
"Sumpah gak maksud," ujar Bram sembari membujuk Kinan. Padahal dia sudah berusaha menjaga perasaan Kinan agar tak sakit hati. Namun, entah apa yang Kinan inginkan, sang istri malah mencoba salad yang rasanya parah itu.
"Nan, mas serius loh biar kamu gak kesinggung."
"Pantesan bilang gak usah. Padahal tinggal bilang aja gak enak. Kinan pulang dulu."
Bram mencoba untuk tak tertawa. Dia tahu jika dia tertawa, waktunya tidak pas. Sudah dapat dipastikan Kinan akan semakin marah. Dia sungguh gemas dengan tingkah sang istri.
"Nan, pulangnya nanti aja," ujar Bram. Dia masih berusaha untuk membujuk. Bukan karena dia tak mau ada di sana sendirian. Dia hanya khawatir jika Kinan pulang larut sendirian.
"Kinan masih kesel. Mau pulang aja."
Bram meraih tangan Kinan. Sungguh, dia takkan membiarkan Kinan pulang di jam seperti ini dan mengemudi sendiri. Raka sedang pulang dulu karena urusan pribadi. Jadi, dia tak bisa mengantar Kinan. Tak ada pilihan selain membuat sang istri tetap di sana. "Oke, ke depannya mas jujur deh, serius tadi mas gak mau kamu sedih. Makanya bilang enak. Udah ya marahnya. Kamu juga belum makan 'kan? mas pesenin nih. Mau apa?"
Bram mulai membuka aplikasi pesan antar di ponselnya. Dia menunggu keputusan Kinan akan membeli apa untuk dimakan malam ini.
"Sate sapi," ujar Kinan dengan suara pelan. Tentu ini membuat Bram harus mendekatkan telinganya agar tahu apa yang diinginkan sang istri.
"Apa?"
Kinan yang masih merasa kesal, tentu segera berdecak meski tahu saat ini Bram sedang berusaha menghiburnya. Dia benar-benar bukan dalam suasana hati yang baik. "Tau ah."
Bram meminta Kinan untuk duduk dulu di kursi kemudian memberikan ponselnya. "Yaudah, pilih sendiri kamu mau makan apa."
Kinan menolak, membuat Bram harus berusaha keras untuk menahan rasa gemasnya. Menggoda atau mengatakan sesuatu pasti akan membuat Kinan semakin kesal nantinya.
__ADS_1
"Oke, mas yang pilih ya. Nasi goreng mau gak? Atau roti bakar? Atau mau ayam bakar? Nanti kita makannya di mobil sekalian tidur di sana aja. Raka sebentar lagi balik."
"Gak peka, dasar cowok," gerutu Kinan kemudian beranjak. Tentu ini membuat Bram mengikuti bahkan berdiri di hadapan Kinan agar sang istri tak pulang. Namun, Kinan segera memutar malas matanya karena Bram menghalanginya ingin ke kamar mandi.
"Kinan mau ke kamar mandi. Kenapa? Mau ikut?" ketus Kinan yang tentu membuat Bram menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia pikir Kinan akan pulang. Ternyata dugaannya salah. "Kinan mau sate, tapi harus masih panas sama satenya sapi."
...***...
Bram mengerutkan dahi saat Kinan memberikan sisa makanannya. Bukan sisa, sebab Kinan hanya makan 1 potong saja. Kinan mengatakan satenya sudah mendingin. Padahal, Bram tidak merasa demikian. Satenya masih bangat meski memang tak terlalu hangat.
"Abisin aja ini satu tusuk," ujar Bram sembari memberikan sisa sate yang tadi belum Kinan habiskan. Namun, Kinan segera menolak dengan rasa kesal hingga membuat Bram bingung ada apa dengan suasana hati sang istri.
"Nan, kamu nanti sakit kalo gak makan. Ini masih anget, beneran. Makin didiemin makin dingin nanti," bujuk Bram sekali lagi berharap kali ini Kinan mau menurut. Entah apa yang membuat suasana hati Kinan buruk sejak pagi. "Mau mas pijitin gak?"
Bram baru ingat, tadi pagi Kinan merasa tak enak badan. Dia benar-benar tak peka hingga harus bingung mencari jawaban atas perubahan suasana hati Kinan.
"Cepet, Nan, sebelum berubah pikiran," goda Bram yang akhirnya membuat Kinan mencoba menahan tawa. Bagaimana tidak? Dia merasa geli dengan Bram yang biasanya tampil dingin sekarang berubah menjadi seperti ini.
"Boleh deh boleh."
Tadinya Bram ingin mengantar Kinan pulang ke rumah. Namun, Kinan sendiri yang mengatakan tidak ingin pulang dan ingin tetap di sana sampai mendengar kabar baik soal oma Rosa. Akhirnya mereka memutuskan untuk ada di mobil. Memang akan membuat badannya terasa sakit, tapi setidaknya ada di sana jauh lebih baik.
"Maaf."
Bram mengerutkan dahi saat Kinan mengatakannya. "Soal sate? Gapapa, mas aja yang abisin."
__ADS_1
"Soal semuanya. Kinan cuma bawaannya lagi kesel aja. Mungkin karena seminggu lagi dateng bulan," ujar Kinan yang membuat Bram tersenyum sembari tetap memijat kepala Kinan. Dia pikir soal seperti itu hanya mitos. Ternyata tidak. Termasuk soal ngidam Kinan yang cukup merepotkan karena satenya harus tetap panas.
Kinan menguap, membuat Bram segera tersenyum. Dia kemudian memundurkan kursi mobil agar Kinan bisa tidur dengan nyaman. "Kinan tidur duluan gapapa?"
"Boleh. Tidur aja."
Entah karena traumanya atau karena hal lain yang membuat Kinan benar-benar mencintai Bram. Pria itu seakan menggantikan sosok ayah yang jarang sekali dia dapatkan sejak kecil. Rasanya sakit saat sosoknya ada namun Kinan tak bisa merasakannya. Namun, Bram mampu mengambil peran itu, mengobati sisi dalam dirinya yang merindukan sosok ayah.
Kinan belum tidur dengan nyenyak. Jadi, dia bisa merasakan saat Bram memberikan kecupan di dahinya lalu menyelimutinya dengan jas yang dia kenakan. Kinan bahkan sempat mengintip Bram yang memutuskan untuk ikut memejamkan mata.
...***...
Kinan meregangkan ototnya sembari menguap. Dia kemudian melirik ke kanan dan bingung saat tak menemukan Bram ada di sana. Dia segera turun dari mobil sembari menghubungi ponsel suaminya yang malah ada di dalam mobil.
"Pak Bram ada di dalem, kondisi oma memburuk," ujar Raka yang baru saja tiba di sana. Tentu hal ini segera membuat Kinan mempercepat langkah. Dia sebenarnya sedikit kesal karena Bram tak membangunkannya. Namun, dia mengerti mungkin sang suami tak tega membangunkannya.
Di sana hanya ada sang suami. Tak ada Wira atau yang lain. Bram hanya sendirian. Bukankah sedikit menyebalkan? Seharusnya mereka semua ada jika memang benar-benar punya hati nurani.
Wajah sembab Bram membuat Kinan ragu untuk bertanya. Namun, Raka yang tertunduk lesu membuatnya berpikir kemungkinan terburuk yang sebelumnya dibicarakan dokter itu, terjadi.
"Nan, oma udah gak ada," ujar Bram sembari memeluk Kinan. Tentu ini juga membuat air mata Kinan tak bisa dibendung. Bisa dibilang oma Rosa yang membuatnya berakhir memiliki takdir manis dengan Bram. Oma Rosa juga yang selalu pasang badan jika Sarah mulai mengatakan hal buruk tentangnya.
Kinan menepuk punggung Bram meski dengan ragu. Sama-sama terguncang tak membuat Kinan mengenyampingkan perasaan Bram. Pria itu sangat terpukul dan dia harus sedikit memberinya ketenangan.
Di tengah rasa sedih yang memeluk mereka, tiba-tiba sebuah pikiran menyergap otak Kinan. Memang sebelumnya oma Rosa sempat ke kondisi kritis kembali. Namun, dari sana juga sudah membuat Kinan sedikit curiga.
__ADS_1
"Apa seseorang bikin oma gini? Timing-nya cukup pas sama pembagian warisan," gumam Kinan dalam hatinya.
...****************...