Salah Kamar

Salah Kamar
#40 Mencurigakan


__ADS_3

Kinan berusaha untuk bersikap biasa saja meski dirinya malah semakin gelisah setelah menghapus pesan dari Rena itu. Dia harap sang suami sama sekali tak tahu. Bahkan, Kinan sampai memblokir nomor Rena agar tak menghubungi suaminya lagi.


Kinan tersenyum saat sang suami memperlihatkan nampan dengan 2 piring nasi goreng dan 2 gelas teh.


"Maaf agak lama. Tadi nyari bumbu abis ternyata. Jadi mas bikin racikan lain," ujar Bram diakhiri senyum. Dia meletakan makanan itu di atas meja, membuat Kinan segera menghampiri. Namun, dia segera menaikan alis saat mendapati gelagat Kinan yang agak lain.


"Kamu sakit?" tanya Bram sembari meletakan tangannya di dahi Kinan. Dia juga meletakan tangan lain di dahinya untuk membedakan. Suhu tubuh mereka sama. Namun, Kinan terlihat berkeringat dan pucat.


"Kinan gapapa kok, kamarnya aja agak panas," ujar Kinan diiringi tawa canggung. Namun, ini membuat Bram mengerutkan dahi karena memang pendingin ruangan di sana menyala.


"Mau mas panggilin dokter?"


Kinan menggeleng kemudian tersenyum. "Kinan baik-baik aja kok. Mungkin karena laper."


"Ya ampun." Bram terkekeh kemudian memberikan sendok pada Kinan. "Cepet dimakan. Habis ini kita tidur. Kamu gak boleh tidur malem-malem, gak baik."


Kinan terus mengucap maaf dalam hati. Bukan karena dia egois dengan membatasi interaksi Bram dengan siapa pun. Dia hanya takut Bram pergi. Apa dia tak boleh bersikap seperti itu? Apalagi, Rena seakan secara terang-terangan mengirim pesan ada Bram setelah sekian lama. Tujuannya apa?


"Ah iya, besok kita pindah ya."


Kinan mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Bram. "Besok banget?"


Bram mengangguk. Keputusannya sudah bulat. Dia akan mengalah dan tinggal di rumah yang sebelumnya sudah dia beli. Awalnya Bram tak menempati rumah itu karena menemani sang oma. Sekarang rumah itu akan benar-benar dia tempati. Bersama dengan orang yang dia sayangi meski awalnya memang bukan bersama.


"Kenapa gak diabisin?" tanya Bram saat Kinan meletakan sendoknya. "Gak enak?"


Kinan menggeleng sebagai jawaban. "Mas, Kinan mau tanya sesuatu."


"Soal?" Bram meletakan sendoknya untuk fokus mendengarkan pertanyaan Kinan.


"Mas sayang sama Kinan?"


Bram terkekeh mendengar pertanyaan Kinan. Dia merasa sudah memperlihatkan segalanya pada Kinan. Apa itu masih kurang? "Gak ada pertanyaan lain?"


"Kinan serius."

__ADS_1


Bram menangkup wajah Kinan, menatap lekat sang istri kemudian tersenyum. "Coba menurut kamu gimana?"


"Gak sepenuhnya."


"Perasaan kamu aja. Buktinya tuh," ujar Bram sembari menunjuk perut Kinan dengan dagunya. "Kalo enggak, dia gak akan ada."


"Ih serius."


"Makan dulu. Nanti mas jawab," ujar Bram kemudian memberikan sendok yang tadi diletakan oleh Kinan.


"Udah kenyang," jawab Kinan. Namun, Bram tahu Kinan hanya berbohong. Dia yakin ada sesuatu yang dipikirkan sang istri hingga bertanya soal perasaannya.


"Satu suap aja, abis itu mas jawab."


"Bohong."


"Lagian kenapa kamu gak percaya sama jawaban mas tadi."


...***...


Bram terduduk kemudian membaca pesan yang dikirim Raka. Matanya membulat kala Raka berhasil memberikan setiap bukti yang benar-benar mengarah pada Wira. Tentu, ini memancing kemarahan Bram karena Wira dengan berani membunuh hanya demi bagian yang lebih banyak.


Bram mengirimkan pesan. Dia merasa terlalu mudah jika hanya melaporkan kemudian Wira dihukum. Dia akan memikirkan cara agar perbuatan Wira mendapat hukuman yang benar-benar setimpal. Dia tak ingin hukumannya semudah itu.


Sembari memikirkan, Bram beranjak untuk mengemas pakaian-pakaiannya juga Kinan. Dia meraih koper dengan sangat pelan agar tak mengganggu tidur Kinan. Dia juga membuka lemari secara perlahan sembari sesekali melirik Kinan.


Bram tersenyum saat melihat Kinan tertidur nyenyak. Dia bersyukur karena Kinan bisa tertidur pulas. Dia kemudian melangkah menuju nakas, mematikan alarm yang mungkin akan terbangun sebentar lagi. Dia tak mau jika Kinan harus cepat-cepat bangun.


Sebuah gelembung notifikasi membuat Bram meraih ponselnya. Dia mengerutkan dahi saat nomor tak dikenal mengiriminya pesan. Pesan yang menanyakan soal dirinya diblokir atau tidak.


"Ini siapa?" gumam Bram. Namun, dia memilih untuk membacanya saja alih-alih membalas. Dia kembali melanjutkan untuk mengemas beberapa pakaian dan barang yang akan dibawa. Namun, sebuah telepon membuatnya lagi-lagi harus meraih ponselnya.


"Halo?"


"Halo, mas?"

__ADS_1


Suara wanita dari seberang sana membuat jantung Bram serasa berhenti. Suara yang sudah lama tak dia dengar. Suara yang pernah menjadi penenang dari berisiknya isi kepala.


"R-rena?"


...***...


"Tara!" Bram membuka penutup mata yang dia pasangkan pada sang istri. Kejutan ini nampaknya berhasil. Kinan nampak kagum dengan rumah barunya.


Rumah itu memiliki gaya monokrom. Setiap cat juga furniturnya berwarna hitam juga putih. Satu hal yang membuat Kinan cukup bahagia adalah foto pernikahan mereka. Kali ini benar-benar terpasang di tempat yang seharusnya.


"Untuk sementara, kamarnya di lantai 1 dulu ya. Kamu bakalan cape kalo naik turun tangga," ujar Bram. Dia awalnya memang berniat memasang lift di rumahnya. Namun, dulu dia belum kepikiran sampai bagaimana jika istrinya hamil.


"Biar mas aja," ujar Bram saat Kinan akan membawa kopernya sendiri. Namun, langkahnya berhenti saat mendengar suara notifikasi. Buru-buru dia melihat pesan yang baru masuk itu hingga membuat Kinan mengerutkan dahi. Tak biasa sang suami mengecek terus ponselnya.


"Siapa mas?"


Bram terkekeh canggung sembari meletakan kembali ponselnya di saku. "Biasa, broadcast gak penting."


"Kenapa tingkah mas Bram aneh?" gumam Kinan dalam hatinya. Bram terlihat jelas gugup dan menyembunyikan sesuatu. Namun, dia memilih untuk tak bertanya. Dia yakin apapun yang disembunyikan sang suami, mungkin akan segera terungkap.


Kinan tersenyum melihat seisi kamarnya. Dia paling suka jendelanya menghadap ke halaman depan. Jadi, dia bisa melihat bagaimana hijaunya bunga-bunga yang ada di sana.


Kinan menoleh saat suara dering dari ponsel suaminya terdengar. Namun, dia heran karena Bram malah terlihat panik saat menolak telepon tersebut.


"Mas gapapa?"


"Engga, Nan. Gapapa kok. Istirahat sana, cape kan ya abis perjalanan cukup jauh ke sini."


Kinan tersenyum. Dia mendekati sang suami kemudian memberikan kecupan di pipi Bram. "Kinan juga agak ngantuk. Tapi pengen bakso."


"Sekarang?"


Kinan berdecak. Apa itu perlu ditanyakan? "Taun depan. Sekarang kan Kinan mau istirahat."


"Yaudah, nanti ya kalo mas udah beres masukin baju-bajunya ke lemari sama beres-beres dikit. Itu soalnya masih ada yang berantakan."

__ADS_1


"Mas Bram kenapa sih?" gumam Kinan dalam hatinya. Dia sungguh heran sebab Bram nampak salah tingkah juga gugup.


__ADS_2