
Vallen pun kemudian mengangkat panggilan itu.
[Halo.]
[Halo, apakah benar saya berbicara dengan Vallen?]
[Ya, ada apa?]
[Maaf mengganggu waktunya, perkenalkan saya Zian. Mama anda memberikan nomor ponsel anda pada saya, dia ingin kita bisa mulai saling mengenal.]
[Maaf, anda sepertinya salah sambung.]
[Apa salah sambung?]
[Ya, anda salah sambung dan tolong jangan hubungi nomer ini lagi.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan di teleponnya lalu memblokir nomor itu.
'Ulah mama memang benar-benar menyebalkan.' gumam Vallen dalam hati.
"Siapa sayang?"
"Salah sambung."
"Salah sambung?" tanya Firman sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, cuma sales obat, aku malas untuk menanggapinya."
"Oh."
"Macet sekali." gerutu Vallen saat melihat kemacetan yang ada di depannya.
"Ini jam sibuk Vallen, wajar kalau macet. Kalau kita naik sepeda motorku pasti tidak akan terjebak seperti ini."
"Tidak Firman, aku masih merasa sedikit sakit."
Firman pun tersenyum. "Tapi kau menyukainya kan?"
"Hahahaha kau memancingku."
"Tidak, aku hanya bertanya padamu."
"Firman, apa kau tahu cara menghabiskan waktu terbaik di dalam mobil saat macet?"
Firman kemudian menggelengkan kepalanya. Vallen pun tersenyum lalu mengerakkan jari telunjuknya memberi kode pada Firman untuk mendekat. Firman pun mendekat, lalu Vallen pun mendekatkan wajahnya. Namun saat wajah mereka sudah dekat tiba-tiba Vallen menjulurkan lidahnya lalu menjauhkan wajahnya.
"Hahahaha... Hahahaha."
"Dasar nakal." gerutu Firman sambil tersenyum.
__ADS_1
🏡🏡🏡🏡🏡
"Aini kau naik di depan, aku di belakang dengan baj*ngan ini." kata Roy saat mereka akan menaiki taksi pesannya.
"Mas, memangnya kita mau kemana?" tanya Aini saat ada di dalam taksi.
"Ke sebuah tempat agar orang ini jera." jawab Roy sambil terus mencekal tangan Dimas.
"Kau mau apa? Jangan pernah macam-macam denganku, atau kau akan rasakan akibatnya!"
"Kau yang rasakan inilah akibatnya jika kau berani macam-macam pada istriku!"
"Cuih, sebelum Aini menikah denganmu, aku sudah pernah menikah dengannya, jadi janganlah merasa sombong karena kau sekarang adalah suami Aini karena aku terlebih dulu pernah menikmati tubuh Aini."
Mendengar perkataan Dimas emosi Roy pun kian memuncak, dia kemudian melayangkan bogem mentahnya kembali pada Dimas yang sudah babak belur.
BUGH BUGH BUGH
"DASAR BRENGSEK!!! JAGA KATA-KATAMU ATAU KAU AKAN KUBUNUH SEKARANG JUGA!" bentak Roy pada Dimas yang kini begitu tidak berdaya.
"Sudah mas, jangan terpancing dengan kata-katanya."
Mendengar perkataan Aini. Roy pun hanya diam sambil menatap Dimas dengan tatapan tajam. Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di sebuah kantor polisi.
"Ayo cepat turun!" bentak Roy pada Dimas sambil menarik tubuh Dimas agar bangun.
"Memangnya siapa dirimu? Kau cuma laki-laki malas dan bodoh yang bergantung pada kedua orang tuamu!!"
"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!!"
"Lebih baik kau diam karena sebentar lagi akan kupastikan kau akan merasakan dinginnya lantai penjara!"
"DASAR BEDEBAH!! TIDAK ADA SEORANGPUN POLISI YANG BERANI MEMENJARAKAN AKU!!"
Roy pun hanya tersenyum kecut mendengar teriakkan Dimas, dengan sekuat tenaga Roy tetap menyeret Dimas yang memberontak saat masuk ke dalam kantor kepolisian.
"Pak polisi, tolong tahan orang ini. Dia mencoba memperkosa istri saya." kata Roy pada seorang polisi jaga. Polisi tersebut kemudian memandang Dimas.
"Bukankah kau putra dari Pak Leman."
"Ya, aku putranya karena itulah cepat lepaskan aku! Lepaskan aku sekarang juga atau kau akan tahu akibatnya jika berurusan denganku!"
Polisi tersebut pun hanya bisa diam sambil melihat pada Dimas dan Roy secara bergantian. Dimas pun tersenyum menyeringai melihat polisi yang kini tampak kebingungan.
"Oh jadi anda takut pada orang tua anak ini?" tanya Roy sambil tersenyum kecut pada polisi tersebut.
"Pak polisi, daripada anda bingung sekarang saya akan membantu anda menentukan pilihan anda untuk membantu anak ingusan ini atau menerima laporan saya. Kebetulan saat saya mengurus kegiatan usaha saya, saya memiliki banyak kenalan seorang petinggi di kepolisian pusat, jadi saya akan menelepon mereka sekarang juga." kata Roy kemudian mengambil ponselnya lalu mengetikkan nama seseorang.
__ADS_1
"Anda lihat ini kan pak polisi, saya sedang menelepon salah satu komisaris jenderal yang ada di Jakarta untuk ikut membantu saya dalam menertibkan anak buah mereka di daerah." kata Roy lagi sambil memperlihatkan sebuah foto profil seseorang yang sedang ditelponnya. Polisi tersebut pun kini terlihat panik.
"Ba.. Baik Tuan, saya mengerti, saya akan memproses laporan anda sekarang juga."
Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Dimas.
"Maaf Dimas, kali ini aku tidak bisa membantumu lagi. Sekarang ayo kita semua masuk ke ruangan penyidikan." kata polisi tersebut sambil mencekal lengan Dimas. Dia kemudian memasukkan Dimas ke ruang penyidikan.
"Kalian tunggu sebentar, saya akan memanggil seorang penyidik yang akan menangani kasus kalian."
"Baik Pak."
"Jangan bermimpi kalian bisa memenjarakanku! Kalian bahkan tidak memiliki bukti apapun jika aku akan berbuat jahat pada Aini!"
"Siapa bilang? Aku memiliki bukti rekaman percakapan kita berdua saat kau akan memperkosaku!" jawab Aini sambil memperlihatkan ponselnya lalu memperdengarkan percakapan mereka berdua.
"Dasar brengs*k!!! Awas kau, orang tuaku pasti tidak akan tinggal diam jika melihatku diperlakukan seperti ini!"
"Oh jadi kau mau mengandalkan orang tuamu lagi? Mas, cepat telepon Mas Leo agar dia menghubungi rekan bisnisnya untuk menarik kerja sama mereka dengan orang tua Dimas."
"Oh, jadi rekan bisnis Leo juga banyak yang menjadi rekan bisnis orang tuanya?"
"Iya mas, telepon Mas Leo sekarang juga agar dia mempengaruhi rekan bisnisnya agar tidak mau menjalin kerjasama lagi dengan orang tua Dimas, biar saja mereka jatuh miskin agar mereka tidak bisa berbuat semena-mena pada orang lain. Sungguh menyedihkan, hidup di dalam penjara dalam kemiskinan." kata Aini sambil tersenyum kecut disertai tatapan sinis pada Dimas.
"Baik Aini sayang." jawab Roy. Namun sebelum Roy mengambil ponselnya, Dimas pun berteriak.
"JANGAN LAKUKAN ITU DASAR BRENG*EK! AKU TIDAK MAU HIDUP MISKIN!!"
Roy dan Aini pun saling berpandangan sambil tersenyum. Di saat itulah seorang penyidik pun masuk ke ruangan tersebut.
"Selamat siang."
"Selamat siang, Pak Polisi."
"Bisa kita mulai sekarang?"
Roy pun mengangguk.
"Aini, ceritakan kejadiannya."
"Iya mas." jawab Aini, dia pun kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya. Hingga satu jam lamanya menjalani pemeriksaan Roy dan Aini pun keluar dari ruangan penyidikan tersebut. Roy kemudian menggandeng tangan Aini saat berjalan keluar dari kantor polisi.
"Aini, apa kau masih marah padaku?"
Aini kemudian menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Roy yang ada di depannya.
"Aini, tolong maafkan aku. Maukah kau memaafkan aku?"
__ADS_1