Salah Kamar

Salah Kamar
Pembuktian


__ADS_3

"Mau apa kau kesini Leo?"


"Heh kau sebenarnya manusia atau mayat hidup? Berantakan sekali." gerutu Leo.


Namun Revan kembali membalikkan badannya kemudian menatap jendela kamar.


"Benar-benar laki-laki lemah." kata Leo lagi.


"Hinalah diriku sesukamu Leo. Hidupku memang sudah tidak berguna lagi."


"Heh, aku pikir kau hanyalah seorang laki-laki lemah. Tapi ternyata kau juga lelaki bodoh yang tidak berguna. Pantas saja Giselle pergi meninggalkanmu! Dia memang tidak pantas memiliki suami sepertimu!" kata Leo sambil tersenyum kecut.


"Enak saja kau berkata seperti itu Leo! Dia meninggalkan rumah ini karena mama bukan karena diriku!"


"Tapi kau tidak berusaha untuk mencarinya."


"Bukankah aku sudah mencarinya ke rumahmu? Lalu aku juga ke rumah orang tuanya dan beberapa saudaranya tapi dia juga tidak ada di sana."


"Hanya itu? Hanya itu yang kau bisa Revan?"


"Memangnya aku harus berbuat apa?"


"Hahahaha jadi kau ingin tahu dimana Giselle berada?"


"Apa maksudmu? Tentu saja aku ingin tahu dimana istriku! Jangan pernah main-main denganku Leo! Cepat beritahu dimana Giselle saat ini!"


"Baik, jika kau ingin aku memberitahu dimana istrimu, sekarang kau temani aku dulu menemui para investor itu." kata Leo sambil tersenyum menyeringai.


"Dasar yang ada di pikiranmu hanya bisnis saja!" gerutu Revan.


"Hahahahahha. Memangnya apa lagi yang harus kupikirkan? Aku sudah memiliki istri yang cantik dan anak-anak yang lucu yang selalu menungguku di rumah. Sudah lebih baik kau bersiap-siap sekarang, kau kuberi waktu sepuluh menit untuk mempersiapkan dirimu, jika tidak aku tidak akan memberitahu dimana Giselle berada."


"Brengsek, kau memang benar-benar kurang ajar Leo!" gerutu Revan sambil bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


***


Rima sedang asyik memeriksa beberapa catatan medis milik pasien hingga sebuah suara mengagetkan dirinya.


"Bisakah kau membantuku?"


Rima yang terkejut lalu mendongkakan kepalanya.


"Emhh.. E.. Dokter David."


"Bisakah kau membantuku?" tanya dokter David lagi.


"Oh ya tentu saja dokter, apa yang bisa saya bantu?"


"Hari ini saya ada meeting mendadak, bisakah kamu menemani Stella di kamarnya?"

__ADS_1


"Iya dok. Saya akan menemani Nyonya Stella."


"Terimakasih, tolong suapi dia makan siang dan penuhi semua kebutuhannya."


"Baik dokter."


"Terimakasih, saya pergi dulu."


"Iya dok." jawab Rima sambil menatap David yang kini berjalan menjauhinya.


Rima pun kemudian masuk ke ruang perawatan Stella, saat Rima membuka pintu kamar tampak Stella terlihat sedang asyik memainkan ponselnya.


"Kau? Kenapa kau ke sini? Infusku belum habis dan aku juga tidak memanggil perawat."


"Maaf Nyonya Stella, dokter David yang meminta pada saya untuk menemani anda di sini."


Mendengar perkataan Rima, Stella pun kemudian tersenyum.


"Apa anda sudah lapar Nyonya? Dokter David juga meminta saya untuk menyuapi anda jika anda sudah lapar."


"Dia selalu saja berlebihan."


"Anda sangat beruntung memiliki kekasih seperti dokter David. Dia sangat mencintai anda Nyonya."


"Ya, kami sudah saling mengenal dan menjalin hubungan sejak di bangku kuliah meskipun kami berbeda fakultas."


"Kenapa kalian tidak menikah saja?"


"Dia membuang semua barang-barang lamaran yang David berikan untukku, bahkan dia menghina gaji pertama David yang saat itu kurang dari dua digit. Dia juga menantang David untuk bisa sukses di usia muda agar bisa menikahiku, namun saat karir David mulai beranjak naik dia malah menikahkanku dengan Revan begitu saja tanpa persetujuan dariku."


'Jadi dokter David bisa sukses di usia muda karena dia ingin membuktikan pada keluarga Stella jika dia pantas bersanding dengan Stella?' gumam Rima sambil terus menatap wajah sendu Stella.


Air mata pun kini mulai menetes di wajah cantik Stella yang terlihat begitu pucat. "Maaf." kata Rima.


"Tidak apa Rima, itu adalah bagian masa lalu."


"Semoga setelah perceraian anda dengan Revan selesai, anda bisa menikah dan hidup bahagia dengan dokter David." kata Rima meskipun dengan perasaan yang begitu teriris.


"Bahagia? Aku bahkan tidak pernah merasakan kebahagiaan seutuhnya." kata Stella lirih. Kemudian dia tersenyum kecut sambil terisak.


"Kenapa anda menangis Nyonya Stella? Apa ada yang salah dengan perkataan saya?" .


"Tidak Rima, tidak ada yang salah dengan kata-katamu. Aku hanya meratapi kisah cintaku, mungkin aku memang tidak pernah bisa ditakdirkan hidup bersama dengan David."


"Kenapa anda berkata seperti itu Nyonya Stella? Bukankah tidak ada lagi yang menghalangi hubungan kalian berdua?"


"Tidak Rima, masih ada takdir yang bisa memisahkan kami berdua. Hidupku mungkin tidak akan lama lagi."


"Tolong jangan berkata seperti itu, anda masih memiliki harapan yang besar untuk sembuh Nyonya."

__ADS_1


"Dengan merelakan buah hati kami maksudmu Rima? Tidak.. Itu tidak akan kulakukan." isak Stella sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Heiiii apa yang sudah kau lakukan Rima!!" bentak David yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


"Lancang sekali kau Rima! Berani-beraninya kau membuat Stella menangis!" kata David sambil mendekat pada mereka berdua.


'Doktet David.' gumam Rima sambil meneteskan air mata menahan perasaan sedih yang begitu berkecamuk di hatinya.


***


"Sudah selesai bukan? Cepat katakan padaku dimana Giselle." kata Revan saat dia dan Leo keluar dari sebuah hotel tempat mereka mengadakan meeting dengan para investor.


"Hahahaha, sabar Revan."


"Jangan bermain-main denganku Leo!"


"Baik akan kukatakan dimana Giselle saat ini, tapi tadi pagi kau sudah merepotkanku karena membuatku harus terlebih datang ke rumahmu untuk membujukmu, maka hanya akan kuberikan petunjuk saja untukmu. Hahahaha."


"Sial, jadi kau mau mempermainkanku!!"


"Tidak ada yang mempermainkanmu Revan, itu hanya sebuah konsekuensi karena kau juga telah membuang-buang waktuku. Hahahaha."


"Kau selalu saja menyebalkan Leo."


"Jadi kau mau kuberitahu tidak? Kalau tidak mau lebih baik aku pulang karena aku sudah merindukan istri dan anak-anakku."


"Baik, baik katakan petunjuk itu!"


"Dia berada di tempat favorit kalian saat ini. Tempat penuh kenangan bagi kalian berdua." jawab Leo sambil tersenyum.


"Tempat favorit? Tempat kenangan bagi kami berdua? Kami tidak memiliki tempat favorit ataupun tempat kenangan! Kau jangan bercanda Leo!"


"Dasar laki-laki bodoh." kata Leo sambil masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Revan yang tampak kebingungan.


"Tempat favorit?" kata Revan sambil memijit keningnya.


"Jangan-jangan dia ada di sana." kata Revan kemudian masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan begitu tinggi.


Revan lalu keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam sebuah gedung dengan begitu tergesa-gesa. Hingga akhirnya dia berdiri tepat di sebuah pintu.


CEKLEK


Perlahan dia pun membuka pintu tersebut sambil mencari di berbagai ruangan, namun Revan tidak menemukan siapapun di sana.


'Jangan-jangan.' gumam Revan sambil mendekat ke sebuah pintu dan mulai membukanya.


Note:


Jangan lewatkan episode selanjutnya ya.

__ADS_1


kalau kalian suka tolong tinggalkan jejak ya, kalau ga suka skip aja 🤗✌️


Terimakasih 😘🤗


__ADS_2