
Ilham kemudian bangun dan berjalan ke arah pintu sel. "Ada apa Pak? Kenapa tiba-tiba ada ribut-ribut seperti ini?" tanya Ilham pada salah seorang polisi yang sedang berjalan di depan selnya.
"Oh itu Pak Lukman tiba-tiba pingsan, sepertinya dia keracunan karena ada busa yang keluar dari mulutnya."
"Oh." jawab Ilham kemudian membalikkan tubuhnya, di saat itu pula senyum pun mengembang di bibirnya. "Inilah akibatnya jika kau berani macam-macam denganku." kata Ilham.
Tanpa dia sadari, sepasang mata kini sedang mengawasi gerak-geriknya.
"Fandi, entah kenapa aku curiga padanya."
"Iya komandan, tingkahnya sangat aneh. Tadi saat keluar dari ruang penyidik dia juga meminta ijin ke toilet."
"Ijin ke toilet?"
"Iya komandan."
"Oh jadi seperti itu permainanmu Ilham." kata komandan polisi tersebut lalu dia mengambil ponselnya dari saku celananya.
☘️☘️☘️
"Rima... Drey... Ayo makan siang, makanan sudah siap." teriak Risma dari arah meja makan.
"Rima, kau dengar itu, itu namanya lonceng tanda jam makan siang."
"Hahahaha, hei dia ibumu, kau memang anak yang nakal." kata Rima sambil tertawa.
"Dia sangat cerewet, Rima. Mulai hari ini kau harus terbiasa dengan kecerewetannya."
"Tapi dia ibu yang baik Drey, saat baru bertemu denganku saja dia bahkan sudah sangat menyayangi dan perhatian denganku. Padahal dia belum mengenalku."
"Itu karena kau sedang mengandung."
"Dan dia berfikir jika ini adalah anakmu." jawab Rima dengan lemas.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, jalani saja dulu Rima, ingat kau tidak boleh terlalu banyak berfikir, itu tidak baik untuk kandunganmu."
"Iya." jawab Rima.
"Ayo kita makan." kata Drey, kemudian berjalan keluar dari kamar sedangkan Rima berjalan di belakangnya masih dengan menggunakan tongkat. Melihat Drey yabg berjalan di depan Rima, seketika Risma pun menatap tajam pada Drey.
"Mama, kenapa mama menatap Drey dengan tatapan seperti itu?"
"YA AMPUN DREY!!! TEGA-TEGANYA KAU MEMBIARKAN ISTRIMU YANG SEDANG SAKIT ITU BERJALAN SENDIRIAN! KAU BAHKAN TIDAK MEMBANTU MENUNTUNNYA MENURUNI TANGGA!!"
'Astaga.' kata Drey dalam hati sambil menelan ludah dengan kasar.
"Kenapa kau diam Drey? Cepat bantu istrimu berjalan ke meja makan!"
"Oh iya ma." jawab Drey dengan gugup.
__ADS_1
Dia lalu membalikkan badannya dan membantu Rima untuk berjalan melewati tangga. "Nah begitu Drey, kamu harus bisa menjadi suami siaga untuk Rima."
"Iya ma." kata Drey sambil mendengus kesal.
"Drey, lebih baik kau suapi Rima, kasihan dia masih kesulitan."
"Tapi ma..."
"Drey, cepat suapi Rima sekarang." kata Risma sambil memelototkan matanya.
Drey pun kemudian menyuapi Rima makan meskipun dengan begitu canggung.
"Kenapa kalian kaku sekali?" gerutu Risma saat melihat tingkah Rima dan Drey. Mendengar perkataan Risma keduanya pun terlihat gugup, perlahan Drey pun mulai membelai rambut Rima.
'Apa-apaan ini.' kata Rima dalam hati sambil tetap tersenyum pada Risma yang kini tampak mengamati mereka.
"Kami sudah selesai, kami ke kamar dulu ma." kata Drey saat dia dan Rima telah menyelesaikan makan siangnya.
"Iya." jawab Risma. Tapi saat keduanya berdiri tiba-tiba Risma memanggil mereka lagi.
"Drey, sebaiknya kau menggendong Rima saja, daripada dia kesulitan berjalan."
Seketika Drey dan Rima pun berpandangan. "Kenapa kalian hanya berpandangan? Apa sulitnya menggendong istri sendiri Drey? Bukankah kamar kalian ada di atas? Tentu akan sulit bagi Rima untuk berjalan naik ke atas."
"Tapi ma, saat Rima pulang dari rumah sakit dia juga bisa berjalan naik ke atas sendiri."
"Lalu kau akan membiarkan dia berulangkali berjalan sendirian naik turun tangga? Bukankah dia sudah bolak balik turun tangga? Ingat Drey, kandungan Rima masih lemah dan kakinya juga masih sakit."
Drey pun menatap Rima. "Maafkan aku harus melakukan ini." bisik Drey di depan Rima. Rima pun kemudian mengangguk.
Drey pun mulai membopong tubuh Rima. "Pegangan Rima, nanti kau jauh kalau tidak pegangan." kata Risma lagi. Rima pun kemudian mengalungkan tangannya pada leher Drey.
Jantung keduanya kini berdegup dengan begitu kencang, tanpa sengaja Drey melirik pada Rima yang kini terlihat begitu malu-malu berada dalam gendongannya.
Akhirnya mereka pun sampai di kamar. "Akhirnya sampai juga." kata Drey sambil merebahkan tubuh Rima si atas ranjang.
"Maafkan mama Rima, dia memang sedikit merepotkan."
"Tidak apa-apa Drey, kita sudah membuat keputusan untuk berpura-pura di depannya, dan inilah konsekuensi yang harus kita jalani."
"Tapi aku tidak menyangka akan jadi seperti ini, kupikir ini mudah, tapi ini ternyata tidak seperti yang kupikirkan."
"Sudahlah Drey, bukankah kau yang mengatakan agar kita menjalaninya terlebih dahulu?"
"Ya." jawab Drey sambil mengangguk.
Dia kemudian melihat ponselnya yang kini berdering. "Vian." kata Drey kemudian mengangkat panggilan dari Vian sambil duduk di atas ranjang di samping Rima.
[Halo Vian.]
__ADS_1
[Drey, aku cuma ingin memastikan kehadiranmu di acara pernikahanku. Apa kau bisa datang Drey?]
[Ya, aku akan datang.]
[Hahahaha.]
[Kenapa kau tertawa, Vian?]
[Olivia juga akan datang bersama suaminya, pastikan kau sudah memiliki pasangan Drey.]
Drey pun hanya tersenyum mendengar perkataan Vian, namun tanpa dia sadari Rima yang duduk di sampingnya mendengar percakapannya.
'Olivia? Apakah mereka membicarakan Olivia?' kata Rima dalam hati.
☘️☘️☘️☘️
"Biar aku saja." kata Olivia pada Kenan saat melihat Kenan akan mengambil ponsel miliknya. Olivia pun mengambil ponsel Kenan di atas meja lalu memberikannya pada Kenan.
Olivia mengamati raut wajah Kenan yang kini tampak begitu serius mengangkat panggilan telepon itu. Saat Kenan menutup telepon, Olivia pun bergegas menghampirinya.
"Ada apa Kenan? Kenapa tiba-tiba polisi meneleponmu?"
"Olive, Ilham kembali berulah."
"Apa?"
"Ya, Ilham kembali berulah, bahkan salah seorang penyidik yang menangani kasusnya sampai dibawa ke rumah sakit?"
"Dibawa ke rumah sakit? Memangnya apa yang telah Ilham lakukan padanya?"
"Dugaan sementara Ilham memberikan racun pada minumannya."
"Astaga." kata Olivia sambil menutup mulutnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Oleh karena itu, polisi ingin bertemu dengan kita untuk membicarakan masalah Ilham."
"Jadi kita ke kantor polisi sekarang?"
"Iya Olive, tolong kau hubungi Leo dan Calista juga."
"Iya Kenan." kata Olivia kemudian mengambil ponselnya.
Satu jam kemudian mereka sudah ada di kantor polisi tempat Ilham ditahan. Ilham pun begitu terkejut melihat kedatangan mereka.
"Ada apa mereka berempat datang ke sini? Jangan-jangan ini ada hubungannya denganku lagi?" kata Ilham sambil mengerutkan keningnya.
"Atau sebaiknya aku habisi saja mereka semua sekarang juga agar tidak macam-macam denganku lagi." kata Ilham sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Permisi, bisakah saya ijin ke belakang." kata Ilham pada salah seorang polisi yang ada di dekatnya.