
"Bagaimana Rima? Apakah kau mau berpura-pura menjadi istriku? Hanya pura-pura saja Rima." kata Drey dengan begitu gugup, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.
"Drey, pernikahan bukanlah sebuah permainan."
"Ya aku tahu itu, maaf tapi aku terpaksa. Begini Rima, kau membutuhkan pekerjaan kan? Bekerjalah padaku, bekerjalah padaku dengan berpura-pura menjadi istriku." kata Drey dengan salah tingkah.
"Tidak Drey, aku tidak bisa melakukan itu. Maaf."
"Rima kumohon, hanya berpura-pura saja, aku juga tidak akan menyentuhmu, dan satu lagi kau pasti akan aman jika ada di rumahku."
"Tapi aku sedang hamil Drey."
"Aku juga akan berpura-pura jika itu adalah anakku." jawab Drey sambil meringis.
"Oh tidak." kata Rima lalu menggelengkan kepalanya.
"Rima, please." kata Drey lagi sambil memelas.
"Baik, hanya pura-pura kan? Kita tidak harus melakukan ijab qabul karena aku masih menjadi istri orang."
"Ya, aku tidak memerlukan semua itu."
"Baik aku akan berpura-pura menjadi istrimu. Tapi tolong berikan alasanmu kenapa aku harus melakukan semua ini?"
Drey pun kemudian terdiam, dia lalu menarik nafas panjang. "Kau tahu kan, aku ini blasteran. Papa orang Australia, dan mama asli Indonesia. Sejak kecil aku hidup di Australia bersama grandma karena aku tidak betah hidup di Indonesia, sejak papa meninggal aku pulang ke Indonesia dan hidup bersama mama. Aku belum siap menikah, bagiku menikah itu bukan hanya sekedar cinta tapi juga komitmen, dan aku belum menemukan wanita yang benar-benar bisa berkomitmen denganku."
Drey lalu terdiam.
"Lalu?"
"Mama selalu menyuruhku untuk cepat-cepat menikah, kau tahu sendiri tradisi orang di Indonesia jika sudah cukup umur pasti dituntut untuk menikah."
"Ya, aku tahu itu."
"Sejujurnya aku belum siap, karena aku belum menemukan orang yang benar-benar kucintai. Aku memang pernah jatuh cinta pada seorang gadis, dia gadis yang baik dan polos, tapi dia tidak mencintaiku dan memilih kembali hidup bersama cinta pertamanya."
"Mereka sudah menikah?"
"Ya, dia sudah menikah dengan cinta pertamanya."
Rima pun kemudian tersenyum. "Aku mengerti Drey, aku mengerti posisimu, tapi mengapa harus aku yang berpura-pura menjadi istrimu?"
Drey kemudian tersenyum. "Karena saat ini hanya kau wanita yang kukenal " jawab Drey sambil terkekeh.
__ADS_1
"Hahahaha, meskipun setengah hidupmu kau habiskan di luar negeri tapi kau ternyata orang yang sangat naif."
Mendengar perkataan Rima, Drey pun terlihat salah tingkah.
'Ya, aku memang sangat naif sampai takut mendekati wanita lagi setelah ditolak oleh Olivia.' kata Drey dalam hati.
🍀🍀🍀
"DASAR BRENG*EK!" umpat Kenan yang membuat Calista dan Olivia terkejut saat mereka sedang duduk di depan televisi. Mereka pun kemudian bergegas menuju ke kamar Ilham.
"Ada apa Kenan? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?" tanya Olivia pada suaminya.
"Lihat ini Olive." kata Kenan sambil memperlihatkan sebuah kotak milik Ilham.
"Juga ini, kalian lihat ini." kata Leo sambil memberikan foto-foto Olivia yang terjatuh.
"Oh tidak." kata Olivia sambil menutup mulutnya, apalagi saat melihat beberapa foto Kenan yang terpotong dan telah dicoret-coret oleh Ilham.
"Dia memang benar-benar mencintaimu dengan sangat dalam Olive."
"Ini bukan cinta, tapi obsesi." kata Olivia sambil terus mengamati foto-foto itu satu per satu.
"Jadi dia mengambil foto-foto dirimu saat mereka masih tinggal di rumah Laras?" tanya Calista.
"Padahal saat itu mereka tengah merencanakan pernikahan mereka, jadi sejak awal menikahi Rima, Ilham memang sudah memiliki niat jahat padanya."
"Kau benar Leo, sejak awal menikah dia sudah memiliki rencana tidak baik pada Rima." jawab Calista.
"Tapi menurut kalian apakah Rima tahu semua hal ini? Apa Rima tahu jika sebenarnya Ilham mencintai Olivia?" tanya Kenan.
"Entahlah, kemungkinan Rima mengetahuinya, karena itulah sekarang dia memilih pergi dari kehidupan Ilham."
"Tapi kenapa dia sampai menolak telepon darimu, Calista?"
"Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri, dan kuharap Rima baik-baik saja."
"Ya, kau benar Kak. Rima telah mengalami hal-hal yang begitu berat. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Tapi aku akan tetap mencarinya, aku ingin memastikan keadaannya. Aku akan menyuruh anak buahku untuk mencari keberadaan Rima." kata Leo.
"Iya Leo, kau harus memastikan keadaannya. Sebaiknya kita pulang sekarang." kata Kenan kemudian menggenggam tangan Olivia.
"Iya Kenan, ayo Kak." jawab Olivia sambil memandang Leo dan Calista. Mereka pun kemudian mengangguk, lalu keluar dari rumah kontrakan tersebut.
__ADS_1
☘️☘️🍀🍃🍃🍃
"Drey ini sudah malam, sebaiknya kau pulang."
"Lalu siapa yang akan menemanimu jika aku pulang ke rumah?"
"Aku bisa sendiri Drey, lagipula besok hari senin. Kau harus berangkat ke kantor."
"Kau tenang saja, aku sudah mengajukan cuti selama satu minggu."
"Benarkah?"
"Ya, aku masih memiliki jatah cuti yang banyak di tahun ini karena aku tidak pernah mengambil cuti sebelumnya. Jika aku cuti, itu sama saja neraka buatku karena setiap hari aku akan berada di rumah dan hanya akan mendengar omelan mama, karena mama adalah orang yang sangat cerewet." kata Drey sambil terkekeh.
Rima pun tersenyum mendengar perkataan Drey.
"DASAR ANAK NAKAL!!! ENAK SAJA KAU BILANG AKU CEREWET!!!" teriak seorang wanita dari arah pintu.
"Ma.. Mamaaa." kata Drey sambil menelan ludah kasar.
"Hei anak nakal, enteng sekali kau bilang jika aku wanita yang cerewet. Meskipun yang merawatmu sejak kecil adalah nenekmu tapi bagaimana juga aku adalah ibumu!" bentak wanita itu sambil menjewer telinga Drey.
"Iya ma, ampun. Maafkan Drey ma. Tapi darimana mama tahu Drey ada di rumah sakit ini!" tanya Drey sambil mengerutkan keningnya.
Mama Drey kemudian tersenyum nakal. "Tentu saja aku bisa tahu kau dimana karena tanpa sepengetahuanmu, mama sudah menaruh aplikasi pelacak di ponselmu." jawabnya sambil terkekeh.
Rima yang melihat perdebatan keduanya hanya tersenyum.
"Dasar mama." gerutu Drey.
"Jika mama sudah menaruh aplikasi pelacak, kenapa mama harus bertanya dimana Drey berada?"
"Memangnya salah mama menelponmu? Jika mama langsung tahu keberadaanmu pasti kau curiga mama menaruh aplikasi pelacak di ponselmu."
"Lalu kenapa mama sekarang membuka rahasia mama jika mama sudah menaruh aplikasi pelacak di ponselku?"
"Oh itu karena sekarang tidak penting lagi bagi mama, kau mau melepas aplikasi tersebut pun mama tak keberatan." kata mama Drey sambil tersenyum nakal.
"Memangnya kenapa?"
"Karena kau sekarang sudah punya seorang istri, jadi mama tidak perlu lagi sibuk mencari keberadaanmu. Benar kan nak? Kamu istri Drey kan sayang?" kata mama Drey pada Rima yang kini mulai mendekat ke arahnya.
'Astaga.' kata Rima dalam hati sambil menelan ludah kasarnya.
__ADS_1