
Santi masuk ke sebuah mini market dengan perasaan begitu kesal. "Apa-apaan ini berani-beraninya menantu sialan itu minta pada Revan untuk menyuruhku membelikan susu hamil! Benar-benar lancang!" gerutu Santi saat masuk ke dalam mini market.
'Aduh yang mana ini.' gumam Santi saat melihat deretan susu hamil ada di depannya.
"Sebaiknya aku telepon Revan saja." kata Santi sambil mengambil ponsel di tasnya.
[Halo Revan, mama mau tanya susu apa yang biasa diminum oleh Giselle?] tanya Santi pada Revan. Setelah mendapatkan jawaban dari Revan, Santi pun menutup telepon tersebut.
"Apakah orang yang anda maksud di telepon adalah Giselle Fausta?" tanya seorang lelaki yang kini berdiri di samping Santi saat mengambil dua buah susu hamil.
"Oh iya, dia menantu saya." jawab Santi.
"Wow beruntung sekali Giselle bisa menjadi menantu orang kaya seperti anda setelah dibuang oleh Leo?"
"Apa maksud anda? Dibuang oleh Leo?"
"Jadi anda belum tahu masa lalu menantu anda dulu?"
Santi pun kemudian menggelengkan kepalanya.
"Hahahaha ya sudah maafkan saya, lebih baik saya pergi sekarang." kata lelaki itu.
"E...Eh tunggu dulu Tuan!" kata Santi sambil mengejar lelaki itu.
"Maaf, siapa nama anda?"
"Niko."
"Oh ya Tuan Niko bisakah anda ceritakan masa lalu Giselle?"
"Hahahaha jadi anda benar-benar ingin tahu masa lalu Giselle?"
"Tentu, saya akan memberikan berapapun yang anda minta asalkan anda menceritakan masa lalu Giselle."
"Hahahaha penawaran yang bagus Nyonya."
"Baik terimakasih, anda tunggu saya di depan, saya mau membayar barang belanjaan saya dulu."
Niko pun kemudian mengangguk, dia lalu duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan minimarket.
"Anda bisa mulai menceritakan dari sekarang, apa yang anda tahu mengenai Giselle? Apa hubungannya Giselle dengan Leo?"
"Sebenarnya saya juga tidak terlalu banyak tahu bagaimana hubungan Giselle dan Leo, yang saya tahu Giselle dulu adalah istri kedua dari Leo."
"APA!!!" teriak Santi sambil memelototkan matanya.
"Yang benar saja?"
"Ya, saya berkata yang sebenarnya. Giselle pernah menjadi istri kedua Leo, tetapi sepertinya Leo tidak pernah mencintai Giselle, saat itu bahkan Leo menceraikan Giselle di depan mata kepala saya."
"Brengsek! Berani-beraninya dia menyembunyikan rahasia sebesar ini padaku!"
__ADS_1
"Lalu apakah anda tahu awal mulai Giselle menikah dengan Leo? Bukankah dia cukup dekat dengan Calista?"
"Saat itu Calista divonis tidak bisa hamil, jadi Giselle memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Leo dan Calista. Saat itu Giselle memang pernah hamil, tapi keguguran."
"Ja.. Jadi Giselle pernah hamil sebelumnya?"
"Ya, dia pernah mengandung darah daging Leo, tapi Giselle keguguran. Dia lalu meminjam uang padaku dalam jumlah yang cukup besar untuk menutup mulut seseorang yang tahu rahasianya agar tidak membocorkan pada Leo dan Calista. Tapi Leo bukanlah orang bodoh, dia mampu membuka kebohongan yang dilakukan oleh Giselle sehingga dia pun menceraikannya."
"Dasar wanita ja*ang! Brengsek! Jangan-jangan dia juga telah membuat tipu daya pada Revan agar jatuh ke dalam pelukannya!"
Niko pun kemudian tersenyum. "Anda masih ingat janji anda kan Nyonya?"
"Tentu saja."
"Berapa yang anda minta?"
"Ini cerita yang tidak murah Nyonya,"
"Katakan berapa yang anda minta?"
"Sepuluh juta."
"Baik tuliskan nomor rekening anda di sini." kata Santi sambil memberikan ponselnya. Niko lalu menuliskan beberapa buah angka di ponsel Santi.
"Ini sudah saya transfer."
"Baik, senang bekerjasama dengan anda."
***
"Kau harus makan Giselle, nanti tubuhmu lemas."
"Tidak Revan, perutku rasanya begitu mual. Aku sudah lelah selalu memuntahkan makanan yang kumakan."
"Baik, sebenar lagi mama pulang. Aku sudah berpesan untuk membelikanmu susu. Kau minum susu saja ya agar tubuhmu tidak terlalu lemas."
Giselle pun kemudian mengangguk. Dia lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa tempat dia duduk saat ini bersama Revan.
"Itu dia mama sudah datang." kata Revan pada Giselle saat melihat Santi masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana mama sudah membelikan susu untuk Giselle kan?" tanya Revan. Namun Santi tidak menjawab pertanyaan Revan. Dia lalu mengarahkan pandangannya pada Giselle yang kini duduk lemas di samping Revan.
"Kau tidak usah berpura-pura Giselle! Ini bukan kehamilan pertamamu kan?"
Jantung Giselle pun seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Santi.
"Apa maksud Mama berkata seperti itu? Ini anak pertama Revan dengan Giselle Ma!"
"Revan sadarlah, kau sudah ditipu oleh wanita ja*ang ini!!"
"Cukup Ma jangan pernah berkata seperti itu pada Giselle!" kata Revan yang kini melirik Giselle yang mulai menangis.
__ADS_1
"Jangan terlalu bodoh Revan, kau bisa berkata seperti itu karena tidak tahu siapa dia sebenarnya!"
"Ada apa sebenarnya ma? Kenapa mama tiba-tiba berkata seperti itu? Bukankah mama dan papa sudah menyetujui pernikahan Revan dan Giselle? Mengapa mama tiba-tiba berubah seperti ini?"
"Tentu saja mama berubah karena mama sudah tahu jika kita semua ternyata telah dibohongi oleh wanita ja*ang ini! Berani-beraninya dia menipu keluarga terhormat seperti kita!"
"Menipu? Menipu apa ma?"
"Jadi kau belum sadar juga Revan? Bukankah tadi mama sudah katakan jika itu bukanlah kehamilan pertama untuk Giselle karena sebelumnya dia sudah pernah menikah!"
"Tidak mungkin karena Giselle belum memiliki seorang anak."
"Iya itu karena dia mengalami keguguran! Apa kau tahu Revan, dia dulu pernah menjadi istri ke dua dari Leo! Wanita jahat itu bahkan ingin merebut Leo dari Calista karena saat itu Calista divonis tidak bisa hamil jadi dia mengambil kesempatan untuk menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga Leo dan Calista."
"Tidak... Tidak mungkin." kata Revan dengan raut wajah yang begitu bingung.
"Jika kau tidak percaya coba kau tanyakan pada istrimu itu!" kata Santi sambil menunjuk Giselle yang kini menangis tersedu-sedu.
Revan kemudian mendekat ke arah Giselle. "Giselle katakan padaku yang sebenarnya? Yang dikatakan mama itu tidak benar kan?" tanya Revan dengan raut wajah memelas dan air mata yang kini mulai membasahi sudut matanya.
Namun Giselle hanya menangis dan tidak berkata apapun.
"Lihat Revan, dia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya padamu kan? Buka matamu Revan! Buka matamu jika Giselle bukanlah wanita baik-baik!!"
"Giselle cepat katakan yang sebenarnya padaku? Aku lebih percaya padamu dibandingkan dengan mama, aku tahu jika mama sudah berbohong kan Giselle?" tanya Revan kembali diiringi air mata yang kini sudah mengalir deras di wajahnya.
Giselle pun masih diam sambil menangis dan menutup mulutnya. Hingga beberapa saat kemudian dia pun mengangguk.
"Ya, itu benar Revan. Aku pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Leo."
Hati Revan begitu hancur mendengar perkataan Giselle, dia kemudian menatap Giselle dengan tatapan kosong. "Kenapa? Kenapa kau tega berbohong hal sebesar ini padaku Giselle?" tanya Revan datar.
"Jadi ini alasannya kau mencintai Leo sejak dulu? Jadi selama ini kau masih mengharapkan cinta dari Leo karena kau pernah menjadi istrinya?" tanya Revan dengan begitu lemas karena menahan rasa sakit yang kini begitu bergejolak di hatinya.
"Revan maafkan aku."
"Kenapa kau tidak jujur saja padaku Giselle? Aku bahkan pernah meminta agar tidak ada rahasia diantara kita saat aku mengakui kebohongan tentang pernikahanku dengan Stella? Tapi kau mengatakan tidak memiliki rahasia apapun! Kenapa kau tega berbohong padaku? Jika saat itu kau mau mengakuinya tentu rasanya tidak sesakit ini kan Giselle?"
"Maafkan aku Revan, maafkan aku."
"Cukup Giselle! Aku butuh waktu untuk menenangkan diri!" bentak Revan kemudian berjalan menjauhi Giselle dan masuk ke kamarnya.
Santi kemudian tersenyum, dia lalu melangkahkan mendekat pada Giselle yang masih menangis.
"Angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga!" bentak Santi pada Giselle yang kini masih menangis tersedu-sedu.
Note:
Othor minta maaf ya kalau masih banyak kekurangan yang mungkin tidak bisa memuaskan semua pembaca 😊 kalau kalian suka cerita ini jangan lupa tinggalin jejaknya ya kalau ga suka skip aja 🤗✌️
Terimakasih 😘🤗
__ADS_1