Salah Kamar

Salah Kamar
#34 Menjaga Perasaan


__ADS_3

Kinan melipat sepasang pakaian yang akan digunakan oma Rosa. Awalnya, Kinan juga ingin mengunjungi oma Rosa bersama Bram tadi pagi. Namun, dia merasa kurang enak badan. Alhasil, dia memilih untuk beristirahat lebih dulu kemudian pergi mengantarkan makanan serta baju ganti untuk oma Rosa.


Dengan rambut yang sudah dicatok lurus dan atasan putih, Kinan berjalan menuju lantai 1. Setelah menyiapkan baju ganti, dia bergegas membawakan camilan makan siang untuk sang suami. Dia memilih untuk membuat salad buah karena takut Bram kelaparan menunggunya di sana.


"Mau anter makanan juga buat mas Bram?"


Kinan tersenyum sembari mengambil pisau kemudian memotong beberapa buah-buahan. "Iya nih, bi. Mas Bram belum makan katanya. Oh iya, bibi gak beli buah stroberi?"


Kinan celingukan mencari buah berwarna merah itu. Biasanya buah itu ada bersama buah yang lain. Namun, kali ini dia sama sekali tak menemukannya.


"Stroberinya kebetulan bibi kelupaan. Nanti sore bibi beliin deh."


"Makasih, bi." Kinan mulai mengaduk susu, yogurt, serta mayonaise bersama dengan potongan buah yang dia potong-potong. Kelihatannya cukup lezat. Dia tak sabar mendengar komentar Bram nanti.


"Mau dibawain apa lagi? Bibi aja yang buatin."


Kinan tersenyum kemudian menggeleng. "Nanti saya mau cari makan di luar kok, bi. Jadi gak perlu."


Menghabiskan banyak waktu berdua adalah strategi lanjutan Kinan untuk membuat Bram semakin lengket padanya. Memang, terkadang mereka akan terganggu dengan pekerjaan Kinan atau Bram. Namun, Kinan takkan menyerah pada keadaan. Jika dalam hati Bram masih ada tempat untuk orang lain, maka dia akan memastikan tempat itu akan dipenuhi oleh dirinya juga.


Kinan tak peduli seberapa lama Rena ada bersama Bram. Dia akan menghapus setiap jejak gadis itu dari hidup suaminya. Seperti yang dia baca di komunitas para istri di salah satu media sosial, dia harus lebih berani untuk melawan siapa pun yang ingin merebut suaminya. Dia akan memastikan Bram akan terus mencintainya.


Kinan mencoba menahan tawa atas rasa yang menggebu dalam hatinya. Dia malah merasa ada makhluk lain yang sedang berorasi dalam hatinya, meneruskan setiap kata yang sama sekali tak bisa dia ungkap. Namun, tak apa, dia punya pilihan untuk tidak merasakan apa yang dirasakan oleh sang ibu.


...***...


Rasa bingung menyelimuti Kinan kala dirinya baru sampai di rumah sakit. Bram duduk di luar sembari memasang wajah khawatir. Begitu pula dengan Raka juga Wira yang kebetulan ada di sana. Dia jadi bertanya-tanya apa sesuatu yang buruk terjadi pada oma Rosa?

__ADS_1


Kinan menghampiri suaminya, berniat untuk menanyakan apa yang kini sedang terjadi. Namun, alih-alih menjawab, Bram justru mulai menangis sembari bersandar pada bahunya. Pria sombong yang biasa melemparnya dengan kata-kata pedas itu ternyata punya sisi lembut juga. Dia hanya bisa mengusap halus bahu Bram untuk sedikit menenangkannya. Meski dia tahu, itu sama sekali tak berefek.


"Mas, Kinan yakin oma baik-baik aja."


Bram menggeleng seakan sudah kehilangan harap. Kemarin oma Rosa terlihat sangat sehat dan dokter mengatakan kalau oma Rosa bisa secepatnya pulang. Namun, siang ini tiba-tiba saja sesuatu yang buruk terjadi. Kinan merasa ada kejanggalan di sini.


"Dengan keluarga nyonya Rosa?" Suara itu membuat mereka beranjak bersama. Meski dengan berat hati, mereka mencoba mendengar apa yang disampaikan pria dengan jas putih itu. Kondisi oma Rosa saat ini kembali kritis. Jadi, mereka diminta untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuknya.


Lutut Bram terasa lemas mendengar hal itu. Dia kembali ingat pada hari di mana sang ayah pergi untuk selamanya. Dia tak ingin kehilangan oma Rosa juga.


Kinan merasa kepalanya cukup pening. Dia tak tahu ini karena tangis yang dia coba tahan atau buntut dari efek tak enak badan yang dia alami tadi pagi. Namun, satu hal yang dia tekankan pada dirinya adalah jangan merepotkan yang lain. Terutama Bram yang saat ini nampak cukup terpukul.


Tak cukup sampai kondisi oma Rosa yang kritis secara tiba-tiba, kini beberapa pria yang mengatakan akan mengurus soal segala warisan milik oma Rosa, membuat Bram geram. Bukankah rasanya orang-orang ingin sang oma meninggal saat ini juga?


Menghindari sesuatu yang tak diinginkan, Kinan meminta notaris yang mungkin sudah dipanggil oma Rosa itu untuk ikut dengannya. Saat ini Bram sedang terguncang. Besar kemungkinan sang suami akan sangat marah jika mereka membicarakan soal warisan.


"Maaf, saya mohon pengertiannya, mungkin tidak untuk saat ini," ujar Kinan. Dia bukan mempersulit pekerjaan orang lain. Dia hanya mencoba untuk menjaga perasaan sang suami yang kini cukup terpukul dengan kondisi oma.


...***...


Kinan kembali mencoba menyuapi Bram. Namun, sang suami terus menolak. Padahal, sejak siang pria itu tak makan atau minum. Dia memilih untuk tetap diam, menunggu kondisi oma kembali pulih. "Satu suap aja, mas."


Bram menggeleng. Yang dia mau saat ini adalah kabar kesembuhan sang oma. Bukan yang lain. Dia merasa nyawanya tertaut dengan jiwa sang oma. Dia tak mau jadi pihak yang lagi-lagi merasakan kehilangan.


"Janji, satu suap aja," bujuk Kinan lagi. Dia merasa jika mengurus bayi besar ternyata jauh lebih sulit. Dia bingung harus membujuk seperti apa lagi. Tak mungkin dia membuat pesawat-pesawatan agar Bram mau membuka mulut dan makan setidaknya satu suap saja.


"Kamu aja, Nan."

__ADS_1


"Batu banget sih. Tinggal buka mulut doang loh gak harus metik buahnya dulu, meres susu dulu, sama bikin mayo," oceh Kinan yang tentu mengundang kekehan dari Bram. Bukannya senang melihat kekehan itu, Kinan malah kesal. "Makan aja sendiri. Kinan mau cari telur gulung."


"Gitu aja marah. Nih, mas makan saladnya ya." Bram mengambil alih wadah makanan itu kemudian tersenyum sembari menunjukan potongan buah yang dia tusukan pada garpu plastik. "Ngambekan kayak ABG labil," gumamnya.


"Apa mas bilang?"


Bukannya menanggapi pertanyaan Kinan, Bram lebih fokus pada rasa yang sekarang menyapa lidahnya. Benar-benar jauh dari kata enak. Dia sampai bertanya-tanya berapa banyak garam yang Kinan masukan di sana. Namun, menghindari rasa kesal Kinan, Bram tersenyum dan pura-pura menikmati salad yang sudah dibuatkan oleh sang istri.


"Enak."


"Beneran? Nanti Kinan bikinin lagi."


Bram tertawa hambar. Apa dia harus merasakannya tiap hari? Yang ada dia akan terkena darah tinggi.


"Salah banget ngomong gitu," gumam Bram dalam hatinya. Dia sungguh merasa serba salah harus bagaimana. Dia tak mau menikmatinya setiap hari dan tak mau menyakiti hati Kinan.


"Nan, Kayaknya jangan bikin lagi deh. Nanti mas bosen."


"Boong, gak enak 'kan? Coba Kinan nyicip."


Bram segera menutup wadah makan itu dan menunjukan deretan giginya. "Enak kok, mas mau bagi sama Raka."


Raka menunjuk dirinya dengan perasaan tak enak. Buru-buru dia pura-pura mengangkat telepon dan bergegas pergi sebelum menyicip salad jebakan Kinan.


"Beneran enak. Nanti mas abisin," ujar Bram saat Kinan memasang wajah sedihnya seakan tahu apa yang suaminya rasakan saat makan salad itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2