
Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuh Rima dan Sherly saat tiba-tiba David ada di belakang mereka.
"Dia denger yang kita omongin ga ya Sher?" bisik Rima dengan begitu cemas yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Sherly.
"Heh, saya panggil kalian berdua kenapa kalian malah bisik-bisik? Apa kalian tuli?" bentak David pada Rima dan Sherly.
"E.. Iya dokter David, ada yang bisa kami bantu?" jawab Sherly dengan sedikit gugup.
"Saya mau minta tolong salah satu diantara kalian untuk membantu saya mengambil berkas di bawah."
"Em.. Sebaiknya Rima saja dok, saya sedang mengerjakan rekap pasien." jawab Sherly sambil tersenyum.
"Rima? Mana yang namanya Rima?" tanya David. Sherly lalu menunjuk Rima yang ada di sampingnya.
"Dia Rima dok." jawab Sherly sambil meringis.
"Baik, kamu ikut saya ke bawah untuk mengambil berkas yang ada di dalam mobil."
"Baik dok." jawab Rima sambil tersenyum kecut.
"Sherly, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu jadi menyuruhku ikut dengan dokter David? Bukankah aku yang sedang mengerjakan rekap pasien?" gerutu Rima.
"Aduhhhh Rima, kamu gimana sih? Bukannya kamu yang punya urusan sama dokter David? Bukankah ini kesempatan bagus untuk mulai menyelidiki dokter David?"
"Iya sih, tapi aku takut." jawab Rima sambil menggaruk kepalanya.
"RIMAAAAAAA KENAPA KAU MASIH DIAM DI SITU SAJA!!" Teriak David yang membuat bulu kuduk Rima berdiri.
"Tuh kan Rim, kamu kelamaan sih, cari penyakit banget."
"Iya.. Iya ni aku samperin." bisik Rima saat melewati Sherly dan mulai berjalan mendekati dokter David.
"Iya dokter, sebentar." jawab Rima sambil berjalan ke arahnya.
"Dasar lambat!!" umpat David saat Rima berjalan di sampingnya yang membuat jantung Rima semakin berdegup kencang.
'Bagaimana aku bisa membantu Revan jika berada di samping dokter David saja aku sudah takut setengah mati seperti ini?' gumam Rima di dalam hati sambil melirik David yang berjalan di sampingnya dengan tatapan yang begitu serius.
"Apa kamu lihat-lihat? Kamu marah saya bentak?"
"Oh.. Ngga dok, cuma lagi liat nyamuk di dekat wajah dokter."
"Nyamuk? Mana ada nyamuk di sini? Dasar aneh." jawab David dengan begitu ketus.
'Ya ampun, galak banget ini orang pantas saja Stella ninggalin kamu.' gumam Rima di dalam hati.
"Rima tolong ambil tumpukan berkas yang ada di dalam bagasi mobil itu." kata David saat membuka bagasi mobilnya.
"Semua dok?"
"Tentu saja, memangnya kamu pikir pekerjaan saya sedikit? Pekerjaan saya itu banyak Rima!" bentak David.
__ADS_1
'Ya ampun, bisa jawab pelan-pelan ga sih, ga usah pake nge gas gitu.' gumam Rima sambil mengambil tumpukan berkas di dalam bagasi.
"Sudah?"
"Sudah dok."
"Bawa ke ruangan saya." kata David kemudian berjalan meninggalkan Rima dan masuk ke dalam.
"Astaga, ini berat sekali, kupikir dokter David akan membantuku, ternyata aku malah disuruh membawa berkas sebanyak ini sendirian." gerutu Rima sambil berjalan dengan tertatih-tatih.
"CEPATTT RIMA!" bentak David kembali yang sudah menunggunya di depan lift.
"Iya dok." jawab Rima sambil mempercepat langkahnya.
Rima lalu mempercepat langkahnya kemudian masuk ke dalam lift mendekat pada David yang sudah menunggunya.
'Aduh, kenapa ga ada orang sih? Serem banget cuma berduaan sama orang killer kaya dia.' gumam Rima sambil melirik David. Namun tiba-tiba sebuah guncangan terjadi, lift yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba lift berhenti?"
"Sudah diam saja, mungkin ada gangguan."
"TOLONG.. TOLONG.. TOLONG!!" teriak Rima.
"Heh, kamu dengar kata-kataku tidak! Tidak usah panik, nanti juga ada orang yang menolong kita. Tidak usah bersikap kampungan seperti itu!"
"Saya cuma takut dok." jawab Rima disertai raut wajah yang begitu cemas.
"Lalu kalau kamu berteriak-teriak seperti itu ada orang yang akan mendengarmu?" bentak David yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Rima.
"Kenapa nasibku seburuk ini." gerutu Rima.
"Kau kenapa? Baru mengalami masalah seperti ini saja sudah mengeluh. Dasar mental lemah." kata David sambil tersenyum kecut lalu ikut duduk di sampingnya.
Dia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, namun ternyata tidak ada sinyal di dalam lift sehingga terpaksa dia hanya memainkan ponselnya.
'Kesempatan.' gumam Rima saat melirik ponsel David.
"Itu istri dokter?" tanya Rima dengan begitu polos saat melihat ponsel dokter David yang berwallpaper Stella dan dirinya saat sedang berpelukan.
"Lancang sekali kau melihat ponselku." jawab David sambil menatap Rima dengan tatapan tajam.
'Aduhhhh, harus darimana aku mulai membantu Revan, semua yang kutanyakan saja selalu dibalas dengan bentakan.' gumam Rima sambil menutup wajahnya.
***
Revan memeluk Giselle yang kini sedang berdiri sambil mengamati tubuhnya.
"Kau kenapa Giselle?"
"Apakah aku sudah terlihat gemuk?" tanya Giselle.
__ADS_1
"Hahahaha, kau ada-ada saja Giselle, usia kandunganmu saja baru satu bulan, bagaimana kau bisa berfikir jika kau sudah gemuk?"
"Kenapa pantatku terasa begitu lebar ya?"
"Hahahaha bukankah itu bagus? Kau jadi tampak lebih seksi." jawab Revan sambil menciumi tengkuk Giselle.
"Kau semakin membuatku lebih bergairah Giselle." bisik Revan di telinga Giselle yang membuat Giselle tersipu malu.
"Ayo kita lakukan sekarang."
"Apa?"
"Bukankah kau tadi yang meminta sesaat setelah kita melangsungkan ijab qabul?"
"Aku tak mengerti Revan."
"Sudah, tidak usah malu-malu Giselle, kau sekarang adalah istri sahku." kata Revan sambil membalikkan tubuh Giselle kemudian mulai menciumi leher dan tangannya mulai meringsak masuk di balik pakaian Giselle. Namun tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di pintu kamar mereka.
TOK TOK TOK
"Siapa sih? Mengganggu saja." gerutu Revan sambil berjalan ke arah pintu.
"Stella! Ada apa malam-malam kau kesini?" tanya Revan dengan begitu kesal.
"Emhhh maaf Revan, aku sedang tidak bisa tidur, dan sepertinya aku sedang membutuhkan teman bicara malam ini." jawab Stella sambil tersenyum.
"Apa maksudmu?"
"Tolong ijinkan Giselle menemani aku tidur malam ini. Kau mau kan Gislle?" tanya Stella sambil menatap tajam pada Giselle.
"Tidak Stella, aku membutuhkan Giselle malam ini!" jawab Revan.
"Giselle, aku bertanya padamu, kamu mau kan menemani aku malam ini." kata Stella sambil tersenyum kecut.
"Emhh.. E.. Iya Stella."
"Kau dengar sendiri kan Revan, jika Giselle mau menemani aku tidur malam ini." kata Stella sambil tersenyum menyeringai.
"Giselle, apa-apaan ini kenapa tiba-tiba kau mau meninggalkan aku dan memilih bersama Stella?"
"Revan, kasihan Stella sendirian."
"Kenapa kau tidak minta tolong temani Mama saja sih?"
"Mama udah tidur Revan. Itu namanya tidak sopan, mengganggu orang tidur."
"Kau juga tidak sopan sudah mengganggu kami."
"Tidak usah banyak mengeluh Revan, Giselle saja bersedia menemaniku. Ayo Giselle kita pergi dari sini." kata Stella sambil menarik tangan Giselle.
"Giselle, kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja Giselle." teriak Revan yang tak diindahkan oleh Giselle dan Stella yang sudah berjalan menjauhinya.
__ADS_1
"Bagus Giselle, kau harus menuruti semua kata-kataku, jika tidak aku akan mengatakan semua rahasiamu pada Revan yang akan membuat rumah tangga kalian hancur." kata Stella sambil tersenyum menyeringai.
'Tuhan, tolong aku.' gumam Giselle sambil melirik ke arah Stella yang kini berjalan dengan begitu jumawa.