Salah Kamar

Salah Kamar
#32 Ketakutan Terbesar


__ADS_3

Kinan terkekeh kemudian menyeka noda saus yang tersisa di sudut bibir suaminya. Setelah bingung memutuskan, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah resto makanan cepat saji. Bram memilih burger sementara Kinan memilih spageti mereka. Namun, karena banyak orang yang berkunjung di outlet, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di mobil.


Kini ras khawatir Bram sedikit berkurang karena Raka memberinya kabar oma Rosa sudah siuman. Dia sempat berpikir negatif saat mendengar keterangan dokter soal sang oma. Beruntung oma Rosa bisa sadar dengan cepat.


"Makasih."


Kinan mengerutkan dahi saat mendengar ucapan itu. "Untuk?"


"Untuk masuk di hidup mas," jawab Bram diakhiri senyum. Dia merasa segalanya mulai berjalan baik saat Kinan bersamanya. Bahkan soal hubungan yang sangat dia takuti pun, kini sudah pudar. Dia memandang hubungan sebagai hal yang memberinya kenyamanan lain. Dia merasa punya alasan untuk selalu pulang. Meski sudah melewati tengah malam. Biasanya dia akan memilih untuk menginap di kantor.


Kinan menahan rasa bahagia yang ada dalam dirinya. Dia juga merasa banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Apa dia boleh menikmati bahagia ini? Terlepas dari apa yang akan terjadi ke depannya, dia akan mencintai Bram hari ini. Bukan kemarin atau esok hari. "Tumben banget mas ngomong gitu."


"Gak boleh?"


Kinan terkekeh. "Enggak juga sih."


"Sekalian konsul yuk."


Ajakan itu sukses membuat Kinan tersedak. Dia baru saja menelan suapan terakhirnya. Namun, Bram mendadak membicarakannya lagi. Harus berapa kali dia mengatakannya? Dia bukan tak mau. Hanya saja, saat ini risikonya terlalu banyak. Dia juga belum sepenuhnya siap.


Bram membukakan botol air mineral kemudian memberikannya pada Kinan. Dia cukup terkejut dengan respon Kinan saat dia membicarakannya. Padahal, apa salahnya melakukan konsultasikan? Setidaknya mereka ada persiapan untuk benar-benar menjadi orang tua.


"Maaf, maaf, Kinan kaget," ujar Kinan saat rasa perih di tenggorokannya sedikit hilang. Dia bahkan sampai mengeluarkan air mata karena spagetinya cukup pedas.


Kinan mencoba menahan tawa saat Bram mencebik. Dia baru tahu Bram juga bisa merajuk. Dia pikir pria seperti Bram takkan pernah bisa merajuk karena memiliki segalanya. Bahkan, jika mau pun dia bisa mempersunting istri lain saat ini juga.


"Kinan masih punya trauma. Jadi Kinan mau sembuhin dulu." Kehilangan sosok ayah sejak kecil memang bukan perkara mudah untuk Kinan. Dia harus menghadapi banyak hal termasuk hinaan saat ada di sekolah. Di saat anak-anak lain pergi ke sekolah diantar ayah mereka dengan motor atau mobil, dia pergi menaiki sepeda bersama sang ibu.


Memang, Bram juga sudah mengatakan takkan meninggalkannya. Namun, dia takut anaknya nanti akan merasakan hal yang sama. Dia merasa hal itu terlalu menyakitkan dan dia takkan membiarkan hal tersebut terjadi pada anaknya kelak.

__ADS_1


"Cuma konsul kok."


"Nanti lagi, ya. Kinan bener-bener belum siap."


"Yaudah, mas nunggu kamu siap aja."


...***...


Kinan memilih untuk pulang ke rumah siang ini. Dia membawakan pakaian bersih untuk sang suami serta membawakan makan siang. Namun, dia tak jadi memasak saat sang mama mampir dengan membawa rantang yang penuh dengan makanan.


"Jadi ngerepotin."


"Enggak kalo buat anak kesayangannya mama." Sang mama mencubit pipi Kinan sebelum kembali membuka setiap rantang yang dia bawa. "Mama bawain sayur buat kamu dimakan ya."


"Ma ...."


"Suwer, mama gak minta cucu sekarang. Mama pengen kamu sehat-sehat."


"Nikmatin aja waktu kamu. Udah punya anak mah, susah mau ngapa-ngapain. Puas-puasin dulu mainnya. Biar ga nyesel nanti."


Kinan tersenyum kemudian memeluk sang mama. Meski sering bertengkar karena Kinan yang keras kepala, tetap saja mereka akan saling akur saat seperti ini.


"Eh ... ada tamu ternyata."


Suara itu membuat Kinan menghela napas. Dia yakin Sarah akan mulai mengoceh tentang hal-hal tak penting lagi. Bahkan soal bangun kesiangan pun diungkit. Padahal, selama ini Bram saja tidak membiarkannya mengerjakan apa pun di rumah karena memang kediaman mereka memiliki beberapa asisten rumah tangga.


"Mbak, ajarin juga anaknya buat bantu-bantu."


Mama Kinan hanya tersenyum mendengarnya. "Sejak kapan ratu ngerjain kerjaan rumah?"

__ADS_1


Kinan mencoba menahan tawa. Selama ini dia hanya malas membalas perkataan-perkataan Sarah. Apalagi saat Sarah mengatakan alasan utama pernikahan mereka adalah karena hamil di luar nikah. Ternyata malah putra kesayangannya yang berakhir demikian. Menikah karena Lia yang hamil duluan. Itu pun harus sedikit dipaksa karena Wira yang awalnya menolak bertanggung jawab.


"Mama pulang dulu ya. Kalo disuruh-suruh, lapor aja sama mama. Biar mama cuci aja tuh sekalian mukanya."


Memang Kinan merasa puas. Namun, dia juga merasa tak enak karena malah membuat sang mama dan Sarah bertengkar seperti ini. Dia juga buru-buru menumpuk kembali rantang makanan yang dibawa sang mama kemudian membawanya pergi.


"Mertua kamu itu nyebelin."


Kinan tertawa mendengar gerutuan sang mama. "Cuma sementara kok. Biasanya cuma ada Kinan, mas Bram, sama oma."


"Mama aja gak nyuruh-nyuruh kamu. Tapi kamunya gak peka gitu bantuin mama."


Kinan membukakan pintu mobilnya untuk sekalian mengantar sang mama. "Kinan juga bantuin kadang-kadang, ma."


"Kalo inget itu pun."


Kinan jadi merindukan suasana rumahnya. Memang, dia terkadang memilih tak pulang karena alasan tanggung. Ditambah, dia malas mendengar setiap ocehan tetangganya karena tak kunjung menikah. Namun, setelah benar-benar tinggal terpisah, dia jadi ingin sehari saja menginap di rumahnya.


"Nan, mama gak akan nuntut kamu kok. Tapi usia kamu makin nambah loh, makin beresiko juga kalo misalkan kamu hamil. Sekarang kamu udah 30 taun."


Mendengar kembali usianya, membuat Kinan agak tergelitik. Ternyata memang dia setua itu. Jika dipikirkan memang seperti itu. Namun, jauh dari yang diketahui sang mama, ada banyak hal yang menghalanginya. Salah satunya adalah ketakutan hal yang dia alami, terulang pada sang anak.


"Ma, Kinan takut kalo anak Kinan ngerasain apa yang Kinan rasain. Kinan bukan gak bersyukur. Mama kasih Kinan banyak banget kasih sayang, cuma Kinan ngerasa butuh sosok bapak juga."


Sang mama hanya tersenyum mendengarnya. Lagipula, itu ada benarnya juga. "Kenapa kamu mikirnya gitu?" tanya sang mama. Dia penasaran dengan alasan Kinan berpikir demikian.


"Manusia itu dinamis. Bisa berubah kapan aja."


"Mama doain kamu gak akan ngerasain apa yang mama rasain. Kamu harus sering-sering komunikasi sama Bram termasuk soal ini. Dia juga pasti pengen gendong bayi, ngajak main anaknya, sama nganter anaknya ke sekolah."

__ADS_1


Kinan juga sebenarnya mau. Apalagi, usianya memang tak lagi muda. Semakin menunda, risikonya akan semakin tinggi. Apa dia perlu bicara dengan Bram soal rasa takutnya? Dia hanya takut Bram berubah dan bertingkah seenaknya setelah tahu dia sangat takut kehilangan.


...****************...


__ADS_2