
"Mba Calista... Kenapa Mba Calista menamparku?"
Calista pun menatap Dimas dengan tatapan tajam. "Kau memang pantas mendapatkannya karena kau tidak bisa menjaga kata-katamu pada istrimu!"
"Memang itulah kenyataannya kan? Aku laki-laki yang tampan dan kaya, seharusnya Aini merasa beruntung memiliki suami sepertiku yang masih mau menerima kekurangannya! Coba saja apakah dia bisa mendapatkan laki-laki yang tampan dan kaya sepertiku lagi saat bercerai denganku! Ada yang mau menikahinya itu saja sudah bagus!"
"Dasar wanita mandul tidak tahu diri!!"
PLAKKKK PLAKKKK
"MBA CALISTA!!! MBA MEMANG SANGAT KURANG AJAR! BERANI-BERANINYA MBA CALISTA MENAMPARKU LAGI!"
"KARENA KAU MEMANG PANTAS MENDAPATKAN TAMPARAN ITU!!"
"Kau berbicara seperti hanya dirimu saja laki-laki yang paling tampan dan kaya!! Hei Dimas, aku pun pernah memiliki masalah yang sama seperti Aini dan asal kau tahu suamiku jauh lebih tampan dan kaya darimu tapi dia tidak pernah bersikap seperti dirimu!! Bahkan dia tidak pernah sedikitpun berkata buruk tentangku!"
Olivia lalu mendekat ke arah Calista. "Kak, tenang Kak, jangan terbawa emosi."
"Olive, laki-laki seperti dia memang pantas diberi pelajaran agar dia bisa bercermin karena sifatnya sudah terlalu angkuh!!"
Dimas pun memilih diam sambil memegang pipinya yang terasa begitu perih, setetes darah segar pun mulai keluar dari ujung bibirnya, dia hanya melirik ke arah Calista dan Olivia yang masih menatapnya, sedangkan Aini terlihat menundukkan wajahnya sambil sesekali menghapus air matanya.
"Hei laki-laki bren*sek! jika kau tidak ada urusan lagi disini lebih baik kau pergi, dan jangan pernah coba-coba kau temui Aini lagi!!! Ingat kata-kataku, kami akan mengurus perceraian kalian secepatnya karena kami tidak rela Aini hidup dengan laki-laki kurang ajar seperti dirimu!!"
"DASAR KALIAN SEMUA SAMA SAJA! KELUARGA BREN*SEK TAK TAHU DIRI!!!" umpat Dimas kemudian keluar dari kamar perawatan Aini.
Calista dan Olivia kini pun mendekat ke arah Aini yang kini mulai menangis.
"Aini." kata Olivia sambil memeluk Aini yang kini mulai terisak di pelukannya.
"Aini tenangkan dirimu, aku tidak akan pernah membiarkan Dimas mendekat padamu lagi, aku tidak ingin kau kembali terluka jika bertemu dengannya." kata Calista.
"Iya Aini, kami tidak akan membiarkanmu terluka. Kami berjanji akan mengurus perceraianmu secepatnya."
"Iya Mba, terimakasih." jawab Aini di sela tangisnya.
__ADS_1
Sementara Dimas berjalan di lorong rumah sakit dengan perasaan yang begitu campur aduk. Perasaan marah, benci, sakit hati, dan merasa dipermalukan begitu menguasai hatinya.
"Calista memang benar-benar wanita breng*ek! Aku baru pernah bertemu dengan wanita seperti Calista! Sekarang hancur sudah semua rencanaku! Mereka pasti tidak akan membiarkan Aini kembali padaku!"
Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Tapi ini semua juga terjadi karena kecerobohanku! Seandainya saja tadi aku tidak terpancing emosi saat Aini mengatakan sedang melakukan proses gugatan cerai tentu tidak akan seperti ini! Aku pasti masih bisa mengambil hati mereka agar mau membujuk Aini untuk mau kembali padaku."
"Oh tidak." kata Dimas sambil menutup wajahnya, tubuhnya kini dia senderkan di tiang yang ada di lorong rumah sakit tersebut.
"Apa yang harus kulakukan?" kata Dimas lagi sambil memijit keningnya, matanya pun terpejam.
"Mungkin aku harus mengurungkan niatku terlebih dulu untuk merebut anak Delia, karena jika Firman tahu akan hal itu dia pasti akan menceraikan Delia lalu akan kembali pada Aini yang sudah bercerai denganku. Oh tidak ini tidak boleh terjadi, lebih baik sekarang aku berfikir bagaimana caranya agar Aini kembali lagi padaku meskipun dengan cara-cara licik seperti dulu lagi." kata Dimas sambil tersenyum menyeringai.
"Aini, kau memang wanita yang sangat sulit ditaklukkan, tapi jangan sebut aku Dimas, jika kau tidak kembali lagi ke pelukanku. Hahahaha."
πΏπ₯πΏπ₯β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Olivia menghapus air mata di wajah Aini.
"Sekarang tersenyumlah dan jangan menangis lagi, kau harus bahagia." kata Olivia.
"Iya Mba." jawab Aini sambil tersenyum.
"Lihat Aini, aku sudah menelepon pengacaraku biar dia yang mengurus perceraianmu dengan Dimas, kau tenang saja, karena pengacaraku akan mengurus perceraian ini secara verstek jadi kau tinggal menunggu surat cerainya saja."
"Terimakasih banyak Mba Calista."
"Sama-sama Aini, Olive, Aini tampaknya aku harus pulang karena Leo sudah menungguku, kami ada acara menghadiri pesta salah satu rekan bisnis Leo."
"Iya Kak, kau pulang dulu saja, sebentar lagi Laras juga datang." kata Olivia.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya." kata Calista. Dia lalu keluar dari kamar Aini.
Olivia lalu melirik pada sebuket bunga yang ada di nakas di dekat mereka. Dia lalu mengambil bunga itu lalu mengamatinya.
"Bunga yang cantik." kata Olivia.
__ADS_1
"Ya, aku sangat menyukai mawar merah."
"Tapi kenapa bunga secantik ini dibuang begitu saja?" kata Olivia sambil mengerutkan keningnya.
'Bunga.' gumam Aini dalam hati.
'Apa ini sebuket bunga yang diberikan Tante Heni padaku? Kenapa Roy tidak memberikannya padaku?Lebih baik kutanyakan saja pada Roy, bukankah tadi dia sudah memberikan nomor ponselnya padaku.' gumam Aini di dalam hati. Dia kemudian memfoto bunga tersebut lalu mengirimkan pesan pada Roy.
Sementara Calista yang kini berjalan di lorong rumah sakit, tampak heran karena melihat Dimas yang kini masih ada di rumah sakit tersebut.
'Dimas, kenapa dia belum pulang? Bukankah tadi aku sudah menyuruhnya untuk tidak menemui Aini lagi, tapi kenapa dia masih disini? Aku yakin dia pasti akan berbuat suatu hal yang tidak baik agar Aini bisa kembali padanya. Aku harus bertindak secepatnya untuk mencegah hal yang tidak baik terjadi lagi pada Aini.' gumam Calista dia lalu mengambil ponsel di dalam tasnya lalu tampak menelpon seseorang.
π₯πΏπ₯πΏπ₯πΏ
Roy masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Heni yang melihat senyuman di wajah Roy pun merasa begitu heran.
"Kau kenapa Roy, kenapa kau terlihat ceria sekali? Biasanya mama hanya bisa melihat wajah sedihmu."
"Mungkin hanya perasaan mama."
"Tidak, wajahmu hari ini tampak begitu berseri-seri, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Heni sambil menatap Roy dengan tatapan curiga.
"Tidak ma, tidak ada apa-apa."
"Baik jika kau tidak mau mengatakannya pada mama, sekarang mama hanya ingin bertanya padamu, kau habis pergi darimana? Tadi siang setelah kau mengantarkan mama pulang kau langsung pergi begitu saja?"
"Hanya ke rumah sakit, Roy rindu dengan Darren, bukankah tadi mama langsung mengajak Roy pulang sebelum Roy bertemu dengan Darren?"
"Oh...O ya itu karena mama sangat kecewa padamu saat mendengar perbincanganmu dengan Olivia jadi mama langsung meminta pulang."
Roy pun mendekat ke arah Heni.
"Maafkan Roy ma, mulai hari ini Roy akan membuang sifat egois Roy dan akan mencoba mengerti mama."
"Aa... Apa maksudmu Roy?" tanya Heni. Namun saat Roy akan menjawabnya sebuah pesan pun masuk ke ponsel Roy.
__ADS_1
'Aini.' kata Roy dalam hati. Dia lalu bergegas meninggalkan Heni kemudian masuk ke kamarnya.
"Roy, kenapa tiba-tiba kau jadi aneh sekali!!! Kau belum menjawab pertanyaan mama Roy!!" teriak Heni.