
Firman menggandeng tangan Vallen yang terasa dingin saat masuk ke dalam rumah sakit.
"Kenapa tanganmu dingin sekali?"
"Aku gugup." jawab Vallen sambil meringis.
"Gugup? Gugup kenapa?"
"Gugup karena akan bertemu orang tuamu. Aku sebenarnya sedikit takut."
Firman pun tersenyum.
"Kenapa harus takut? Mereka tidak akan menggigitmu."
"Firman, bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?"
Firman pun tertawa.
"Apa alasannya mereka menolak menantu secantik dan sebaik dirimu. Tidak usah takut, ada aku di sini." kata Firman sambil menggenggam tangan Vallen dengan semakin erat.
Vallen kemudian melirik ke arah Firman sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di kamar tempat ibu Firman dirawat. Perlahan Firman pun membuka pintu kamar perawatan itu
CEKLEK
"Ayo masuk." kata Firman sambil memandang Vallen.
Vallen pun mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar itu sambil tersenyum pada sepasang suami istri yang ada di dalam kamar tersebut. Mereka pun tampak sedikit kaget melihat Firman datang bersama dengan seorang wanita.
"Bapak, Ibu, perkenalkan ini Vallen."
Vallen lalu mendekat pada kedua orang tua Firman lalu menyalaminya sambil tersenyum.
"Kau cantik sekali, Nak." kata ibu Firman sambil memegang wajah Vallen saat sedang menyalaminya.
"Firman, apakah dia kekasihmu?"
Firman pun tersenyum kemudian mengangguk. Kedua orang tuanya pun kemudian ikut tersenyum sambil mengerutkan keningnya. Vallen yang kebingungan lalu melihat Firman dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Bapak, Ibu, kenapa kalian tersenyum seperti itu? Lihat kalian sudah membuat Vallen kebingungan." kata Firman sambil terkekeh.
"Firman, kami hanya tidak menyangka kau akan mendapatkan pacar secepat itu, saat kau pergi kami benar-benar cemas karena takut kau akan terpuruk. Tapi hanya dalam waktu beberapa bulan saja kau sudah membawa pulang gadis secantik ini." kata ibu Firman yang membuat Vallen tersipu malu.
"Tante bisa saja."
"Kalian bertemu dimana? Apakah kalian bekerja di tempat yang sama?"
"Kami tidak sengaja bertemu Bu, dan kami juga tidak bekerja di tempat yang sama karena kami memiliki keahlian yang berbeda."
"Astaga, kalian bertemu secara tidak sengaja? Mungkin kalian memang benar-benar berjodoh."
"Sepertinya memang begitu Bu." jawab Firman sambil melirik pada Vallen yang kini semakin terlihat salah tingkah.
"Lalu apa maksudmu kalian memiliki keahlian yang berbeda, Firman?" tanya Bapak Firman.
"Begini Pak, aku seorang akuntan dan dia seorang dokter. Dokter spesialis kandungan. Keahlian dan dunia kami sangatlah berbeda."
__ADS_1
"Oh jadi kau seorang dokter?"
"Iya Tante." jawab Vallen sambil mengangguk.
"Vallen, apa kau tidak salah pilih kekasih?" tanya Ibu Firman yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.
Vallen pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Vallen mendekatlah pada ibu, Nak."
Vallen pun mendekat pada ibu Firman lalu duduk di samping tempat tidurnya. Ibu Firman lalu membelai rambut Vallen.
"Vallen, apakah kau sudah tahu masa lalu Firman?"
"Iya Tante, Vallen sudah tahu semuanya."
"Jadi kau tahu jika Firman itu seorang duda?"
Vallen pun mengangguk sambil tersenyum.
"Vallen, kau sangat cantik dan pintar. Apakah kau tidak mempermasalahkan status yang disandang oleh Firman? Dia hanyalah seorang duda, dan kami bukanlah dari kalangan orang berada seperti dirimu, Nak."
"Vallen tidak pernah mempermasalahkan semua itu Tante karena dalam menjalani hubungan, status ataupun materi itu tidaklah penting karena yang terpenting adalah saling menyayangi dan menerima kekurangan masing-masing."
Kedua orang tua Firman pun tersenyum.
"Terimakasih banyak Nak, kau wanita yang baik dan luar biasa. Kau sudah begitu tulus mencintai Firman yang begitu banyak memiliki kekurangan."
"Iya Tante." jawab Vallen sambil mengangguk.
Vallen pun tersenyum, kemudian dia melirik pada Firman yang kini menatap ibunya sambil mengerutkan keningnya.
"Satu kosong." kata Vallen dengan bahasa isyarat melalui tangannya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"Bagaimana perasaanmu setelah bertemu dengan orang tuaku?" tanya Firman saat dalam perjalanan pulang.
"Sangat bahagia, mereka sangat baik padaku."
"Bukankah sudah kukatakan jika mereka tidak akan pernah menolak menantu secantik dan sebaik dirimu."
"Gombal."
"Firman, di depan ada mini market, tolong berhenti sebentar, aku mau membeli makanan ringan untuk nanti malam, nanti malam kau harus menemaniku nonton drama lagi."
"Drama Korea?"
"Bukan."
"Syukurlah."
"Tapi drama Cina. Hahahaha."
"Itu sama saja Vallen."
__ADS_1
"Jadi kau tidak mau? Kalau kau tidak mau aku akan bilang pada orang tuamu jika kau sudah menyakitiku."
"Kau memang sudah menang Vallen."
"Tentu saja, skor kita masih satu kosong." kata Vallen sambil terkekeh.
Firman kemudian memarkirkan sepeda motornya di depan sebuah minimarket.
"Vallen aku tunggu di luar ya, salah satu teman kerjaku tadi ada yang meneleponku saat dalam perjalanan, aku akan balik meneleponnya."
"Iya Firman." jawab Vallen kemudian masuk ke dalam minimarket tersebut.
Firman kemudian berjalan menjauh dari area parkir ke tempat yang lebih sunyi untuk menelpon teman kantornya.
Dimas yang ternyata juga ada di dalam minimarket saat sedang membeli diapers untuk Shakila pun begitu bahagia melihat Vallen ada di dalam minimarket tersebut. Dia memandang Vallen dengan tatapan begitu terpesona saat Vallen sedang memilih beberapa makanan ringan.
'Bukankah itu kekasih Firman? Kebetulan sekali dia sedang sendirian. Aku akan mencoba mendekatinya, siapa tahu setelah kami berkenalan dia akan tertarik padaku.' gumam Dimas sambil terus menatap Vallen.
"Dia benar-benar sangat cantik dan menggairahkan." kata Dimas sambil berjalan ke arah Vallen dengan penuh percaya diri.
"Hai." sapa Dimas.
Mendengar suara seseorang di sampingnya, Vallen lalu mengalihkan pandangannya.
"Bukankah kau kekasih Firman?"
Vallen lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Kenalkan saya Dimas, bisakah..."
Namun belum sempat Dimas melanjutkan kata-katanya, Vallen sudah undur diri.
"Maaf, saya sedang sedikit terburu-buru." kata Vallen lalu berjalan meninggalkan Dimas begitu saja.
"Sombong sekali!" gerutu Dimas saat melihat Vallen yang sedang membayar belanjaan miliknya di kasir. Saat melihat Vallen yang keluar dari minimarket itu, Dimas pun berusaha mencegatnya.
"Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini." kata Dimas lalu berusaha mengejar Vallen.
"Hai tunggu sebentar, saya hanya ingin berkenalan dengan anda."
"Nona, tunggu sebentar."
"Nona tunggu." kata Dimas sambil menjejeri langkah Vallen.
"Maaf bukankah sudah kukatakan jika saya sedang sibuk, lagipula saya juga sedang bersama kekasih saya. Saya tidak ingin dia berfikiran macam-macam karena melihat saya bersama dengan laki-laki lain."
"Tapi Nona, saya hanya ingin berkenalan dengan anda, bisakah kita berbicara sebentar saja."
Vallen pun tampak mulai terlihat emosi.
"Tolong jangan ganggu saya! Bukankah sudah kukatakan jika saya sedang terburu-buru!" teriak Vallen yang membuat Firman terkejut saat masih sibuk menelepon teman kantornya.
"Nanti kutelpon lagi." kata Firman sambil menutup teleponnya. Dia lalu berjalan ke area parkir minimarket dan melihat Vallen yang sedang berdiri di depan Dimas dengan raut wajah yang tampak begitu kesal. Seketika emosi Firman pun memuncak.
"DIMAAASSSSS!!!" teriak Firman dengan begitu menggema. Dia lalu mendekat ke arah Dimas lalu melayangkan tinjunya.
__ADS_1
BUGHHHH