
Olivia melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa-gesa ke dalam rumah sakit. Perasaannya begitu cemas memikirkan Kenan karena saat tadi pagi Olivia meninggalkannya di rumah sakit Kenan belum sadarkan diri. Saat dia membuka pintu ruang perawatan, senyum pun mulai mengembang di bibirnya karena melihat Kenan yang kini sudah sadar dan tengah berbicara dengan Leo.
"KENANNNN." teriak Olivia sambil menghambur ke arah Kenan dan memeluk tubuhnya.
"Hati-hati Olive, ini masih sakit." gerutu Kenan sambil tersenyum.
"Maaf Kenan, aku begitu mencemaskanmu."
"Dia baik-baik saja Olive, ada aku yang menjaganya disini."
"Terimakasih Leo, dimana Kak Calista?"
"Oh dia pulang sejak tadi pagi setelah kau berangkat ke kantor untuk mengurus si kembar, sebentar lagi dia juga pasti datang ke sini."
"Aku sudah disini." kata Calista yang tiba-tiba mengejutkan mereka semua.
"Bagaimana Olive? Apakah ada yang aneh pada diri Ilham?" tanya Calista lagi.
"Iya Kak, dan sekarang aku semakin yakin jika Ilham lah yang melakukan semua ini pada kita. Saat aku berbicara empat mata dengannya, dia memang selalu menghasutku untuk tidak mempercayai Kenan."
"BRE*SEK!" umpat Kenan.
"Sabar Kenan, kendalikan emosimu." kata Leo.
"Lalu bagaimana dengan Rima?"
"Emh sepertinya Rima saat ini baik-baik saja. Tadi aku sempat melihat Rima tampak menghubungi Ilham."
"Bagus jika keadaannya baik-baik saja. Tapi aku tetap mencemaskannya."
"Kakak lebih baik besok kau ke rumah mereka dan berpura-pura kau tidak sengaja datang ke rumahnya agar dia tidak curiga."
"Iya Olive, aku besok ke rumah mereka dengan Giselle."
πΈπΈπΈ
Ilham mendekat pada Olivia yang kini keluar dari ruangan untuk makan siang. "Hai Olive."
"Ilham."
"Kau mau makan siang?"
"Ya." jawab Olivia sambil mengangguk.
"Boleh kutemani?"
__ADS_1
"Tentu saja. Aku sepertinya memang butuh teman untuk mengobrol, aku sangat kesepian Ilham."
"Kesepian!"
"Ya, Kenan sekarang di rumah sakit dan saat aku pulang anak-anak sudah tertidur. Ketika aku ingin datang ke rumah sakit untuk bertemu Kenan dia selalu menolak dan menyuruhku untuk mengurus pekerjaan saja."
"Kenapa Kenan seperti itu?"
"Entahlah, akhir-akhir ini Kenan memang selalu bersikap dingin padaku."
"Olive, bukankah sudah pernah kukatakan padamu jika Kenan saat ini sedang dekat dengan wanita lain. Mungkin dia bersikap seperti itu untuk menjaga jarak denganmu untuk menjalin hubungan dengan wanita itu."
Mendengar perkataan Ilham, Olivia pun berpura-pura terlihat sedih. Melihat Olivia yang kini terlihat murung, perlahan Ilham pun memegang tangan Olivia.
"Olive jangan sedih ada aku disini yang menemanimu. Aku berjanji akan selalu ada untukmu."
"Terimakasih Ilham."
'Masuklah dalam jebakanku Ilham dan ikuti permainan ini.' kata Olivia dalam hati sambil tersenyum.
πΈπΈπΈ
"Calista aku benar-benar tak menyangka jika Ilham bisa bertindak seperti itu." kata Giselle saat kini mereka di dalam mobil Calista menunju ke rumah Rima.
"Aku juga Giselle, kupikir dia adalah lelaki yang polos dan lugu."
"Tidak apa-apa Giselle, kita juga sama-sama tidak tahu kalau ternyata Ilham akan berbuat seperti itu. Ayo turun." kata Calista saat mobilnya sudah sampai di halaman rumah kontrakan Rima.
Mereka pun kemudian turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumah. Cukup lama hingga pintu itu terbuka. Mereka pun begitu terkejut saat Rima ternyata membukakan pintu dengan begitu bersusah payah karena keadaan kakinya.
"Kau kenapa Rima?" tanya Calista dan Giselle bersama-sama saat melihat Rima yang kini berdiri didepannya sambil menggunakan tongkat.
"Oh ini karena aku jatuh di dalam kamar mandi, saat itu aku akan mengambil baju kotor Ilham di dalam kamar mandi tapi aku sedikit ceroboh jadi aku terpleset."
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami jika kau sakit Rima?" tanya Giselle.
"Aku tidak mau merepotkan kalian. Aku tahu kalian juga pasti sibuk mengurus rumah tangga kalian." jawab Rima sambil tersenyum.
"Ayo masuk." kata Rima lagi sambil mempersilahkan Calista dan Giselle ke dalam rumahnya.
Giselle dan Calista pun kemudian masuk ke dalam rumah itu sambil berpandangan penuh tanda tanya. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak mereka masing-masing.
"Kalian darimana?" tanya Rima saat mereka kini duduk di sofa tamu.
"Emh kami baru saja mengunjungi salah satu karyawan Leo yang baru saja melahirkan, dan ternyata melewati rumahmu jadi kami mampir ke sini untuk bertemu denganmu sebentar." kata Calista.
__ADS_1
"Iya, kebetulan Calista tidak tahu alamatnya jadi aku menemani Calista." tambah Giselle.
"Oh ya, aku senang kalian mengunjungi aku. Selama ini aku sedikit kesepian."
"Kesepian?" tanya Calista.
"Emhh.. E.. Iya, Ilham sedikit sibuk. Di kantor Kenan banyak sekali pekerjaan jadi dia selalu pulang malam."
Mendengar perkataan Rima, Giselle dan Calista pun mengerutkan keningnya.
"Kau bahagia hidup bersama Ilham?" tanya Calista.
Rima pun sedikit gugup. "Tentu saja aku bahagia, bukankah kalian tahu Ilham orang yang sangat baik." jawab Rima.
"Bagus jika kau bahagia bersamanya kami ikut bahagia."
"Ya, aku bahagia kalian tidak usah khawatir." jawab Rima lagi.
Hingga satu jam lamanya Giselle dan Calista di rumah Rima, akhirnya mereka pun pulang.
"Kau jangan sungkan pada kami jika kau memerlukan sesuatu Rima." kata Calista sebelum mereka pulang.
"Iya Kak Calista."
"Kami pulang dulu Rima." kata Giselle.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Giselle aku yakin sesuatu telah terjadi dalam rumah tangga mereka tapi Rima menutupinya."
"Iya kau benar Calista, aku pun curiga jika kaki Rima sampai patah itu karena ulah Ilham."
"Iya aku pun berpikiran yang sama denganmu."
"Tapi kenapa Rima tidak mengatakan yang sebenarnya ataupun melarikan diri? Bukankah selama ini kita tahu kalau Rima itu pemberani dan pembangkang?"
"Mungkinkah Rima sudah benar-benar jatuh cinta pada Ilham? Kau tahu kan Giselle jika Rima jatuh cinta dia mampu melakukan apa saja untuk mendapatkan hati orang yang dicintainya?" kata Calista.
"Bodoh jika dia mau menyakiti dirinya sendiri untuk bisa mendapatkan hati Ilham." gerutu Giselle.
πππ
Rima tampak begitu terkantuk-kantuk saat sedang menunggu Ilham pulang ke rumah. "Sudah hampir jam sepuluh malam tapi Ilham belum juga pulang." kata Rima sambil melirik jam dinding. Lelah menahan kantuk, akhirnya Rima pun tertidur di sofa, namun saat sudah tertidur dengan pulas tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggil dirinya.
"RIIMAAAAAAAA!!" teriak suara itu, namun saat dia membuka matanya sebuah siraman air pun membasahi wajahnya.
__ADS_1
PLAK PLAK
"DASAR WANITA BODOH!" bentak Ilham lagi sambil menampar pipi Rima.