Salah Kamar

Salah Kamar
Racun


__ADS_3

"Bagaimana? Bukankah itu ide yang bagus?"


Drey dan Rima kemudian berpandangan.


"Tidak bisa ma."


"Kenapa tidak bisa? Apa kalian mau mempermainkan mama?"


"Tidak ma, bukan begitu. Apa mama tidak lihat kondisi Rima saat ini?"


"Apa maksudmu? Bukankah mama hanya ingin kalian menikah secara resmi?"


"Iya ma, kami tahu itu tapi coba mama pikir jika Drey menikah bukankah harus mengadakan pesta? Apa mama mau Drey hanya menikah di KUA saja? Bukankah seharusnya banyak saudara dan kerabat yang harus kita undang? Belum lagi teman kerja Drey atau teman arisan mama."


"Kau benar Drey, ada banyak sekali yang harus kita undang." kata Risma sambil menutup mulutnya.


"Coba mama pikiran kondisi Rima saat ini, melihat kondisi Rima tidak mungkin kami bisa melangsungkan resepsi pernikahan yang mewah dan dihadiri banyak orang. Itu sangat membahayakan bagi Rima dan janin yang ada dalam kandungannya."


"Astaga, kau benar Drey."


"Ya, jadi sebaiknya kita tidak usah memikirkan hal itu dulu ma, lebih baik pikirkan kesehatan Rima saat ini agar dia bisa sehat kembali."


"Iya.. Iya Drey, mama mengerti, maafkan mama ya sayang." kata Risma sambil menatap Rima.


Rima pun kemudian mengangguk sambil tersenyum.


"Iya ma." jawab Rima disertai perasaan bersalah.


'Kenapa aku baru sadar jika aku telah salah dalam mengambil keputusan, bagaimana hubungan ini nantinya.' kata Rima dalam hati sambil melihat wajah Risma yang begitu berbinar.


'Maafkan saya Bu Risma.' gumam Rima.


☘️☘️☘️


Satu minggu kemudian


Leo tampak sibuk menelepon seseorang. Namun raut wajahnya terlihat sedikit bimbang.


"Bagaimana Leo?" tanya Calista saat melihat Leo menutup teleponnya.


"Calista, anak buahku sempat bertanya pada orang-orang di sekitar kontrakan Rima, beberapa saat setelah kita pergi memang terjadi pertengkaran kecil. Saat itu kemungkinan Ilham akan pergi menemui Olivia dan Rima mencegahnya karena ada yang melihat Rima memegang sepeda motor Ilham. Namun Ilham berusaha melepaskan cengkraman Rima dan dia mendorong tubuhnya hingga jatuh ke atas bebatuan."


"Astaga." kata Calista.


"Jadi kemungkinan Rima kembali mengalami luka?"

__ADS_1


"Mungkin, tak berselang lama setelah itu memang ada warga yang akan menolongnya karena mendengar suara tangis Rima, tapi saat warga tersebut mulai mendekat ternyata Rima telah ditolong seseorang dan dibawa masuk ke mobilnya."


"Seseorang? Siapa dia? Laki-laki atau perempuan, Leo?"


"Laki-laki, tapi aku tidak tahu siapa dia."


"Leo, Rima tidak memiliki teman laki-laki kecuali kau, Revan, dan David. Revan saat itu sedang pergi bersama Giselle ke pusat perbelanjaan membeli kebutuhan bayi, sedangkan David, dia dan Stella sedang bulan madu. Lalu siapa laki-laki itu?"


"Apakah laki-laki itu yang menolong Rima saat itu? Yang Rima pikir seorang ojek online."


"Mungkin saja itu dia Leo, mungkin mereka menjadi dekat saat mereka di rumah sakit."


"Iya Calista, aku juga berpikiran seperti itu."


"Tapi masalahnya kita tidak tahu siapa lelaki itu."


"Astaga." kata Calista sambil memijat keningnya.


☘️☘️☘️☘️


"Kenapa hari ini aku harus menjalani pemeriksaan lagi? Bukankah pemeriksaan tempo hari sudah selesai?" kata Ilham saat seorang polisi memberitahukan dia untuk bersiap-siap karena sebentar lagi akan ada pemeriksaan dari penyidik.


"Apa kau sudah siap?" tanya seorang polisi yang kini membuka pintu sel tahannya.


"Ilham.. Ilham." kata penyidik itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Kotak ini milikmu?" tanya penyidik itu pada Ilham.


"Ilham pun hanya diam."


'Breng*ek, kenapa mereka menemukan kotak itu. Apa mereka menggeledah rumahku?' kata Ilham dalam hati.


"Kenapa kau diam Ilham? Apa kau sedang menyesali kebodohanmu karena sudah mencoba merebut hati seorang wanita seperti Olivia? Hahahaha." kata penyidik itu sambil tertawa mengejek.


'BRENG*EK!' umpat Ilham dalam hati.


"Kenapa kau hanya bisa diam? Apa kau sekarang bisu? Ilham, kau seharusnya sadar diri, siapa dirimu. Apa kau tidak bisa melihat siapa suami Olivia? Dia orang yang sangat kaya, Ilham. Sedangkan kau di Jakarta saja tidak memiliki harta apapun hahahaha." kata polisi itu sambil tertawa terbahak-bahak.


BRAGGGG


Tiba-tiba Ilham pun menggebrag meja. Seketika penyidik itu pun terkejut melihat Ilham yang kini menatapnya dengan tatapan mata tajam.


"Hei kenapa kau tiba-tiba marah Ilham? Aku cuma bertanya padamu mengenai barang bukti itu!"


"Tapi kau sudah menghina harga diriku!"

__ADS_1


"Memangnya orang sepertimu memiliki harga diri?"


"BRENG*EK!!!" kata Ilham kemudian maju mendekat ke arah penyidik itu dan melayangkan bogem mentah untuknya. Penyidik itu pun begitu terkejut karena mendapat serangan mendadak dari Ilham, emosi pun kian menyelimuti hatinya dan raut wajahnya pun berubah menjadi merah. Kemudian dia mulai mendekat ke arah Ilham dan balas memukul Ilham.


"ADA APA INI RIBUT-RIBUT?" tanya beberapa orang polisi yang masuk ke ruang penyidikan.


"Kalian lihat penjahat ini memukulku!" kata penyidik itu.


"Tapi dia yang memulai dulu." jawab Ilham dengan tenang.


'Dasar bermuka dua, di depan yang lain dia bahkan setenang itu.' kata penyidik itu dalam hati.


"Sudah, lebih baik kau kembali ke selmu." kata salah seorang polisi pada Ilham.


"Fandi, bawa Ilham ke selnya." kata polisi itu pada anak buahnya.


"Siap komandan." jawab polisi itu kemudian membawa Ilham menuju ke selnya, namun saat baru keluar dari ruang penyidikan tiba-tiba Ilham menghentikan langkah polisi itu.


"Permisi, bolehkah saya ke toilet sebentar?"


"Ya, tapi jangan lama-lama." kata polisi yang mengantar Ilham.


Ilham pun kemudian berjalan ke arah toilet sambil tersenyum menyeringai. Di dalam toilet dia lalu melangkahkan kakinya ke arah pojok toilet dan mengambil sebuah botol berisi cairan berwarna biru dan menaruhnya beberapa tetes ke telapak tangannya.


'Hahahaha, rasakan ini.' kata Ilham dalam hati sambil berjalan keluar dari toilet. Ilham pun kemudian berjalan ke arah dapur. Dia lalu tersenyum pada salah seorang office boy di dapur tersebut.


"Ada apa?" tanya OB itu.


"Maaf saya mau memberitahukan pada anda mengenai minuman untuk Pak Lukman." kata Ilham.


"Minuman untuk Pak Lukman?"


"Ya, saya baru saja dari ruangannya karena saat ini dia yang sedang menangani kasusku, dia mengatakan padaku agar menyampaikan pada anda jika minuman yang anda buat itu terlalu manis dan dia menyuruh Anda untuk membuatnya kembali." kata Ilham.


"Merepotkan saja." gerutu OB tersebut.


"Biar kuambilkan cangkirnya." kata Ilham lalu mengambil sebuah cangkir dan mengoleskan cangkir tersebut dengan cairan berwarna biru yang dia ambil di salah satu pojok toilet.


'Rasakan ini, sekarang matilah kau bersama kesombonganmu.' kata Ilham dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


Note:


Novel ini sebenarnya novel othor yang paling ringan, semua orang yang hatinya jahat pun bisa berubah menjadi lebih baik dan menyadari kesalahannya saat mulai tersandung masalah. Kalau di novel othor yang lain penjahatnya sadis², kalian pengen liat othor bikin antagonis sadis yang susah tobat kan? Jawabnya di Ilham 🤭


Makasih dear udah mampir, salam sayang untuk kalian semua 😘

__ADS_1


__ADS_2