
“Wah selamat ya Rey! Tenyata masih tokcer, ku kira sudah kadaluarsa,” kata Ferdy menjabat tanganku saat menjengguk Istriku yang baru saja melahirkan bidadari kecilku.
“Kadaluara mbahmu kuwi!” segera ku menuju dapur. Mempersiapkan air minum dan hidangan untuk Ayah dan rombongan. Tak lama istriku datang, ingin membantuku menyiapkan hidangan untuk mereka.
“Udah dek, kamu di kamar aja istirahat. Atau temani ibu di ruang tamu tuh, lagi nimang si kecil,” kataku penuh perhatian.
“Apa-an sih Mas, aku udah ga papa. Lagian kan ngelahirinnya normal jadi ya udah sehat ini.” Kata istriku sambil tersenyum.
“Udah, nurut aja apa kata suamimu yang ganteng ini. Kalau kubilang istirahat ya istirahat. Jangan bawel kayak bapak-bapak kehabisan rokok deh! Udah sana, aku mau kamu cepat pulih, cepat sehat, dan cepat ...” sengaja ku gantungkan kalimatku.
“Cepat apa hayo?” terdengar suaranya yang manja sambil melirikku.
“Cepat itu,,” kataku lirih.
“Itu apa?” semakin terdengar menggoda suaranya.
“Stttt, cepat cari jangkrik.” Kataku setengah tertawa, dan ku lihat istrikupun tengah mesam mesem saja.
“Haduh mas-mas! Biarpun sudah pulih ya tetap harus nunggu Empat puluh hari,”kata istriku sambil mencubit pinggangku.
‘Lho, kenapa Dek?” kataku sedikit penasaran.
“Kan masa nifas Mas.” Kata istriku memberi penjelasan.
“Oalah, gitu to Dek. Pernah dengar sih dek, dulu waktu pelajaran Agama.” katakumanggut-manggut.
“Iya sayanggggg, jadi selama Empat puluh hari itu aku minta maaf. Aku tidak bisa melayanimu dengan sempurna seperti biasanya,” kata istriku sambil menyenderkan kepalanya dibahu kiriku. Ku hentikan kegiatan ku mengaduk gula di cangkir. Ku rengkuh tubuhnya, setengah memeluk.
“Jika memang itu ketentuannya, kenapa harus minta maaf.” Kubelai rambutnya.
“Emh, setelah tau masa Nifas itu Empat puluh hari, kamu ga berfikir mau poligami kan Mas?” duengggg! Pertanyaannya sungguh mengejutkanku.
“Ngomong apa-an sih Dek. Ga jelas banget kamu ini?”
“Ya kali aja Mas, empat puluh hari kan lama. Kali aja ada pikiran poligami Mas.”
“Dih, amit-amit jabang bayi Dek. Emangnya aku lelaki yang nikah Cuma karna nafsu kayak cerita di KBM itu dek. Enggak lah sayang, kamu kan tau aku menikah sama kamu karena Allah.” kataku penuh penghayatan. Ku eratkan pelukkanku.
“Hmmm, Bukannya karena kepepet ya Mas, karena takut jadi bujang lapuk ya Mas.” Kata istriku dengan nada menggoda. Cepat ku lepaskan pelukanku, pura-pura ngambeg. Kembali kumengaduk gula di minuman yang akan ku hidangkan.
“Huft, di ajak romantis malah ngelawak. Untung cantik kamu Dek, kalo jelek...”
“Kalo jelek kenapa Mas?”
“Kalau jelekkk,,,, “
“Kalo jelek kenapa sayanggggg?”
“Kalo jelek ya ku karungin, trus kukasihkan ke Ferdy si kadal buntung itu lah biar kamu dimangsanya.” Kataku akhirnya tertawa.
“Iiiihhhh, telalu bar-bar kamu Mas..” nampak istriku mendengus kesal, memukul-mukul kecil lenganku, lalu menggiggitnya.
“Aduh, aduh Dek!” kataku mengaduh sambil meringis kesakitan.
“Kapok, makanya jangan usil,”
“Lah, kamu duluan. Masa aku dibilang bujang lapuk.” Akhirnya dia terkekeh.
__ADS_1
“Ya udah bawakan kripiknya aja kalau gitu, ayo ke depan.” Kataku akhirnya.
“Emhh, cium dulu,” katanya sambil merem. Cup! Kucium pipi kiri dan kanan nya. Tak kelewatan keningnya juga. Kucing di kasih ikan Tuna ya langsung nyamber.
“Bibirnya mana,, “ katanya protes.
“Jangan,”
“Bibirnyaaaa!”
“Jangan!Bahaya,”
“Bi-bir-nyaaaa,” katanya seolah mendesah.
“Ih, kok maksa sih.”
“Kalau gak ngasih, aku ga mau bawa kripiknya.” Kata isrtiku mengancam.
“Okeeeee, sini! Tapi kalau Joni sampai berontak tanggung jawab ya,” kataku sambil meletakkan kembali nampan yang sudah sempat ku jinjing. Dan siap untuk merengkuhnya.
“Waduh, ehhhh, gak-gak Mas. Ga jadi-ga jadi...”kata istriku segera beringsut sedikit menjauh sambil tertawa.
“Hmmm, sini! Katanya tadi minta cium bibirnya, sini ayo!” Kataku sambil mencoba merah tangannya. Namun segera di tampiknya.
“Sudah tau mesin buka bungkus baru setahun, pake dipanas-panasi segala. Di kontak dikit ya gas pol lah dek. Ayo sudah sini.” Kataku berusaha menangkapnya lagi.
“Ish ngeri akh! Kaburrrrrrrr, wekkkkkkk!” katanya sambil menjulurkan lidah ke arah ku dan berlari melesat ke ruang depan sambil membawa setoples keripik.
“Awas aja kamu ya,” kataku lalu menyusulnya ke ruang depan.
“Meta masih di belakang, dia mau kesini sama temannya.” Kata Ibu sambil terus asik dengan cucunya. Benar saja, tak lama Meta muncul bersama temannya. Gadis hitam manis dengan rambut sebahu. Segera ku hampiri dia ke teras rumah.
“Lho Meth, pacarmu ga ikut kesini?” tanyaku menyambutnya bersama temannya.
“Sudah putus Mas, ketauan selingkuh.”
“What, gantungan kunci supra fit punya nyali juga buat selingkuh,”
“Ihhh, apa-an sih Mas. Ganteng gitu dibilang gantungan kunci.”
“Iya deh ganteng, ganteng versi pelet ky Bedul. Cium aja baunya, bau menyan sama kembang tujuh rupa.”
“Makin ngaco akh Mas, udah ah males bahas dia. Mual rasanya bahas mantan!”
“Iyalah, biarlah mantan tenggelam bersama jangkrik-jangkriknya.” Merasa lucu, akhirnya dia pun tertawa.
“Yo Ra, kita masuk” ajaknya pada temannya.
Tak lama aku pun ikut berbaur bersama yang lain di ruang tengah. Nampak kebahagiaan di wajah orang tua ku, begitu juga dengan istriku. Ach! Rasanya hidupku terasa sempurna.
“Sudah ada calon namanya belum Mas?” tanya Meta yang kini telah menggendong putriku.
“Sudah dong!” kataku berbinar.
“Rey, kasih nama Rafatar aja. Biar kayak anak Artis,” kata Aldo memberi usul, nampak ia tengah asik dengan kacang mete di tangannya.
“Anak ku cewe Fer, asal ajakamu ini.”
__ADS_1
“Buset, cewek kah? Kirain cowok tadi. Habis mukanya ganteng kayak aku gitu,” katanya sambil cengengesan.
“Bocah edan.” Kata Ibu lalu disambut gelak tawa oleh kami.
***********
Malam tiba, semua sudah beristirahat di kamar yang sudah ku persiapkan. Kecuali Ferdy, terpaksa dia tidur depan di ruang Tv karena kamar sudah penuh semua. Aku berniat mengambil air minum untuk istriku namun ku urungkan niatku saat melihat Ferdy yang tengah asik menonton televisi.
“Fer, bantu aku dong!” kataku dari pintu kamarku.
“Bantuin apa Rey?” tanyanya dengan menoleh ke arah ku..
“Ayo pokoknya lah! Joni kewalahan nih,” kataku sambil mengedip-kedipkan mata.
“Ebuset Rey! Jijik kali aku lihat gayamu macem bencong jablay gitu Rey,” aku sontak tertawa.
“Ayo cepat bantu aku?” kataku lagi.
“Iya, bantu apa sih?” tetap masih berbaring.
“Sudah ayo cepat!Jangan banyak cingcong lah. Joni butuh bantuan Bejo nih, kewalahan dia!” kataku dengan tampang serius.
“Haaa, serius Rey. Bukannya bini mu habis melahirkan Rey?” Muka mesum Ferdy langsung terpampang secara nyata.
“Sudah jangan berisik, ayo cepat masuk kamar!”kataku memerintah.
“Ah gak lah Rey, bercandamu ga lucu. Gila aja kamu ngasih Anita ke aku. Gak-gak, kayak apa aja lah kamu ni Rey,” kata Ferdy ngomel-ngomel tak karuan.
“Oh ya udah kalo Bejo ga mau, besok lah aku cari Bejo yang lain.” Kataku sambil pura-pura hendak menutup pintu.
“Ehhhhh, iya-iya, aku ajalah. Daripada dikasihkan ke orang,” kata Ferdy lagi, dan muka mesumnya kembali muncul di wajahnya. Antara ragu dan tak percaya akhirnya Ferdy pun bangkit dari tidurnya.
“Sudah gila apa ya si Rey ini.” Katanya begumam. Namun masih dapat ku dengar dengan jelas.
Setengah jam berlalu, Ferdy keluar kamar sambil ngos-ngosan. Keringat membasahi seluruh badan. Dengan tubuh lemas, akhirnya iapun nyengsep menjatuhkan diri di atas kasur depan TV.
“Jangkrik kamu Rey, kurang kerjaan aja malam-malam ngerjain orang kayak gini,”
“Lha kmaren bilang Joni pemain baru, kalo ada apa-apa di suruh minta tolong sama bejo. Gimana to?”
“Haduh Rey-Rey! Tapi bukan untuk urusan angkatin ranjang dan geser-geserin lemari gitu juga kali Rey. Udah gitu malem-malem lagi. Aduh Rey, kena PHP aku Rey-Rey!”
“Dih, siapa yang PHP. Kamu aja yang otaknya ngeres.”
“Alahh mbuh Rey,” aku tak dapat menahan tawaku.
“Ngomong-ngomong, terima kasih ya. Sudah berbaik hati gotong royong benahin kamarku,”
“Bodooo Amatttt Rey!” kata Ferdy lalu membenamkan wajahnya di bawah bantal. Aku tertawa, impas rasanya.
“Ferrrr ,,”
“Apalagi?” katanya sambil menurunkan bantal dari wajahnya.
“Masih satu lemari lagi tuh, satu ronde lagi” kataku sambil menggoda.
“Opo tak pikir, angkat sendiri. Dasar bedebah kau Mukidi,” katanya sambil melempar bantal. Dan aku pun cepat menutup pintu kamar.
__ADS_1