Salah Kamar

Salah Kamar
Studio Foto


__ADS_3

'Aduh bagaimana caranya aku keluar dari sini.' kata Rima dalam hati sambil memejamkan matanya.


"Aku rindu kamu Stella." desah David sambil mencium Stella dengan semakin bergairah hingga mendorong tubuh Stella menuju sofa dekat lemari tempat Rima bersembunyi. Sofa yang sedikit bergeser akibat dorongan dari David dan Stella yang kini masih berciuman membuat lemari kecil tersebut pun ikut bergeser. Rima yang masih duduk termenung di belakang lemari pun seketika kaget karena tiba-tiba lemari yang ada di sampingnya ikut bergeser dan mendorong tubuhnya.


"Aduhhhh." teriak Rima.


David dan Stella yang masih berciuman pun terkejut mendengar suara Rima. Meraka lalu menghentikan ciuman itu kemudian melihat ke sekeliling untuk mencari sumber suara.


"SIAPA ITU?" bentak David. Namun tak ada jawaban.


"Tunjukkan wajahmu atau kau kupecat sekarang juga dengan tidak hormat." bentak David lagi.


'Aduh, mampus gue.' batin Rima. Namun dia tidak punya pilihan lain. Akhirnya dia pun keluar dari tempat persembunyiannya di balik lemari.


"RIMA!!!" teriak David.


"KAMU ADA DI SINI???" teriak Stella tak kalah terkejutnya.


"Kau mengenal dia Stella?"


"Ya, dia saudara Leo, teman Revan." jawab Stella sambil melirik ke arah David.


"RIMA APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?" bentak David.


"Ma.. Maaafkan saya dokter David, saya cuma mau mengembalikan berkas dokter itu yang sudah saya taruh di atas meja, tapi tiba-tiba saya panik saat ada orang masuk ke dalam ruangan ini jadi refleks saya bersembunyi di belakang lemari. Tapi sungguh saya tidak melakukan apapun di ruangan ini."


"Kamu tidak melakukan apapun tapi kamu mengintip kami berdua?" jawab Stella sinis.


"Maaf saya tidak sengaja." jawab Rima dengan wajah tertunduk dan perasaan yang begitu takut. David kemudian mendekat pada Rima.


"RIMAAA kuperingatkan padamu, ini untuk yang terakhir kali! jika kau masih belum bisa menjaga sikapmu aku tidak segan-segan memecatmu dengan tidak hormat, dan tidak hanya itu Rimaaa aku juga akan membuat perhitungan denganmu karena telah mengusik kehidupan pribadiku! Apa kau mengerti!"


"I.. Iya dok saya mengerti." jawab Rima dengan gugup.


"Sekarang kau pergi dari sini dan camkan baik-baik kata-kataku!"


"Iya dok." jawab Rima.


"Permisi Nona Stella." kata Rima saat berjalan keluar dari ruangan milik David.


'Astaga... Hampir saja, aku pikir mereka akan membunuhku.' kata Rima dalam hati saat sudah keluar dari ruangan David.


David lalu mendekat ke arah Stella dan membelai wajahnya. "Stella, lebih baik kau pulang sekarang, beristirahatlah, kau tidak boleh terlalu lelah karena kau sedang hamil."


Namun Stella menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau pulang ke rumah, aku kesepian. Kau tahu sendiri jika Papa dan Mama masih di New York."


"Lalu?"

__ADS_1


"Bolehkah aku pulang ke apartemenmu saja? Aku akan menunggumu sampai kau pulang." jawab Stella sambil tersenyum manja.


"Hahahaha tentu saja, sudah kukirimkan alamat apartemenku ke ponselmu."


"Iya, terimakasih. Password kunci apartemenmu masih sama kan?" tanya Stella.


David kemudian mengangguk sambil tersenyum. Stella pun kemudian menghambur memeluk David. "Terimakasih sayang, kau masih mau menggunakan tanggal ulang tahunku padahal saat itu kita sudah tidak bersama."


"Kau adalah hidupku, Stella." jawab David sambil mengecup kening Stella yang membuat Stella tersipu malu.


"Rimaaaa kamu darimana saja sih?" tanya Sherly saat Rima kembali ke ruangan mereka.


"Maaf Sher, tadi ada sedikit masalah di ruangan Pak David."


"Apa masalah? Tapi kamu ga kenapa-kenapa kan?"


"Ga Sher." jawab Rima sambil meringis. Di saat itulah tiba-tiba Stella berjalan melewati ruang kerja Rima dan Sherly yang membuat Rima mengamati gerak-gerik Stella sampai dia keluar dari rumah sakit.


"Hufttttt, untung dia tidak melihatku." kata Rima sambil menghembuskan nafas panjang.


"Liat apa sih Rim?"


"Gapapa."


"Kamu liatin wanita cantik yang baru saja lewat? Kamu kepengin seperti dia Rim?" Ledek Sherly sambil tertawa.


"Jadi kamu kenal dia?"


"Begitulah, dia kekasih dokter David."


"Oh jadi dokter David living together dengan wanita itu?" tanya Sherly yang membuat Rima terkejut.


"Living together?" tanya Rima sambil mengerutkan kening.


***


Santi masuk ke sebuah studio foto kemudian menghampiri seorang lelaki yang tengah duduk sambil memainkan laptopnya.


"Permisi, saya mau mengambil foto atas nama Nyonya Santi."


Lelaki itu kemudian tersenyum sambil menghampiri Santi. "Oh jadi anda Nyonya Santi, maaf kemarin saat anda menghubungi saya, saya sedang berada di Jogjakarta mengunjungi mertua saya jadi saya tidak bisa datang langsung untuk memotret acara pernikahan putra anda."


"Oh jadi anda pemilik studio foto ini? Tidak apa-apa Tuan, acara pernikahan anak saya juga tidak terlalu istimewa." jawab Santi sambil tersenyum.


"Iya Nyonya, suatu kehormatan orang seperti anda menggunakan jasa kami." jawab laki-laki itu sambil tersenyum.


"Terimakasih, anda terlalu memuji, suatu saat saya pasti akan menggunakan jasa anda kembali."

__ADS_1


"Iya Nyonya terimaksih. Sebentar saya ambilkan foto pernikahan anak anda, anak buah saya sudah menyelesaikannya kemarin."


"Iya."


Beberapa saat kemudian laki-laki itu pun kembali sambil membawa sebuah paper bag serta sebuah foto berukuran besar yang sudah dibingkai dan dibungkus dengan kertas.


"Benar ini foto pernikahan putra anda?" tanya laki-laki itu sambil mengambil sebuah story book dari paper bag.


"Iya betul pernikahan atas nama Revan dan Giselle." jawab Santi.


"Giselle?" tanya laki-laki pemilik studio foto itu.


"Anda mengenal Giselle?" kata Santi.


Lelaki itu kemudian membuka story book yang ada di tangannya. "Jadi benar Giselle sudah menikah lagi?" kata lelaki itu sambil mengamati foto pernikahan Giselle.


"Jadi anda mengenal Giselle?" tanya Santi kembali.


"Ya, dulu saya cukup dekat dengan Giselle."


"Maaf Tuan... Maaf siapa nama anda? Saya lupa."


"Ramon Nyonya."


"Oh iya Tuan Ramon bukankah tadi anda mengatakan Giselle sudah menikah lagi? Jadi dulu Giselle sudah pernah menikah?"


'Aduh gue salah ngomong.' kata Ramon dalam hati.


"Maaf mungkin anda salah dengar Nyonya." jawab Ramon sambil tersenyum.


"Ini semua milik anda sudah selesai, coba di cek kembali." kata Ramon untuk mengalihkan perhatian Santi.


Santi lalu mengamati mengamati foto-foto pernikahan Giselle dan Revan baik dalam story book ataupun yang sudah dicetak dalam bingkai.


"Sepertinya sudah semua Tuan Ramon, senang bekerja sama dengan anda karena hasilnya sangat memuaskan."


"Iya Nyonya, saya juga senang anda memakai jasa kami."


"Iya Tuan Ramon, permisi saya pulang dulu."


"Iya Nyonya Santi, hati-hati di jalan." jawab Ramon sambil tersenyum.


'Hampir saja, aku membocorkan rahasia Giselle. Maafkan aku Giselle.' gumam Ramon sambil menepuk dahinya.


'Aku tidak mungkin salah dengar, pemilik studio foto itu pasti mengatakan jika Giselle sudah pernah menikah.' gumam Santi saat masuk ke dalam mobil.


"Aku harus menyelidiki semua ini." kata Santi sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2