
Roy kemudian melirik pada Kenan dan dijawab anggukan oleh Kenan.
"Orang yang menjadi penyebab kecelakaan itu benar-benar bodoh dan ceroboh! Apakah dia tidak pernah berfikir jika yang dia lakukan bisa berbuat fatal bagi orang lain!" teriak Laras di samping Roy yang membuat perasaan Roy semakin tak menentu dan menjadi begitu salah tingkah.
"Jika aku bertemu dengan orang yang menjadi penyebab kecelakaan itu aku akan mencabik-cabik wajah dan tubuhnya. Dia telah merusak masa depan banyak orang terutama adikku, apakah dia bisa menyembuhkan rasa sakit yang dirasakan adikku karena kehilangan anaknya? Apakah dia bisa mengganti masa depan adikku yang telah hancur akibat perbuatannya?" teriak Laras kembali yang membuat Roy semakin terisak.
"Sudah cukup Laras, kemarahanmu tidak akan pernah mengubah keadaan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar Aini bisa lepas dari tekanan psikologis yang dia rasakan."
"Ya, Mas Kenan. Dia menjalani kehidupan yang begitu berat. Perko*aan, kehidupan rumah tangga yang tidak bahagia, anak yang meninggal lalu kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan dia hamil kembali merupakan cobaan yang begitu besar yang dia rasakan."
"Iya Laras, setelah dia sembuh kita harus mencarikan pendamping psikologi untuknya. Saudara sepupuku Alena, dia sebenarnya psikolog yang hebat sayangnya dia ada di Australia."
"Aku tahu itu, kita tidak mungkin memanggilnya hanya untuk mengurus Aini, dia pasti punya banyak pekerjaan disana."
"Laras sebaiknya kau masuk kembali ke dalam, temani Olivia untuk menenangkan Aini."
"Iya Mas Kenan, aku tadi keluar karena sudah tidak sanggup melihat kondisi Aini yang tampak begitu terpukul."
Roy pun begitu terkejut mendengar percakapan Laras dan Kenan. "Kenan, benarkah saudara istrimu telah mengalami kejadian yang begitu buruk seperti itu?"
"Ya." jawab Kenan sambil mengangguk.
"Dan aku semakin menambah penderitaan yang dia alami." kata Roy dengan begitu lirih kemudian memejamkan matanya.
"Sudahlah Roy, ini sudah takdir." jawab Kenan.
"Kenan, bisakah kau membantuku?"
"Membantumu? Selama aku bisa, aku pasti akan membantumu, Roy."
"Kenan tolong bantu aku agar aku bisa menebus semua kesalahanku pada Aini."
"Apa maksudmu, Roy?"
"Kenalkan aku padanya."
"Lalu?"
"Hanya itu, aku akan menebus semua kesalahan yang pernah kuperbuat dengan caraku."
Kenan pun terdiam lalu tampak berfikir sejenak.
"Baik jika hanya itu yang ingin kau lakukan, aku bisa membantumu, tapi tolong berjanjilah agar tidak menambah beban yang ada di hatinya."
"Iya Kenan, aku janji. Aku hanya ingin menebus semua kesalahanku padanya."
"Iya Roy, aku mengerti."
"Terimaksih Kenan, aku pulang dulu. Keluarga kami sudah menunggu kepulangan jenazah istriku."
__ADS_1
"Iya Roy maaf saat ini aku tidak ikut mengantar jenazah istrimu ke rumah duka."
"Tidak apa-apa."
Sebelum Roy pergi, dia melihat Aini dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tampak sekilas wajah Aini yang begitu sendu dengan tatapan kosongnya.
'Meskipun aku tidak mengenalmu tapi aku bisa merasakan bagaimana sakitnya perasaanmu. Aku benar-benar minta maaf padamu meskipun sejuta maaf dariku tidak akan pernah mengembalikan semua hal berharga dalam hidupmu.' kata Roy dalam hati.
Perlahan dia pun meninggalkan ruang perawatan itu lalu berjalan ke ruang jenazah untuk membawa istrinya pulang. Kenan yang melihat tingkah laku Roy pun hanya bisa memandangnya dengan begitu iba.
'Sungguh malang nasibmu Roy harus menanggung semua beban ini, kehilangan istri merupakan hal yang begitu berat, tapi kau juga harus menanggung beban mental karena kalianlah yang menjadi penyebab dalam kecelakaan itu."
Kenan lalu bangkit dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam ruang perawatan Aini dan mendekat pada Olivia.
"Bagaimana keadaannya Olive?"
"Dia sudah tertidur, mungkin efek obat dan lelah karena menangis terus menerus."
"Laras, ini sudah malam sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu, kau tidurlah, aku dan Olivia akan ke minimarket untuk membeli makanan, aku lapar." kata Kenan pada Laras.
"Iya Mas Kenan." jawab Laras kemudian berjalan ke arah ranjang penunggu pasien lalu merebahkan tubuhnya.
"Olive ayo temani aku ke minimarket."
"Iya Kenan."
Mereka lalu keluar dari ruang perawatan Laras lalu berjalan ke arah minimarket.
"Olive, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Apa?"
"Mengenai Roy."
"Roy? Memangnya kenapa lagi?"
"Olive, dia kehilangan istrinya dalam kecelakaan itu."
"Ya aku tahu. Kau tenang saja, aku tidak mengatakan apapun pada Laras, dia tidak tahu jika laki-laki yang berbicara dengannya tadi adalah penyebab kecelakaan itu. Dan aku pun tidak ingin keadaan bertambah kacau saat dia tahu laki-laki yang datang bersama kita adalah penyebab kecelakaan itu."
"Iya Olive aku tahu kau tidak mungkin mengatakan rahasia ini pada Laras, tapi bukan itu yang ingin kubicarakan denganmu."
"Lalu?"
"Olive, Roy juga merasakan tekanan mental akibat kecelakaan itu"
"Tekanan mental apa, Kenan? Bukankah lebih menderita Aini karena sudah kehilangan bayi dan masa depannya?"
"Iya kau benar Olive, tapi kondisi ini juga tidak mudah bagi Roy karena selamanya dia akan terus merasa bersalah pada orang yang telah dirugikan olehnya, dia tadi bahkan tampak begitu tertekan saat mendengar umpatan Laras pada orang yang menyebabkan kecelakaan beruntun itu."
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kenan?"
"Pertemukan mereka berdua."
"Apa maksudmu?" tanya Olivia sambil mengerutkan keningnya.
"Olive, biarkan Roy menebus kesalahannya."
"Aku sungguh tidak mengerti, Kenan? Apa yang bisa Roy lakukan untuk mengobati kesedihan yang dialami Aini? Apakah dia bisa mengembalikan semua yang telah hilang dalam kehidupan Aini?"
"Tidak, bukan begitu maksudku Olivia."
"Lalu?"
"Biarkan dia menebus semua rasa bersalah yang telah dia perbuat dengan caranya sendiri."
"Aku benar-benar tak mengerti, apa yang bisa Roy lakukan untuk Aini."
"Aku juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan, tapi dia sudah berjanji padaku untuk membantu Aini dan tidak akan menyakitinya."
"Benarkah?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus mengenalkan mereka berdua."
"Apa kau yakin Kenan?"
Kenan pun mengangguk.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Laras."
"Iya Olive."
Saat itulah tiba-tiba ponsel Olivia berbunyi.
"Laras." kata Olivia saat melihat nama Laras di ponselnya, dia lalu mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Laras, ada apa?]
[Mba...] kata Laras dengan begitu panik.
[Ada apa Laras? Cepat katakan, apa yang telah terjadi? Kenapa kau begitu panik?]
[Mba Olive, Aini Mba, Aini hilang.]
[APAAAA?]
"Oh tidak." kata Olivia setelah menutup telepon dari Laras.
__ADS_1
"Ada apa Olive?"
"Kenan, Aini hilang." kata Olivia dengan raut wajah yang begitu panik.