Salah Kamar

Salah Kamar
Anak Siapa


__ADS_3

"Dimas, kenapa kau termenung? Jika membalas dendam pada Aini tidak bisa kau lakukan lebih baik kau lupakan saja masa lalumu lalu menikah dengan wanita lain, carilah wanita lain yang lebih cantik dibandingkan Aini, Dimas. Ibu yakin, kau pasti dengan mudah mendapatkan wanita yang lebih cantik, ingat kau tampan dan kaya Dimas."


"Iya Bu."


"Jangan cuma iya iya saja Dimas, ibu juga ingin punya cucu seperti teman-teman ibu yang lain."


"Cucu?" tanya Dimas sambil mengerutkan keningnya.


"Iya Dimas, lebih baik kau cari istri lagi yang bisa memberikan cucu untuk ibu."


"Jadi ibu menginginkan cucu?"


"Tentu saja, kenapa malah kau bertanya seperti itu? Apa kau tidak lihat bagaimana ibu sudah sangat menginginkan seorang cucu?"


"Bu, bagaimana jika ternyata ibu sudah memiliki seorang cucu?"


"Ibu sudah memiliki seorang cucu? Bagaimana mungkin? Bukankah anakmu dan Aini sudah meninggal?"


"Bukan Bu, bukan anakku dan Aini."


"APA MAKSUDMU DIMASSSSS!!! APA KAU JUGA PERNAH MENANAM BENIHMU PADA WANITA LAIN? DASAR BODOH!!! APA CUMA ITU YANG KAU BISA DIMAS??? HIDUPMU SELAMA INI HANYA BERSENANG-SENANG SAJA! KAU TIDAK PERNAH BISA DEWASA SEDIKITPUN!!"


"Ibu, tenang Bu, tolong sekarang kita jangan membicarakan itu terlebih dahulu, bukankah ibu menginginkan seorang cucu?"


"Tentu saja!! Memangnya siapa wanita yang sudah kau hamili, Dimasssss?"


"Tenang Bu, tenangkan diri ibu."


"Bagaimana ibu bisa tenang jika memiliki anak yang tidak tahu diri sepertimu! Dimas lebih baik kau katakan pada ibu, siapa wanita yang pernah kau hamili! Kau harus mengambil anak itu secepatnya bila perlu harus menikahi wanita itu agar kau mendapatkan pengakuan sebagai ayah kandungnya!!!"


"Tidak semudah itu Bu."


"Memangnya kenapa?"


"Karena dia telah menikah dengan laki-laki lain."


"ASTAGA DIMAS!!! JADI KAU MENGHAMILI WANITA YANG SUDAH BERSUAMI???"


"Bukan Bu, bukan seperti itu."


"Lalu apa Dimas?"


"Begini Bu, sebenarnya Dimas menghamili wanita itu saat dia masih lajang tapi Dimas tidak mau bertanggung jawab pada wanita itu karena Dimas hanya bersenang-senang dengannya."


"Laluuu?"


"Lalu Dimas menjebak laki-laki lain agar mau menikahi wanita itu, sekaligus agar menjauhkan laki-laki itu dari Aini."


"Apa maksudmu Dimas? Apa maksud dari semua ini? Kenapa masih ada hubungannya dengan Aini? Sebenarnya siapa wanita yang sudah kau hamili selain Aini?"


"Delia Bu, saat itu Delia mengandung anak Dimas tapi Dimas tidak mau bertanggung jawab karena Dimas hanya mencintai Aini, jadi Dimas memfitnah Firman agar Firman mau menikahi Delia, karena saat itu Firman menjalin hubungan dengan Aini, jadi Dimas melakukan itu agar hubungan mereka kandas."


"ASTAGA DIMAS!!!" teriak ibunya, tiba-tiba tubuh ibunya pun terjatuh, terkulai di atas lantai.


"IBUUUU!!!" teriak Dimas.


"Bapak tolong Pak, Ibu pingsan!!!"

__ADS_1


πŸ’žπŸŒΏπŸ’žπŸŒΏπŸ’žπŸŒΏ


"Kenapa sepi sekali?" gerutu Roy saat baru saja pulang dari kantor.


"Ma...Mama." panggil Roy tapi tidak ada jawaban.


"Bi Sri, Bi..."


"Iya Tuan, ada apa?"


"Bi, mama kemana? kenapa sepi sekali?"


"Oh Nyonya tadi pergi ke Semarang."


"Ke Semarang? Memangnya ada apa?"


"Tadi Nyonya pergi sama Nyonya Ranti, katanya mau mengunjungi sanak saudara Tuan yang sedang sakit, namanya Tuan Gunawan."


"Oh jadi mama pergi ke Semarang dengan Tante Ranti untuk mengunjungi Om Gunawan? Mendadak sekali, kenapa mama tidak memberitahu aku."


"Mungkin Nyonya Heni terburu-buru jadi lupa tidak memberitahu Tuan."


"Oh mungkin." kata Roy, kemudian membalikkan badannya.


"Astaga Bi, kalau mama pergi lalu siapa yang menjaga Darren, bukankah baby sitternya sedang cuti?"


"Oh itu ada Nyonya Aini di kamar baby Darren, Tuan."


"Jadi ada Aini disini?"


"Iya Tuan."


Saat membuka pintu kamar Darren, terlihat Aini sedang menidurkan Darren di gendongannya. Saat melihat kedatangan Roy, Aini pun tersenyum.


"Mas."


Roy pun bergegas menghampiri Aini kemudian memeluknya dari belakang.


"Mas, sebentar aku sedang menggendong Darren."


"Taruh saja dia di tempat tidurnya, bukankah dia sudah tidur?" bisik Roy di telinga Aini.


"Iya." jawab Aini kemudian menaruh Darren di tempat tidurnya. Roy pun kemudian memeluk Aini.


"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau ada disini?"


"Apa itu harus?"


"Tentu, kalau kau bilang padaku, aku akan membawakan bunga dan cokelat untukmu."


"Hahahaha."


"Kenapa tertawa?"


"Kau berlebihan."


"Apanya yang berlebihan?"

__ADS_1


"Dalam segala hal, termasuk lamaranmu tempo hari, tahukah kamu kita sampai viral dan masuk berita online."


"Biarkan saja, biarkan semua orang tahu saat ini kau adalah milikku."


Aini pun tersenyum.


"Bukankah kau senang mendapat lamaran romantis seperti itu?"


Aini pun mengangguk sambil tersipu malu, dia lalu membenamkan kepalanya dalam pelukan Roy.


"Jadi nanti malam kau menginap di sini?"


"Ya."


"Apa kau sudah ijin pada kakakmu?"


"Sudah, Tante Heni tadi yang berbicara dengan Mba Laras saat memintaku menjaga Darren."


"Dan mereka memperbolehkanmu menginap di rumahku? Apa mereka tidak takut aku berbuat nakal padamu."


Aini pun kemudian tersenyum.


"Memangnya apa yang kau bisa?" tanya Aini sambil tersenyum nakal.


"Hahahaha, kau bertanya seperti itu pada lelaki dewasa Aini." kata Roy sambil tertawa.


"Apa yang kau bisa?" tanya Aini sambil mendekatkan wajahnya pada Roy.


"Seperti ini?" kata Roy kemudian mencium bibir Aini, awalnya hanya sebuah ciuman hangat namun kini ciuman itu berubah menjadi ciuman yang penuh gairah disertai de*ahan dan e*angan.


Aini pun kemudian melepaskan ciumannya.


"Jadi kau masih bisa bertanya padaku apa yang bisa kulakukan untukmu."


Aini pun kemudian tertawa. "Sudah sana, lebih baik kau mandi sekarang." jawab Aini sambil melepaskan pelukannya pada Roy.


πŸŒΏπŸ’“πŸŒΏπŸ’“πŸŒΏπŸ’“πŸŒΏ


Firman tampak mengamati bayi perempuan yang ada di gendongannya.


"Shakila." kata Firman sambil membelai wajah bayi itu.


'Orang-orang mengatakan jika seorang anak perempuan biasanya lebih mirip ayahnya dibandingkan ibunya tapi kenapa dia berbeda sekali denganku?' gumam Firman sambil membelai wajah Shakila.


'Bahkan kulitnya pun sangat berbeda denganku dan Delia, kulit kami sama-sama putih sedangkan kulit Shakila sedikit kecoklatan, lalu rambut ini, rambutku dan Delia lurus tapi kenapa rambut Shakila sedikit ikal?' gumam Firman lagi sambil membelai rambut Shakila.


"Ah tidak aku tidak boleh memiliki pikiran buruk apapun, mungkin saja dia mirip dengan kakeknya, bukankah ayahnya Delia berkulit gelap dan rambutnya ikal?" kata Firman sambil terus menatap Shakila.


Tiba-tiba Delia sudah berjalan menghampirinya.


"Mas Firman, bisakah kau membelikan diaper untuk Shakila di minimarket? Diaper Shakila habis."


"Iya Delia." jawab Firman. Dia lalu memberikan Shakila pada Delia.


"Aku pergi dulu ya."


"Iya, hati-hati di jalan mas."

__ADS_1


Firman lalu mengangguk, dia kemudian memacu motornya ke sebuah minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Saat Firman baru saja turun dari motornya, tiba-tiba seseorang tampak menghampirinya.


"Selamat malam Firman."


__ADS_2