
Heni membuka pintu rumah lalu tersenyum saat melihat Roy dan Aini yang sudah berdiri di depan pintu tersebut sambil mendorong Darren di sebuah stroller.
"Owh kalian cocok sekali, kalian seperti sebuah keluarga yang harmonis." kata Heni sambil tersenyum dan menaruh tangannya di depan dadanya.
"Mama bisa saja."
"Ayo Aini, kita masuk ke dalam." kata Heni sambil mendorong stroller Darren.
"Kalian istirahat dulu saja, biar mama yang mengurus Darren."
"Iya ma, Aini ayo kita ke taman belakang, Olivia bilang kau suka tanaman kan?"
Aini lalu mengangguk kemudian dia mengikuti Roy berjalan ke taman belakang rumah dan melihat beberapa jenis bunga yang baru dibeli oleh Roy.
"Bunga-bunga itu untukmu Aini, aku sengaja membeli bunga itu untukmu agar kau bisa merawatnya jika sudah tinggal di rumah ini."
"Tinggal di rumah ini? Apa maksudmu Roy?"
"Ah lupakan saja kata-kataku." jawab Roy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Heni yang melihat mereka dari kamar Darren hanya bisa tersenyum. "Ayo Roy, kejar cinta Aini." kata Heni sambil terkekeh.
❣️ Tiga bulan kemudian ❣️
Heni menatap Aini yang sedang menimang Darren yang kini terlelap dalam gendongannya. Sesekali Aini mencium Darren sambil tersenyum.
"Hei Roy, bukankah masa idah Aini sudah selesai? Kenapa kau belum juga menyatakan rasa cintamu untuknya?"
"Mama, Roy masih ragu."
"Apanya yang kau ragukan? Sepertinya Aini juga menyukaimu."
"Bukan itu ma, tapi kejadian kecelakaan itu masih selalu membayangi Roy. Aku sangat cemas jika Aini akan menjauh dariku jika dia tahu yang sebenarnya kalau akulah penyebab kecelakaan itu."
"Roy dengarkan kata-kata mama, tolong jangan kau pikirkan itu dulu, ikuti kata hatimu Roy. Kau dan Darren berhak hidup bahagia, kau berhak mendapatkan seorang istri yang baik yang mau mengurusmu dan anakmu dengan setulus hati."
"Iya ma." jawab Roy, dia lalu tampak sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Apa yang kau lakukan Roy, bukankah mama menyuruhmu menyatakan cintamu pada Aini, kenapa kau malah mengutak-atik ponselmu."
"Bukankah mama mengatakan jika Roy harus menyatakan cinta Roy pada Aini?"
"Iya tapi bukan mengutak-atik ponselmu Roy."
"Mama, Roy sedang mempersiapkan semuanya. Roy sebenarnya sudah menyiapkan semua ini sejak beberapa hari yang lalu tapi Roy masih ragu, jadi Roy menundanya untuk sementara waktu dan sepertinya malam ini adalah waktu yang tepat."
"Oh iya iya Roy, lakukan yang terbaik untuk Aini, ungkapan perasaanmu malam ini juga, Roy."
"Iya ma."
Beberapa saat kemudian, senyum pun tersungging di bibirnya.
"Ma, Roy antar Aini pulang dulu ya ma."
"Iya sayang."
__ADS_1
"Aini." panggil Heni.
"Iya tante."
"Darren sudah tidur kan?"
"Iya."
"Lebih baik kau pulang dulu sekarang."
"Iya tante."
"Terimakasih banyak Aini, kalian hati-hati di jalan ya." .
"Iya ma."
Roy lalu menggandeng Aini keluar dari rumahnya kemudian masuk ke mobilnya. Roy kemudian menatap Aini sambil tersenyum.
"Kau kenapa tersenyum, Roy?"
"Sepertinya kita sudah lama tidak berkencan?"
"Jadi kau ingin mengajakku berkencan kembali?"
Roy pun tersenyum.
"Itupun jika kau mau."
"Memangnya kapan aku pernah menolakmu?"
"Ayo Aini." kata Roy sambil membukakan pintu mobilnya. Aini lalu turun dari mobil kemudian mereka berjalan menuju cafe tersebut. Saat memasuki cafe, tampak seorang pelayan cate tersebut sudah menunggu mereka di depan pintu.
"Tuan Roy dan Nyonya Aini?"
"Ya." jawab Roy.
"Roy, kenapa dia bisa tahu nama kita?" bisik Aini.
"Sudah ikut saja, Aini." jawab Roy sambil tersenyum. Mereka lalu mengikuti pelayan tersebut, saat mulai berjalan di rooftop Aini pun begitu kagum dengan pemandangan ibu kota yang begitu indah.
"Ini indah sekali, Roy."
"Kau suka?"
Aini pun mengangguk.
"Itu mejanya, sebentar lagi kami akan mengantarkan hidangannya."
"Iya terimaksih."
"Jadi kau sudah mempersiapkan semua ini, Roy?"
"Tentu. Ayo kesana Aini." kata Roy sambil menarik tangan Aini ke arah meja pesanan mereka. Aini pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat bunga-bunga yang bertebaran di sepanjang jalan yang mereka lalui.
__ADS_1
"Apa ini, Roy?" tanya Aini, namun Roy diam, hanya senyuman yang tersungging di bibirnya. Mereka lalu mendekat ke arah meja pesanan mereka, sebuket bunga mawar warna merah yang ada di meja lalu Roy ambil kemudian dia berikan pada Aini.
"Ini untukmu."
"Terimakasih." jawab Aini.
"Aini, coba kau lihat itu." kata Roy sambil menunjuk sebuah videotron yang terpasang di salah satu gedung yang terletak tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Aini pun mengamati videotron tersebut.
Aini pun tersenyum, perasaan bahagia kini begitu menyelimuti hatinya, perasaan bahagia yang bahkan belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya saat melihat sebuah foto dirinya yang ada di videotron tersebut disertai dengan tulisan "AINI AKU MENCINTAIMU." kemudian tulisan itu hilang lalu berganti dengan sebuah tulisan "AINI AKU SANGAT MENCINTAIMU, MAUKAH KAU MENJADI ISTRIKU?"
"Roy, apa ini?" kata Aini sambil menutup mulutnya.
"Aini aku mencintaimu." jawab Roy kemudian menggenggam tangan Aini, sekuat tenaga dia menenangkan gejolak yang ada di dalam hatinya.
"Aini, apakah kau mau menerima cintaku?" tanya Roy sambil mengerutkan keningnya. Raut wajahnya pun kini tampak begitu serius. Jantungnya pun berdegup kian kencang saat detik demi detik dia lalui untuk mendengar jawaban Aini. Roy pun kemudian bertanya kembali pada Aini karena saat ini Aini pun tampak begitu gugup.
"Aini, aku sangat mencintaimu, maukah kau menjadi pasanganku dalam hidup ini? Maukah kau menemaniku sampai sisa hidupku?" tanya Roy kembali.
Perlahan Aini pun mengangguk. "Ya, iya Roy. Aku juga mencintaimu." jawab Aini sambil meneteskan air matanya. Roy kemudian mendekatkan tubuhnya pada Aini.
"Terimakasih Aini." jawab Roy kemudian memeluk Aini.
"Kau mau kan menikah denganku? Kau mau kan menjadi ibu dari putraku?" kata Roy saat melepaskan pelukannya kemudian membuka kotak cincin yang ada di tangannya.
"Ya." jawab Aini sambil mengangguk.
Roy pun tersenyum kemudian memasang cincin itu ke jari manis Aini, lalu memeluk tubuh Aini kembali. Aini pun membalas pelukan itu lalu menyenderkan kepalanya di dada Roy sambil menangis dalam dekapannya.
"Kenapa kau menangis, Aini? Apa kau sedih memiliki kekasih yang sudah tua sepertiku?" kata Roy sambil terkekeh.
Aini pun mengangkat wajahnya lalu menatap Roy. "Apa kau tak bisa melihat ini air mata bahagia, Roy?" gerutu Aini.
"Jadi kau sangat bahagia?"
"Tentu saja." jawab Aini sambil tersipu malu.
Roy kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Aini hingga wajah mereka kini begitu dekat, di saat itu lah tiba-tiba Aini mengecup bibir Roy. Roy pun begitu kaget, mereka lalu tertawa bersama.
"Aku pikir kau gadis yang sangat polos tapi ternyata kau juga bisa nakal, Aini."
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mencium kekasihku?"
"Tentu saja, kau hanya sedikit mengagetkanku dan membuatku begitu terkejut, untungnya aku tidak memiliki penyakit jantung."
"Kau berlebihan."
"Kau harus dihukum."
"Dihukum?" kata Aini sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, dan ini hukumannya." kata Roy kemudian melu*at bibir Aini dengan begitu bergairah.
"Roy." teriak Aini yang kaget tiba-tiba Roy sudah menciumnya, namun teriakan itu kini tenggelam karena sibuk membalas ciuman Roy.
__ADS_1
NOTE: Jangan lupa tinggalin jejaknya buat othor ya 🥰😘😉🤗