Salah Kamar

Salah Kamar
Sekotak Brownies


__ADS_3

"Selamat datang daddy." teriak Vansh dan Laurie saat Olivia menuntun Kenan masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian menghambur memeluk Kenan.


"Hati-hati anak-anak, daddy masih sakit." kata Olivia.


"Hahahaha, terimaksih anak-anak." kata Kenan sambil mengusap kepala Vansh dan Laurie.


"Vansh, Laurie biarkan daddy istirahat dulu di kamar, ayo kita main di halaman saja." kata Gisa.


"Oke oma." jawab Vansh dan Laurie kemudian mereka keluar dari rumah mengikuti Gisa.


"Ayo Kenan, kita naik ke atas."


Kenan pun kemudian mengangguk, Olivia lalu membantu Kenan naik ke kamar mereka lalu membantunya tidur di atas ranjang.


"Aku rindu kamu Kenan." kata Olivia kemudian mencium bibir Kenan.


"Hahahaha, aku juga." jawab Kenan sambil membelai wajah Olivia.


"Selama kau di rumah sakit, aku bahkan tidak pernah bisa menjengukmu untuk menggantikanmu di kantor dan menyelesaikan rencana kita untuk menyelidiki Ilham. Aku tak menyangka jika pekerjaanmu saat ini memang benar-benar banyak Kenan. Maaf jika aku sudah sering salah paham padamu."


"Tidak apa-apa sayang. Ini akhir pekan, kita bisa menghabiskan waktu berdua."


"Iya Kenan." jawab Olivia lalu memeluk tubuh Kenan dengan hati-hati.


"Olive apa kau sudah menyerahkan pisau milik Ilham yang dia gunakan untuk menusukku pada polisi?"


"Sudah Kenan, kau tenang saja tapi kita sepertinya memerlukan satu bukti lagi."


"Kau benar Olive."


"Sebenarnya aku sedikit kesulitan karena Ilham orang yang pendiam jadi selama ini tidak banyak yang dia katakan padaku."


"Mungkin kau harus bertindak sedikit nakal padanya, Olive."


"Nakal? Apa maksudmu?" tanya Olivia sambil mengerutkan keningnya.


"Kemari sayang." kata Kenan sambil menarik tubuh Olivia dan mendekatkan bibirnya ke telinga Olivia. Mendengar rencana Kenan, Olivia pun tertawa terbahak-bahak.


Di saat itu pula, ponsel Olivia pun berbunyi.


"Ilham." kata Olivia saat mengambil ponsel itu.


"Cepat angkat sayang." kata Kenan.


Olivia pun kemudian mengangkat telepon dari Ilham.


[Halo Ilham.]

__ADS_1


[Halo Olive maaf mengganggu, apakah hari ini kau sibuk?]


[Tidak, aku tidak sibuk, hanya sedang menemani anak-anak bermain, kau tahu sendiri jika satu minggu ini aku sibuk di kantor jadi akhir pekan ini aku akan menghabiskan waktu bersama mereka. Ada apa Ilham?]


[Bisakah kita bertemu hari ini?]


[Tentu saja.]


[Baik Olive, bagaimana jika kita bertemu di taman dekat rumahmu saja jadi kau tidak terlalu lama meninggalkan anak-anakmu.]


[Iya Ilham, beritahu aku jika kau sudah sampai.] kata Olivia kemudian menutup teleponnya.


Setelah menutup telepon itu Olivia dan Kenan pun tertawa terbahak-bahak.


"Jangan lupa rencana kita Olive."


"Tentu Kenan."


🍀🍀🍀


"Maaf jika membuatmu terlalu lama menunggu, tadi aku mengantar Vansh sebentar ke rumah temannya." kata Olivia saat mendekat pada Ilham yang kini duduk di bangku taman.


"Tidak apa Olive."


"Ini untukmu Ilham, anggap saja sebagai permintaan maafku karena sudah membuatmu lama menunggu, aku yang membuatnya sendiri bersama Laurie tadi pagi. Coba kau cicipi kue buatanku ini." kata Olivia sambil memberikan satu kotak brownies dan air minum.


Olivia pun tersenyum menyeringai melihat Ilham yang kini begitu menikmati brownies yang dia bawakan untuknya.


"Bagaimana Ilham?"


"Enak sekali Olive, kau memang wanita yang sempurna. Selain cantik dan pintar, kau juga pintar membuat makanan. Kenan sangat beruntung memiliki istri sepertimu."


Olivia pun tersenyum mendengar perkataan Ilham. "Sayangnya Kenan tidak memiliki pikiran sepertimu, Ilham." kata Olivia dengan muka masam.


Ilham pun mendekat pada Olivia, saat dia akan menggenggam tangan Olivia tiba-tiba ponsel Olivia berbunyi.


"Mama." kata Olivia.


"Siapa Olive?" tanya Ilham.


"Mama mertuaku." kata Olivia, namun saat Olivia mengangkat panggilan telepon itu ponselnya mati.


"Aduh ponselku mati, aku pasti lupa tidak mencharge nya, bagaimana jika ini penting. Mama pasti marah padaku." kata Olivia dengan begitu panik.


"Emh Olive, kau bisa menggunakan ponselku untuk menelpon mertuamu." kata Ilham sambil memberikan ponselnya.


'Yes.' kata Olivia dalam hati.

__ADS_1


"Terimakasih Ilham." jawab Olivia kemudian mengambil ponsel Ilham yang diberikan padanya, dia pun kemudian tampak sibuk memencet angka di ponsel tersebut.


'Sekarang kita hitung mundur Ilham.' gumam Olivia lagi.


"Olive." kata Ilham dengan raut wajah panik.


"Ada apa Ilham?"


"Aku ke toilet sebentar ya."


"Oh ya." jawab Olivia sambil pura-pura sibuk menelepon mertuanya.


Setelah melihat Ilham yang kini masuk ke toilet, Olivia pun terkekeh sambil menyalakan ponselnya kembali. Dia lalu membuka aplikasi ojek online di ponsel Ilham kemudian mencari histori pembelian bunga di aplikasi tersebut, dan sesuai dugaan, di ponsel tersebut masih ada histori pembelian bunga di sebuah toko bunga yang dikirimkan ke alamatnya. Olivia pun memfoto histori di aplikasi tersebut.


'Berhasil.' kata Olivia kemudian menutup aplikasi tersebut. Dia lalu duduk kembali di bangku taman sambil menunggu Ilham yang kini sedang berjalan ke arahnya.


"Ilham, maafkan aku, aku harus pulang sekarang karena tiba-tiba mama tidak enak badan, jika ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku lebih baik kau mengatakannya di kantor besok."


"Emh Olive, jika kau terburu-buru aku cuma ingin mengatakan jika Calista membicarakan sesuatu tentangku tolong jangan kau percayai kata-katanya karena sebenarnya ada sedikit kesalahpahaman antara aku dan Calista."


DEGGGGG


Olivia pun sangat terkejut mendengar perkataan Ilham.


'Sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku harus menanyakan pada Kak Calista.' kata Olivia dalam hati.


"Iya baik Ilham, aku tidak akan mempercayai kata-kata kakakku untuk sementara waktu sampai kalian menyelesaikan kesalahpahaman diantara kalian." jawab Olivia sambil menutupi rasa terkejutnya dan meyakinkan Ilham agar mempercayainya.


"Terimakasih banyak Olivia, hanya itu yang ingin kukatakan padamu. Kau bisa pulang sekarang, aku tidak ingin mertuamu marah padamu."


"Iya Ilham, terimakasih." kata Olivia kemudian pergi meninggalkan Ilham.


Di dalam mobil, Olivia kemudian sibuk menghubungi Calista.


🍀🍀🍀


Drey memarkirkan mobilnya di depan rumah kontrakan Rima, dia lalu mengambil ponsel Rima yang dia taruh di dashboard kemudian turun dari mobil. Namun betapa terkejutnya Drey saat dia baru saja membuka pintu gerbang rumah itu dan melihat Rima yang kini terkapar di halaman rumahnya dengan kaki yang bersimbah darah.


"Rima." teriak Drey sambil mendekat ke arah Rima.


"Rima ayo kita ke rumah sakit." kata Drey lalu membopong tubuh Rima ke mobilnya.


"Ada apa sebenarnya Rima? Apa sesuatu telah terjadi padamu lagi?" tanya Drey saat mereka sedang menuju ke rumah sakit.


"Aku terjatuh saat mengejar suamiku."


"Astaga, lalu kenapa ada darah di kakimu? Apa kau sedang hamil?" tanya Drey yang membuat Rima terdiam.

__ADS_1


"Apa kau sedang hamil Rima?" tanya Drey lagi. Namun Rima hanya menggelengkan kepalanya.


__ADS_2