
Drey pun hanya tersenyum mendengar perkataan Vian, namun tanpa dia sadari Rima yang duduk di sampingnya mendengar percakapannya.
'Olivia? Apakah mereka membicarakan Olivia?' kata Rima dalam hati.
[Kau tidak perlu cemas Vian, aku sudah memiliki seorang istri.] jawab Drey sambil tersenyum.
'Astaga, dia pun mengatakan ini pada temannya.' kata Rima dalam hati sambil tersenyum kecut.
Beberapa saat kemudian, Drey pun menutup teleponnya.
"Kau dengar percakapanku?"
Rima kemudian mengangguk.
"Maaf, aku juga harus berbohong pada teman-temanku."
Rima pun kemudian tersenyum.
"Tidak apa, inilah peran yang sedang kita jalani, kita sudah terlanjur berbohong maka kita harus meneruskan kebohongan ini." jawab Rima sambil tersenyum.
"Terimakasih atas pengertianmu, Rima."
"Iya Drey."
"Emh Drey, ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Ya, ada apa Rima?"
"Apakah di pesta ini besok kau juga akan bertemu dengan salah satu masa lalumu? E.. Maksudku, seseorang yang pernah ada di hatimu dulu."
Raut wajah Drey pun seketika berubah, melihat perubahan di wajah Drey, Rima pun menjadi panik.
"Maaf Drey, aku sudah begitu lancang, lupakan saja pertanyaanku."
"Tidak apa-apa, kau berhak tahu ini Rima karena di mata orang lain besok kau adalah istriku. Sebenarnya dulu saat aku berada di Australia aku pernah mencintai seorang wanita, dua tahun aku mengejar cintanya, namun dia tidak pernah membalas cintaku. Tapi aku sudah melupakan wanita itu, dia pun kini sudah memiliki suami dan dua orang anak. Besok dia pasti juga akan datang bersama suaminya.
"Oh."
'Apa wanita itu adalah Olivia? Apakah dia adalah Olivia adik Calista? Bukankah Olivia juga pernah hidup di Australia.' kata Rima dalam hati.
☘️☘️☘️☘️☘️
"Apa yang kau katakan?"
"Emh, bisakah saya ijin ke belakang?"
"Ya." jawab polisi tersebut lalu membuka pintu sel Ilham.
"Jangan lama-lama."
__ADS_1
"Iya Pak." jawab Ilham kemudian berjalan ke arah toilet sambil tersenyum menyeringai.
Sementara di ruangan komandan Firdaus, mereka mengamati gerak-gerik Ilham saat dia masuk ke toilet.
"Kita lihat, setelah ini ada minuman yang diantar oleh OB untuk kita, jika Ilham menemuinya sebelum dia mengantar teh itu tandanya Ilham telah berulah kembali."
"DASAR BRE*GSEK! SAKIT JIWA!" Umpat Kenan.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Pak Lukman saat ini?" tanya Olivia.
"Alhamdulillah, nyawa Pak Lukman dapat diselamatkan meskipun saat ini kondisinya masih kritis."
"Sebenarnya apa yang telah dicampurkan oleh Ilham pada minuman Pak Lukman?" tanya Leo.
"Cairan pembersih toilet, akibat meminum cairan tersebut kerongkongan dan lambung Pak Lukman mengalami infeksi. Untungnya dia cepat dibawa ke rumah sakit jadi nyawanya masih bisa tertolong."
'Syukurlah. Jadi permintaan maaf dari Ilham saat kita terakhir bertemu dengannya itu hanya palsu? Dia membohongi kita kembali?" kata Olivia.
"Ya, bukankah kemarin sudah kukatakan Olive jika aku tidak percaya akan permintaan maaf dari Ilham."
"Iya Kenan, aku juga tidak pernah percaya akan permintaan maafnya." timpal Leo.
Sementara Ilham yang sudah mengambil satu botol cairan pembersih toilet, kini memasuki dapur dan menghampiri OB yang sedang membuatkan minuman untuk Kenan dan keluarganya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya OB tersebut.
"Bisakah aku meminta air hangat? Tenggorokanku sedikit serak."
"Ini air hangatnya." kata OB tersebut lalu berjalan meninggalkan Ilham yang sedang meminum air hangat yang diberikan olehnya. Dia lalu berjalan ke ruangan komandan Firdaus untuk mengantarkan minuman.
TOK TOK TOK.
"Masuk." jawab komandan Firdaus.
OB tersebut lalu masuk ke dalam ruangan dan menaruh teh itu di meja. Namun saat dia akan pergi tiba-tiba komandan Firdaus memanggilnya kembali.
"Apa Ilham tadi masuk ke dapur saat kau sedang membuat minuman untuk kami?"
"Ya." jawab OB tersebut.
"Baik, kau boleh pergi."
Setelah OB tersebut pergi, komandan Firdaus lalu tersenyum pada Kenan dan Leo. "Inilah yang dilakukan Ilham pada Pak Lukman, dia mencampurkan pembersih toilet ke dalam minumannya."
"JADI DIA JUGA BERMAKSUD MEMBUNUH KITA SEMUA?" teriak Leo.
"Kemungkinan seperti itu."
"DASAR BREN*SEK! MANUSIA SEPERTI ILHAM MEMANG TIDAK PANTAS UNTUK HIDUP!"
__ADS_1
"KAU BENAR KENAN!"
"DIA SEORANG PSIKOPAT!"
Calista dan Olivia pun saling berpandangan. "Kakak, aku tak menyangka Ilham ternyata begitu menakutkan." bisik Olivia.
"Iya Olive, aku juga berpikiran sama denganmu."
"Kalian sebaiknya tenang, karena itulah saya memanggil anda sekalian kesini. Menurut saya, sebelum ditindak ke jalur hukum, ada baiknya kita membawa Ilham terlebih dahulu ke psikolog. Kondisi kejiwaannya benar-benar tidak stabil."
"Anda benar komandan Firdaus, sebelum dia semakin banyak menyakiti orang-orang di sekitar kita, lebih baik kita menyembuhkan kondisi kejiwaannya terlebih dahulu." kata Leo.
"Iya kita harus membawa Ilham ke psikolog secepatnya." kata Kenan ikut menimpali.
"Kapan kita bisa membawa Ilham ke psikolog?"
"Bagaimana jika besok?" jawab komandan Firdaus.
"Baik, kami akan mencoba mencari pendamping psikolog terbaik untuk Ilham."
"Terimakasih banyak, terimakasih banyak untuk kerjasama kalian Tuan Kenan dan Tuan Leo."
"Sama-sama, tapi saya ingin memberi pelajaran terlebih dahulu pada Ilham." kata Leo sambil tersenyum jahil.
Ilham yang mengamati ruangan milik komandan Firdaus pun tampak cemas karena tidak ada tanda-tanda keributan di dalamnya.
"Apa mereka belum meminum minuman itu?" kata Ilham sambil mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba seorang polisi mendekat padanya. "Saudara Ilham, anda dipanggil ke ruangan komandan Firdaus."
"O..Oh iya." jawab Ilham dengan sedikit gugup. Perasaannya kini begitu tak menentu. Perlahan dia berjalan ke dalam ruangan tersebut, saat dia membuka ruangan tampak Kenan dan Leo langsung menyambutnya.
"Halo Ilham." kata Leo sambil menepuk bahu Ilham.
"Ii..Iya Leo." jawab Ilham salah tingkah.
"Ilham tahukah kamu jika kedatangan kami ke sini untuk merayakan ulang tahun Leo." kata Kenan.
"Ya, karena itulah kami memanggilmu untuk ikut merayakan ulang tahunku."
"Oh ya, selamat ulang tahun Leo."
"Ya, kenapa kau gugup sekali, Ilham?" tanya Leo.
"Mungkin dia haus, Leo coba kau berikan teh yang ada di meja untuk Ilham."
Seketika mata Ilham pun membelalak, jantungnya berdegup kian kencang.
"Kenapa kau terlihat tegang sekali Ilham? Ini tehnya, ayo diminum." kata Leo sambil menyodorkan secangkir teh tepat di hadapan Ilham.
__ADS_1
"Ilham ayo minum tehnya. Leo, mungkin Ilham malu, lebih baik kau minumkan saja langsung teh itu ke mulut Ilham."
Mendengar perkataan Kenan, jantung Ilham pun berdegup kian kencang, apalagi cangkir itu kini telah menempel di bibirnya.