
"Papa Mama, kalian sudah pulang?"
"Ya, Stella yang mengabarkan pada kami jika dia sedang hamil jadi kami langsung pulang, tapi lihat apa yang telah kau lakukan pada Stella? Kau akan menceraikannya saat dia sedang hamil? Kau benar-benar tidak punya perasaan! Bagaimana jika orang tua Stella tahu kelakuanmu? Kau bisa membunuh Papanya yang memiliki penyakit jantung Revan!"
"Tapi Stella hamil bukan darah dagingku Ma, cih bahkan menyentuhnya saja aku tidak pernah!"
"Omong kosong! Jangan pernah membohongi kami demi wanita simpananmu Revan! Stella telah menceritakan semua pada kami jika kau sudah berselingkuh di belakangnya dan ingin menceraikan Stella karena wanita ja*ang itu kan?"
"Bohong! Kenyataannya selama ini Stella yang sudah berselingkuh dengan laki-laki lain, dia masih memiliki hubungan dengan kekasihnya saat sudah menikah denganku! Aku sudah cukup sabar selama dua tahun ini menikah dengan wanita munafik seperti Stella!"
"Jangan pernah menjelek-jelekkan orang lain untuk menutupi aibmu sendiri Revan! Sampai kapanpun Mama tidak akan pernah membiarkanmu menceraikan Stella!"
"Terserah apa kata Mama tapi setelah anak itu lahir, akan kubuktikan jika dia bukanlah darah dagingku! Jika anak itu terbukti bukan darah dagingku tolong jangan halangi aku untuk segera menceraikan Stella!"
"Baik.. Baik jika itu maumu setelah anak itu lahir mari kita buktikan siapa ayah kandung bayi dalam kandungan Stella! Bagaimana kau setuju kan Stella?" tanya mertuanya.
"Ba.. Baik Ma." jawab Stella gugup disertai raut wajah yang pucat.
"Heh baru disuruh membuktikan orang tua kandung anak itu saja kau sudah takut Stella."
"Revan jaga kata-katamu, jangan terlebih dahulu berasumsi jika belum bisa membuktikan apapun!"
"Bukti? Mama mau bukti? Coba tanyakan pada Bi Cici, apakah selama ini Stella pernah pulang ke rumah? Dia baru pernah pulang ke rumah selama satu bulan terakhir ini, bagaimana mungkin aku bisa menyentuhnya sedangkan saat ini usia kandungan Stella telah memasuki usia dua bulan!" kata Revan sambil tersenyum menyeringai.
"Benarkah itu Stella? Kau tidak pernah pulang ke rumah!"
"Ya, dia selama ini hidup bersama David, kekasihnya dan baru pulang setelah dia hamil lalu memintaku menutup aibnya saat David telah mencampakkannya!" Stella hanya menangis dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak seperti itu." kata Stella lirih.
Orang tua Revan pun kini kebingungan, mereka lalu memandang Stella dengan tatapan sedikit curiga. "Stella, benarkah yang Revan katakan?"
__ADS_1
"Ti.. Tidak Ma, Revan sendiri tidak pernah pulang, dia asyik memadu kasih dengan selingkuhannya di apartemen ini!"
"Ah sudahlah kalian membuat Mama dan Papa bingung. Talak yang di katakan Revan memang sudah sah tapi kalian belum bisa bercerai secara resmi sebelum Stella melahirkan. Dan setelah anak itu lahir kita akan buktikan darah daging siapa dia sebenarnya! Jika anak itu bukan anak kandung Revan, maka kau boleh menceraikan Stella secepatnya Revan!" teriak Papa Revan.
"Tapi Pa, mereka tidak boleh bercerai!"
"Sabar Ma, kita tidak bisa memaksakan keadaan."
"Papa, Mama tidak bisa membiarkan Revan dan Stella bercerai, bagaimana hubungan kita dengan orang tua Stella jika mereka sampai bercerai?"
"Tapi kita juga tidak bisa memaksakan hubungan mereka. Kemarin kita hanya mendengarkan dari satu pihak, Revan juga berhak menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi dalam rumah tangga mereka. Tidak mungkin ada akibat jika tidak ada sebabnya, Mama dengar sendiri kan yang Revan katakan jika Stella selama ini tidak pernah ada di rumah dan dia pulang dalam keadaan hamil. Jika kenyataannya seperti itu, Revan berhak menentukan jalan hidupnya."
"Tapi Pa..."
"Mama sebaiknya diam saja, jangan terlalu ikut campur rumah tangga mereka, Revan sudah dewasa dan bisa menentukan hal yang baik ataupun yang buruk dalam kehidupannya."
"Terimakasih Pa. Revan pergi dulu, ada urusan yang harus Revan selesaikan." kata Revan lalu pergi keluar dari apartemen.
Tapi Revan tak menghiraukannya dan terus berjalan menjauhi Stella yang kini menangis sambil menjatuhkan dirinya di ambang pintu.
"Mama, mama percaya kan jika anak yang ada di kandungan Stella adalah anak Revan?" tanya Stella saat mereka menghampiri Stella yang sedang menangis.
"Ini benar-benar anak Revan Ma."
"Iya sayang." jawab Mama Revan sambil memeluk Stella.
***
Leo memandang Giselle yang kini menangis dalam pelukan Calista. "Giselle, sungguh aku tak menyangka jika kau akan memiliki hubungan dengan Revan sejauh ini. Kenapa kau tiba-tiba menjadi begitu bodoh, mau saja dinikahi oleh Revan tanpa bertanya padaku terlebih dahulu."
"Leo kau jangan menambah bebannya lagi dengan kata-kata pedasmu. Lagipula kau tahu kan bagaimana hubungan Revan dan Stella?"
__ADS_1
"Ya, memang sudah sepantasnya dia menceraikan wanita seperti Stella."
"Lalu kita harus bagaimana Leo, bukankah mereka saling mencintai?"
"Ini tidak mudah Calista, karena orang tua mereka berkawan baik dan pasti akan sangat sulit untuk menceraikan Stella apalagi saat ini dia dalam keadaan hamil. Wanita licik seperti Stella pasti akan mengaku pada orang tua mereka jika anak yang ada dalam kandungannya adalah darah daging Revan."
"Tapi kau harus membantu Giselle, Leo."
"Ya tentu saja aku akan membantunya, besok aku akan menemui Revan."
"Ti.. Tidak usah Leo, aku tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Revan dan tidak ingin bertemu dia lagi untuk selamanya. Aku tidak ingin terjebak lagi dan menjadi orang ketiga dalam sebuah pernikahan."
"Tapi Giselle, saat ini kondisinya berbeda dengan dulu. Mereka sebenarnya tidak saling mencintai, dan Stella hanya membutuhkan Revan untuk menutupi aibnya."
"Tapi Calista? Aku tidak mau memiliki hubungan apapun dengan Revan, aku tidak mau kecewa dan sakit untuk kesekian kali." jawab Giselle sambil menangis.
"Baik Giselle jika itu maumu, aku tidak akan mencampuri hubungan kalian, kau boleh tinggal di sini sampai kapanpun kau mau untuk menghindar dari Revan, sekarang tidurlah dan lupakan semua kejadian buruk hari ini. Tenangkan dirimu di kamar."
"Iya Leo terimakasih." jawab Giselle kemudian meninggalkan Leo dan Calista berjalan ke kamarnya.
"Leo benarkah yang kau katakan? Kau tetap harus menolong mereka."
"Tentu saja Calista, aku akan menolong mereka tapi saat ini kita tidak bisa mengatakannya pada Giselle karena emosinya belum stabil."
"Kau benar juga Leo, terimakasih sayang." jawab Calista kemudian memeluk Leo.
Saat Giselle sedang berjalan ke kamarnya, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang sedang terkekeh di dapur, Giselle pun kemudian mendekat padanya.
"Lihat saja malam ini, kalian tidak akan bisa tidur nyenyak karena aku sudah mencampurkan obat ini ke dalam susu kalian." kata Rima sambil terkekeh.
"Rima apa yang telah kau lakukan! Apa yang sudah kau campurkan pada susu Nathan dan Nala?" tanya Giselle yang membuat Rima begitu kelabakan.
__ADS_1