
"Aini, sekali lagi maafkan aku. Aku begitu takut kehilangan dirimu jadi aku memutuskan untuk tidak menceritakan tentang kejadian itu padamu."
"Mas, ini tempat umum. Sebaiknya kita bicarakan ini di rumah saja."
Roy kemudian mengangguk lalu menggandeng tangan Aini keluar dari kantor kepolisian tersebut.
🏡🏡🏡🏡🏡
"Firman, tolong bukakan pintunya aku sedang berganti pakaian, itu mungkin pesanan makanan yang kupesan tadi."
"Iya sayang." jawab Firman kemudian berjalan ke arah pintu.
"Terimakasih." kata Firman saat menerima makanan itu. Dia kemudian menaruh makanan itu di meja makan lalu mengambil piring untuk makan siang bersama dengan Vallen.
"Ketoprak, lumpia basah, tauge goreng, yoghurt, jus alpukat, cemilan kacang-kacangan." kata Firman saat mengeluarkan makanan tersebut, dia pun kemudian tersenyum. Beberapa saat kemudian Vallen pun keluar dari dalam kamar lalu duduk di samping Firman sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Firman.
"Suapi aku." kata Vallen dengan begitu manja.
Firman pun menyuapinya lalu memandang Vallen sambil tersenyum nakal.
"Kau yang memesan makanan ini?"
Vallen pun mengangguk.
"Aku ingin cepat hamil." kata Vallen sambil terkekeh. Firman pun tersenyum kemudian menyupkan makanan kembali pada Vallen.
"Vallen, dengarkan aku. Meskipun kau belum hamil, dalam waktu dekat aku akan tetap menemui mamamu." kata Firman setelah mereka selesai makan siang.
"Sepertinya itu bukan ide yang bagus." gerutu Vallen disertai wajah murungnya.
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap menemui mamamu, aku tidak mau terus menerus menutupi pernikahan kita Vallen. Dia orang tuamu, dia berhak tahu yang sebenarnya terjadi pada hidup putrinya. Aku juga tidak mau menjadi laki-laki pengecut yang berlindung dari kenyamanan semu, Vallen. Aku juga ingin berkenalan dengan mamamu, meskipun entah dia akan menyukaiku atau tidak, aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi bagaimanapun juga dia harus tahu jika putrinya telah menjadi istriku, telah menjadi bagian dalam hidupku. Apa kau mengerti?"
"Tapi bagaimana jika mama tidak menyetujui hubungan kita? Bukankah kau tahu jika aku tidak bisa hidup tanpamu." jawab Vallen sambil menundukkan kepalanya.
Firman kemudian mendekap tubuh Vallen.
"Jika aku bertemu dengan mamamu apakah itu artinya kita akan berpisah? Tentu tidak Vallen sayang, aku akan memperjuangkan dan mempertahankan hubungan kita sampai kapanpun. Bukankah kau juga tahu jika aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah bisa hidup tanpamu."
__ADS_1
Vallen pun mengangguk lalu membalas dekapan Firman kian kencang.
"Firman, berjanjilah apapun yang terjadi kita tidak akan pernah berpisah. Kau harus berjanji padaku untuk selalu ada di sampingku sampai maut yang memisahkan kita." kata Vallen sambil meneteskan air matanya.
"Hei, kenapa kau menangis? Tanpa kau minta aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan selalu bersama selamanya." kata Firman kemudian memegang wajah Vallen lalu mengecup keningnya.
"Jangan menangis lagi sayang." kata Firman lagi sambil menghapus air mata Vallen.
Vallen pun tersenyum sambil mengangguk kemudian memeluk Firman kembali.
'Firman kau berkata seperti ini karena kau tidak tahu bagaimana sifat mama.' gumam Vallen sambil memeluk Firman kian kencang.
🏡🏡🏡🏡🏡
CEKLEK
Aini membuka pintu rumahnya, melihat kedatangan Aini dan Roy, kedua orang tua Aini pun tersenyum.
"Akhirnya kalian pulang juga, Aini kenapa kau tampak lesu? Apa sesuatu telah terjadi pada kalian?"
Roy lalu melirik Aini.
"Astaga, anak itu dari dulu tidak berubah!" teriak bapak Aini.
"A.. Aini bagaimana keadaanmu? Apakah kau terluka? Apakah Dimas sempat berbuat jahat padamu?"
"Tidak Bu, tadi saat Dimas mendekat padaku, aku langsung mengirimkan share lokasi pada Mas Roy jadi dia datang di saat yang tepat. Lalu aku merekam semua kata-katanya di ponselku sebagai barang bukti."
"Oh syukurlah. Itulah alasannya ibu takut jika kau pulang ke kampung halaman ini."
"Ibu tenang saja, kami sudah memberinya pelajaran. Dia saat ini sudah ditahan di kantor polisi."
"A.. Apa? Bagaimana bisa? Roy, tidak mungkin ada yang bisa mengusik keluarga Dimas di kampung ini, termasuk para polisi, berulangkali Dimas berbuat kejahatan tapi tidak ada yang berani melakukan sesuatu pada Dimas karena mempertimbangkan keluarganya. Lagipula jika orang tua Dimas tahu anak mereka masuk ke dalam penjara, mereka pasti tidak akan tinggal diam."
"Semua bisa saja terjadi jika aku yang menanganinya Bu. Ibu tenang saja, aku akan memastikan jika Dimas pasti akan mendapatkan hukuman atas semua perbuatan jahatnya."
"Iya Roy. Ya sudah kalau begitu, kalian lebih baik istirahat saja di kamar, hari ini pasti sangat melelahkan bagi kalian berdua. Biar ibu yang mengurus Darren."
__ADS_1
"Iya Bu, terimakasih banyak. Ayo Aini, kita istirahat di kamar." kata Roy sambil menggandeng tangan Aini.
Aini pun menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian masuk ke kamar Aini, lalu Roy buru-buru menutup pintu kamar tersebut.
"Aini, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak jujur padamu, sesungguhnya aku sangat takut jika kehilangan dirimu karena aku sangat mencintaimu. Kejadian itu bermula saat aku menjemput Diana saat berpesta bersama teman-temannya di Puncak, aku sangat khawatir karena Diana juga ikut meminum minuman keras bersama teman-temannya padahal saat itu dia sedang mengandung Darren."
Roy lalu mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, hatinya kini terasa begitu sesak.
"Kemudian kami bertengkar di dalam mobil, lalu terjadilah kecelakaan itu. Aini, kau tahu kan bagaimana sifat Diana, mama pasti pernah bercerita tentang sifat Diana. Tolong maafkan aku Aini, maafkan aku jika karena perbuatanku dan mantan istriku masa depanmu hancur." kata Roy sambil terisak.
Aini pun menatap Roy yang kini menangis di depannya, lalu perlahan dia memegang wajah Roy yang sedang menangis lalu mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibirnya. Roy pun begitu terkejut melihat sikap Aini.
"A.... Aini, apakah kau sudah memaafkan aku?"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan karena kau tidak pernah bersalah, aku hanya kesal padamu karena kau tidak jujur padaku." kata Aini sambil tersenyum. Roy pun kemudian memeluk tubuh Aini.
"Terimakasih sayang."
Aini pun mengangguk lalu memeluk tubuh Roy kembali.
"Aku merindukanmu mas."
"Aku jauh lebih merindukan, bahkan sangat sangat merindukanmu." kata Roy sambil menciumi wajah Aini.
"Kau berlebihan mas."
"Apa kau mau bukti?"
"Bukti?"
"Ya bukankah untuk menunjukkan sesuatu terkadang perlu perbuatan." kata Roy sambil tersenyum nakal.
"Hahahaha."
🏡🏡🏡🏡
[Sekali lagi maafkan tante.] kata Nurma kemudian menutup teleponnya.
__ADS_1
"Vallen, kau benar-benar keterlaluan! Berani-beraninya kau bilang pada Zian jika nomor yang Zian telepon itu bukan nomormu." gerutu Nurma dengan begitu emosi setelah ditelepon oleh Zian.
"Aku harus bertemu dengan Vallen sekarang juga, dia harus menuruti kemauanku, sekarang juga aku akan pergi ke apartemennya." kata Nurma kemudian berjalan keluar dari rumahnya.