Salah Kamar

Salah Kamar
#45 Berpisah Sesaat


__ADS_3

Bram sejak tadi hanya bisa memandang Kinan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi dirinya lega karena Kinan sudah melewati masa kritisnya. Namun, sisi lain dia menyesal karena hanya bisa menyelamatkan salah satu dari bagian penting hidupnya. Dia tak bisa menyelamatkan bayi mereka yang bahkan belum sempat menghirup udara dunia.


"Apa yang harus saya bilangin ke Kinan nanti?" gumam Bram dalam hatinya. Dia benar-benar tak sanggup membayangkan respon Kinan jika tahu bayi mereka sudah tiada.


Gerakan yang Bram rasakan di tangannya, membuat pria itu segera menyeka air matanya. Dia memanggil nama Kinan, memastikan istrinya sudah benar-benar sadar. Selanjutnya, dia beranjak untuk memanggil dokter agar Kinan bisa diperiksa.


...***...


Suasana canggung menyelimuti ruangan putih itu. Kinan memilih tetap diam dibanding meneriakan pilu yang kini menyelimuti hati. Dia bahkan tak melirik Bram sama sekali yang sejak tadi duduk di sampingnya. Dia menganggap hanya dirinya yang ada di dalam sana.


"Eh? Belum dimakan?" tanya mama Kinan sesampainya di ruang rawat itu. Tadinya dia berniat untuk memberi ruang mereka berdua bicara. Namun, yang terjadi malah keheningan yang menemani anak dan menantunya.


Mama Kinan sangat tahu bagaimana terpukulnya Kinan dan Bram saat ini. Untuk itu dia berinisiatif memberi ruang agar keduanya bisa sama-sama menuangkan rasa sedih itu dan saling bersandar.


Dia masih belum tahu masalah yang dihadapi Kinan juga Bram. Untuk itu, dia malah memperkeruh suasana dengan membiarkan keduanya bersama seperti itu. Padahal Kinan sebenarnya lebih membutuhkan sang mama.


"Kinan masih kenyang. Mama bawa lagi aja," jawab Kinan sembari menggeser mangkuk berisi bubur yang sudah mendingin itu. Bahkan dirinya tak sanggup untuk tetap hidup saat ini.


"Gak boleh gitu." Mama Kinan meraih mangkuk itu dan menggantinya dengan mangkuk lain. Memang seharusnya dia tak memberikan makanan lain. Namun, dia sangat tahu Kinan takkan menolak makanan yang dia bawa.


"Udah diem." Mama Kinan menepis tangan Kinan yang berusaha keras menyingkirkan mangkuk itu. Dia sangat tahu putrinya pasti akan melewatkan makan. Jadi, dia berinisiatif untuk menyuapinya. Tak lupa dia juga meminta Bram untuk makan juga agar tak sakit.


"Gak akan dikasih bawang kok," gumam Mama Kinan kemudian menyodorkan sesendok bubur yang dia buat sendiri. Tentu ini berhasil membuat mata Kinan mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu biasanya suka pake kecap tapi kali ini mama gak bawa," ujarnya berusaha untuk kuat demi Kinan. Mau bagaimana pun, kini putrinya benar-benar membutuhkan dukungan.


"Makasih, Ma."


Mamanya terkekeh mendengar ucapan itu. "Ini baru loh Mama denger kamu ngomong gitu. Agak geli ya."


"Ih Mama," rengek Kinan yang lagi-lagi membuat sang mama tertawa.


"Lagian kamu tiba-tiba ngomong gitu, jadi merinding kan."


"Tau ah, Kinan gak akan ngomong lagi."


Mendengar percakapan kecil ibu dan anak itu sekilas membuat Bram menahan senyum. Ternyata dia tak sepandai itu untuk mengembalikan senyum dan tawa Kinan. Padahal seharusnya sejak tadi dia mengatakan sesuatu setidaknya yang bisa menghibur Kinan. Namun, yang dia lakukan malah diam bersama rasa bersalah yang begitu besar.


"Kenapa, Ka?"


"Ada sedikit masalah. Investor yang kemarin tiba-tiba bilang narik kerja samanya."


"Oke, saya ke sana sekarang." Bram memutus sambungan telepon itu. Dengan ragu dia mendekati Kinan dan sang mertua yang nampaknya mulai terlihat hangat. Bahkan, Kinan sudah mulai tersenyum sambil menerima suapan demi suapan yang diberikan padanya.


"Ma, Bram ke kantor dulu ya. Ada sedikit masalah. Nanti malem Bram ke sini lagi."


"Kamu selesain aja urusan kamu dulu. Biar mama yang jagain Kinan di sini," ujar mama Kinan yang diakhiri senyum. Wanita paruh baya itu kemudian kembali menyuapi Kinan sebelum mangkuk itu benar-benar bersih.

__ADS_1


"Ada yang gak beres sama mereka," gumam mama Kinan dalam hatinya. Dia merasa curiga sebab saat dibiarkan, Kinan dan Bram malah sama-sama saling diam. Benar-benar di luar dugaannya. Dia pikir Bram dan Kinan akan seperti pasangan pada umumnya pada saat sama-sama merasa kehilangan.


...***...


Bram mengerutkan dahi kala tak menemukan Kinan di mana pun di kamar itu. Hanya ada ranjang kosong serta sang mama mertua yang kini sedang melipat pakaian Kinan. Dia tak menemui Kinan selama 2 hari karena masalah itu benar-benar sulit diselesaikan. Apalagi, investor yang tadinya akan ikut menanam saham di perusahaannya, merupakan orang yang sangat berpengaruh.


Meski begitu, Bram selalu menghubungi mama mertuanya dan menanyakan kondisi Kinan. Dia merasa sedikit lega karena perlahan Kinan menunjukan kemajuan yang positif. Meskipun, setiap malam Kinan pasti akan menangis.


"Kinan di mana?"


"Kinan pulang ke rumah Mama dulu ya," ujar sang mama diakhiri senyum. Dia bukan menjauhkan Kinan dari Bram dengan sengaja. Namun, semua ini karena permintaan Kinan. Putrinya mengatakan tak ingin bertemu Bram untuk sementara waktu.


"Nanti Mama bujuk Kinan lagi." Mama Kinan tersenyum sembari menenteng tas yang berisi baju ganti yang sebelumnya dia gunakan. "Mama pulang dulu ya."


Kinan memang masih belum membuka mulut. Dia diam saat sang mama menanyakan masalah apa yang sedang dialami keduanya. Namun, dari cara Kinan memohon, sang mama yakin memang ada masalah yang cukup besar antara Bram juga Kinan.


Bram menghentikan langkah saat merasa sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia mengerutkan dahi saat Rena lagi-lagi mengirimkan pesan padanya. Berbeda dari sebelumnya, Bram kini tak lagi memikirkan soal perasaan yang 'katanya' harus dia selesaikan dengan Rena. Lagipula, Rena juga dirinya sudah punya kehidupan masing-masing. Bahkan, Rena juga akan menikah dalam waktu dekat.


"Saya gak mau kehilangan lagi." Bram memilih memblokir nomor Rena agar tak bisa menghubunginya lagi. Dengan membaca namanya saja, Bram sudah sangat sakit hati dan merasa bersalah. Menurutnya, menyingkirkan Rena selamanya adalah satu-satunya hal yang bisa mengurangi rasa bersalahnya saat ini.


Bram kembali menyusul sang mertua kemudian menghentikannya. Dia lantas menitipkan makanan kesukaan Kinan yang sudah dia bubuhi surat di dalamnya. Tak apa jika Kinan tak membacanya. Dia harap Kinan mau menerimanya dan memakannya.


"Nanti Mama sampein. Kamu sabar ya nungguin Kinan."

__ADS_1


Bram tahu seharusnya dia memaksa dengan menemui Kinan agar segera dimaafkan. Namun, dia yakin itu malah akan membuat Kinan semakin benci padanya. Dia bahkan merasa jijik mengingat bagaimana dirinya pernah berpikir konyol untuk menyelesaikan perasaannya yang belum tuntas. Padahal, Kinan merupakan orang yang sebelumnya membantunya untuk menembus badai.


__ADS_2