
David dan Stella saling berpandangan saat melihat Vallen yang masih terlelap di bangku belakang mobil.
"Sepertinya dia sudah sangat lama tidak bisa tidur dengan nyenyak." kata Stella sambil tersenyum.
"Ya, begitulah. Meskipun dia sangat ceria dan jahil tapi sebenarnya dia begitu rapuh."
"Kasihan sekali, tapi ini sudah takdir, mungkin dia dan Rayhan tidak berjodoh."
"Ya itulah alasannya aku mengajak dia pergi bersama kita, agar dia bisa sedikit bersenang-senang."
"Iya David aku tahu. Lebih baik aku bangunkan dia sekarang."
"Iya Stella, aku akan menurunkan barang-barang kita."
Stella pun mengangguk, kemudian turun dari mobil dan membuka pintu belakang untuk membangunkan Vallen.
"Vallen bangun, kita sudah sampai." kata Stella sambil mengguncang-guncang tubuh Vallen.
Vallen pun perlahan membuka matanya.
"Kita sudah sampai Kak?"
"Iya, ayo kita turun."
"Kak David mana?"
"Dia sedang menurunkan barang-barang kita."
"Oh."
Vallen pun kemudian turun dari mobil lalu merentangkan tubuhnya.
"Sepertinya aku tidur begitu lama." kata Vallen sambil menguap.
"Memangnya kau sudah tidak tidur berapa hari?"
"Aku tidur setiap hari Kak."
"Ya kau tidur pukul tiga pagi lalu bangun pukul enam pagi, memangnya apa yang sebenarnya tiap malam kau lakukan, Vallen?"
"Bukan urusanmu Kak."
"Daripada kau melakukan kegiatan yang tidak jelas, lebih baik kau langsung bekerja di rumah sakit saja, itu akan membuat hidupmu lebih berguna untuk dirimu sendiri dan orang lain."
Stella lalu mencubit perut David.
"Jangan bicara seperti itu, kau selalu saja bicara ceplas-ceplos, dia baru saja patah hati David!!" bisik Stella.
"Kalian membicarakan aku? Kalian pikir aku masih menangisi laki-laki itu? Hahahaha, aku tidak sebodoh itu." kata Vallen sambil tertawa.
Melihat Vallen yang tertawa Stella dan David pun menghembuskan nafas panjang.
"Syukurlah dia tidak tersinggung dengan perkataanmu." bisik Stella pada David lagi.
"Hei kenapa kalian begitu mesra, daripada aku jadi obat nyamuk lebih baik aku pergi jalan-jalan dulu, mumpung masih sore, aku ingin berjalan-jalan di tepi pantai." kata Vallen sambil tersenyum manja lalu melangkahkan kakinya menjauhi mereka. Namun baru beberapa langkah dia membalikkan tubuhnya.
"Satu lagi tolong kalian bawa masuk juga semua barang-barangku lalu rapikan di kamarku." kata Vallen sambil berlari. Namun setelah berbalik, air mata kembali mengalir di wajah Vallen tanpa David dan Stella ketahui.
David dan Stella pun saling berpandangan.
"Dasar anak nakal, berani-beraninya dia menyuruh kita seperti pembantunya." gerutu David. Stella pun hanya tersenyum.
"Lebih baik kau panggil porter di hotel ini untuk membawa barang-barang kita."
__ADS_1
"Iya Stella."
💜💜💜💜💜
"Pasti mereka pasangan pengantin baru yang sedang begitu kasmaran sampai berciuman di tepi pantai seperti ini." kata Firman sambil tersenyum.
Namun saat pasangan itu melepaskan ciuman mereka, begitu terkejutnya Firman karena wanita yang sedang berciuman dengan pasangannya itu adalah Aini.
'Aini.' gumam Firman dalam hati sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk.
"Aini." kata Firman, tanpa dia sadari, air mata pun mulai menetes membasahi pipinya, meskipun sedikit dipaksakan Firman pun mencoba tersenyum.
"Aini, sekarang kau memang terlihat sangat cantik, sungguh berbeda dengan Aini yang kukenal dulu, aku sadar aku tidaklah pantas untukmu, kau memang lebih pantas dengan laki-laki yang menjadi suamimu itu, Aini. Kau juga terlihat sangat bahagia bersamanya, berbahagialah Aini, aku tidak akan mengusikmu kehidupanmu sedikitpun." kata Firman kemudian berjalan menjauhi tempat itu.
Dia kemudian berjalan kembali menyusuri bibir pantai sambil memainkan kakinya pada ombak dengan perasaan yang begitu tak menentu.
'Kenapa Tuhan? Kenapa aku harus mengalami nasib yang begitu buruk seperti ini? Di saat aku ingin benar-benar melupakan Aini kenapa tiba-tiba aku harus bertemu Aini kembali dengan suaminya? Kenapa aku harus selalu merasakan sakit yang berulangkali.' gumam Firman sambil menahan rasa sakit yang kini begitu menyesakkan dadanya. Hingga akhirnya, dia tidak mampu lagi menahan perasaan yang begitu bergejolak. Dia kemudian berteriak sambil menghadap ke laut lepas.
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!!"
Teriak Firman berulangkali sambil menjatuhkan tubuhnya pada deburan ombak. Nafasnya pun kini begitu tersengal-sengal, air mata kembali jatuh membasahi wajahnya.
Di saat itulah tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Apa kau sudah selesai berteriak?"
Firman pun begitu terkejut mendengar sebuah suara yang ada di sampingnya. Dia kemudian memalingkan wajahnya lalu melihat seorang wanita dengan postur tubuh ramping memakai celana jins belel dengan kemeja monochrome kini berdiri di sampingnya.
Firman pun kemudian berdiri.
"Oh kalau begitu, kita berkenalan dulu. Namaku Vallen."
Firman pun menatap Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh denganku? Kupikir aku sangat cantik."
Firman pun tersenyum kecut mendengar kata-katanya.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Aku baru pernah melihat wanita sepertimu."
"Maksudmu wanita cantik sepertiku?"
"Ah sudahlah berbicara denganmu membuatku jadi semakin gila."
"Memang kau gila, buktinya kau berteriak-teriak sendiri seperti itu." jawab Vallen sambil terkekeh.
Firman pun berjalan meninggalkan Vallen yang masih berdiri di bibir pantai.
"Kau mau kemana?" tanya Vallen sambil berjalan mengikuti Firman.
"Pulang."
"Apa rumahmu disini?"
"Tidak, aku hanya merantau di sini."
"Oh, kau sedang patah hati?"
__ADS_1
Firman pun tersenyum.
"Apakah kau juga seorang peramal?"
Vallen pun tersenyum.
"Tanpa perlu menjadi seorang peramal, semua orang pun tahu kau sedang patah hati. Lihat wajahmu yang begitu sendu, lalu matamu, matamu seperti orang yang sudah berhari-hari tidak tidur."
"Hei kau berkata seperti ini padaku tapi tidak melihat bagaimana keadaanmu."
"Aku punya nama, namaku Vallen."
"Oh ya Nona Vallen, kau mengataiku tapi seperti tidak melihat keadaanmu. Lihat wajahmu, kau juga baru saja menangis kan? Air matamu yang mengering sangat jelas terlihat di wajahmu. Lalu lihat matamu? Kau tampak seperti zombie yang tidak pernah tidur."
"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku, kita kan baru pernah bertemu." kata Vallen sambil memonyongkan bibirnya. Melihat ekspresi Vallen, Firman pun tersenyum.
"Jadi kau sedang patah hati?"
"Sama seperti denganmu." jawab Vallen yang membuat Firman tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Jika kita sama-sama sedang patah hati, kenapa kau mengataiku terlebih dulu?"
"Aku tidak mengataimu, aku hanya ingin melihat keadaanmu, karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Sesuatu yang buruk?" tanya Firman sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, misalnya bunuh diri."
"Hahahaha, aku tidak sebodoh itu."
"Bagus."
Vallen kemudian menatap arlojinya. "Astaga ini sudah gelap, bisa-bisa aku terlambat ke pesta pernikahan itu." kata Vallen sambil menggaruk kepalanya.
"Aku harus pergi ke pesta pernikahan temanku sekarang, tapi berjanjilah agar kau tidak bunuh diri."
Firman pun tersenyum. "Tentu saja tidak."
"Baik, kupegang janjimu, aku tidak ingin membaca berita ada penemuan mayat besok pagi."
Firman pun menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak sebodoh itu."
"Bagus aku pergi dulu." kata Vallen sambil beranjak pergi. Namun saat akan melangkah tiba-tiba dia teringat sesuatu. Vallen kemudian membalikkan tubuhnya lalu menatap Firman kembali.
"Ada apa lagi? Bukankah kau sedang terburu-buru?"
"Aku baru ingat, kau belum mengenalkan siapa dirimu."
Firman pun tersenyum.
"Suatu saat jika kita bertemu lagi aku akan mengenalkan siapa diriku padamu." kata Firman yang kini berjalan meninggalkan tempat itu.
Vallen pun hanya bisa menatap punggung Firman.
"Sombong sekali." gerutu Vallen.
Note:
Gimana nih gaes kesan pertemuan pertama mereka? Kira-kira mereka cocok ga disatuin? Yang satu usil yang satu jaim 🤔ðŸ¤
__ADS_1