Salah Kamar

Salah Kamar
Bab Tiga Belas


__ADS_3

Pagi ini kami telah bersiap ke rumah Ferdy, semua barang yang akan di bawa pun sudah tersusun rapi di bagasi. Segera ku masuk mobil duduk di belakang stir lalu disusul Anita, duduk di sisi kiriku. Tak lama Aldo dan Tiara juga masuk di jok tengah. Ku lihat Meta mengiringi langkah Aldo dan segera masuk ke mobil. Jadilah Aldo di tengah-tengah diantara dua wanita.


“Ehhh, ngapain ikut sini Ta! Sono barengan Ayah sama Ibu, sempit tau,” kataku menghardik.


“Sapa bilang, muat aja nih.” Tak ingin berdebat aku melirik Aldo dari kaca yang ada di dalam mobil. Memberi kode padanya. Aku turun, berpidah ke mobil Ayah.


“Sini Yah, aku setirin,” kataku segera masuk dan duduk di belakang stir mobil Ayah. Dan ku lihat Aldo segera mengambil alih tugasku menyetir mobilku. Jangan sampai lengah oleh godaan setan. Maaf kan aku Meta, bisikku.


Satu jam perjalanan akhirnya kami sudah sampai di rumah Ferdy, nampak orang-orang sudah mulai sibuk mendirikan tarub, menyusun meja dan kursi. Yah, suasana perkampungan masih terasa. Pesta masih di rayakan di rumah.


“West! Akhirnya sampai juga di rumahku. Selamat datang sodara-sodara,” sambut Ferdy masih dengan gaya kocaknya yang tak pernah hilang. Disusul kedua orang tuanya, dan ke dua adiknya. Riuh sekali suasana di rumah Ferdy, di kampung jika hajatan memang selalu meriah.


Rumah Ferdy cukup besar, berbentuk memanjang terdiri dari lima kamar yang berjejar. Orang tua Ferdy membimbing kami untuk masuk ke kamar yang telah di siapkan oleh mereka. Kamar paling depan di pilih Aldo dan istrinya, sementara aku mengambil tempat di sebelahnya. Ku bantu istriku menmbereskan barang-barang bawaan kami. Riri masih terlelep dalam gendongan, jadi aku lah yang bertugas menyimpan barang-barang bawaan kami.


“Dek, aku keluar ya. Ramah tamah dulu sama mereka.” Kataku meminta ijin istriku.


“Iya Mas, tar aku nyusul. Aku nungguin Riri bangun dulu. Ga tega mau ninggalin dia,” ucap Istriku.


“Iya dek, mereka juga pasti paham.” Kataku sambil beranjak keluar kamar. Ku lihat Ferdy sedang asik di ruang tengah sambil melihat adek-adeknya merangkai dekorasi. Aku pun ikut nimbrung bersama mereka.


“Istri Aldo cantik banget Rey!” kata Ferdy.


“Alah, kamu mah kambing betina di kasih eye liner juga kamu bilang cantik,”


“Mbahmu wi Rey! Masak ya segitunya. Kampret tenan.”


“Calon bini mu yang dulu pernah kamu bawa itu kah Fer?”


“Yoi Coy,”


“Buset lima tahun. Itu pacaran apa gadai BPKB? Untung ga jagain jodoh orang kamu Fer,”


“Itu namanya cinta sejati Rey,”

__ADS_1


“Hilih, Play boy cap kurap macam kamu tau apa tentang cinta sejati. Yang ini apes aja ketemu kamu,”


“Aku sekarang setia Rey, ga berani main-main lagi.”


“Ya iyalah harus setia, dah mau nikah juga. Kalau ga setia mau di kepruk Istrimu.” Akhirnya dia terkekeh.


Tak lama muncul Tiara, meminta ijin untuk kedapur. Ingin bergabung dengan para Ibu-ibu yang sudah mulai sibuk membuat sajian untuk hari H nya nanti. Ku lihat Ferdy menatap Tiara tak ber kedip hingga Tiara hilang di balik tembok pemisah dapur.


“Hmmm, mata Do, mata! Katanya setia, liat yang bening langsung belok.” Tegurku.


“Semprul kamu Rey, ganggu aja.” Jawabnya sambil kembali asik dengan pernak-pernik dekorasi lagi.


*********


Hari resepsi pun tiba. Serangkaian acara pun telah rampung dilakukan, mulai dari ijab kabul hingga prosesi pengantin adat jawa. Tak sabar rasanya aku menunggu malam. Ada sebuah kejutan yang sudah aku persiapkan untuk Ferdy malam ini. Tunggu tanggal mainnya ya Fer!


“Ayo siapa lagi yang mau nyumbang lagu?” kata MC pada organ tunggal yang di sewa Ferdy untuk memeriahkan pesta perekawinan ya.


“Atau mau nemenin Mbak Intan bergoyang,” lanjut MC nya. Tuts piano musik pun kembali di mainkan. Intro ‘jaran goyang’ pun dipilih sebagai tembang selanjutnya.


Aku hanya tersenyum kecut, ku lirik Istriku. Dia tersenyum, namun aku tau itu senyum malaikat pencabut nyawa. Jika saja senyumnya bisa bicara tentu ia akan berkata ‘berani melangkah ke sana ku gorok lehermu’ demikian lah kira-kira kata-katanya.


“Ayo masssss, jangan malu-malu,” lanjutnya lagi sambil tubuh meliuk liuk mengikuti musik yang dibuat koplo. Aku segera melambaikan tangan, tanda penolakan. Kembali ku lirik istriku, ia tersenyum. Kali ini senyum bidadari, senyum penuh kemenangan. Bukan aku takut padanya, aku hanya menjaga perasaannya, perasaan seseorang yang teramat sangat ku cintai.


Waktu berlalu,senja pun tiba. Acara telah selesai, kami pun kembali sibuk membereskan segala perlengkapan pernikahan. Mengembalikan meja dan kursi yang di pinjam dari desa. Nampak Ferdy sempoyongan mengangkat besi-besi tenda, segera ku hampiri dia dan mengambil alih pekerjaannya.


“Pengantin itu adalah Raja gaes! Jangan ikutan kerja kayak ginian, mending sekarang kamu cari telur ayam sama madu sana,”


“Sory coy, ga perlu doping aku selalu strong.”


“Prettttttt”


“Kan sudah teruji Rey!”

__ADS_1


“Oh iya, kamu kan sudah pernah uji coba ya,”


“Anjay.”


“Ya udah kalo gitu cari daun melinjo aja sana,”


“Lho untuk apa Rey.”


“Ya nyari aja, ga untuk apa-apa,”


“Gendeng, ga jelas kamu Rey.” Katanya sambil berlalu masuk ke rumah.


“Mas, mas Aldo tadi mana?” tanya Meta.


“Di kamar nya kali, ada apa?”


“Ga papa Mas,”


“Ga pa-pa kok nyari.”


“Suka-suka aku lah, wek!” dih! Ga jelas.


“Noh di kamar sama istrinya, jangan di ganggu.” Kataku.


“Udah sana ke dapur, bantuin ibu-ibunya simpun-simpun didapur,” kataku menghardiknya. Sambil manyun ia pun menuruti perintahku. Segera ku selesaikan pekerjaanku bersama bapak-bapak yang lainnya.


Malam pun tiba, aku tengah asik dengan sesuatu yang ku bawa. Yeah, jangkrik satu toples sosis dan kodok. Malam ini harus tuntas dendamku pada si kadal buntung ini. Enak saja dulu dia mengusik malam pertamaku, sekarang rasakan pembalasanku.


********************


22.30


“Dek, aku cari angin sebentar ya di luar,” pamitku pada istriku yang sudah tertidur. Tak ada sahutan, mungkin dia sangat kelelahan sehingga tidurnya sangat pulas.

__ADS_1


Akupun beranjak keluar, tak lupa ku bawa sesuatu yang sudah ku persiapkan kemarin. Ferdy, permainan dimulai.


__ADS_2