Salah Kamar

Salah Kamar
Merindukanmu


__ADS_3

"Ayo kita masuk, kau pasti lelah." kata Firman sambil membuka pintu rumahnya.


Vallen pun mengangguk sambil mengikuti Firman masuk ke dalam rumah.


"Sepi sekali rumahmu, memangnya dimana kedua orang tuamu?"


"Ibuku masuk rumah sakit, penyakit darah tingginya kambuh tapi agak sedikit parah, Bapak khawatir karena Ibu sampai tidak bisa beraktivitas beberapa hari terakhir ini jadi Bapak membawanya ke rumah sakit."


"Oh, jadi saat tadi aku baru saja datang sebenarnya kau akan pergi ke rumah sakit?"


Firman pun tersenyum sambil mengangguk.


"Maafkan aku Firman, karena kedatanganku kau jadi tertunda pergi ke rumah sakit."


"Tidak apa-apa, Vallen. Masih ada bapak yang menunggu di sana, nanti kita pergi ke rumah sakit setelah kau beristirahat. Sekarang duduklah, akan kubuatkan minuman untukmu."


Namun saat Firman akan pergi menuju dapur, Valen memegang tangannya.


"Jangan pergi, aku masih ingin bersamamu. Tolong disini saja temani aku." kata Vallen kemudian memeluk Firman kembali.


"Aku begitu merindukanmu." kata Vallen lagi sambil menangis dalam pelukan Firman.


Firman pun kemudian memegang wajah Vallen. "Aku juga begitu merindukanmu."


Vallen pun melepaskan pelukannya, kemudian mendekatkan wajahnya pada Firman lalu mulai mencium bibirnya. Firman pun tersenyum.


"Kenapa kau malah tersenyum dan tidak membalas ciumanku?" gerutu Vallen.


"Tidak apa-apa." jawab Firman kemudian mencium Vallen dengan begitu bergairah yang membuat Vallen terkejut, dia kemudian memejamkan matanya sambil membalas ciuman dari Firman.


"Aku sangat merindukanmu." kata Firman di sela ciuman mereka.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tampak mengamati rumah Firman di balik tembok pagar keliling rumah tersebut.


"Siapa wanita cantik yang baru saja turun dari taksi? Kenapa dia memeluk Firman dengan begitu mesra? Apakah dia kekasih Firman? Ah bagaimana mungkin laki-laki biasa seperti Firman mampu mendapatkan wanita secantik itu? Selain cantik dia juga terlihat kaya dan bukan wanita sembarangan. Firman memang tampan tapi dia bukanlah orang kaya yang sepadan dengan gadis itu."


"Dimas apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengintip rumah Firman?" tanya sebuah suara di belakangnya.


"Bukan urusanmu, lebih baik kau tidak usah ikut campur urusanku, Rio!"


"Kau mau apalagi Dimas? Apa belum cukup kau berkali-kali berbuat jahat padanya?"


"Siapa yang akan berbuat jahat padanya, aku hanya sedang mengamati seorang wanita cantik yang baru saja turun dari taksi lalu masuk ke rumah Firman."


"Memangnya kenapa kalau ada wanita cantik yang ke rumah Firman? Bukankah dia juga sudah bercerai dari Delia? Bahkan surat cerainya pun sudah keluar."


"Aku hanya tidak menyangka ada wanita secantik itu yang mau dengan seorang duda miskin seperti Firman. Dia tidak hanya cantik tapi juga terlihat sangat berkelas dan bukan wanita sembarangan."


"Sudah beberapa bulan ini Firman tinggal di Jakarta, pantas saja dia mendapatkan kekasih disana."


"Ya aku tahu itu, tapi aku hanya tidak menyangka dia akan mendapat kekasih secantik itu."

__ADS_1


Rio pun tersenyum.


"Kau iri padanya? Anggap saja itu adalah sebuah keberuntungan dan anugrah yang Tuhan berikan pada Firman karena telah berulangkali didzalimi oleh orang sepertimu." kata Rio sambil tersenyum kecut.


"Lancang sekali mulutmu, Rio!"


"Bukankah memang kenyataannya seperti itu? Berulangkali dia mengalami ketidakadilan akibat perbuatanmu! Jadi sudah selayaknya dia mendapatkan pasangan yang istimewa. Lagipula sebentar lagi kau juga akan menikah dengan Delia kan? Untuk apa kau mengusik kehidupan Firman kembali? Daripada kau mengusik mereka, lebih baik kau pikirkan masa depanmu bersama Delia dan membesarkan anak kalian bersama."


"Dasar BRENG*EK! Berbicara denganmu hanya membuang-buang waktuku saja!" umpat Dimas sambil pergi meninggalkan Rio.


Rio yang melihat kepergian Dimas pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


"Ternyata setelah semua kejadian yang kau alami, kau juga belum berubah, Dimas. Kau tetap saja menjadi lelaki serakah yang tidak pernah puas dengan kehidupanmu."


💜💜💜💜💜


"Bagaimana kau bisa tahu rumahku?" tanya Firman saat duduk di sofa sambil mendekap tubuh Vallen.


"Aku datang ke kantormu, aku membohongi resepsionis dan HRD di kantormu, jadi mereka memberikan alamat rumahmu padaku." kata Vallen sambil terkekeh.


"Dasar gadis nakal." kata Firman sambil mengacak-acak rambut Vallen.


"Aku sangat takut kehilanganmu, Firman. Aku takut kau tidak akan pernah kembali lagi, aku takut tidak bisa bertemu kembali denganmu, jadi aku nekat datang ke sini untuk mencarimu."


Firman pun tersenyum.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Vallen. Dua hari yang lalu, Bapak meneleponku dan mengatakan jika Ibu masuk rumah sakit, aku begitu takut sesuatu terjadi pada Ibu, jadi aku mengajukan cuti selama satu minggu untuk pulang ke sini."


"Tentu saja, setelah ibu sembuh aku akan kembali ke kota, aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja karena aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu." kata Firman sambil tersenyum.


"Astaga, kupikir kau akan kembali ke sini untuk selamanya."


"Hahahaha, tidak mungkin, jadi apa kau menyesal sudah datang ke sini?"


"Tidak, aku tidak pernah menyesal sama sekali, apalagi hanya untuk bertemu denganmu." jawab Vallen sambil merapatkan dekapan Firman di tubuhnya. Di saat itulah tiba-tiba ponsel Vallen berbunyi. Vallen lalu mengambil ponsel di dalam tasnya.


"Kak David." kata Vallen kemudian menerima panggilan itu.


[VALEEEEENNNNN!!! KAU ADA DIMANA?]


[Apa kau tidak bisa bicara lebih pelan? Ingat Kak istrimu sedang mengandung, jika kau selalu kesal padaku bisa-bisa nanti anakmu mirip denganku.] kata Vallen sambil terkekeh yang membuat Firman ikut tersenyum.


[VALLEEENNNNNN!! Aku tidak sedang bercanda! Baru saja aku pulang ke rumah dan mama mengatakan kalau kau pergi ke luar kota bersama temanmu untuk beberapa hari! Kenapa kau pergi begitu mendadak seperti ini Vallen?]


[Kakak, bukankah aku sudah mengirim pesan padamu jika aku mengajukan cuti untuk beberapa hari, apa kau tidak membaca pesanku?]


[Kupikir kau cuti karena kau tidak enak badan seperti yang kau katakan tadi saat di rumah sakit, tapi ternyata kau malah bersenang-senang. Dasar anak nakal!!]


[Kakak lebih baik kau tidak usah memarahiku, jika kau terus memarahiku lebih baik aku pindah saja ke rumah sakit lain.]


[Dasar anak nakal! Kalau urusanmu sudah selesai cepat kembali.]

__ADS_1


[Iya iya Kak.] kata Vallen kemudian menutup teleponnya.


"Kau tahu, kakakku sangatlah galak."


Firman pun tersenyum.


"Jadi kau tidak ijin padanya untuk mengambil cuti."


"Tidak, aku hanya ijin pada mama. Sudahlah tidak usah dipikirkan." kata Vallen sambil terkekeh.


Firman pun tersenyum.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang, aku ingin mengenalkanmu pada kedua orang tuaku."


"Ayo." jawab Vallen sambil tersenyum bahagia.


Firman kemudian mengutak-atik ponselnya.


"Kau mau apa Firman?"


"Memesan taksi online."


"Memesan taksi online?"


Firman pun tersenyum.


"Bukankah kau sebenarnya alergi naik motor karena membuatmu mual?" ledek Firman sambil tersenyum.


"Darimana kau tahu itu?"


"Itu tidak penting, lagipula aku juga tidak membawa sepeda motorku, aku pulang naik pesawat dan di rumah ini hanya ada sepeda motor matic biasa milik orang tuaku, aku tidak mau kau semakin mual naik sepeda motor seperti itu."


Vallen pun tersenyum.


"Naik itu saja." kata Vallen sambil menunjuk sebuah sepeda motor matic yang terparkir di garasi rumah Firman.


"Tidak."


"Firman, aku tidak apa-apa, aku sudah tidak pernah merasa mual lagi saat naik sepeda motor."


"Benarkah?" tanya Firman sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, percayalah padaku. Kau tahu hidupku banyak berubah karenamu, itulah sebabnya aku sangat mencintaimu."


Firman pun tersenyum.


"Ayo." kata Firman sambil menarik tangan Vallen.


Mereka lalu menaiki sepeda motor tersebut menuju ke rumah sakit. Sepanjang jalan di desa tersebut, beberapa orang pun tampak memperhatikan Firman yang mengendarai sepeda motor sambil memboncengkan Vallen.


"Apa itu pacar Firman? Cantik sekali." bisik-bisik beberapa orang yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2