Salah Kamar

Salah Kamar
Kau Siapa?


__ADS_3

"Kenapa kalian diam? Apa yang ingin kau ketahui dari mama, Rima?" tanya Risma sambil tersenyum, kemudian dia mendekat ke arah mereka yang kini semakin terlihat salah tingkah.


"Ma.. Mama." kata Rima dengan begitu gugup.


"Kenapa kalian jadi gugup seperti ini? Apa ada yang salah dengan kata-kata mama? Ataukah ada sesuatu yang sedang kalian sembunyikan?"


"TIDAK." teriak Drey dan Rima bersamaan yang membuat Risma tersenyum.


"Hahaha, kalian benar-benar lucu, dan kompak."


"Ya, tentu saja, bukankah kita suami istri? Kita harus kompak satu sama lain." jawab Drey.


"Ya, suami istri memang seharusnya seperti itu." kata Risma kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di pojok ruang perawatan Drey sambil asyik menonton televisi.


"Drey, bagaimana jika sebaiknya kita berterus terang saja pada mama?" bisik Rima pada Drey.


"Apa kau yakin?"


"Ya, aku tidak ingin selalu dihantui perasaan bersalah seperti ini. Bukankah beberapa bulan lagi kita menikah? Aku tidak ingin pernikahan kita di atas sebuah kebohongan. Aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada pernikahan kita karena membohongi orang sebaik mama."


Drey pun kemudian tampak berfikir sejenak.


"Kau benar juga Rima, kita memang tidak seharusnya terus menerus membohongi mama, bagaimanapun juga dia adalah ibu kandungku, aku tidak mau berbuat dosa karena telah membohonginya terus menerus."


"Iya Drey. Tapi kita juga harus siap akan semua kemungkinan yang terjadi. Termasuk kemungkinan terburuk jika mama membenciku dan mengurungkan niatnya untuk merestui hubungan kita."


"Rima, kenapa kau bicara seperti itu? Itu tidak akan pernah terjadi."


"Drey, bagaimanapun juga kita tetap harus siap akan kemungkinan terburuk itu."


Drey kemudian menggenggam tangan Rima.


"Rima, percayalah padaku, apapun yang akan terjadi, aku akan tetap memilihmu sebagai istriku, meskipun mama marah pada kita berdua, semua itu tidak akan mengurungkan niatku untuk menikahimu."


"Terimakasih Drey." jawab Rima.


Drey pun kemudian memeluk Rima yang kini terlihat meneteskan air matanya. Tiba-tiba Risma pun memandang Drey dan Rima.


"Hei kalian, kenapa kalian terus menerus bermesraan seperti itu? Apa kalian sudah tidak sabar menunggu tiga bulan lagi sampai kalian menikah resmi." kata Risma sambil terkekeh.


"Mama ada-ada saja."

__ADS_1


"Tapi mama sebenarnya sedikit heran dengan kalian berdua."


"Heran? Heran kenapa ma?"


"Dulu saat pertama kali kau mengenalkan Rima sebagai istrimu, hubungan kalian tampak begitu kaku, bahkan saat kau akan berangkat ke kantor, kau pun begitu ragu-ragu untuk mencium kening Rima, tidak seperti sekarang, setiap menit bahkan kalian bermesraan di depan mama." kata Risma sambil mengerutkan keningnya.


Rima dan Drey pun saling berpandangan.


"Drey mungkin inilah saatnya." kata Rima. Drey pun kemudian mengangguk. Rima lalu mendekat ke arah Rima yang masih duduk di sofa.


"Mama, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Rima katakan pada mama."


"Apa Rima? Kenapa kau terlihat sangat serius seperti ini?"


Rima pun tampak begitu ragu-ragu. Dia lalu mengambil nafas panjang.


"Mama, maafkan kami ma."


"Maaf, maaf untuk apa Rima?"


"Kami sebenarnya telah berbohong pada mama."


"Iya ma, se.. se..sebenarnya kami belum pernah menikah." kata Rima dengan wajah tertunduk.


'Akhirnya kalian mengaku juga.' gumam Risma dalam hati.


Melihat Risma yang terdiam, Drey pun kemudian ikut berbicara.


"Mama, maafkan kami, sebenarnya Drey lah yang memulai semua ini. Drey yang meminta Rima untuk berpura-pura menjadi istri Drey. Drey melakukan ini semua karena mama terus menerus meminta Drey untuk menikah dengan Chyntia. Maafkan Drey ma."


"Awalnya Rima tidak mau melakukan semua ini karena dia masih memiliki suami, tapi Drey yang memaksanya. Rima juga terpaksa melakukan semua ini karena dia membutuhkan tempat yang aman agar bisa berlindung dari suaminya yang psikopat." kata Drey dengan tatapan memelas, berharap agar Risma memaafkan dirinya dan Rima.


"Mama, Rima benar-benar minta maaf. Maaf selama ini kami sudah membohongi mama, padahal mama begitu baik pada Rima. Rima akan menerima semua konsekuensi jika mama marah bahkan membenci Rima. Rima memang pantas menerima semua itu. Maafkan Rima ma." kata Rima, air mata pun kini mulai membasahi pipinya.


"Maafkan Rima ma." kata Rima lagi dengan begitu lirih sambil terisak.


Melihat Rima dan Drey yang kini tampak begitu bingung, Risma pun kemudian tersenyum.


"Kalian memang benar-benar anak nakal, memangnya kalian pikir mudah membohongi mama?" kata Risma sambil terkekeh yang membuat Rima dan Drey tampak begitu kebingungan. Mereka lalu saling bertatapan dengan raut wajah yang begitu bingung.


"Jadi maksud mama, mama sudah tahu kami membohongi mama?"

__ADS_1


"Tentu saja Drey, kalian sendiri yang menunjukkan pada mama jika kalian bukanlah sepasang suami istri, bukankah tadi sudah mama katakan, sikap kalian begitu kaku, apa kalian pikir mama tidak pernah curiga pada sikap kalian berdua? Lalu apa kau juga sudah lupa jika ponselmu telah mama sadap, mama tahu semua isi ponselmu."


Melihat sikap Risma yang terlihat biasa saja Rima pun sedikit merasa lega. "Jadi mama tidak marah pada kami berdua?"


"Jika aku marah pada kalian berdua tentu sudah lama kalian kutendang dari rumahku karena sudah berani tidur dalam satu kamar meskipun kalian bukan suami istri. Hahahaha."


"Mama, sekali lagi maafkan kami ma." kata Rima.


Risma kemudian membelai rambut Rima. "Rima, tahukah kamu jika aku begitu menyayangimu, apapun yang terjadi, aku akan tetap menganggapmu sebagai putriku."


"Terimakasih banyak ma." kata Rima, dia kemudian memeluk Risma.


"Untung saja Drey akhirnya jatuh cinta padamu, jika tidak aku akan sangat marah padanya karena aku tidak mau kehilangan gadis semanis dirimu untuk mendampingi hidupnya."


Mendengar perkataan Risma, Rima pun semakin terisak dalam pelukan Risma. Drey pun hanya bisa tersenyum melihat Risma yang kini begitu menyayangi Rima.


'Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, karena masalah ini akhirnya berakhir.' gumam Drey.


'Terimakasih Tuhan, akhirnya aku mendapatkan kasih sayang yang begitu tulus dari seorang ibu, kasih sayang yang selama ini begitu aku dambakan.' kata Rima dalam hati.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


"Mba Olive, Mba Calista, bisakah kalian mengantarkan aku ke kamar bayi?" kata Aini beberapa saat setelah dia bangun dari tidurnya.


Olivia dan Calista pun saling berpandangan.


"Ya, tentu saja." jawab Calista.


Mereka lalu keluar dari ruang perawatan Aini kemudian menuju ke kamar bayi tempat anak Roy dirawat.


"Aku ingin bertemu dengannya, aku masuk dulu ya." kata Aini yang dijawab anggukan oleh Calista dan Olivia.


"Suster, bolehkah aku memberikan ASI ku lagi untuk bayi itu." tanya Aini saat berada di ruang perawatan itu.


"Tentu saja, anda bisa menaruhnya di botol ini, nanti kami yang akan memberikannya." jawab suster tersebut.


"Terimakasih."


Saat akan mengambil botol susu itu tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Aini.


"Kau siapa? Siapa yang sudah memberikan izin padamu untuk memberikan ASI pada bayi itu?" kata sebuah suara yang kini ada di samping Aini.

__ADS_1


__ADS_2