Salah Kamar

Salah Kamar
Dua Berlian


__ADS_3

Leo yang mendengar teriakkan Calista langsung bergegas naik ke atas. Begitupula dengan Giselle yang mulai panik karena dia telah mengambil dua buah berlian milik Calista.


'Jangan-jangan, Calista sudah sadar jika dua berlian miliknya sudah kuambil. Aku harus memastikan keadaan Calista dan membuat alibi agar mereka tidak mencurigaiku,' batin Giselle sambil keluar dari dalam kamar menuju ke kamar Calista. Disaat itu juga, Leo sudah berdiri di belakangnya.


"Ada apa Calista sayang?" tanya Leo.


"LEO!" kata Calista sambil menangis.


"Ada apa sebenarnya, Olive?"


"Entahlah, aku juga tak tahu, saat sampai di kamar Kak Calista membuka lemari bajunya, dan saat itu pula dia terlihat panik dan kemudian berteriak," kata Olivia disertai raut wajah yang bingung.


"Calista, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Leo pada Calista yang masih menangis.


"Leo aku hanya sedikit terkejut dan terharu, apa ini? Ini bagus sekali, aku sepertinya tidak memiliki berlian seperti ini, apakah kau sudah membelikannya untukku?" tanya Calista sambil memperlihatkan dua buah cincin berlian yang begitu cantik. Leo hanya tersenyum mendengar perkataan Calista. "Kejutan," jawab Leo singkat.


'Brengsek, apa-apaan ini?' batin Giselle.


"Kenapa kau tidak memberitahukan padaku Leo? Ini adalah cincin berlian model terbaru yang sangat aku inginkan?" tanya Calista disertai tatapan bahagia.


"Jika aku memberitahumu itu namanya bukan kejutan, sayang! Beberapa hari yang lalu aku tak sengaja melihat koleksi berlianmu, dan setelah kuperhatikan sepertinya ada beberapa berlian milikmu yang sudah terlihat kuno, jadi aku menukar dua berlian kuno itu dengan dua berlian model terbaru, Sayang."


"Terima kasih, Leo," jawan Calista sambil memeluk suaminya.


"Sama-sama, sekarang kau dan Olivia bersiaplah, aku akan menunggu kalian di bawah."


"Iya sayang."


"Ayo kita keluar, Giselle, kau juga harus bersiap, kita akan segera memeriksakan kandunganmu."


'Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa Leo berkata seperti itu?' batin Giselle, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.


"Giselle, ayo kita keluar, mengapa kau diam saja? Apakah sesuatu terjadi padamu?"


"Tidak Leo."


"Kenapa? sepertinya kau terlihat gugup Giselle? Apa kau juga ingin DUA BUAH BERLIAN seperti yang kubelikan untuk Calista?" tanya Leo sambil menekan kata dua berlian.


DEG


Jantung Giselle seakan berhenti berdetak saat mendengar Leo mengucap dua buah berlian dengan sedikit penekanan.


"Leo.. Leo."


"Ya kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku akan bersiap," jawab Giselle. Dia kemudian keluar dari kamar Calista. Sedangkan Leo hanya tersenyum melihat tingkah Giselle.

__ADS_1


***


Giselle masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang semakin berkecamuk, rasa takut dan marah begitu menguasai hatinya. 'Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Leo tahu jika dua buah berlian milik Calista telah hilang? Apakah dia sudah tahu semua rahasiaku? Apa yang harus kulakukan?' batin Giselle dengan perasaan yang begitu takut.


'Tidak.. Ini tidak boleh terjadi, aku harus menghentikan semua ini sebelum Leo tau semuanya! Apa yang harus kulakukan?' batin Giselle kembali sambil menjambak rambutnya disertai air mata yang perlahan mulai mengalir.


"Ya Ramon.. Hanya Ramon yang bisa membantuku," kata Giselle, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Ramon.


"Ramon, cepat angkat panggilan dariku."


Namun panggilan itu tak dijawab, Giselle akhirnya mengirimkan pesan padanya, tapi Ramon juga tidak membaca pesan darinya, dengan sedikit putus asa dia lalu mencoba menelepon Ramon lagi. Beberapa saat kemudian, Ramon pun akhirnya mengangkat panggilan dari Giselle.


[Halo Ramon.] kata Giselle dengan begitu gugup.


[Haiiii Giselle, bagaimana kabarmu? Hahahaha, sudah lama kau tak menghubungiku! Apa kau kini sudah bahagia hidup dengan Leo? Hahahaha.]


[Ramon, ini bukan waktunya untuk bercanda, kau harus membantuku!]


[Ada apa Giselle, kenapa kau begitu ketakutan?]


[Ramon, posisiku ada di ujung tanduk, Leo sudah curiga padaku jika aku telah keguguran. Kau harus membantuku Ramon.]


[Apa, bagaimana semua ini bisa terjadi???]


[Olive, Olive yang mengatakannya pada Calista dan Leo.]


[Bagaimana bisa Olive tau rahasiamu, Giselle.]


[Giselle, semua ini bisa terjadi pasti karena kecerobohanmu lagi! Kau benar-benar ceroboh Giselle!!!]


[Jangan menyalahkanku, Ramon, kau tidak tahu betapa liciknya Leo dan Calista, sudah beberapa hari ini aku begitu kepayahan menghadapi sikap mereka, bahkan sepertinya Leo kini sudah tahu jika aku telah mengambil dua buah berlian milik Calista.]


[DASAR BODOH KAU GISELLE!!]


[BERANI-BERANINYA KAU MENGATAKAN AKU BODOH, RAMON! Ramon tolong, ini bukan waktunya untuk berdebat, kau harus membantuku untuk mengalihkan perhatian Leo agar dia tidak membawaku ke rumah sakit!]


[Baik, apa yang harus kulakukan?]


[Sudah kuberitahu caranya lewat pesan yang kukirimkan padamu.]


[Baik Giselle, tapi kau tau kan di dunia ini tidak ada yang gratis. Hahahaha.]


[Dasar brengsek kau Ramon, di saat-saat seperti ini kau masih saja mempermainkanku! Coba kau pikir jika Leo menceraikanku, maka aku tak bisa memberikan kau uang lagi!!!]


[Hahahaha.. Hahahaha, kau tahu Giselle, aku sebentar lagi akan memiliki istri yang sangat kaya, aku tidak perlu khawatir jika kau tidak bisa memberikanku uang lagi. Hahahaha.]


[Dasar bajingan kau, Ramon.]

__ADS_1


[Bagaimana, apakah kau masih membutuhkan bantuanku, Giselle?]


[Tentu, cepat lakukan sekarang juga!!!]


[Hahahaha, bukankah sudah kukatakan Giselle, di dunia ini tidak ada yang gratis.]


[Baik, cepat katakan berapa yang kau minta!]


[Sepuluh juta.]


[Apa sepuluh juta untuk pekerjaan semudah itu?]


[Kau mau apa tidak, Giselle?]


[Baiklah.] kata Giselle sambil menutup teleponnya kemudian mentransfer sejumlah uang pada Ramon.


Giselle lalu mencoba menenangkan hatinya sambil berganti baju dan sedikit berdandan untuk menutupi wajahnya yang sekarang begitu pucat.


TOK TOK TOK


"Giselle."


'Leo.' gumam Giselle.


"Iya sebentar Leo," jawab Giselle dengan gugup sambil berjalan ke arah pintu kamar dan membukakan pintu untuk Leo.


"Kau sudah siap, Giselle?"


"Ya, Leo."


"Ayo kita berangkat sekarang."


"Baik," jawab Giselle sambil berjalan di belakang Leo.


Saat menuruni tangga, tiba-tiba ponsel Leo berbunyi. 'Yes,' gumam Giselle.


Leo kemudian mengangkat ponselnya, raut wajahnya berubah serius dan keningnya berkerut. Leo lalu menghampiri Calista dan Olivia yang kini sudah menunggu mereka di ruang tamu.


"Calista, aku harus ke kantor, ada urusan yang begitu penting yang harus kutangani secepatnya."


"Bukankah kita harus ke rumah sakit Leo?"


"Sepertinya kita harus menunda sampai nanti sore atau besok. Aku pergi dulu," pamit Leo sambil mencium kening Calista.


'Yes, berhasil, kau memang bisa diandalkan, Ramon,' gumam Giselle.


Leo lalu mendekat ke arah Giselle. "Giselle, sepertinya kita harus menunda pergi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Iya Leo," jawab Giselle sambil tersenyum. Leo lalu sedikit mendekat ke arah telinga Giselle.


"Jangan senang dulu dan jangan merasa dirimu aman, karena aku tahu tiba-tiba ada kekacauan di kantorku ini pasti karena ulahmu dan Ramon," bisik Leo sambil tersenyum menyeringai yang mengubah senyum di wajah Giselle berubah menjadi raut wajah ketakutan.


__ADS_2