Salah Kamar

Salah Kamar
Melupakanmu


__ADS_3

"Kesepakatan?"


"Kesepakatan apa Tante Fitri?" tanya Delia sambil mengerutkan keningnya.


"Sebaiknya kita masuk dulu lagi ke dalam kamar." kata Fitri sambil menggandeng Delia masuk ke dalam kamar Dimas.


"Maaf tante, saya sedang banyak urusan, bisakah kita bicarakan kesepakatan itu sekarang juga?"


Fitri pun tersenyum.


"Begini Delia, sebenarnya tante ingin kau dan Dimas menikah saja tapi sepertinya kau tidak mau menikah dengan putraku."


"Itu tidak akan pernah terjadi, tante."


"Ya ya ya, aku tahu. Aku tidak akan mempermasalahkan itu Delia karena sebenarnya aku hanya menginginkan putrimu. Aku hanya ingin kau bisa memberikan putrimu pada kami dan mencantumkan nama Dimas di akte putrimu."


"Tidak tante, itu tidak akan pernah kulakukan."


Fitri pun tersenyum lalu membelai rambut Delia.


"Delia, coba kau pikirkan lagi baik-baik jika kau memberikan anak itu pada kami, bukankah kau jadi lebih bebas mengejar Firman?"


"Apa maksud tante?"


"Delia, apa kau pernah berfikir jika Firman sebenarnya meninggalkanmu karena anak itu? Apalagi saat ini Firman merasa dibohongi oleh kalian berdua agar menutup aibmu dengan menjadi kambing hitam atas kehamilanmu, pasti saat ini dia sangat membenci Shakila."


Delia pun terdiam, Fitri pun tersenyum saat melihat Delia yang tampak sedang berfikir dan mempertimbangkan kata-katanya.


"Delia, percayalah pada tante. Setelah kau memberikan Shakila pada kami, tante yakin Firman pasti mau kembali lagi padamu. Lagipula bukankah seharusnya kau senang karena putrimu tinggal bersama kami, segala kebutuhannya pasti akan tercukupi sampai dia dewasa nanti."


Delia kini menundukkan wajahnya.


"Bagaimana Delia? Apa kau mau memberikan putrimu pada kami?" kata Fitri sambil mengangkat wajah Delia.


"Delia, kau tidak perlu khawatir, saat kau memberikan putrimu pada kami, aku juga akan memberimu uang dalam jumlah yang cukup besar yang bisa kau pergunakan bersama Firman, anggap saja kami memberikan modal untuk kalian. Bagaimana?"


Delia kini menatap Fitri.

__ADS_1


"Bagaimana Delia? Tidak usah ragu, dan tidak usah malu-malu."


"Ba... Baik tante, aku akan menyerahkan Shakila pada kalian."


"Bagus sekali, sekarang kau akan kuantar pulang, aku langsung ingin membawa putrimu bersamaku sekarang juga, lebih cepat itu lebih baik, akan lebih mudah memisahkan dia dari dirimu saat dia masih bayi karena dia belum mengenal ibu kandungnya."


"Terserah tante saja."


"Kau tanda tangani dulu kertas ini, setelah itu aku akan memberikan kompensasi untukmu."


Delia lalu mengambil kertas yang diberikan oleh Fitri lalu menandatangani kertas bermaterai tersebut.


"Ini sudah selesai."


"Baik sekarang tuliskan nomor rekeningmu di ponselku." kata Fitri sambil memberikan ponselnya pada Delia. Delia pun mengetikkan nomor rekeningnya di ponsel Fitri lalu memberikan ponsel tersebut pada Fitri.


"Ini sudah kutransfer." kata Fitri sambil memperlihatkan ponselnya.


"Terimakasih." jawab Delia.


'Wow banyak sekali.' gumam Delia hati saat melihat delapan digit angka yang tertera di ponselnya.


Dimas yang sejak tadi melihat ibunya dan Delia membuat kesepakatan hanya bisa terdiam sambil mengamati mereka berdua.


'Jika mama sudah bisa mendapatkan apa yang dia inginkan tentu dia tidak akan memaksaku kembali untuk segera menikah, aku bisa bersenang-senang lagi dengan banyak wanita cantik diluar sana.' gumam Dimas dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


"Sekarang ayo kita pulang, aku akan mengantarmu pulang, sekaligus untuk mengambil Shakila."


"Iya tante."


'Dasar wanita bodoh.' gumam Fitri sambil melirik Delia yang kini berjalan di sampingnya.


🏠❀️🏠❀️🏠❀️🏠


Aini membuka matanya, tubuh tela*jangnya kini ada dalam dekapan Roy dan kini mereka hanya tertutup oleh sebuah selimut.


Aini kemudian mengambil ponselnya yang ada di samping bantalnya kemudian membuka akun sosial media miliknya, dan melihat begitu banyak ucapan selamat di kotak masuknya, dia kemudian membalas ucapan selamat tersebut satu per satu hingga netranya tertuju pada sebuah nama yang ada di kotak masuk miliknya.

__ADS_1


'Mas Firman.' gumam Aini dalam hati.


'Apakah dia juga memberikan ucapan selamat padaku?' gumam Aini lagi. Aini kemudian membuka kotak masuk dari Firman dan membaca pesan di kotak masuk tersebut.


'Astaga kenapa dia berkata seperti ini padaku?' gumam Aini dalam hati saat melihat isi pesan dari Firman.


Aini, apakah tidak ada lagi kesempatan untukku? Aku masih sangat mencintaimu, maafkan aku jika ini sedikit terlambat tapi aku baru mengetahui jika anak yang dilahirkan Delia bukanlah darah dagingku, dan saat ini aku sudah berpisah dari Delia. Malam itu, Dimas dan Delia telah menjebakku agar aku tidur dengan Delia lalu menikahinya, padahal saat itu Delia sudah mengandung darah daging Dimas. Aini bisakah kau memberikan kesempatan padaku kembali?


Jantung Aini pun seakan berhenti berdetak saat membaca pesan dari Firman.


'Astaga, kasihan sekali Mas Firman. Jadi selain sudah menjebak Firman, ternyata bayi yang dikandung oleh Delia itu bukan darah daging Mas Firman? Dimas memang benar-benar laki-laki BRE*GSEK dan kurang ajar, semoga saja suatu saat kau mendapatkan balasan dari semua kejahatan yang telah kau lakukan, Dimas!' gumam Aini dalam hati.


Dia kemudian membaca pesan itu kembali, air matanya pun menetes. 'Maafkan aku Mas Firman, aku tidak bisa kembali lagi padamu, ini sudah terlambat mas, aku terlanjur mencintai laki-laki lain yang saat ini menjadi suamiku, semoga suatu saat nanti kau bisa menemukan wanita yang benar-benar menjadi jodohmu. Maafkan aku Mas Firman, aku tidak akan membalas pesanmu karena aku tidak ingin memberi harapan padamu.' gumam Aini lagi sambil menghapus air matanya.


Aini kemudian meletakkan ponselnya lalu membalikkan tubuhnya, dia kemudian menatap suaminya yang masih terlelap. Aini pun tersenyum.


'Kenapa ini semua rasanya begitu cepat, beberapa bulan yang lalu aku baru saja mengenalmu, kita bertemu saat kita sedang sama-sama putus asa dan merasa begitu terpuruk karena ditinggal orang yang sangat kita sayangi. Saat itu bahkan aku sempat berpikir jika kau membenciku karena sikapmu yang begitu dingin padaku, lalu beberapa bulan kemudian kita sudah merasakan cinta di hati kita masing-masing, dan kemarin kita sudah disatukan dalam ikatan pernikahan, inikah yang disebut takdir dan kaulah jodoh yang sudah ditakdirkan untukku, mas.' gumam Aini sambil membelai wajah Roy.


'Aku mencintaimu.' gumam Aini kembali kemudian mengecup bibir Roy. Mendapat kecupan secara tiba-tiba dari Aini, Roy pun terbangun lalu tersenyum pada Aini.


"Ini sudah pagi mas." kata Aini sambil membelai wajah Roy.


"Tapi aku masih ingin tidur bersamamu, aku masih ingin memelukmu."


Aini pun tersenyum.


"Kau harus berangkat ke kantor."


"Ke kantor? Memangnya sekarang jam berapa Aini?"


"Pukul 04.30."


"Masih banyak waktu. Kita masih bisa melakukannya sekali lagi." bisik Roy di telinga Aini sambil menciumi leher dan tengkuk Aini.


🏠❀️🏠🌸🌸


Firman tampak begitu gusar, sinar matahari mulai memasuki celah-celah jendela kamarnya, namun mata lelahnya tidak bisa dia pejamkan meski hanya sebentar saja. Semalaman dia terjaga, begitu banyak pikiran berkecamuk dalam benaknya. Dia kemudian mengambil ponselnya, lalu mengecek kotak masuk di ponselnya. Senyum pun mengembang saat melihat Aini sudah membaca kotak masuk di akun sosial media miliknya. Namun hingga beberapa saat Firman menunggu, tidak ada balasan apapun dari Aini. Akhirnya dia pun membuka halaman beranda, emosi pun kini begitu menyelimuti hatinya saat melihat postingan Aini berupa sebuah foto tangannya dalam genggaman seorang laki-laki di balik selimut.

__ADS_1


"Kau tidak membalas pesanku tapi kau malah memposting sebuah foto Aini? Kenapa kau tega berbuat seperti ini padaku?" kata Firman sambil menjambak rambutnya. Di saat itu juga tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang.


TOK TOK TOK


__ADS_2