Salah Kamar

Salah Kamar
Berharap Lebih


__ADS_3

Aini kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat seorang wanita paruh baya mengenakan stelan hijab berwarna biru tua sudah berdiri di belakangnya.


"Oh, maafkan saya, tapi ayah kandung bayi tersebut yang memberi saya ijin untuk memberikan ASI saya untuk putranya."


"Ayah bayi itu? Maksud kamu Roy?"


"Ya." jawab Aini sambil mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan anakmu? Bukankah anakmu juga membutuhkan ASI itu?"


Mendengar perkataan wanita itu, wajah Aini pun kemudian tertunduk. "Anak saya sudah meninggal dalam kecelakaan kemarin." jawab Aini dengan lirih, sebuah butiran bening pun keluar membasahi wajahnya. Melihat Aini yang menangis, wanita paruh baya tersebut pun merasa bersalah. Dia lalu mendekat pada Aini.


"Maafkan saya, saya tidak tahu jika anakmu sudah meninggal dalam kecelakaan itu, tolong maafkan saya."


"Tidak apa-apa tante, anda juga tidak tahu, saya yang sudah terlanjur terbawa perasaan ketika mendengar anak saya disebut."


"Tidak Nak, tidak seharusnya saya bertindak ceroboh hingga berkata seperti itu."


"Sudah lupakan saja tante, ini sebuah ketidaksengajaan."


"Iya Nak, perkenalkan saya Heni, ibu kandung Roy."


Aini pun begitu terkejut karena yang ada di depannya saat ini adalah orang tua dari Roy.


"Oh jadi tante nenek dari bayi itu, maafkan saya tante, maaf saya sudah lancang memberikan ASI saya pada cucu tante tanpa meminta izin terlebih dulu pada tante."


"Tidak apa-apa sayang, siapa namamu?"'


"Saya Aini."


"Oh Aini, nama yang bagus, sekarang silahkan kau lanjutkan kembali memberikan ASI untuk cucuku, aku akan menunggu diluar."


"Iya tante, terimakasih banyak."


"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu Aini, karena kau cucuku mendapat asupan ASI yang seharusnya tidak bisa dia dapatkan."


"Iya tante." jawab Aini, dia kemudian mengambil botol kecil penampung ASI yang diberikan oleh salah seorang suster lalu memeras ASI nya.


Heni lalu duduk di depan ruang perawatan bayi tersebut di samping Olivia dan Calista yang juga sedang menunggu Aini.


"Kalian sedang menunggu siapa?" tanya Heni pada Olivia dan Calista.


"Kami sedang menunggu saudara kami yang sedang memberikan ASI nya pada salah seorang bayi di dalam." jawab Olivia.


"Apa maksud kalian Aini?"


"Darimana tante tahu?" tanya Calista.


"Oh tadi saya bertemu dengannya di dalam, dan kebetulan bayi itu adalah cucu saya?"


"Jadi tante orang tua Roy?" tanya Olivia.


"Ya, kau mengenal putraku?"

__ADS_1


"Ya, saya Olivia, suami saya Kenan teman baik Roy."


"Oh jadi kau istrinya, Kenan?" tanya Heni pada Olivia.


"Iya tante."


"Aku sangat mengenal Kenan, dia sudah bersahabat dengan Roy sejak di bangku kuliah, dan sekarang aku bertemu dengan istrinya, senang bisa bertemu denganmu, Olivia."


"Iya tante, saya juga senang bertemu dengan tante."


"Lalu wanita yang ada di sampingmu?"


"Oh dia kakak saya, Calista."


"Oh Calista, kalian berdua sangat cantik sama seperti saudara kalian yang sedang memberikan ASI nya untuk cucuku."


"Terimakasih banyak tante." jawab Calista.


"Ini rasanya seperti bukan hanya sebuah kebetulan."


"Apa maksud tante?"


"Ya, kalian dan Roy berteman lalu tiba-tiba saudara kalian menjadi ibu susu bagi putranya karena mereka terlibat dalam kecelakaan yang sama, ini seperti sebuah petunjuk akan takdir bagi mereka berdua." kata Heni yang membuat Calista dan Olivia berpandangan.


"Apa maksud tante?"


Heni pun kemudian tersenyum, namun saat dia akan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba Aini memanggil mereka.


"Mba Olive, Mba Calista, Tante Heni, Aini sudah selesai memberikan ASI." kata Aini sambil tersenyum.


"Iya tante."


"Tante, kami permisi dulu, Aini harus kembali ke kamarnya untuk beristirahat, keadaannya belum stabil."


"Oh iya Olivia, Calista."


"Mari tante." kata mereka bertiga.


"Iya."


Mereka lalu pergi berjalan menuju ke ruang Aini, sedangkan Heni masuk ke ruang perawatan bayi tersebut untuk melihat cucunya.


"Kakak, menurutmu apa maksud Tante Heni berkata seperti itu?" bisik Olivia saat mereka berjalan melalui lorong rumah sakit.


"Olive sepertinya dia berharap lebih pada Aini."


"Ya, aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Hei apakah kau sudah lupa Tante Risma tadi mengatakan agar membiarkan semua seperti air yang mengalir."


"Ya, tapi kita tetap harus mengawasi Aini."

__ADS_1


"Iya Olive."


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa kalian berbisik-bisik seperti itu?" tanya Aini pada Olivia dan Calista.


"Oh tidak apa-apa ini hanya masalah bisnis milik Leo dan Kenan." jawab Calista.


πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€


Rima melepaskan pelukannya pada Risma, dia lalu tersenyum pada Risma dan Drey.


"Bagaimana perasaan kalian?"


"Kami sangat lega bisa mengatakan semua ini pada mama. Sebelumnya kami merasa dihantui rasa bersalah dan takut jika mama tahu kemudian marah dan tidak menyetujui hubungan kami."


"Hahahaha itulah akibatnya jika berbohong, selalu dihantui perasaan takut dan bersalah. Jadi mulai saat ini kalian tidak boleh berbohong lagi pada mama."


"Iya ma, terimakasih banyak sudah merestui hubungan kami."


"Hei Rima, jika aku tidak merestui hubungan kalian entah sampai kapan Drey menjadi perjaka tua." kata Risma sambil terkekeh.


"Mama, kenapa mama berkata seperti itu?"


"Memang itulah kenyataannya Drey, kau begitu kesulitan untuk mendekati wanita, bahkan terkadang mengartikan perasaanmu pun kau tak bisa. Bukankah seperti itu Rima? Kau selalu bingung akan sikap Drey kan? Kau bahkan selalu berfikiran jika Drey masih mencintai Olivia."


"Iya ma, Drey selalu membuatku bingung." jawab Rima sambil tersenyum.


"Ya sudah mama mau pergi dulu, ada urusan sebentar di rumah sakit ini. Rima tolong kau mulai berkemas sekarang nanti sore Drey sudah bisa diperbolehkan pulang kan?"


"Iya ma. Memangnya mama mau kemana?"


"Mengunjungi saudara Olivia dan Calista yang terlibat kecelakaan beruntun."


"Oh iya ma, Rima akan berkemas sekarang.":


"Iya."


Risma kemudian berjalan keluar dari ruang perawatan Drey menuju ke ruang perawatan Aini. Saat Risma masuk ke ruang perawatan tersebut, tampak Olivia dan Calista yang sedang membatu Aini turun dari kursi roda lalu mengangkat tubuh Aini ke atas ranjang.


"Tante sudah datang?" tanya Calista saat melihat Risma yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Iya Calista, tante sudah selesai membereskan masalah Drey dan Rima."


"Membereskan masalah Drey dan Rima? Apa maksud tante?" tanya Calista yang saling berpandangan dengan Olivia.


"Mereka sudah mengakui kebohongan mereka pada tante."


"Hahahaha, syukurlah." jawab Calista dan Olivia bersamaan.


"Ya, aku juga lega akhirnya mereka mengakui kebohongan terbesar mereka."


"Iya tante, memang seharusnya mereka melakukan semua itu, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah. Pernikahan tidak boleh didasari oleh sebuah kebohongan, akan sangat berdampak buruk, tidak akan ada kebahagiaan, sama sepertiku saat awal pernikahanku dulu." kata Calista.


Aini yang mendengar perkataan Calista pun kemudian tertunduk, raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Risma yang melihatnya pun mendekat pada Aini.

__ADS_1


"Hei kenapa kau bersedih anak cantik?" tanya Risma sambil mengangkat wajah Aini.


__ADS_2