
Revan lalu membalikkan badannya, kemudian menghampiri Stella kembali. "Stella, kau sudah sadar?" tanya Revan, namun ternyata mata Stella masih terpejam dan ketika Revan sedikit mengguncangkan tubuhnya, dia masih tetap diam.
"Mungkin hanya melantur, lebih baik pergi menemui Giselle terlebih dahulu." kata Revan sambil berjalan pergi meninggalkan Stella. Dia lalu mengambil ponsel di saku celananya, kemudian menelepon Giselle.
"Tunggu aku Giselle, aku akan mengantarmu," kata Revan sambil berlari ke arah mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Revan sudah sampai di apartemennya, dia lalu bergegas mencari Giselle, namun Giselle ternyata sudah pergi.
"Sial!!! Sudah kubilang untuk menungguku, tapi malah pergi begitu saja!"
"Lebih baik aku menyusul ke kantor Leo." kata Revan lagi sambil berjalan keluar dari apartemennya.
Leo dan Calista menghampiri Giselle yang terlihat sedang membereskan barang-barangnya. Calista lalu mendekat pada Giselle kemudian memeluknya.
"Giselle, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Mengapa tiba-tiba kau meninggalkan kami seperti ini?"
Giselle kemudian tersenyum mendengar perkataan Calista. "Calista, tidak ada sesuatu yang terjadi padaku. Percayalah aku tidak akan pernah meninggalkan kalian, aku bisa datang ke rumah kalian kapanpun aku mau."
"Lalu mengapa kau tiba-tiba mengundurkan diri secara mendadak seperti ini?"
"Ini bukan rencana mendadak Calista, aku sudah merencanakan hal ini sejak lama."
"Merencanakan sejak lama? Memangnya kenapa Giselle? Kau pasti memiliki alasan atas keputusanmu ini? Apa Leo menyakitimu?"
"Hei kenapa kau membawa namaku Calista? Aku tidak pernah melakukan apapun pada Giselle? Apalagi menyakitinya." gerutu Leo.
"Tidak Calista, tidak, Pak Leo begitu baik padaku selama lima tahun terakhir ini. Aku mengambil keputusan ini semua karena alasan pribadiku."
"Alasan pribadi?" tanya Calista bingung.
"Emh.. E.. Ya Calista, aku akan menikah.. Ya aku akan menikah beberapa bulan lagi dan calon suamiku memintaku untuk berhenti bekerja."
"Astagaaaa Giselle, selamat ya." kata Calista sambil memeluk Giselle kembali.
"Selamat Giselle, akhirnya kau bisa menemukan pendamping hidupmu." kata Leo ikut menimpali.
"Kau benar-benar membuat kami khawatir Giselle, jika itu alasan yang sebenarnya darimu maka kami tidak bisa memaksamu. Jangan lupa kau harus mengenalkan kami pada kekasihmu dan mengundang kami ke acara pernikahanmu."
__ADS_1
Giselle tersenyum sambil menelan ludah kasar saat mendengar perkataan Calista. "Iya Calista tenang saja, kalian akan kuundang sebagai tamu kehormatan."
"Hahahaha.. Kau ada-ada saja Giselle."
"Ya sudah aku pamit dulu ya," kata Giselle sambil memeluk Calista kembali, kemudian saat akan berjalan meninggalkan mereka tiba-tiba Leo memanggilnya.
"Giselle tunggu, ini dari kami." kata Leo sambil memberikan sebuah cek dengan angka yang cukup besar.
"Apa ini Leo?"
"Untukmu Giselle, tolong diterima."
"Tapi ini terlalu besar untukku Leo."
"Giselle tolong diterima, kami sudah menganggapmu bagian dari keluarga kami." kata Leo.
"Dan mantan istri suamiku, terimakasih Giselle pernah hadir dalam kehidupan kami berdua." kata Calista yang membuat hati Giselle terasa begitu sakit.
"Iya Calista, terimakasih banyak kalian berdua sudah banyak membantuku untuk memahami arti kehidupan. Aku pamit dulu." kata Giselle sambil tersenyum kemudian bergegas pergi meninggalkan Leo dan Calista untuk menyembunyikan air mata yang sudah mengalir deras membasahi wajahnya.
"Hei, kenapa kau menangis?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba mengagetkan Giselle saat berjalan keluar dari gedung kantor.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, bukankah sudah kubilang untuk menungguku tapi kenapa kau malah pergi meninggalkan aku?"
"Aku tahu kau sedang bersama Stella, dan aku tidak mau mengganggumu, bahkan kau memilih tidak pulang untuk menghabiskan waktu dengannya kan?" tanya Giselle sinis.
"Kau cemburu?"
"Tidak, untuk apa aku cemburu? Aku tidak berhak untuk itu karena aku hanya istri kontrakmu."
"Jadi kau pikir aku bersenang-senang dengan Stella? Perlu kau tahu Giselle, semalaman aku menjaga Stella di rumah sakit karena orang tuanya sedang berada di New York, dia anak tunggal dan tidak memiliki sanak saudara dekat kecuali aku."
"Ja... Jadi Stella masuk rumah sakit? Dia sakit apa Revan?"
"Percobaan bunuh diri, saat aku sampai di rumahnya, aku menemukan Stella di dalam kamarnya dengan kondisi pingsan dan darah yang sudah banyak bercucuran dari tubuhnya."
"Astaga," kata Giselle sambil menutup bibirnya dengan tangannya.
__ADS_1
"Memang apa alasan Stella sampai di bertindak seperti itu? Apakah sesuatu hal yang buruk telah terjadi padanya?"
"Aku juga tidak tahu Giselle, saat ini dia belum sadarkan diri."
"Lebih baik kau pergi saja menjaga Stella, aku bisa pulang sendiri." kata Giselle kemudian berjalan meninggalkan Revan.
"Kau mau kemana?" kata Revan sambil mencekal tangan Giselle.
"Pulang, kau pergi ke rumah sakit saja sekarang."
"Hei memangnya kau anggap aku ini apa? Aku sudah pergi ke sini dan kau mau meninggalkan aku begitu saja? Ayo sekarang ikut aku." kata Revan sambil menarik tangan Giselle.
"Ikut kemana?"
"Menemani sarapan." jawab Revan yang membuat Giselle tersenyum manis karena tiba-tiba sebuah getaran dan perasaan yang begitu bahagia mulai tumbuh di hatinya.
Leo mengantar Calista ke lantai bawah. "Kau hati-hati ya sayang, jangan terlalu lelah."
"Iya Leo, aku pulang dulu ya."
"Ya sayang." jawab Leo sambil mengecup kening Calista. Saat melihat mobil Calista sudah pergi meninggalkan halaman kantor, Leo pun berniat masuk ke dalam gedung kantornya kembali, namun tiba-tiba sepintas dia melihat Revan yang tengah menarik tangan Giselle untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Revan? Giselle? Apa aku tidak salah lihat?" kata Leo dengan kening yang berkerut sambil terus menatap mereka yang kini sudah ada di dalam mobil Revan.
***
Rima tersenyum saat melihat si kembar Nathan dan Nala yang kini sudah terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi Nathan dan Nala, apa tidur kalian nyenyak?" tanya Rima sambil tersenyum. Dia lalu mengambil sebuah cairan dari saku bajunya kemudian meneteskan cairan tersebut ke botol susu milik si kembar yang telah berisi susu untuk mereka berdua.
"Sekarang kalian minum ini dulu ya sayang." kata Rima sambil memberikan botol susu yang telah tercampur cairan tersebut pada Nathan dan Nala, namun saat bayi tersebut hendak mulai meminumnya tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Rima.
"Rima, hentikan."
Rima begitu kaget mendengar Calista yang kini sudah berdiri di belakangnya. Jantung Rima seakan berhenti berdetak, perasaannya begitu kacau dan mulai dilanda kepanikan.
'Brengsek, jangan-jangan Calista tahu jika aku telah mencampurkan cairan di susu anak mereka.' gumam Rima dengan tubuh yang terasa begitu tegang. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
"Rima, aku memanggilmu apa kau tidak mendengarkan aku?" tanya Calista kembali.
"Emh... E.. Nyonya Calista." jawab Rima gugup.