Salah Kamar

Salah Kamar
Kekasih Baru


__ADS_3

Firman tiba-tiba menghentikan laju motornya.


"Ada apa Firman?"


"Vallen, kau lihat wanita hamil yang sedang keluar dari rumahnya itu?"


"Ya, kasihan sekali, dia tampaknya sangat kepayahan. Kita harus menolongnya, Firman."


"Iya, dia temanku namanya Anita. Ayo kita kesana."


Mereka kemudian bergegas menghampiri Anita yang sedang berjalan keluar dari rumahnya.


"Anita!" panggil Firman.


"Firman, tolong aku. Sepertinya aku akan melahirkan, sejak tadi pagi sebenarnya aku sudah merasa sangat tidak nyaman tapi aku sendirian di rumah."


"Sendirian di rumah? Memangnya kemana suami dan orang tuamu?"


"Suamiku bekerja di laut. Sedangkan orang tuaku juga sedang dirawat di rumah sakit, jadi aku sendirian di rumah. Perkiraan kelahirannya masih satu minggu lagi, tapi rasanya aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini."


"Namamu Anita? Bolehkah aku memeriksa keadaanmu di dalam?"


Anita lalu memandang Firman.


"Oh ya dia Vallen, kekasihku. Dia seorang dokter spesialis kandungan, kau tenang saja Anita."


Anita pun tersenyum pada Vallen.


"Iya Dokter Vallen."


Firman lalu membantu Anita berjalan masuk ke dalam rumah.


"Firman, kau tunggu disini. Aku dan Anita masuk ke kamar dulu. Untungnya aku membawa satu sarung tangan medis steril jadi aku bisa memeriksanya untuk sementara."


"Iya."


Beberapa saat kemudian, Vallen pun keluar dari kamar tersebut.


"Bagaimana Vallen?"


"Firman, pembukaannya hampir lengkap. Ini sudah terlambat untuk dibawa ke rumah sakit, aku juga tidak membawa peralatan apapun, lebih baik kau panggilkan saja seorang bidan yang ada di sini, mungkin saja setelah melahirkan dia memerlukan jahitan ataupun cairan infus untuk menambah tenaganya. Di sini ada bidan kan?"


"Iya Vallen, tentu saja ada. Aku pergi sekarang."


"Ya."


Vallen lalu masuk ke dalam kamar Anita lagi lalu melihat Anita yang sudah sangat kesakitan. Dia lalu bergegas mendekat ke arah Anita lalu memasukkan tangannya ke dalam va**na Anita.


"Astaga, ini sudah lengkap."


"Anita, sekarang kau tolong dengarkan aku. Saat perutmu terasa begitu sakit, tolong kau mengejan, dorong dengan sekuat tenagamu. Apa kau mengerti?"


Anita pun hanya bisa mengangguk karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa yang begitu campur aduk, keringat pun sudah membasahi seluruh pakaiannya. Dia kemudian menjerit kesakitan.


"Rasa sakitnya sudah datang Anita?"


"Ya."

__ADS_1


"Sekarang kau bisa mengejan, dorong sekuat tenagamu Anita!" teriak Vallen.


"Aku tidak bisa Dokter Vallen."'


"Percaya padaku, kau pasti bisa. Saat rasa sakit itu datang, cepat kau dorong Anita. Kita coba lagi."


"Iya Dok."


"Kau pasti bisa Anita."


Akhirnya suara tangis bayi pun mulai terdengar.


"Kau hebat Anita." kata Vallen sambil mengeluarkan bayi tersebut. Vallen kemudian membersihkan bayi tersebut, dan di saat itulah Firman dan seorang bidan datang. Bidan tersebut lalu mendekat ke arah Vallen.


"Dia perlu dijahit, apa kau membawa peralatannya."


"Ya." jawab bidan tersebut lalu memberikan sekotak peralatan medis pada Vallen.


"Kau tolong urusi bayinya, aku akan menjahit Anita terlebih dulu."


"Baik dok."


"Terimakasih banyak Dokter Vallen." kata Anita pada Vallen saat sedang menjahitnya.


"Sama-sama."


"Aku banyak berhutang budi padamu."


"Sudahlah Anita, kau tenang saja. Bukankah sesama teman harus saling menolong?" kata Vallen sambil mengedipkan matanya.


Beberapa saat kemudian, Vallen pun keluar dari kamar Anita sambil tersenyum pada Firman yang sedang menunggunya di ruang tamu rumah Anita.


"Sudah selesai?"


"Ya, ayo kita ke rumah sakit sekarang."


"Tidak, ini sudah sangat sore. Kau juga pasti lelah kan?"


"Lalu kita kemana?"


"Pulang ke rumah. Kita pulang ke rumah, kau istirahat saja sekarang."


"Bagaimana dengan orang tuamu?"


"Nanti aku katakan pada orang tuaku jika calon istriku yang cantik sedang kelelahan setelah membantu persalinan." kata Firman sambil terkekeh.


"Kau bisa saja, ini tidak melelahkan."


"Tapi kau baru saja datang dari Jakarta lalu membantu proses persalinan, ini sudah sangat sore, sebentar lagi malam lebih baik kau istirahat saja."


"Baiklah jika itu maumu, kita pulang sekarang."


Firman lalu menarik tangan Vallen keluar dari rumah Anita.


"Aku mau tidur bersamamu." kata Vallen sambil terkekeh saat berada di atas motor.


"Tidak gadis aneh, kita belum menikah."

__ADS_1


💜💜💜💜💜


Delia membuka kaleng susu Shakila dan terlihat sedikit panik saat melihat isinya yang sudah kosong.


"Aduh, aku lupa susu Shakila sudah habis. Lebih baik aku pergi ke warung saja sekarang mumpung masih jam delapan malam, warungnya pasti belum tutup."


Dia lalu bergegas menemui ibunya.


"Bu, Delia titip Shakila sebentar ya. Delia mau ke warung depan, beli susu untuk Shakila."


"Iya Nak." kata ibunya sambil mengambil alih Shakila dari gendongan Delia.


Delia lalu berjalan keluar dari rumah menuju ke warung yang ada di dekat rumahnya. Sayup-sayup dia mendengar suara beberapa ibu-ibu yang ada di warung tersebut.


"Apa kalian sudah tahu kalau Anita baru saja melahirkan tadi sore."


"Udah Bu Eli. Kasihan ya padahal lagi di rumah sendirian. Suami sama ibunya kan lagi ga ada di rumah."


"Iya tapi untungnya ada Firman sama pacar barunya itu. Mereka yang nolongin Anita."


"Jadi yang bantu Anita melahirkan itu pacarnya Firman? Apa pacarnya Firman itu seorang bidan?"


"Aduhhh Bu Yayu bener-bener ketinggalan berita nih. Pacarnya Firman itu seorang dokter kandungan."


"Astaga!"


"Iya, dokter kandungan lulusan luar negeri. Orangnya juga cantik banget."


"Luar biasa, hebat juga ya si Firman bisa dapet pacar kaya gitu. Tapi memang Firman juga ganteng sih, mukanya kaya artis, pantes aja kalau ada orang kota yang nempel ke dia."


"Ya, udah rejeki juga mungkin, dari dulu kan dia selalu sial, udah dibohongi Delia, kehilangan Aini. Eh sekarang dapet pengganti yang jauh lebih baik dibandingkan mereka."


"Bener juga."


Delia yang mendengar percakapan itu di balik pintu warung pun hanya bisa menahan perasaannya yang begitu tak menentu. Sebenarnya dia ingin pergi meninggalkan warung itu, namun mengingat Shakila yang membutuhkan susu kembali meneguhkan hatinya untuk memasuki warung tersebut meskipun perasaannya kini terasa begitu sakit.


EHEMMM


Delia lalu masuk ke warung tersebut. Beberapa orang yang sedang membicarakan Firman pun tampak salah tingkah.


"Eh Delia, mau beli apa Delia?" tanya pemilik warung.


"Susu bayinya ada?"


"Oh ada." kata pemilik warung sambil memberikan sekotak kardus susu ukuran sedang pada Delia.


"Terimakasih, ini uangnya. Permisi ibu-ibu." kata Delia sambil meninggalkan warung tersebut.


Beberapa orang yang ada di warung tersebut pun langsung berbisik-bisik.


💜💜💜💜💜


Delia pulang ke rumahnya dengan perasaan yang begitu tak berkecamuk.


"Jadi Mas Firman sudah memiliki kekasih baru?" kata Delia, dadanya terasa begitu sesak apalagi rasa cinta di dalam hatinya pada Firman belum hilang sedikitpun meskipun sebentar lagi dia akan menikah dengan Dimas. Delia kemudian menghentikan langkahnya lalu menangis sambil menutup wajahnya.


"Mas Firman, aku masih mencintaimu." kata Delia di sela isak tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2