
"Siapa kamu?" tanya Denis pada Ramon.
"Aku.."
"Dia papamu, maafkan Papamu Denis, dia baru bisa menemui Denis karena selama ini Papa hidup di luar negeri," jawab Laras.
"Jadi aku punya Papa, Ma? Sama seperti Laurie dan teman-temanku yang lain?"
"Tentu sayang, dan kau kini sudah bertemu Papamu," jawab Laras sambil tersenyum, Denis lalu melompat kegirangan.
"Akhirnya, aku punya Papa, hei Laurie, Vansh lihat dia adalah papaku," teriak Denis sambil memeluk Ramon. Hati Laras seakan teriris melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Denis dan air mata Ramon saat dia memeluk Denis.
"Papa janji ga akan pernah ninggalin Denis lagi, Papa sayang sama Denis," kata Ramon sambil berurai air mata.
"Terima kasih Laras, kau sudah berbesar hati mau menerimaku."
"Bagaimanapun juga dia adalah putramu Ramon, di berhak tahu siapa ayahnya."
"Terima kasih banyak," jawab Ramon.
***
"Heiiii bukankah itu Ramon? Untuk apa dia kesini? Mengganggu saja," gerutu Calista.
"Biarkan saja sayang, dia ayah kandung Denis, dia memiliki hak untuk bertemu dengan putranya."
"Tapi dia penjahat Leo."
"Jangan bicara seperti itu Calista, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, seperti kita," sahut Leo sambil mencolek dagu Calista. Sedangan tangan kananya menggenggam hangat jemari Calista.
"Benar kata Leo, yang kudengar dari Laras dia sudah banyak berubah selama di dalam tahanan. Kita harus memberikan dia kesempatan untuk bisa menunjukkan jika dia bisa menjadi ayah yang baik untuk Denis. Lihat itu, Denis juga tampak bahagia memiliki seorang ayah seperti yang lainnya."
"Bagaimana kalau kita menikahkan mereka saja.," sahut Kenan yang membuat semua orang menatap dirinya. Namun, tiba-tiba atensi mereka teralihkan saat mendengar teriakkan Calista.
"Aaaaaaaaa... Apa ini...." teriak Calista saat tiba-tiba ada cairan yang mengalir di kakinya.
"Kakak kau akan melahirkan?" balas Olivia yang seketika juga ikut panik karena Calista mengatakan kalau tanggal kelahirannya adalah minggu depan. "Leo cepat bawa Calista ke rumah sakit, dia akan melahirkan," kata Kenan.
"Iya... Iya, ayo sayang." Leo sambil membantu Calista berdiri.
"Olive, tolong bantu aku."
"Bantu apa?"
"Tolong bawakan koper di rumahku yang telah kupersiapkan untuk persalinan."
"Iya, aku akan ke rumahmu."
Leo lalu membawa Calista ke rumah sakit, "Sabar ya sayang," kata Leo karena sepanjang perjalanan Calista terus menerus mengeluh kesakitan. Dia lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Giselle.
[Halo Giselle.]
[Ya Pak Leo.]
__ADS_1
[Tolong kau kosongkan janjiku dengan para klien untuk tiga hari kedepan.]
[Oh baik Pak, memangnya ada apa?]
[Calista akan melahirkan Giselle, kami sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Aku akan menemani Calista melahirkan dan mendampinginya setelah putra dan putri kami lahir.]
[Baik Pak Leo.]
[Terima lasih Giselle.] kata Leo lalu menutup teleponnya.
Di ujung sambungan telepon, Giselle menatap nanar layar ponselnya sambil melihat foto pernikahannya dengan Leo dahulu. 'Sudah lima tahun berlalu, tapi aku belum bisa menghilangkan perasaan cintaku padamu Leo, aku tahu kau begitu mencintai Calista dan kau selamanya tidak akan pernah kumiliki, tapi aku juga bingung bagaimana caranya mengubur perasaan cinta ini padamu, kupikir dengan menjadi sekretarismu kembali, aku akan mendapat kebahagian karena bisa selalu bersamamu, tapi itu pun ternyata tidak ada artinya karena apalah arti sebuah kebersamaan jika hatimu tak bisa kumiliki,' batin Giselle sambil tersenyum kecut.
***
Leo membantu Calista turun dari mobil, petugas rumah sakit yang melihat kedatangan mereka pun dengan sigap menolong Calista yang sudah sedikit kepayahan dan sulit untuk berjalan. Mereka lalu mendudukkan Calista di kursi roda untuk dibawa ke ruang persalinan.
"Tuan, anda mau diluar atau menemani istri anda di dalam ruang persalinan?"
"Di dalam saja Dok, saya tidak tega membiarkan istri saya berjuang sendiri."
"Baik Tuan, silahkan masuk."
"Nyonya Calista baru masuk pembukaan empat Tuan Leo, anda temani saja istri anda di sini." kata seorang bidan.
"Lalu berapa lama lagi dia bisa melahirkan?"
"Entahlah kita berdoa saja semoga prosesnya bisa cepat."
Leo lalu mendekat pada Calista yang kini meringis kesakitan. "Leo, sakit," kata Calista sambil menangis.
Leo menemani Calista yang terus berteriak kesakitan, sesekali dia memeluk Leo begitu erat saat sakit itu datang, terkadang Calista menjambak rambut Leo dan memukul tubuh Leo untuk menahan rasa sakitnya. Leo hanya bisa menangis melihat Calista yang begitu kepayahan dan kesakitan, hingga akhirnya tiga jam kemudian dokter mengatakan jika pembukaan Calista telah lengkap dan bisa memulai proses melahirkan.
"Tuan Leo, anda mau di luar atau menemani nyonya Calista?"
"Saya menemani istri saya saja Dok." kata Leo sambil mengusap air matanya saat melihat Calista mulai melantur karena kesakitan, keringat pun sudah begitu banyak membasahi tubuhnya.
"Sayang, sabar sayang, sekarang kau ikuti kata dokter ya, sebentar lagi anak kita lahir Calista." Calista lalu mengangguk pelan.
"Siap ya Nyonya Calista," kata Dokter memberi aba-aba.
"Anda bisa mengejan saat rasa sakit datang, apa anda mengerti nyonya?"
"Ya dokter."
"Bagaimana? Sakitnya mulai datang lagi? Sekarang Ambil nafas nyonya, lalu dorong sekuat tenaga, ya dorong, ya bagus sedikit lagi dorong, ya bagus... !" kata dokter sambil menarik seorang bayi laki-laki.
OEK OEK OEK ... Suara tangis bayi pun terdengar, Leo begitu pun bahagia saat melihat putranya lahir.
"Sekarang satu lagi Nyonya Calista," kata dokter tersebut.
"Ambil nafas nyonya, ya sekarang dorong, dorong, dorong, bagus, sudah nyonya sudah selesai bayinya sudah lahir semua." kata dokter sambil menggendong bayi perempuan dan diberikan pada suster untuk dibersihkan seperti kembarannya.
Calista tersenyum bahagia meskipun kini tubuhnya begitu lemas, rasa sakit itu semua sudah hilang tergantikan oleh kebahagiaan yang begitu besar. Leo lalu memeluk Calista.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, terimaksih, kau hebat Calista, anak kita sudah lahir," kata Leo sambil sedikit terisak. Calista hanya tersenyum dan mengangguk karena tubuhnya kini terasa begitu lemas.
"Istirahatlah dulu Calista, aku akan melihat anak kita." Laki-laki itu kemudian menuju ke ruangan tempat perawat membersihkan bayi mereka.
"Calista lihat ini anak kita," kata Leo sambil menggendong bayi laki-laki, sedangkan bayi perempuan mereka digendong oleh seorang suster dan diberikan kepada Calista.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah jauh lebih baik Leo, tidak selemas tadi. Ngomong-ngomong bayi kita mau kau beri nama siapa?"
"Nathan dan Nala, artinya hadiah dari Tuhan. Nathan Leoca Saputra dan Nala Leoca Saputri."
"Nama yang bagus Leo, tapi apa arti Leoca?" tanya Calista bingung.
"Leo dan Calista." jawab Leo sambil meringis.
"Hmmm ide bagus, Leo. Kau pintar juga," sahut Calista. Tiba-tiba, tangis bayi pun terdengar, seketika Calista pun merasa begitu panik.
OEKKK OEKKK OEKKKK
"Aduh mereka menangis semua, bagaimana ini Leo?"
"Entahlah, aku juga bingung Calista."
"Aku tahu, cepat carikan baby sitter, carikan baby sitter Leo, cepat!!!" kata Calista sambil merajuk.
***
"Bagaimana keadaanmu selama lima tahun ini Laras?"
"Seperti yang kau lihat, aku sangat bahagia hidup dengan Denis."
"Bagus kalau begitu, kau juga banyak berubah, kau jadi lebih dewasa Laras."
"Kau juga banyak berubah Ramon, kau kini terlihat lebih tenang." kata Laras yang membuat Ramon tersenyum.
"Papa Mama ayo kita pulang."
"Iya Denis."
"Ramon, aku pulang dulu."
"Iya Laras hati-hati."
"Ma, kenapa Papa ga ikut kita pulang? Bukankah Papa dan Mama itu harusnya satu rumah sama seperti Papa Mama Laurie dan Kak Vansh?"
Laras dan Ramon hanya saling berpandangan mendengar perkataan Denis.
"Ayo Pa, Papa pulang ke rumah Denis." kata Denis sambil menarik tangan Ramon. Laras pun mengangguk memperbolehkan Ramon ikut dengan mereka.
"Menikahlah denganku Laras." tanya Ramon saat perjalanan pulang yang membuat Laras diam mematung.
"Maaf aku sudah lancang." tambah Ramon saat melihat ekspresi Laras.
__ADS_1
"Aku mau menikah denganmu Ramon, jadilah suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk kami." jawab Laras sambil tersenyum.