
"Selamat datang Tuan Farhan Atmajaya dan Nyonya Santi Atmajaya, selamat datang di rumah ini kembali." kata Bi Cici saat membukakan pintu untuk kedua orang tua Revan sambil tersenyum.
"Apa kabar Bi?" tanya Santi.
"Alhamdulillah, sehat Nyonya. Kamar Tuan dan Nyonya sudah saya bersihkan, silahkan jika Tuan dan Nyonya mau beristirahat."
"Baik Bi Cici, terimakasih banyak ya." jawab Santi.
"Stella, kau juga sebaiknya istirahat. Jaga kandunganmu dan jangan terlalu banyak berfikir nanti bisa mengganggu pertumbuhan janinmu."
"Iya Ma."
"Ayo kita ke kamar Pa."
"Mama ke kamar saja dulu, Papa rindu dengan rumah ini ingin berjalan-jalan di taman."
"Iya Pa." jawab Santi kemudian berjalan ke arah kamar.
Farhan lalu berjalan ke arah dapur dan menghampiri Bi Cici yang sedang sibuk memasak.
"Bi Cici." panggil Farhan.
"Oh Tuan Farhan, ada apa Tuan sampai mendatangi saya ke dapur?"
"Bi, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan."
"Tentang apa Tuan?"
"Tentang Revan dan Stella." jawab Farhan yang membuat Bi Cici sedikit terkejut.
"Bi, Bibi tidak perlu takut, katakan saja yang sebenarnya, bukankah Bibi sangat menyayangi Revan?"
"Tentu Tuan, saya sudah mengasuh Tuan Revan sejak kecil, saya sangat menyayanginya."
"Baik saya minta Bibi berkata jujur pada saya, tolong ceritakan bagaimana hubungan Revan dan Stella yang sebenarnya saat kami berada di New York."
"Emhhh itu."
"Katakan saja Bi, tidak perlu ada yang ditutupi."
"Hubungan mereka tidak baik, mereka sama sekali tidak harmonis dan tidak pernah berperilaku layaknya sepasang suami istri, bahkan Nyonya Stella tidak pernah pulang selama enam bulan dan baru pulang satu bulan terakhir ini sejak dia hamil Tuan."
"Benarkah yang Bibi katakan?"
"Iya Tuan, saya berkata jujur karena sebenarnya saya kasihan dengan Tuan Revan, dia dulu begitu setia dan sayang pada Nyonya Stella, dia bahkan sering menunggu Nyonya Stella pulang di depan rumah sampai larut malam, namun Nyonya Stella tidak pernah pulang ke rumah hingga enam bulan lamanya."
__ADS_1
Hati Farhan begitu teriris mendengar anak laki-lakinya diperlakukan seperti itu oleh istrinya. 'Jadi apa yang dikatakan Revan itu benar, jika Stella tidak pernah pulang ke rumah.' gumam Farhan sambil mengusap kasar wajahnya.
"Baik Bi, terimakasih banyak atas penjelasan Bibi."
"Iya Tuan, semoga dengan kehadiran Tuan dan Nyonya disini bisa membantu Tuan Revan."
"Iya Bi, saya akan membantu anak saya. Saya juga tidak ingin dia disakiti seperti ini."
"Iya Tuan." jawab Bi Cici kemudian melanjutkan memasak, sedangkan Farhan berjalan ke menuju ke kamarnya.
Sementara itu Revan tengah sibuk membujuk Giselle di dalam mobil. "Ayo kita turun, Giselle."
"Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Aku takut Revan."
"Apa yang kau takutkan? Ada aku disini?"
"Orang tuamu, pasti..." kata Giselle sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei, kau tenang saja Giselle, kita ada di posisi yang benar, kau tidak perlu takut. Sekarang pikirkan bayi yang ada di dalam kandunganmu, pikirkan statusnya, dia berhak memiliki status yang sudah sepantasnya dia miliki, apa kau mau membiarkan kedua orang tuaku menganggap bayi yang ada di kandungan Stella adalah darah dagingku?"
Giselle lalu menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, kuatkan hatimu, ada aku disini."
"Papa dan Mama sudah sampai di sini Bi?"
"Sudah Tuan Revan, sebentar saya panggilkan." jawab Bi Cici.
"Ayo kita masuk Giselle." kata Revan kemudian menyuruhnya duduk di sofa.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekat. "Revan, kau sudah pulang." teriak girang sebuah suara, namun saat dia berdiri di hadapan Revan, senyumnya berubah menjadi sebuah tatapan tajam pada seorang wanita yang kini berdiri di samping Revan.
"Apa-apaan ini Revan? Kenapa kau pulang membawa selingkuhanmu ke rumah ini?"
"Dia istriku Stella, dia berhak kubawa pulang ke rumah ini."
"Istri? Yang benar saja? Sejak kapan pernikahan kalian tercatat secara resmi oleh negara?"
"Memang saat ini belum, tapi aku akan meresmikan hubungan ini secepatnya."
"Enak saja kau bicara seperti itu Revan? Aku masih istrimu yang sah!"
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Santi.
__ADS_1
"Papa, Mama lihat siapa yang Revan bawa ke rumah ini?" teriak Stella.
"Revan, berani-beraninya kau membawa wanita itu ke rumah ini!"
"Kenapa Ma? Memangnya aku tidak boleh membawa istriku pulang ke rumah ini? Dia lah istriku saat ini karena Stella sudah aku talak! Aku hanya ingin meminta restu dari kalian untuk mengesahkan hubungan kami dalam catatan negara."
"Tapi apa tidak bisa kalian menunda sampai Stella melahirkan? Dia sedang hamil Revan, mengertilah kondisi Stella saat ini!"
"Apa bedanya Stella dengan Giselle? Giselle saat ini juga sedang hamil? Anak yang ada di dalam kandungan Giselle adalah darah dagingku, sedangkan anak yang ada di dalam kandungan Stella aku tidak tahu dia darah daging siapa. Cihhhh." umpat Revan.
"Revan, kau tidak boleh menuduh Stella seperti itu, kita baru bisa membuktikannya setelah anak itu lahir."
"Aku tidak perlu bukti karena aku tidak pernah menyentuhnya."
"Revan kenapa kau berkata seperti itu padaku? Kenapa kau begitu kejam? Apa karena wanita itu kau kini berubah menjadi kasar padaku?" kata Stella sambil menangis tersedu-sedu. Dia kemudian mendekat ke arah Santi dan bersandar dalam pelukannya.
"Revan tega sekali kau berkata seperti itu pada Stella! Sekarang bawa pergi perempuan itu dari sini!" teriak Santi sambil membelai rambut Stella.
"Mama, Mama tidak boleh berkata seperti itu! Kita harus adil pada kedua istri Revan, kita tidak boleh berat sebelah apalagi saat ini mereka sama-sama hamil."
"Apa maksud Papa?"
"Berikan hak yang sama pada mereka untuk tinggal di rumah ini, Papa juga akan merestui pernikahan mereka agar sah dalam catatan negara."
"Papa! Apa Papa sadar dengan yang Papa ucapkan?"
"Ya Papa sadar, Revan berhak bahagia dan menentukan jalan hidupnya."
"Apa maksud Papa? Jadi Papa pikir selama ini kehidupan rumah tangga Revan dan Stella tidak bahagia? Bukankah Papa tahu jika rumah tangga mereka hancur karena kehadiran wanita ja*ang itu!" teriak Santi sambil menunjuk Giselle yang membuat Giselle menitikkan air matanya.
"Sudahlah Revan, ayo kita pergi dari sini, orang tuamu tidak merestui hubungan kita." bisik Giselle sambil menarik tangan Revan.
"Sebentar Giselle,"
"Kalian mau kemana? Jangan pergi, aku merestui hubungan kalian."
"Papa!!"
"Kenapa Ma? Papa hanya ingin Revan bahagia karena Papa tahu sebelum kehadiran Giselle rumah tangga Revan sudah tidaklah harmonis."
"Darimana Papa tahu semua itu? Pasti dari mulut Revan!"
"Tidak, Revan tidak pernah mengatakan apapun pada Papa, Papa menyelidiki sendiri jika selama enam bulan kau tidak pernah pulang kan, Stella? Kau baru pulang satu bulan terakhir ini? Lalu bagaimana kau bisa mengatakan jika anak yang kau kandung adalah anak Revan?" tanya Farhan pada Stella sambil tersenyum.
"Pa.. Papa.. Tidak Pa, itu semua bohong, aku selalu pulang ke rumah ini." jawab Stella dengan begitu gugup. Dia lalu merengek kembali pada Santi.
__ADS_1
"Mamaaa... mama percaya padaku kan jika anak ini adalah darah daging Revan?"
Santi lalu memandang Stella dengan tatapan bingung kemudian melirik ke arah suaminya yang kini tersenyum kecut melihat tingkah Stella.