
Stella keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan untuk menikmati sarapan.
"Selamat pagi." kata Stella.
"Selamat pagi, Stella." jawab Santi.
"Kau memang selalu bangun kesiangan ya, Stella?" kata Revan.
"Karena aku bukan pembantu yang memasak untuk keluarga ini, bukan begitu Giselle? Kau yang memasak sarapan lagi kan?"
Giselle lalu mengangguk sambil tersenyum. "Hahahaha mental pembantu." kata Stella lirih yang memancing emosi Revan.
"Jaga kata-katamu, Stella!" kata Revan yang hanya diindahkan oleh Stella dan tetap menikmati sarapannya sambil mencibir.
Saat mereka tengah asyik menikmati sarapan, tiba-tiba Giselle menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "HOWEKKK." kata Giselle lalu berlari ke kamar mandi.
"Apa-apaan sih jorok sekali, hampir saja dia muntah di depan orang yang sedang sarapan." kata Giselle sambil mendengus kesal.
"Stella jaga kata-katamu, wajar jika wanita hamil muntah di pagi hari." jawab Revan dengan ketus.
"Kau selalu membelanya, jelas-jelas dia sudah membuat nafsu makanku hilang." cibir Giselle.
"Stella, kau berkata seperti itu seperti tidak sedang hamil saja, bukankah biasanya wanita hamil mengalami morning sickness. Melihat dirimu yang seperti ini aku jadi curiga jangan-jangan kau tidak hamil, Stella. Sepertinya aku juga tidak melihat tanda-tanda kehamilan pada dirimu, apa sebenarnya kau tidak hamil?" tanya Revan sambil tersenyum kecut.
"Enak saja kau berkata seperti itu Revan, akan kubuktikan jika aku sedang hamil."
"Buktikan saja."
"Baik, hari ini aku akan ke dokter untuk USG, agar kau puas setelah aku bisa menunjukkan hasil USG ku."
"Silahkan lakukan, Stella."
"Baik aku akan pergi sekarang juga!" kata Stella sambil meninggalkan meja makan.
"Revan kau keterlaluan, apa tidak bisa kau bersikap baik padanya?" kata Santi pada Revan yang hanya dibalas senyuman.
***
"Stella." kata David saat melihat sosok yang terlihat mirip dengan Stella saat ini sedang duduk di poli kandungan.
'Ah tidak, aku pasti salah orang, ini khayalanku saja, jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali.' gumam David sambil berjalan menjauh dari tempat Stella duduk, namun baru beberapa langkah tiba-tiba suara panggilan dari seorang petugas rumah sakit yang memanggil Stella untuk masuk ke ruangan dokter begitu mengejutkan dirinya.
"Nyonya Stella, silahkan masuk." teriak seorang perawat.
Stella lalu bangkit dan berjalan ke dalam ruangan dokter kandungan. David yang mendengar nama Stella disebut kemudian membalikkan badannya, namun ternyata Stella sudah masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Jadi benar itu Stella." kata David.
Sementara Rima tampak masuk ke rumah sakit itu dengan wajah yang begitu berseri-seri. ' Akhirnya aku bekerja di rumah sakit.' gumam Rima sambil tersenyum.
Dia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tempat dia bertugas, dan mulai mengenalkan diri pada teman-teman rekan satu kerjanya di ruangan itu.
'Awal yang bagus, kuharap semua teman-temanku baik padaku.' gumam Rima sambil tersenyum, hingga akhirnya dia teringat sesuatu.
'Name tag itu.' gumam Rima, dia lalu mengeluarkan sebuah name tag dari tasnya.
"Sherly, apa kau tau pemilik name tag ini?" tanya Rima pada salah satu temannya.
"Astaga Rima, itu milik dokter David." kata Sherly dengan sedikit terkejut lalu menutup mulutnya.
"Dokter David? Siapa itu?"
"Astagaaaa, kau tak tahu dokter David? Dia adalah direktur di rumah sakit ini."
'Jadi orang yang kemarin bertabrakan denganku direktur di rumah sakit ini?' gumam Rima sambil menelan ludah kasar disertai raut wajah takut.
"Lebih baik kau cepat kau kembalikan Rim, temui saja dokter David di ruangannya."
"Iya Sher, sebentar lagi kukembalikan."
Saat tengah asyik berjalan tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang hingga masuk ke sebuah ruangan lalu tubuhnya dihempaskan begitu saja ke sebuah sofa.
"Siapa kau? Berani-beraninya berbuat seperti ini padaku!" kata Stella pada laki-laki yang kini ada di depannya. Perlahan laki-laki itu pun membalikkan tubuhnya.
"David." kata Stella dengan sedikit gugup.
"Kita bertemu lagi, Stella. Apa yang kau lakukan disini?"
"Emh.. Aku hanya sedikit demam." jawab Stella gugup.
"Demam?"
"Ya demam."
"Kenapa kalau deman kau memeriksakan dirimu di bagian kandungan?" tanya David. Netranya kemudian beralih pada tangan Stella yang tampak sedang memegang sesuatu.
"Apa itu?"
"Bukan apa-apa." kata Stella sambil menyembunyikan hasil USG, namun gerakannya kalah cepat dengan David yang terlebih dahulu bisa mengambil hasil USG dari tangannya.
"Kau sedang hamil Stella?" tanya David saat melihat hasil USG di tangannya.
__ADS_1
"Kau hamil delapan minggu?" tanya David sambil mengerutkan dahinya.
"Katakan Stella, jadi saat ini kau sedang hamil? Pasti itu anakku kan Stella?" teriak David.
"Bukan ini anak Revan!"
"Tidak mungkin, kau hidup denganku selama enam bulan terakhir ini, dan usia kandunganmu delapan minggu, mustahil kau mengandung darah daging Revan."
"Terserah jika kau tidak percaya." kata Stella kemudian berdiri. Namun saat itu juga David memeluknya.
"Stella, tolong berikan aku kesempatan. Aku tahu janin yang kau kandung adalah anakku. Kembalilah padaku Stella." kata David sambil memeluk Stella kian erat.
"Buang semua egomu Stella, menikahlah denganku."
Mendengar perkataan David, sebenarnya hati kecilnya sedikit luluh, bahkan dia tidak menolak saat David mulai mengecup bibirnya dan mulai mel*mat bibir Stella dengan begitu bergairah.
"Stella, aku rindu padamu Stella." desah David di sela ciuman panasnya dengan Stella. Namun disaat itu juga tiba-tiba sebuah suara dari pintu mengagetkan mereka yang membuat keduanya melepaskan ciuman itu.
David lalu berlari ke arah pintu dan melihat sebuah name tag jatuh di dekat pintu tersebut. "Ini name tag ku yang hilang." kata David sambil mengambil name tag itu.
Rima berlari menjauhi ruangan dokter David, dia lalu masuk ke dalam toilet untuk menenangkan dirinya. "Hampir saja ketahuan." kata Rima masih dengan nafas yang tersengal-sengal.
'Aku hanya ingin mengembalikan name tag, tapi kenapa harus melihat adegan dewasa seperti itu.' kata Rima sambil membasuh mukanya.
***
"Ada apa sayang?" tanya Calista saat Leo tampak sibuk memperhatikan sesuatu di ponselnya.
"Ini sebuah undangan pernikahan digital, Calista."
"Undangan pernikahan siapa?"
"Revan dan Giselle, besok lusa mereka akan menikah."
"Syukurlah, mereka bisa meyakinkan orang tua Revan."
"Iya Calista, aku yakin mereka bisa melakukannya."
"Leo, karena saat ini kita belum memiliki baby sitter baru, bagaimana jika kita mengajak Rima ke pernikahan tersebut untuk membantuku menjaga si kembar?"
"Iya Calista, lebih baik kita mengajak Rima saja."
***
'Jadi ada yang memergoki aku dan Stella berciuman.' gumam David sambil berjalan masuk mendekat pada Stella, namun saat dia akan memeluknya kembali tiba-tiba Stella mendorong tubuhnya. "Maaf David, tadi aku hanya khilaf. Aku tidak bisa, aku tidak bisa kembali padamu." kata Stella lalu berlari keluar dari ruangan David. 'Tidak, aku tidak boleh jatuh ke dalam pelukan David lagi.' gumam Stella sambil berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1