
"Laras." teriak Kenan dan Leo bersamaan. Leo lalu mengangkat tubuh Laras ke dalam gendongannya. Melihat keadaan Laras, emosi Leo dan Kenan pun memuncak, mereka kemudian menghampiri Ramon yang kini diam terikat dengan tubuh penuh luka. Kenan lalu menendang kembali tubuh Ramon sedangkan Leo yang menggendong Laras menginjak wajah Ramon dengan kakinya.
"Brengsek kau Ramon, apa yang sebenarnya sudah kau lakukan pada Laras?" kata Leo.
"Itulah akibatnya jika berani membohongiku."
"Masih berani kau berkata seperti itu Ramon?"
"Sudahlah Leo, jangan urusi orang gila seperti dia, lebih baik kau bawa Laras ke rumah sakit, biar aku yang mengurus bajingan ini." kata Kenan.
"Iya Kenan, Giselle kau temani Kenan disini sampai polisi datang."
"Baik Leo."
Leo lalu berlari turun ke dalam mobil sambil menggendong Laras yang sudah tak sadarkan diri, nafasnya pun bahkan terdengar begitu lemah.
"Aaaaaaaaa." jerit Olivia dan Calista, mereka begitu terkejut melihat Leo yang membawa Laras dengan tubuh penuh luka. Dia lalu merebahkan tubuh Laras di dalam mobil lalu mengendarai mobilnya ke rumah sakit.
"Leo apa yang sebenarnya telah terjadi pada Laras?"
"Aku tidak tahu Olive, kami menemukan Laras dalam keadaan seperti ini."
"Dasar biadab kau Ramon, tega sekali kau menyiksa seorang wanita sampai seperti ini!"
"Kakak lihatlah, kenapa ada darah kering di kaki Laras? Apakah sesuatu telah terjadi pada Laras? Atau..." kata-kata Olivia tertahan.
"Hamil?" tanya Calista pada Olivia yang semakin membuat tubuh mereka menegang.
***
Kenan mendekat pada Ramon. "Aku sebenarnya sudah sangat ingin bertemu denganmu, Ramon."
"Hahahaha kenapa? Jangan banyak basa-basi Kenan, kau hanya akan tampak bodoh di depanku."
"Ya, aku ingin bisa melihat seberapa bodohnya aku dulu telah dibodohi mantan istriku dan laki-laki sepertimu dulu."
"Selama enam tahun, hahahaha. Bukankah itu sangat menggelikan Kenan?"
"Ya, selama enam tahun aku dibodohi oleh orang brengsek seperti kalian, tapi untungnya Calista sekarang sudah berubah dan dia memiliki kehidupan yang bahagia dengan Leo, sedangkan dirimu? Lihat sangat menyedihkan, masa depanmu hanya ada di dalam penjara, aku pastikan kau akan membusuk di penjara!!!"
Ramon hanya diam mendengar perkataan Kenan, hatinya sebenarnya sangat marah. "Lihat saja akan kubuat kau dan Leo menyesal telah berbuat seperti ini padaku."
__ADS_1
"Hahahaha, bisa apa kau Ramon? Kau tidak memiliki apa-apa, karena sekarang aku akan mengambil semua barang milikmu hasil memeras uangku dan Leo." kata Kenan sambil melayangkan tendangan ke punggung Ramon.
"Giselle, tolong bantu aku mencari surat kendaraan mobil mewah dan uang satu miliar milikku."
"Baik Kenan."
Mereka kemudian mencari di seluruh ruangan, termasuk kamar Ramon. Kenan menemukan surat kendaraan mobil mewah milik Ramon di lemari pakaian, sedangkan Giselle menemukan selembar cek satu miliar bertanda tangan Laras di salah satu tas milik Ramon.
Kenan lalu mendekat pada Ramon yang semakin tidak berdaya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Sekarang mari kita hitung mundur. Tiga, dua, satu."
Beberapa gerombolan polisi lalu masuk ke apartemen Ramon. "Tuan Leo, anda yang menelpon saya?"
"Oh bukan Pak, saya Kenan adik ipar Leo. Leo sedang membawa saudara kami ke rumah sakit karena mengalami banyak luka akibat disiksa orang itu." kata Kenan sambil menunjuk Ramon.
"Baik Tuan Kenan, kami akan langsung menahan laki-laki ini karena bukti yang Tuan Leo kirimkan sudah lengkap. Kalian bisa memberikan keterangan tambahan esok hari di kantor kami."
"Baik Pak."
Polisi tersebut lalu menggelandang Ramon ke dalam mobil mereka. Kenan dan Laras mengikuti dari belakang sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak Giselle atas bantuanmu, kami tidak akan bisa menemukan Ramon dan Laras jika kau tidak membantu kami."
"Iya sama-sama Kenan, aku pulang dulu."
***
Petugas medis langsung memberikan pertolongan saat melihat kedatangan Leo yang membawa Laras dengan keadaan penuh luka. Mereka lalu membawa Laras ke ruang UGD, sedangkan Leo, Calista, dan Olivia menunggu di luar dengan cemas. Ponsel Leo lalu berbunyi, dia lalu sibuk mengangkat telepon sambil tersenyum. "Siapa yang menelpon Leo?"
"Kenan, dia sudah menemukan cek satu miliar yang Laras berikan beserta surat kendaraan mobil mewah milik Ramon yang akan kusita. Ramon juga sudah dibawa ke kantor polisi, saat ini Kenan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."
"Syukurlah jika Ramon sudah ditahan, aku bisa sedikit lebih tenang." kata Calista.
"Ya, tapi bagaimana dengan Laras Kak? Bukankah kita sama saja tidak bisa menjaga Laras dengan baik."
"Olivia, aku juga sebenarnya sangat sedih dan prihatin dengan keadaan Laras saat ini, bukannya kita tidak bisa menjaga Laras dengan baik tapi ini adalah konsekuensi dari perbuatannya selama ini. Dia sangat berambisi memiliki suami kaya sampai mata hatinya tertutup bahkan rela berbuat apapun untuk mencapai keinginannya. Ambisi dan ego adalah dua hal yang bisa menghancurkan kehidupan manusia Olive, dan Laras tidak menyadari itu."
"Kau benar Kak, Laras memang terlalu berambisi yang pada akhirnya menghancurkan kehidupannya sendiri."
"Keluarga Nyonya Laras?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruang UGD.
"Iya dok. Bagaimana keadaan Laras?"
__ADS_1
"Begini Tuan dan Nyonya, keadaan Nyonya Laras sebenarnya tadi sangat memprihatikan, dia mengalami dehidrasi akut selain luka- luka di sekujur tubuhnya, dia juga mengalami sedikit pendarahan, tapi tenang saja kami sudah menanganinya dan kondisinya sekarang jauh lebih stabil dan sebentar lagi dia bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
"Jadi benar Laras hamil dok?" tanya Calista.
"Iya benar, Nyonya Laras sedang hamil dan kemungkinan usia kehamilannya memasuki tiga minggu, tapi kami juga sudah memberikan vitamin dan obat-obatan untuk menghentikan pendarahannya, dan Nyonya Laras juga harus bedrest selama satu minggu agar tidak terjadi pendarahan lagi."
"Oh iya dok, apakah Laras sudah sadar?"
"Belum, dia masih belum sadarkan diri, kami akan membawanya ke ruang perawatan dan kalian bisa menjaganya di sana, sebentar lagi kemungkinan Nyonya Laras akan sadar. Saya permisi dulu."
"Iya dok, terimakasih."
"Ya Tuhan, ternyata benar Laras hamil anak Ramon, apa yang seharusnya kita lakukan Leo?"
Leo hanya diam mendengar pertanyaan Calista. "Bagaimana Leo?"
"Entahlah Calista, aku mungkin perlu bicara dengan Kenan untuk mengatasi semua ini. Sebaiknya kita ke ruang perawatan Laras." kata Leo saat melihat beberapa orang perawat sudah selesai memindahkan Laras ke ruang perawatan.
"Ayo," jawab Calista dan Olivia serempak.
Perlahan Laras membuka matanya. "Laras, kau sudah sadar?" tanya Olivia.
"Aku dimana? Apakah aku masih hidup?"
"Iya Laras kami sudah menolongmu dari sekapan Ramon, kau sudah aman, sekarang beristirahatlah dan tenangkan dirimu."
"Terimakasih, maaf aku sudah merepotkan kalian semua." kata Laras sambil menangis.
"Tenangkan dirimu Laras, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu banyak berfikir karena akan...." kata-kata Olivia tertahan.
"Akan apa Mba?"
Olivia dan Calista lalu berpandangan. "Kenapa kalian diam? Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku?"
"Kau sedang hamil Laras, kau hamil anak Ramon." jawab Calista lirih.
"APAAA? AKU HAMILL??? TIDAAAKKKKKK!!!" teriak Laras yang menggaung di setiap sudut ruangan.
Leo lalu menarik Kenan keluar ruangan. "Kenan, sepertinya kita harus menikahkan Laras."
"Apa maksudmu Leo?"
__ADS_1
"Laras harus menikah."
"Dengan siapa? Jangan bilang kita akan menikahkan Laras dengan Ramon." jawab Kenan yang membuat Leo terdiam.