"Ya."


Firman kemudian mengendarai sepeda motornya menuju ke bandara, jalanan yang lengang karena belum banyak kendaraan bermotor yang melewatinya membuat mereka lebih cepat sampai di bandara. Agam pun kemudian mengajak Firman untuk meminum kopi terlebih dahulu.


"Firman, kau mengendarai motor cepat sekali. Aku masih punya banyak waktu sebelum penerbangan, sebaiknya kita minum kopi dulu di dalam."


"Ya, jalanan masih lengang jadi aku bisa memacu motorku lebih cepat."


Firman pun mengangguk, dia kemudian mengikuti Agam ke dalam bandara.


'Mungkin lebih baik aku di sini terlebih dahulu, jika di dalam mess aku terus menerus memikirkan Vallen.'


Mereka kemudian duduk di dalam sebuah kedai kopi yang ada di bandara tersebut, namun baru saja Firman dan Agam memesan kopi, tiba-tiba seseorang sudah menepuk bahunya. Dia lalu memalingkan wajahnya dan melihat Rayhan yang sudah berdiri di sampingnya.


"Kita bertemu lagi, Firman." kata Rayhan sambil tersenyum.


"Kau mau pergi ke London sekarang?"


Rayhan kemudian mengangguk.


"Firman, bolehkah aku bicara denganmu sebentar."


Firman kemudian menatap Agam.


"Agam, aku bicara dengan temanku sebentar."


"Ya Firman, silahkan."


Firman dan Rayhan lalu berjalan ke salah satu meja di pojok cafe.


"Kau pergi sendirian? Dimana istrimu?"

__ADS_1


"Dia akan menyusulku satu minggu lagi, ada sesuatu hal yang harus dia persiapkan karena ini sebenarnya sedikit mendadak baginya."


"Oh ya, aku mengerti."


"Firman, aku minta tolong padamu. Tolong jaga Vallen, tolong jangan kau sakiti dia seperti aku yang sudah menyakitinya."


Mendengar perkataan Rayhan, Firman pun terdiam. Dadanya kian sesak mengingat semua yang telah terjadi sore tadi antara dirinya dengan Vallen.


"Firman, kenapa kau diam."


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang mengingat gadis aneh itu." kata Firman sambil tersenyum.


"Gadis aneh?"


"Oh ya, maksudku Vallen."


"Jadi kau jatuh cinta karena itu? Karena dia adalah gadis yang aneh?"


Firman pun tersenyum. "Mungkin, aku baru pernah bertemu gadis seperti dirinya."


"Ya, dia memang berbeda, karena itulah aku sangat mencintainya." kata Rayhan sambil tersenyum.


Firman kemudian memandang Rayhan.


"Oh maafkan aku, aku tahu dia sekarang adalah milikmu."


"Tidak apa-apa. Bagaimanapun juga kita mencintai wanita yang sama."


"Tapi kau jauh lebih beruntung dibandingkan diriku Firman."


"Lebih beruntung? Apakah karena kau tidak bisa memilikinya jadi kau mengatakan seperti itu padaku?"


Rayhan kemudian menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tahu, berapa lama aku mengejar cinta Vallen?"


Firman pun menggelengkan kepalanya.


"Dua tahun, dua tahun aku mengejar cinta Vallen. Sejak pertama kali melihatnya saat SMA, aku sudah mencintainya namun dia selalu menolakku, hingga akhirnya saat kami duduk di bangku kelas tiga SMA dia baru menerima cintaku. Tapi lihat dirimu, baru beberapa hari dia mengenalmu, dia sudah jatuh cinta dan tergila-gila padamu." kata Rayhan sambil tersenyum kecut.


"Benarkah?"


Rayhan pun mengangguk sambil tersenyum.


"Aku juga tidak tahu sekuat apa pesonamu pada dirinya hingga mampu menaklukkan hati Vallen sampai merubah kebiasaannya." kata Rayhan sambil terkekeh.


"Apa maksudmu Rayhan?"


"Apakah kau tahu jika Vallen sebenarnya tidak bisa naik motor, perutnya selalu mual jika naik sepeda motor. Tapi dia mau melakukannya denganmu, bahkan dia tidak memberitahukan dirimu kan?"


Firman kemudian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


'Astaga Vallen, maafkan aku.'


__ADS_2