Salah Kamar

Salah Kamar
Foto Wanita


__ADS_3

Ramon mendekat pada Laras yang kini tak sadarkan diri. "Dasar wanita ******, inilah akibatnya karena kau sudah berani macam-macam denganku. Lihat saja, setelah ini akan kubuat kau memberikan semua hartamu untukku. Hahahaha."


***


Calista memandang wajah Leo yang tidur dengan memeluknya. "Leo, apakah kau tidak terlalu terburu-buru untuk menceraikan Giselle? Coba pikirkan kembali sayang?"


"Calista, bukankah semuanya sudah selesai antara kita bertiga? Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini lagi padaku?"


"Aku hanya takut."


"Takut apa?"


"Tidak bisa memberikan kau keturunan," kata Calista sambil memeluk erat tubuh Leo di sampingnya.


"Dengarkan aku Calista, aku tidak pernah menuntutmu untuk memberikan aku keturunan."


"Tapi kau harus memiliki keturunan Leo, untuk meneruskan semua bisnismu. Meskipun, orang tuamu sudah meninggal mereka pasti sedih jika melihat kau saat ini."


"Mengapa kau begitu yakin jika kau tidak akan pernah bisa hamil? Program hamil yang kau lakukan bahkan belum ada satu tahun. Kau harus yakin Calista, aku akan selalu ada di sampingmu dan mendukungmu."


"Jika aku tetap tidak bisa hamil bagaimana, Leo?"


"Maka aku akan menua bersamamu, hanya kita berdua."


"Lalu bagaimana dengan bisnismu? Siapa yang akan melanjutkan?"


"Hahahaha.., itu perkara mudah, aku bisa memberikan semua asetku pada yayasan sosial atau memberikan pada saudara-saudaraku."


"Tapi Leo..."


"Tidak ada tapi, cinta itu tanpa syarat, Calista."


"Bagaimana jika kita mencari surrogate mother?"


"Calista cukup, aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi, aku hanya ingin ada kau dan aku dalam rumah tangga kita. Dan aku yakin, kau pasti bisa melahirkan anak untukku. Jadi tolong jangan bicara yang tidak-tidak, sekarang tidurlah karena ini sudah hampir dini hari," kata Leo sambil mendekap kian erat tubuh Calista, lalu menciumi tubuh Calista.


'Tuhan, tolong ampuni aku, ampuni semua dosa-dosaku, aku ikhlas akan semua yang kini terjadi dalam hidupku. Tapi tolong aku Tuhan, buat suamiku jangan ikut menanggung beban dari dosa-dosaku. Berikan dia jalan agar memiliki keturunan, meskipun dari wanita lain,' batin Calista sambil menitikkan sebutir air mata di sudut matanya.


***


"Sayang, Olive sayang!" suara Kenan yang terlihat begitu panik seolah memaksa mata Olivia untuk terbuka.


"Ada apa Kenan? Ini masih pagi, kenapa kau sangat panik?"

__ADS_1


"Olive, aku baru saja membuka brankas milik kita lalu..." namun kata-kata Kenan tiba-tiba terhenti.


"Lalu kenapa?"


"Uang yang kusimpan di brankas ini hilang Olive."


"Bagaimana mungkin? Apakah rumah ini tampak seperti kemalingan?"


"Aku tidak tahu Olive, para pembantu dan penjaga di rumah kita tak mengatakan apapun padaku, kondisi rumah ini juga tidak ada yang rusak,"


"Bagaimana kalau kita lihat CCTV di rumah ini Kenan, aku curiga jika pelakunya adalah orang di dalam rumah ini."


"Jadi kau menuduh Bi Siti dan Bi Mirna melakukan semua ini Olive? Come on Olivia, mereka sudah ikut denganku sejak aku masih anak-anak."


"Tidak Kenan bukannya aku menuduh mereka, tapi kita hanya perlu memastikan siapa yang telah berani mencuri di rumah ini."


"Baik, ayo kita lihat CCTV di rumah ini!" kata Kenan sambil membuka laptop miliknya.


"Kita lihat dulu CCTV yang dekat dengan kamar kita Olive."


"Iya." jawab Olivia sambil terus mengamati.


"Di hari pertama kepergianku tidak ada yang mencurigakan." kata Kenan


"Cek di hari kedua, Kenan."


"Hei lihat itu Kenan." kata Olivia yang tiba-tiba melihat sosok yang mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya.


"Olive, itu bukan Bi Siti ataupun Bi Mirna, tubuhnya sangat ramping."


"Tapi siapa?"


"Entahlah. Lihat itu Olive, dia tampak begitu cekatan seperti sudah tahu seluk beluk rumah ini, dan dia bisa membuka kamar ini padahal kamar ini selalu kukunci selama kita pergi."


"Jadi dia memiliki kunci kamar kita?"


"Ya, bahkan dia bisa membuka brankas milik kita, bagaimana bisa dia tahu password brankas kita Olive?"


"Pasti pelakunya orang terdekat kita Kenan, bukankah password brankas itu adalah tanggal pernikahan kita?"


"Ya."


"Jadi pelakunya pasti tahu tanggal pernikahan kita."

__ADS_1


"Brengsek, siapa sebenarnya yang sudah berani macam-macam denganku."


"Tenang Kenan, kita pasti bisa menemukannya. Sekarang kita harus lihat darimana dia masuk ke dalam rumah ini."


"Iya Olive, kita lihat CCTV di dekat pintu depan dan pintu dapur." Olivia lalu sibuk mengamati beberapa video yang ada di laptop.


"Lihat itu Kenan, dia masuk ke dalam rumah ini dari pintu belakang dekat dapur."


"Tapi bagaimana mungkin Olive? Tembok belakang rumah ini sangatlah tinggi, bagaimana mungkin dia bisa melewati pagar setinggi itu?"


Mendengar kata-kata Kenan, Olivia lalu menelan ludah dengan kasar. "Bagaimana jika pencuri itu masuk ke dalam rumahmu lewat pintu belakang rumahku yang menghubungkan rumah kita, Kenan?" kata Olivia, suaranya sedikit bergetar dilanda kecemasan.


"Ya, dan yang tahu pintu itu adalah orang-orang yang ada di rumah ini dan rumahmu. Jadi pelakunya adalah salah satu orang di rumahmu, Olivia." kata Kenan ragu-ragu karena melihat wajah Olivia yang sudah pucat.


"Maaf Olive, aku tidak bermaksud menuduh keluargamu."


"Tidak apa Kenan, ayo sekarang kita ke rumah Papa."


"Kau baik-baik saja kan Olive?"


"Ya." kata Olivia sambil berjalan ke luar dari kamar menuju rumah orang tuanya, Kenan lalu mengikuti di belakang Olivia.


"Papa." kata Olivia saat membuka pintu rumah.


"Hei Olive, Kenan ayo masuk!" sapa Herman yang sedang sibuk memainkan ponselnya, raut wajahnya tampak panik.


"Pa, Papa sendirian?"


"Ya Olive."


"Lalu dimana Laras?"


"Entahlah, belakangan ini dia memang jarang pulang ke rumah, katanya menginap di rumah temannya. Bahkan dua hari ini dia tidak pulang, ponselnya pun tidak aktif, Papa jadi bingung memikirkan anak itu, semalaman Papa tidak tidur memikirkan Laras," jawab Herman dengan raut wajah begitu cemas.


Olivia lalu memandang Kenan. "Jadi benar Laras?" bisik Olivia yang membuat emosi Kenan semakin memuncak.


***


Laras perlahan membuka matanya. 'Apa aku masih hidup?' gumam Laras sambil sedikit terisak. Dia lalu melihat ke sekelilingnya. Sebuah ruangan yang sangat berantakan dan ada begitu banyak foto di dalamnya. 'Apa ini? Kenapa banyak sekali foto di sini?' gumam Laras, dia ingin beranjak dari sofa usang yang dia tiduri, namun tubuhnya begitu sulit untuk digerakkan.


'Sial tubuhku terikat. Pasti Ramon yang melakukan semua ini padaku, dasar laki-laki sialan, kenapa aku jadi begitu bodoh terpedaya oleh laki-laki bajingan seperti itu,' umpat Laras dalam hati.


"Hei sepertinya aku tidak asing dengan wajah wanita di foto itu? Aku harus melihatnya." kata Laras sambil berusaha sekuat tenaga untuk bisa duduk meski dengan tubuh terikat. Dia lalu berdiri dan melompat-lompat ke arah beberapa foto yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Tidak mungkin." Laras menelan ludahnya dengan kasar, wajahnya kini berubah pucat, dan hatinya pun terasa begitu kalut saat melihat semua foto yang ada di ruangan itu.


"CALISTA!! Tidak mungkin, apa hubungannya Calista dengan Ramon? Kenapa semua foto-foto ini adalah wajah Calista?"


__ADS_2