
"Astaga, kenapa seperti ini." kata Firman sambil mengerutkan keningnya saat duduk di dalam kubikelnya."
Dia kemudian mengusap kasar wajahnya. "Aku baru saja ditempatkan di kantor ini tapi aku sudah menemukan masalah sebesar ini. Bahkan di sini aku tidak tahu aku harus melaporkan pada siapa akan semua kecurangan yang telah terjadi, pantas saja beberapa bulan terakhir ini perusahaan ini mengalami kerugian yang cukup besar."
Tiba-tiba ponsel Firman pun berbunyi.
"Pak Danu." kata Firman kemudian mengangkat panggilan itu.
[Halo Firman.]
[Iya halo Pak Danu.]
[Bagaimana Firman? Apa kau sudah menemukan sesuatu?]
[Iya Pak Danu, ini bukan sebuah korupsi intern tapi sebuah praktek nepotisme. Pemenangan tender pada pihak yang sangat tidak berkompeten, dan kuasa atas pemenangan tender tersebut memang sepertinya perintah dari Pak Abimana.]
[Astaga, pantas saja begitu banyak kerugian di kantor pusat. Firman dengarkan aku sebentar lagi ada orang yang akan datang padamu, tolong kau ikut dengannya untuk bertemu dengan Pak Yanuar, kau ceritakan semua kecurangan yang kau temukan pada Pak Yanuar. Dia adalah orang kepercayaan Pak Raka, biar nanti Pak Raka yang akan mengambil keputusan bagaimana langkah selanjutnya.]
[Baik Pak Danu.] Jawab Firman kemudian dia menutup panggilan telepon itu.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki bertubuh kurus pun mendekat ke arah Firman. Laki-laki itu kemudian tersenyum.
"Anda yang bernama Firman?"
"Ya."
"Perkenalkan, saya Hendra. Saya anak buah Pak Yanuar, mari ikut saya untuk menemui Pak Yanuar."
"Iya." jawab Firman kemudian keluar dari kubikelnya. Mereka lalu berjalan ke arah lift menuju ke ruangan Yanuar yang ada di dua lantai di atas ruangan kerja Firman.
TOK TOK TOK
"Silahkan masuk."
Hendra dan Firman pun masuk ke ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu tampak seorang laki-laki berusia empat puluh tahun sedang duduk dan tersenyum melihat kedatangan Firman dan Hendra.
"Pak Yanuar, ini Firman." kata Hendra.
"Oh iya Firman, silahkan duduk. Pak Danu sudah memberitahu dirimu kan?"
"Iya Pak Yanuar."
"Sekarang, kau bisa mengatakan padaku tentang apa yang sebenarnya telah kau temukan."
"Oh begini Pak Yanuar, saya mengecek mengenai laporan laba rugi perusahaan kita beberapa bulan terakhir ini dan menemukan kerugian yang cukup besar di perusahaan kita, tapi kerugian tersebut bukan karena penyalahgunaan anggaran seperti yang Pak Danu perkirakan sebelumnya, tapi ini hubungannya tentang adanya praktek nepotisme di perusahaan kita. Pemenang tender proyek perusahaan kita merupakan perusahaan yang sangat tidak berkompeten, perusahaan kita bahkan sering mengalami keterlambatan yang mengakibatkan banyaknya komplen dari konsumen, itulah yang menyebabkan perusahaan kita akhir-akhir ini selalu merugi."
"Bagaimana mungkin itu terjadi? Jadi beberapa bulan terakhir ini perusahaan kita selalu memenangkan perusahaan yang sangat tidak berkompeten untuk melaksanakan proyek kita di lapangan?"
"Iya benar Pak Yanuar, dan menurut saya kewenangan atas pemenangan perusahaan tersebut berada di tangan Pak Abimana. Perusahaan tersebut memberikan kompensasi pada Pak Abimana jika memenangkan proyek di perusahaan kita, dan itu semua terjadi diluar kendali Pak Raka."
"Astaga, jadi Abimana melakukan semua ini hanya untuk kepentingan pribadinya saja?"
__ADS_1
"Iya Pak Yanuar."
Yanuar pun kini mengusap wajahnya dengan kasar. "Abimana benar-benar sudah keterlaluan, setelah Pak Raka membekukan rekeningnya karena pernah mengambil uang perusahaan ini, kini dia mencari cara lain untuk mendapatkan uang yang lebih banyak."
Yanuar kemudian menatap Firman.
"Firman, aku akan membicarakan masalah ini dulu dengan Pak Raka, untuk langkah selanjutnya, kau akan kukabari lagi. Sekarang kau boleh pulang, tenang saja ada jaminan keselamatan bagimu dari Pak Raka."
"Iya Pak Yanuar, terimakasih."
"Kami yang seharusnya berterimakasih padamu."
Firman pun mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan Yanuar. Dia kemudian melihat arlojinya.
"Ini sudah hampir pukul lima sore, Vallen pasti sudah menungguku."
Beberapa saat kemudian ponsel Firman pun berbunyi.
"Akhirnya gadis aneh ini meneleponku." kata Firman kemudian mengangkat panggilan dari Vallen.
[Firman, kau ada dimana? Kenapa kau belum menjemputku?]
[Vallen, tadi aku ada urusan penting di kantor. Kau sedang apa?]
[Sedang bernafas.]
[Hahahaha. Jangan bercanda Vallen.]
[Tentu saja aku akan menjemputmu, aku sudah menyelesaikan urusanku.]
[Baiklah, aku akan menunggumu. Kalau kau sudah sampai tolong hubungi aku, aku akan beristirahat sebentar di ruanganku, aku sangat lelah Firman, hari ini aku melakukan operasi sebanyak dua kali. Benar-benar melelahkan.]
[Hahahaha, itu sudah menjadi tugasmu sayang. Tunggu aku, sebentar lagi aku sampai.]
[Iya. Tunggu dulu jangan kau tutup teleponnya.]
[Ada apa lagi?]
[Jangan lupa es krim cokelatnya.]
[VALLEEENNNNNN!!!] Teriak Firman yang membuat Vallen terkekeh. Vallen kemudian berjalan ke arah sofa di ruangannya kemudian merebahkan tubuhnya di sofa tersebut.
"Hani bangunkan aku jika Firman sudah meneleponku." kata Vallen pada Hani yang sedang mengerjakan laporan.
"Iya Dok."
Beberapa saat kemudian Vallen pun sudah terlelap.
"Dasar dokter yang aneh." gerutu Hani saat melihat Vallen yang kini mulai mendengkur.
Setengah jam kemudian, ponsel Vallen pun tampak berdering. Bergegas Hani pun membangunkan Vallen.
__ADS_1
"Dokter, pacar anda sudah menelepon." panggil Hani sambil mengguncang-guncangkan tubuh Vallen.
"Apa? Firman sudah meneleponku?"
"Ya." jawab Hani sambil memberikan ponsel Vallen. Vallen pun bergegas mengangkat panggilan itu.
[Halo Vallen, aku sudah di depan.]
[Oh ya, tunggu aku sebentar Firman, aku baru saja bangun tidur.]
[Apa tidur?]
'Dasar gadis aneh, bisa-bisanya dia tidur di ruangannya.'
[Ya, tunggu aku sebentar.]
[Ya, aku akan menunggumu. Jangan terlalu lama, aku sudah lapar.]
[Iya iya sayang.] jawab Vallen kemudian menutup telponnya. Vallen lalu menatap Hani.
"Hani bagaimana penampilanku?"
"Sangat berantakan dokter, lihat bahkan ada air liur di sekitar bibir anda."
"Benarkah?"
"Ya."
"Astaga, aku harus mencuci mukaku lalu memakai make up ulang, aku tidak ingin Firman melihatku dengan penampilan seperti ini, aku harus terlihat cantik seperti biasanya." gerutu Vallen kemudian bergegas masuk ke toilet.
"Padahal aku hanya membohonginya, tapi dia percaya saja padaku." kata Hani sambil terkekeh.
πΏπΏπΏπππ
Firman duduk di atas seperti motornya sambil sesekali melihat ponselnya.
"Sedang apa dia, lama sekali?" gerutu Firman. Dia kemudian mengotak-atik ponselnya. Namun saat dia akan menelepon Vallen kembali tiba-tiba sebuah suara mengejutkan dirinya.
"Selamat sore Firman." sapa sebuah suara di belakangnya.
Firman pun kemudian membalikkan tubuhnya. Tampak di hadapannya seorang laki-laki tampan berperawakan sedang dan memakai kaca mata berdiri di depannya sambil tersenyum kecut.
"Selamat sore." jawab Firman sambil tersenyum.
"Benar kan? Kau yang bernama Firman."
"Ya, saya Firman."
NOTE:
Sebenarnya kelanjutan hubungan Firman sama Vallen gimana sih? Othor udah kasih bocoran di novel sebelah loh, yang udah baca novel AKU BELUM MATI, SUAMIKU pasti udah tahu bagaimana akhirnya hubungan Firman dan Vallen ππ
__ADS_1